Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Oktober 2026 | 15.50 WIB

5 Alasan Paling Umum Mengapa Pasangan yang Solid Sekalipun Dapat Berpisah Menurut Psikologi

seseorang yang pisah dengan pasangannya. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada pasangan yang dari luar terlihat begitu solid. Mereka jarang bertengkar di depan orang lain, mampu melewati berbagai masalah bersama, saling mendukung dalam pekerjaan, bahkan sudah bertahun-tahun membangun kehidupan bersama. Banyak orang kemudian menganggap hubungan seperti itu hampir mustahil berakhir.


Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.

Dalam psikologi hubungan, hubungan yang terlihat stabil belum tentu bebas dari persoalan. Sebuah pasangan bisa tetap saling menyayangi, memiliki sejarah panjang bersama, dan pernah melalui banyak masa sulit, tetapi pada titik tertentu memutuskan untuk berpisah.

Hal ini bukan selalu berarti bahwa hubungan tersebut sejak awal "buruk" atau bahwa salah satu pihak tidak pernah mencintai yang lain. Hubungan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar pertanyaan apakah dua orang masih saling mencintai atau tidak.

Ada kebutuhan emosional yang berubah, pola komunikasi yang perlahan menjadi tidak sehat, konflik yang tidak pernah benar-benar diselesaikan, perubahan arah hidup, hingga kelelahan psikologis yang terakumulasi selama bertahun-tahun.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (3/10), terdapat lima alasan yang cukup umum mengapa pasangan yang tampak solid sekalipun dapat berpisah jika dilihat dari perspektif psikologi hubungan.

1. Masalah yang Tidak Pernah Benar-Benar Diselesaikan

Salah satu kesalahpahaman dalam hubungan adalah menganggap bahwa selama pasangan jarang bertengkar, berarti hubungan mereka sehat.

Padahal, tidak bertengkar bukan selalu tanda kedamaian.

Kadang-kadang, tidak adanya konflik justru terjadi karena salah satu atau kedua pasangan sudah berhenti membicarakan masalah yang sebenarnya penting.

Misalnya, seseorang merasa kurang diperhatikan. Ia pernah mengatakannya, tetapi respons pasangannya dianggap tidak memuaskan. Karena tidak ingin memperbesar masalah, ia memilih diam.

Beberapa bulan kemudian, masalah serupa terjadi lagi.

Ia kembali diam.

Lama-kelamaan, masalah tersebut tidak hilang. Ia hanya berubah bentuk menjadi kekecewaan, jarak emosional, atau rasa bahwa "percuma membicarakannya."

Dalam hubungan jangka panjang, persoalan yang tidak terselesaikan dapat menumpuk. Hal-hal kecil yang awalnya terlihat sepele bisa menjadi bagian dari narasi yang jauh lebih besar:

"Saya merasa tidak didengarkan."

"Saya selalu harus mengalah."

"Dia tidak pernah benar-benar memahami saya."

"Saya sudah membicarakan ini berkali-kali, tetapi tidak ada perubahan."

Ketika narasi semacam ini semakin kuat, konflik tidak lagi hanya mengenai kejadian tertentu. Konflik mulai berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang pasangannya dan hubungan mereka secara keseluruhan.

Itulah sebabnya pasangan yang tampak jarang bertengkar belum tentu tidak memiliki masalah. Bisa saja mereka memiliki konflik yang sudah berpindah dari ruang percakapan ke ruang batin masing-masing.

Yang berbahaya bukan hanya konflik, tetapi konflik yang tidak memiliki jalan keluar

Setiap hubungan pasti memiliki perbedaan.

Dua manusia tidak mungkin selalu memiliki kebutuhan, kepribadian, kebiasaan, dan cara berpikir yang sama.

Yang menjadi persoalan adalah ketika konflik terus berulang tanpa adanya perbaikan.

Pasangan mungkin berdebat mengenai uang.

Kemudian berdebat lagi mengenai keluarga.

Lalu mengenai waktu bersama.

Lalu mengenai pembagian tanggung jawab.

Setelah beberapa tahun, mereka mungkin tidak lagi bertengkar mengenai masalah awal. Mereka bertengkar karena merasa pola yang sama tidak pernah berubah.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang dapat mengalami kelelahan emosional.

Ia bukan selalu berhenti mencintai pasangannya secara tiba-tiba. Ia bisa saja sampai pada titik di mana mempertahankan hubungan terasa terlalu melelahkan dibandingkan manfaat emosional yang dirasakan.

Karena itu, dalam hubungan jangka panjang, kemampuan menyelesaikan konflik sering kali lebih penting daripada kemampuan menghindari konflik.

2. Kedekatan Emosional Perlahan Hilang

Pasangan bisa tinggal serumah tetapi secara emosional semakin jauh.

Ini merupakan salah satu alasan yang sering tidak terlihat dari luar.

Mereka masih makan bersama.

Masih menghadiri acara keluarga.

Masih berlibur bersama.

Masih terlihat seperti pasangan yang harmonis.

Tetapi percakapan mereka semakin dangkal.

Mereka membicarakan tagihan, pekerjaan, anak, jadwal, belanja, atau urusan rumah tangga—tetapi semakin jarang membicarakan perasaan, ketakutan, harapan, impian, atau pengalaman pribadi.

Secara fisik mereka masih bersama.

Secara emosional, mereka mulai hidup di dunia yang berbeda.

Hubungan membutuhkan lebih dari sekadar kehadiran fisik

Dalam psikologi hubungan, rasa terhubung secara emosional merupakan bagian penting dari kepuasan hubungan.

Seseorang membutuhkan perasaan bahwa pasangannya mengenal dirinya, memperhatikan pengalaman batinnya, dan bersedia hadir ketika ia membutuhkan dukungan.

Masalahnya, kedekatan seperti ini tidak selalu hilang dalam satu kejadian besar.

Sering kali ia memudar perlahan.

Dulu pasangan mungkin bertanya:

"Bagaimana harimu?"

Sekarang pertanyaannya hanya:

"Besok kamu pulang jam berapa?"

Dulu mereka membicarakan mimpi masa depan.

Sekarang percakapan hanya berputar pada rutinitas.

Dulu mereka mencari waktu untuk berdua.

Sekarang hampir semua energi habis untuk pekerjaan, keluarga, kewajiban, dan kehidupan sehari-hari.

Tidak ada satu momen dramatis yang menyebabkan hubungan menjadi renggang.

Yang terjadi adalah akumulasi dari banyak momen kecil ketika pasangan tidak lagi merasa benar-benar terhubung.

Ketika hubungan berubah menjadi sekadar kerja sama

Ada pasangan yang sangat efektif sebagai "tim."

Mereka mengatur keuangan dengan baik.

Membesarkan anak bersama.

Menyelesaikan masalah keluarga.

Membangun bisnis.

Mengurus rumah.

Mendukung karier masing-masing.

Dari luar, mereka tampak sangat solid.

Namun, mereka mungkin perlahan kehilangan kualitas sebagai pasangan romantis.

Hubungan berubah menjadi semacam kemitraan administratif: dua orang yang sangat pandai mengelola kehidupan, tetapi tidak lagi merasa dekat secara emosional.

Ketika anak-anak mulai dewasa, pekerjaan berubah, atau kehidupan menjadi lebih tenang, kekosongan tersebut kadang menjadi semakin terlihat.

Seseorang mungkin baru menyadari:

"Selama ini kami sangat sibuk membangun kehidupan bersama, tetapi kami lupa membangun hubungan kami."

3. Kebutuhan dan Prioritas Hidup Berubah

Manusia tidak berhenti berkembang setelah menikah atau menjalin hubungan jangka panjang.

Kepribadian dapat berkembang.

Nilai hidup dapat berubah.

Prioritas dapat bergeser.

Impian yang dulu terasa penting bisa menjadi tidak relevan.

Sebaliknya, sesuatu yang dahulu tidak terpikirkan dapat menjadi sangat penting.

Inilah salah satu alasan mengapa pasangan yang sangat cocok pada satu fase kehidupan belum tentu tetap menginginkan hal yang sama beberapa tahun kemudian.

Misalnya, ketika masih muda, sebuah pasangan mungkin memiliki prioritas:

membangun karier,
membeli rumah,
memiliki anak,
mencapai stabilitas finansial,
atau membangun kehidupan bersama.

Setelah tujuan-tujuan tersebut tercapai, pertanyaan baru muncul.

"Apa yang sebenarnya saya inginkan sekarang?"

Salah satu pasangan mungkin ingin hidup lebih tenang.

Pasangan lainnya justru ingin mengejar karier.

Seseorang ingin tinggal dekat keluarga.

Yang lain ingin pindah ke kota atau negara lain.

Seseorang ingin memiliki anak.

Yang lain berubah pikiran.

Seseorang ingin kehidupan sosial yang lebih aktif.

Pasangannya membutuhkan kehidupan yang jauh lebih sederhana.

Perbedaan tersebut tidak selalu berarti salah satu pihak buruk.

Kadang-kadang, dua orang hanya berkembang ke arah yang berbeda.

Cinta tidak selalu menghapus ketidakcocokan

Ada anggapan romantis bahwa jika dua orang benar-benar mencintai satu sama lain, mereka akan selalu menemukan jalan.

Dalam kehidupan nyata, cinta memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberlangsungan hubungan.

Dua orang dapat saling mencintai tetapi memiliki tujuan hidup yang sangat berbeda.

Mereka dapat saling menghormati tetapi tidak lagi menginginkan masa depan yang sama.

Mereka dapat memiliki sejarah yang indah tetapi tidak lagi cocok dengan kehidupan yang ingin mereka jalani.

Ini membuat keputusan untuk berpisah menjadi sangat kompleks.

Karena itu, perpisahan tidak selalu dapat dijelaskan dengan kalimat sederhana seperti:

"Kalau masih cinta, kenapa berpisah?"

Pertanyaan yang lebih luas adalah:

"Apakah kehidupan yang ingin dibangun kedua orang ini masih dapat berjalan dalam arah yang sama?"

4. Rasa Hormat dan Rasa Aman dalam Hubungan Perlahan Terkikis

Cinta sering menjadi hal yang paling banyak dibicarakan dalam hubungan.

Namun, hubungan jangka panjang juga membutuhkan rasa aman dan rasa hormat.

Seseorang perlu merasa bahwa dirinya dapat menjadi diri sendiri tanpa terus-menerus direndahkan, diabaikan, dikontrol, atau dibuat merasa tidak cukup.

Ketika rasa hormat mulai hilang, kualitas hubungan dapat berubah secara drastis.

Contohnya adalah pola komunikasi yang penuh penghinaan, sarkasme, meremehkan, atau menyalahkan.

Awalnya mungkin hanya berupa candaan.

Lama-kelamaan menjadi kebiasaan.

Kemudian pasangan mulai merasa:

"Saya tidak dihargai."

"Pendapat saya tidak penting."

"Saya selalu dianggap salah."

"Saya harus berhati-hati ketika berbicara."

Ketika seseorang tidak lagi merasa aman secara emosional, ia dapat mulai menarik diri.

Kritik berbeda dengan penghinaan

Dalam hubungan, mengkritik sebuah perilaku tidak sama dengan menyerang harga diri seseorang.

Contohnya:

"Kita perlu membicarakan bagaimana membagi pekerjaan rumah."

berbeda dengan:

"Kamu memang tidak pernah bisa diandalkan."

Kalimat pertama membahas masalah.

Kalimat kedua menyerang identitas seseorang.

Perbedaan ini terlihat kecil, tetapi dapat memiliki dampak besar jika menjadi pola yang berulang.

Hubungan yang sehat bukan berarti pasangan tidak pernah kecewa atau marah. Konflik tetap dapat terjadi.

Yang penting adalah bagaimana kedua orang memperlakukan satu sama lain ketika sedang kecewa.

Apakah mereka masih menjaga martabat pasangannya?

Apakah mereka dapat meminta maaf?

Apakah mereka mampu memperbaiki perilaku?

Apakah mereka masih melihat pasangan sebagai rekan, bukan musuh?

Ketika jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin sering negatif, hubungan dapat mengalami kerusakan yang lebih dalam.

Rasa aman juga berkaitan dengan kepercayaan

Kepercayaan bukan hanya soal perselingkuhan.

Kepercayaan juga terbentuk dari hal-hal kecil:

apakah janji ditepati?

Apakah pasangan dapat diandalkan?

Apakah rahasia pribadi dijaga?

Apakah seseorang merasa aman mengungkapkan kelemahannya?

Apakah pasangan menggunakan kerentanan tersebut untuk menyerang ketika terjadi konflik?

Ketika kepercayaan terus-menerus dilanggar, hubungan dapat berubah menjadi tempat kewaspadaan.

Seseorang tidak lagi bertanya:

"Bagaimana kita menyelesaikan masalah ini?"

Melainkan:

"Bagaimana saya melindungi diri saya dari masalah berikutnya?"

Dan ketika hubungan menjadi sumber ketegangan yang terus-menerus, kedekatan emosional menjadi semakin sulit dipertahankan.

5. Kelelahan Emosional Setelah Bertahun-Tahun Mempertahankan Hubungan

Alasan terakhir sering kali sulit dipahami karena tidak selalu ada satu penyebab besar.

Tidak ada perselingkuhan.

Tidak ada pertengkaran spektakuler.

Tidak ada satu peristiwa yang dapat disebut sebagai penyebab utama.

Namun seseorang merasa:

"Saya sudah tidak punya energi lagi."

Hubungan jangka panjang membutuhkan usaha.

Menyelesaikan konflik membutuhkan energi.

Berkompromi membutuhkan energi.

Memaafkan membutuhkan energi.

Beradaptasi dengan perubahan membutuhkan energi.

Merawat pasangan juga membutuhkan energi.

Jika seseorang merasa selama bertahun-tahun ia terus memberikan energi tetapi perubahan yang diharapkan tidak pernah terjadi, dapat muncul kelelahan emosional.

Pada tahap tertentu, ia mungkin tidak lagi marah.

Justru sebaliknya.

Ia menjadi apatis.

Tidak ingin berdebat.

Tidak ingin menjelaskan.

Tidak ingin memperbaiki.

Tidak ingin memperjuangkan hal yang sama untuk kesekian kalinya.

Bagi pasangan yang ditinggalkan, kondisi ini kadang terasa seperti perubahan yang terjadi "tiba-tiba".

Padahal, dari sisi orang yang mengalami kelelahan emosional, prosesnya mungkin sudah berlangsung sangat lama.

Mengapa pasangan yang terlihat solid bisa mengalami hal ini?

Karena hubungan yang terlihat kuat sering kali memang memiliki kemampuan bertahan yang tinggi.

Mereka mungkin sudah berhasil melewati banyak krisis.

Mereka terbiasa mengatasi masalah.

Mereka memiliki komitmen.

Mereka tidak mudah menyerah.

Tetapi kemampuan bertahan bukan berarti seseorang memiliki energi yang tidak terbatas.

Kadang-kadang seseorang dapat bertahan selama bertahun-tahun justru karena ia sangat serius terhadap hubungan tersebut.

Ia mencoba berbicara.

Ia mencoba memahami.

Ia mencoba mengalah.

Ia mencoba memperbaiki.

Ia mencoba memberi kesempatan.

Namun jika usaha tersebut terus terasa tidak seimbang, kelelahan dapat muncul.

Pada akhirnya, perpisahan bisa menjadi hasil dari proses panjang, bukan keputusan yang dibuat dalam satu malam.

Jadi, Apakah Pasangan yang Berpisah Berarti Hubungannya Gagal?

Tidak sesederhana itu.

Hubungan yang berakhir memang berarti hubungan tersebut tidak berlanjut. Tetapi itu tidak otomatis menghapus semua hal baik yang pernah terjadi di dalamnya.

Dua orang dapat memiliki hubungan yang penuh kasih selama bertahun-tahun, tumbuh bersama, saling membantu melewati masa sulit, dan kemudian sampai pada titik di mana kehidupan mereka tidak lagi berjalan ke arah yang sama.

Begitu pula sebaliknya, hubungan yang terlihat sangat solid dari luar belum tentu memiliki kualitas emosional yang sama di dalam.

Karena itu, durasi hubungan bukan satu-satunya ukuran kualitas hubungan.

Lama bersama bukan jaminan bahwa kebutuhan emosional selalu terpenuhi.

Jarang bertengkar bukan jaminan bahwa konflik terselesaikan.

Memiliki banyak kenangan bukan jaminan bahwa dua orang masih menginginkan masa depan yang sama.

Dan masih mencintai seseorang bukan selalu berarti hubungan tersebut dapat dipertahankan dalam bentuk yang sama.

Yang Sering Tidak Terlihat dari Luar

Salah satu pelajaran penting dari psikologi hubungan adalah bahwa kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan pasangan lain.

Kita melihat foto mereka.

Kita melihat mereka makan bersama.

Kita melihat mereka menghadiri acara keluarga.

Kita melihat mereka merayakan ulang tahun pernikahan.

Kita melihat bagaimana mereka saling mendukung di depan orang lain.

Tetapi kita tidak melihat percakapan mereka ketika pintu rumah tertutup.

Kita tidak tahu berapa kali mereka mencoba menyelesaikan masalah yang sama.

Kita tidak tahu berapa lama salah satu dari mereka merasa kesepian.

Kita tidak tahu berapa banyak kompromi yang telah dilakukan.

Kita juga tidak tahu apakah keduanya masih memiliki gambaran masa depan yang sama.

Karena itu, ketika sebuah pasangan yang selama ini terlihat sangat solid akhirnya berpisah, reaksi seperti "padahal mereka kelihatannya baik-baik saja" sebenarnya menunjukkan keterbatasan perspektif kita.

Hubungan manusia memiliki bagian yang tidak terlihat.

Kesimpulan

Pasangan yang solid sekalipun dapat berpisah bukan karena hubungan mereka selalu buruk, melainkan karena hubungan adalah sesuatu yang terus berubah seiring perubahan dua orang di dalamnya.

Lima faktor yang sering berperan adalah:

Masalah yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Kedekatan emosional yang perlahan menghilang.
Perubahan kebutuhan, nilai, dan prioritas hidup.
Hilangnya rasa hormat, kepercayaan, atau rasa aman.
Kelelahan emosional setelah terlalu lama mempertahankan pola yang tidak berubah.

Yang menarik, sebagian besar proses tersebut tidak terjadi dalam satu malam.

Hubungan jarang berubah dari "baik-baik saja" menjadi "berakhir" secara instan. Lebih sering, perubahan terjadi melalui banyak interaksi kecil yang terakumulasi dari waktu ke waktu.

Karena itulah, menjaga hubungan bukan hanya tentang mempertahankan cinta.

Ia juga tentang menjaga komunikasi, menyelesaikan konflik, mempertahankan rasa hormat, memahami perubahan pasangan, dan secara berkala bertanya:

"Apakah kita masih membangun kehidupan yang sama, atau hanya sedang mempertahankan kehidupan yang pernah kita bangun?"

Pertanyaan tersebut mungkin tidak selalu memiliki jawaban yang mudah.

Namun justru kemampuan untuk membicarakan pertanyaan-pertanyaan sulit itulah yang sering menjadi bagian penting dari hubungan yang sehat dan dewasa.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore