Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Oktober 2026 | 06.21 WIB

7 Alasan Mengapa Pelajar dan Mahasiswa Sebaiknya Menghindari Penggunaan ChatGPT Menurut Psikologi

seseorang yang menghindari penggunaan chatgpt./Magnific/jcomp - Image

seseorang yang menghindari penggunaan chatgpt./Magnific/jcomp

JawaPos.com - |Kemunculan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) seperti ChatGPT telah mengubah cara pelajar dan mahasiswa mencari informasi, mengerjakan tugas, memahami materi, hingga menulis berbagai jenis karya akademik. Dengan hanya memberikan beberapa kalimat perintah, seseorang dapat memperoleh penjelasan, rangkuman, ide tulisan, bahkan jawaban atas berbagai pertanyaan dalam hitungan detik.

Kemudahan tersebut tentu memiliki manfaat. Namun, dari perspektif psikologi pendidikan dan psikologi kognitif, penggunaan AI yang terlalu sering atau tanpa kontrol juga dapat menimbulkan persoalan. Masalah utamanya bukan semata-mata pada teknologi, melainkan pada pola ketergantungan manusia terhadap teknologi tersebut.

Belajar pada dasarnya bukan sekadar memperoleh jawaban yang benar. Belajar merupakan proses mental yang melibatkan perhatian, ingatan, penalaran, pemecahan masalah, kreativitas, pengambilan keputusan, serta kemampuan menghadapi kesulitan.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (1/10), jika sebagian besar proses tersebut terus-menerus dialihkan kepada mesin, perkembangan kemampuan kognitif dan psikologis seseorang dapat ikut berubah.

Karena itu, terdapat setidaknya tujuh alasan psikologis mengapa pelajar dan mahasiswa sebaiknya menghindari penggunaan ChatGPT secara berlebihan, terutama ketika teknologi tersebut menggantikan proses belajar yang seharusnya dilakukan sendiri.

1. ChatGPT Dapat Membuat Otak Terlalu Bergantung pada Bantuan Eksternal

Salah satu konsep penting dalam psikologi kognitif adalah cognitive offloading, yaitu kecenderungan manusia memindahkan sebagian beban proses berpikir ke lingkungan atau alat bantu eksternal.

Contoh sederhananya adalah penggunaan kalkulator. Kalkulator sangat membantu manusia melakukan perhitungan dengan cepat. Namun, jika seseorang selalu menggunakan kalkulator bahkan untuk operasi matematika yang sangat sederhana, kemampuan untuk melakukan perhitungan mental tidak akan banyak terlatih.

Hal serupa dapat terjadi ketika ChatGPT digunakan untuk hampir semua aktivitas akademik.

Seorang mahasiswa mungkin awalnya menggunakan ChatGPT untuk mencari ide. Lama-kelamaan ia menggunakannya untuk membuat kerangka tulisan. Setelah itu, ia meminta AI membuat paragraf. Berikutnya, ia meminta AI menyelesaikan seluruh tugas. Akhirnya, proses berpikir yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa justru sebagian besar dilakukan oleh sistem AI.

Editor: Hanny Suwindari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore