seseorang yang enggan menerima perubahan. (magnific)
Namun, menariknya, meskipun perubahan merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan, banyak orang justru berusaha keras untuk menghindarinya.
Ada orang yang tetap bertahan dalam pekerjaan yang sebenarnya sudah tidak membuatnya bahagia. Ada yang terus mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat karena takut memulai kembali. Ada pula yang menolak mencoba sesuatu yang baru karena merasa cara lama sudah cukup, meskipun cara tersebut sebenarnya tidak lagi efektif.
Dari luar, perilaku seperti ini terkadang terlihat sebagai keras kepala, tidak fleksibel, atau bahkan tidak mau berkembang.
Tetapi psikologi memberikan perspektif yang lebih kompleks.
Keengganan terhadap perubahan tidak selalu berarti seseorang tidak ingin menjadi lebih baik. Dalam banyak kasus, penolakan terhadap perubahan muncul karena otak manusia cenderung mencari keamanan, kepastian, dan sesuatu yang sudah dikenal.
Dengan kata lain, terkadang seseorang bukan sedang mempertahankan masa lalu karena masa lalu itu sempurna. Ia hanya merasa bahwa sesuatu yang sudah dikenal lebih aman daripada sesuatu yang belum diketahui.
Lalu, mengapa perubahan bisa terasa begitu sulit?
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (3/10), terdapat enam alasan psikologis yang dapat menjelaskannya.
1. Otak manusia cenderung merasa lebih aman dengan sesuatu yang sudah dikenal
Salah satu alasan paling sederhana mengapa seseorang enggan berubah adalah karena sesuatu yang familiar terasa lebih mudah diprediksi.
Rutinitas memberikan semacam peta mental.
Kita tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana orang lain biasanya bereaksi, apa yang mungkin terjadi setelah kita mengambil keputusan tertentu, dan bagaimana kita harus menyesuaikan diri.
Ketika perubahan datang, peta tersebut tiba-tiba tidak lagi sepenuhnya berlaku.
Misalnya, seseorang telah bekerja di tempat yang sama selama bertahun-tahun. Ia mungkin sering mengeluh tentang pekerjaannya, merasa bosan, atau bahkan tidak berkembang. Namun ketika mendapatkan kesempatan untuk pindah ke lingkungan baru, ia justru merasa takut.
Bukan karena pekerjaan lama pasti lebih baik.
Melainkan karena pekerjaan lama sudah dikenalnya.
Ia tahu siapa rekan kerjanya. Ia tahu bagaimana sistemnya bekerja. Ia tahu apa yang diharapkan darinya. Bahkan masalah-masalah di tempat lama pun sudah terasa familiar.
Sementara itu, tempat baru membawa terlalu banyak tanda tanya.
Dalam psikologi, kecenderungan manusia untuk lebih menyukai sesuatu yang familiar sering dibahas melalui konsep mere exposure effect: sesuatu yang sudah sering kita jumpai cenderung terasa lebih nyaman atau disukai dibandingkan sesuatu yang benar-benar asing.
Inilah sebabnya seseorang terkadang memilih "ketidaknyamanan yang sudah dikenal" daripada "ketidakpastian yang belum dikenal."
Ironisnya, hal tersebut dapat membuat seseorang bertahan terlalu lama dalam situasi yang sebenarnya ingin ia tinggalkan.
Karena itu, ketika seseorang berkata, "Aku takut berubah," ketakutannya belum tentu hanya terhadap perubahan itu sendiri.
Bisa jadi ia takut kehilangan rasa aman yang selama ini diberikan oleh sesuatu yang sudah dikenalnya.
2. Perubahan membuat manusia kehilangan rasa kontrol
Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk merasa bahwa hidupnya dapat dipahami dan sebagian dapat dikendalikan.
Ketika kita mengetahui apa yang akan terjadi, kita bisa mempersiapkan diri.
Tetapi perubahan sering kali menghilangkan kepastian tersebut.
Bayangkan seseorang yang tiba-tiba harus pindah kota.
Ia mungkin harus memikirkan tempat tinggal, pekerjaan, lingkungan sosial, transportasi, keuangan, dan banyak hal lainnya.
Masalah sebenarnya bukan hanya "pindah kota".
Masalahnya adalah hilangnya banyak hal yang sebelumnya dapat diprediksi.
Perasaan seperti ini dapat menimbulkan stres.
Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian, seseorang bisa mulai memikirkan berbagai kemungkinan buruk:
"Bagaimana kalau aku gagal?"
"Bagaimana kalau aku tidak cocok?"
"Bagaimana kalau semuanya menjadi lebih buruk?"
"Bagaimana kalau keputusan ini ternyata salah?"
Pikiran semacam itu membuat perubahan terasa jauh lebih besar daripada kenyataannya.
Menariknya, manusia tidak selalu membutuhkan kontrol yang sempurna. Sering kali, yang dibutuhkan adalah perasaan bahwa dirinya masih memiliki pilihan.
Itulah mengapa perubahan yang dipaksakan cenderung terasa lebih berat dibandingkan perubahan yang dipilih sendiri.
Ketika seseorang merasa bahwa perubahan merupakan keputusan yang ia ambil sendiri, ia masih memiliki rasa kepemilikan terhadap proses tersebut.
Sebaliknya, ketika perubahan terasa seperti sesuatu yang dipaksakan dari luar, seseorang bisa menjadi lebih defensif.
Karena itu, keengganan terhadap perubahan terkadang bukan tentang perubahan tersebut.
Ia adalah reaksi terhadap hilangnya rasa kendali.
3. Perubahan dapat mengancam identitas diri
Alasan ketiga jauh lebih dalam.
Beberapa perubahan bukan sekadar mengubah apa yang kita lakukan.
Perubahan dapat mengubah cara kita melihat siapa diri kita.
Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai "orang yang selalu sukses."
Ia terbiasa mendapatkan nilai bagus, memperoleh penghargaan, atau menjadi orang yang diandalkan.
Ketika ia memasuki lingkungan baru dan harus belajar dari nol, identitas tersebut bisa terguncang.
Tiba-tiba ia bukan lagi orang yang paling tahu.
Ia menjadi pemula.
Situasi seperti ini bisa terasa sangat tidak nyaman.
Hal yang sama dapat terjadi dalam hubungan, pekerjaan, keluarga, bahkan kehidupan sosial.
Seseorang mungkin berkata:
"Aku memang orang yang seperti ini."
Kalimat tersebut tampak sederhana, tetapi kadang menunjukkan bahwa seseorang telah menghubungkan perilaku tertentu dengan identitas dirinya.
Misalnya:
"Aku orang yang tidak suka mengambil risiko."
"Aku memang bukan tipe orang yang mudah bergaul."
"Aku selalu bekerja sendiri."
"Aku tidak cocok memimpin."
"Aku sudah terlalu tua untuk belajar sesuatu yang baru."
Ketika sebuah perubahan menuntut seseorang untuk bertindak bertentangan dengan gambaran dirinya sendiri, muncul konflik internal.
Ia bukan hanya harus mempelajari kebiasaan baru.
Ia harus memperbarui definisi tentang dirinya.
Dan itu tidak selalu mudah.
Karena identitas memberikan rasa kontinuitas.
Kita ingin merasa bahwa diri kita hari ini masih memiliki hubungan dengan diri kita di masa lalu.
Perubahan yang terlalu besar dapat membuat seseorang merasa seolah-olah ia sedang meninggalkan bagian dari dirinya sendiri.
Inilah salah satu alasan mengapa perubahan yang sebenarnya positif pun terkadang dapat terasa menakutkan.
4. Manusia cenderung lebih takut kehilangan daripada tertarik mendapatkan sesuatu yang baru
Ada fenomena psikologis yang dikenal sebagai loss aversion.
Secara sederhana, manusia sering kali memberikan bobot psikologis yang lebih besar terhadap kemungkinan kehilangan dibandingkan mendapatkan sesuatu dengan nilai yang sebanding.
Misalnya, seseorang mungkin memiliki peluang mendapatkan keuntungan besar dari sebuah keputusan.
Namun pada saat yang sama, ia juga harus menerima kemungkinan kehilangan sesuatu yang sudah dimilikinya.
Fokus pikirannya sering kali justru tertuju pada apa yang mungkin hilang.
"Kalau aku pindah pekerjaan, bagaimana kalau aku kehilangan stabilitas?"
"Kalau aku memulai bisnis, bagaimana kalau tabunganku habis?"
"Kalau aku mengakhiri hubungan ini, bagaimana kalau aku tidak menemukan orang lain?"
"Kalau aku mencoba sesuatu yang baru, bagaimana kalau aku gagal?"
Perhatikan pola tersebut.
Pikiran manusia sering kali menghitung risiko kehilangan dengan sangat intens.
Akibatnya, seseorang dapat bertahan pada situasi yang sebenarnya tidak memuaskan hanya karena takut kehilangan sesuatu yang sudah dimiliki.
Ini menjelaskan mengapa seseorang bisa mengetahui bahwa sebuah perubahan mungkin membawa manfaat, tetapi tetap tidak mengambil langkah.
Ia bukan tidak melihat potensi keuntungan.
Ia hanya merasa bahwa risiko kehilangan terlalu besar.
Dan ketika ketakutan menjadi dominan, status quo terlihat lebih aman.
5. Pengalaman buruk di masa lalu dapat membuat seseorang lebih defensif terhadap perubahan
Tidak semua penolakan terhadap perubahan berasal dari sifat keras kepala.
Kadang-kadang, pengalaman masa lalu ikut membentuk cara seseorang menghadapi sesuatu yang baru.
Jika seseorang pernah mengalami perubahan yang sangat menyakitkan, perubahan berikutnya bisa memicu kewaspadaan yang lebih tinggi.
Misalnya, seseorang pernah kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba.
Setelah itu, ia mungkin menjadi jauh lebih berhati-hati ketika mendapatkan tawaran pekerjaan baru.
Atau seseorang pernah mempercayai orang lain dan kemudian merasa dikhianati.
Pada hubungan berikutnya, ia mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuka diri.
Dalam konteks psikologi, pengalaman masa lalu dapat memengaruhi cara seseorang memperkirakan risiko pada situasi berikutnya.
Masalahnya, otak tidak selalu membedakan dengan sempurna antara "situasi yang sama" dan "situasi yang mirip."
Seseorang bisa membawa pelajaran dari masa lalu ke masa kini.
Itu bisa menjadi hal yang adaptif.
Namun jika pengalaman buruk tersebut membuat seseorang selalu mengantisipasi hasil negatif, ia dapat menjadi terlalu defensif.
Akhirnya, kalimat seperti:
"Aku pernah mengalami itu."
"Terakhir kali aku mencoba, hasilnya buruk."
"Aku tidak mau mengulanginya lagi."
menjadi alasan untuk tidak mencoba sama sekali.
Padahal situasi baru tidak selalu akan berakhir seperti situasi lama.
Masa lalu memang memberikan informasi, tetapi tidak selalu merupakan prediksi sempurna tentang masa depan.
Karena itu, seseorang yang tampak sangat takut terhadap perubahan mungkin sebenarnya sedang berusaha melindungi dirinya berdasarkan pengalaman yang pernah menyakitinya.
6. Perubahan membutuhkan energi mental, dan manusia cenderung menyukai efisiensi
Ada satu hal yang sering dilupakan ketika membicarakan perubahan: berubah membutuhkan usaha.
Kita harus belajar.
Kita harus membuat keputusan.
Kita harus beradaptasi.
Kita harus menghadapi kesalahan.
Kita juga harus menggunakan perhatian dan energi mental untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya belum otomatis.
Sementara itu, kebiasaan lama biasanya membutuhkan lebih sedikit usaha kognitif.
Misalnya, seseorang yang sudah bertahun-tahun menggunakan cara tertentu dalam bekerja tidak perlu terus-menerus memikirkan langkah-langkahnya.
Semuanya sudah menjadi rutinitas.
Ketika sistem baru diperkenalkan, ia harus belajar lagi.
Pada awalnya, proses tersebut terasa lebih lambat dan melelahkan.
Inilah salah satu alasan mengapa orang terkadang mengatakan:
"Cara lama sebenarnya lebih gampang."
Padahal belum tentu lebih baik.
Cara lama hanya lebih otomatis.
Otak manusia sangat bergantung pada kebiasaan karena kebiasaan membantu menghemat sumber daya mental.
Masalah muncul ketika kebiasaan lama tidak lagi cocok dengan situasi baru.
Seseorang mungkin tetap menggunakan pola komunikasi yang sama meskipun hubungan sudah berubah.
Tetap menggunakan metode kerja yang sama meskipun tuntutan pekerjaan sudah berbeda.
Tetap menggunakan cara berpikir yang sama meskipun pengalaman hidupnya sudah berkembang.
Bukan karena ia tidak mampu berubah.
Tetapi karena pola lama sudah menjadi sesuatu yang otomatis.
Perubahan kemudian terasa seperti harus "melawan diri sendiri."
Dan proses tersebut membutuhkan energi.
Jadi, apakah takut terhadap perubahan berarti seseorang lemah?
Tidak selalu.
Rasa takut terhadap perubahan merupakan bagian yang sangat manusiawi.
Yang menjadi persoalan bukan apakah seseorang merasa takut.
Yang lebih penting adalah bagaimana ia merespons rasa takut tersebut.
Ada perbedaan antara:
"Aku takut berubah, jadi aku ingin memahami risikonya terlebih dahulu."
dan
"Aku takut berubah, jadi aku tidak akan pernah mencobanya."
Yang pertama dapat menjadi bentuk kehati-hatian.
Yang kedua dapat membuat seseorang terjebak.
Kita juga perlu memahami bahwa tidak semua perubahan harus diterima secara otomatis.
Beberapa perubahan memang perlu dipertimbangkan dengan hati-hati.
Perubahan pekerjaan, hubungan, tempat tinggal, kondisi keuangan, atau keputusan besar lainnya memang memiliki konsekuensi nyata.
Karena itu, menjadi fleksibel bukan berarti menerima semua perubahan tanpa berpikir.
Fleksibilitas psikologis lebih berkaitan dengan kemampuan untuk mengevaluasi situasi, mempertimbangkan informasi baru, kemudian menyesuaikan respons ketika memang diperlukan.
Bagaimana cara menjadi lebih terbuka terhadap perubahan?
Perubahan besar sering kali terasa lebih menakutkan ketika kita melihatnya sebagai satu lompatan besar.
Karena itu, salah satu pendekatan yang lebih realistis adalah memecah perubahan menjadi langkah-langkah kecil.
Daripada berpikir:
"Aku harus mengubah seluruh hidupku."
cobalah bertanya:
"Apa satu hal kecil yang bisa aku ubah minggu ini?"
Daripada:
"Aku harus menjadi orang yang benar-benar berbeda."
cobalah:
"Perilaku apa yang ingin aku latih?"
Daripada:
"Bagaimana kalau semuanya gagal?"
cobalah:
"Risiko apa yang sebenarnya bisa aku kendalikan?"
Pertanyaan seperti ini membantu mengubah perubahan dari sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang lebih konkret.
Selain itu, penting untuk membedakan antara ketidaknyamanan dan bahaya.
Tidak semua sesuatu yang terasa tidak nyaman berarti buruk.
Belajar keterampilan baru terasa tidak nyaman.
Memulai lingkungan baru terasa tidak nyaman.
Mengakui kesalahan terasa tidak nyaman.
Meninggalkan kebiasaan lama juga terasa tidak nyaman.
Namun ketidaknyamanan tersebut tidak selalu berarti kita sedang membuat keputusan yang salah.
Kadang-kadang, itu hanya tanda bahwa kita sedang berada di luar zona familiar.
Pada akhirnya, perubahan bukan hanya tentang meninggalkan sesuatu
Perubahan sering digambarkan sebagai keberanian untuk meninggalkan masa lalu.
Namun sebenarnya, perubahan juga merupakan kemampuan untuk membawa pelajaran dari masa lalu sambil tetap memberi ruang bagi sesuatu yang baru.
Kita tidak harus membenci versi lama diri kita untuk berkembang.
Kita tidak harus menganggap semua keputusan masa lalu sebagai kesalahan.
Dan kita tidak harus berubah hanya karena orang lain mengatakan bahwa kita harus berubah.
Yang penting adalah kemampuan untuk bertanya dengan jujur:
"Apakah cara lama ini masih membantu kehidupanku?"
"Apakah aku mempertahankannya karena memang masih sesuai, atau hanya karena aku takut dengan sesuatu yang belum kukenal?"
"Jika aku tidak berubah, apa yang mungkin terjadi?"
"Jika aku berubah, apa yang sebenarnya aku takutkan?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu kita melihat bahwa di balik keengganan terhadap perubahan sering kali terdapat sesuatu yang lebih dalam: kebutuhan akan keamanan, rasa kehilangan, pengalaman masa lalu, identitas diri, atau ketakutan terhadap ketidakpastian.
Dan ketika kita mulai memahami alasan tersebut, perubahan tidak lagi terlihat sekadar sebagai sesuatu yang harus dilawan.
Ia menjadi sesuatu yang bisa kita pahami, pertimbangkan, dan hadapi secara lebih sadar.
Karena pada akhirnya, menjadi dewasa bukan berarti tidak pernah takut terhadap perubahan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022