
seseorang yang bersemangat ketika berolahraga./Magnific/magnific
JawaPos.com - Dalam olahraga, kemampuan fisik bukan satu-satunya faktor yang menentukan performa. Dua atlet dapat memiliki kekuatan, kecepatan, teknik, dan kondisi fisik yang relatif sama, tetapi menunjukkan hasil yang berbeda ketika berada di bawah tekanan pertandingan. Salah satu pembeda pentingnya adalah kondisi psikologis.
Atlet harus mampu mempertahankan konsentrasi, mengendalikan kecemasan, menghadapi kesalahan, mengelola emosi, dan tetap menjalankan strategi meskipun pertandingan tidak berjalan sesuai harapan. Di sinilah mindfulness mulai banyak mendapat perhatian dalam psikologi olahraga.
Mindfulness secara sederhana dapat dipahami sebagai kemampuan untuk memberikan perhatian secara sengaja kepada pengalaman yang sedang terjadi saat ini, dengan sikap terbuka dan tidak terlalu menghakimi. Dalam olahraga, mindfulness bukan berarti atlet harus selalu tenang, tidak memiliki rasa takut, atau mengosongkan pikiran. Justru, atlet belajar menyadari apa yang sedang terjadi—pikiran, emosi, sensasi tubuh, dan lingkungan—tanpa langsung terbawa oleh semuanya.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (2/10), penelitian mengenai mindfulness dalam olahraga menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Sebuah meta-analisis menemukan bahwa intervensi mindfulness dapat meningkatkan mindfulness, kondisi flow, serta performa atlet sekaligus menurunkan kecemasan psikologis.
Namun, penelitian lain juga menunjukkan bahwa efeknya tidak selalu sama pada setiap cabang olahraga atau setiap jenis performa. Karena itu, mindfulness lebih tepat dipandang sebagai salah satu keterampilan psikologis yang dapat mendukung latihan dan performa, bukan sebagai solusi ajaib.
Lalu, bagaimana sebenarnya mindfulness dapat membantu seorang atlet?
1. Meningkatkan Konsentrasi dan Kemampuan Mempertahankan Fokus
Salah satu manfaat paling penting dari mindfulness bagi atlet adalah membantu mengembangkan kemampuan untuk mengarahkan kembali perhatian.
Dalam pertandingan, perhatian atlet terus-menerus mendapatkan gangguan. Seorang pemain sepak bola mungkin memikirkan skor pertandingan, keputusan wasit, teriakan penonton, kesalahan sebelumnya, atau instruksi pelatih. Pemain basket bisa mulai memikirkan apakah tembakan berikutnya akan masuk. Pelari mungkin memperhatikan rasa lelah di tubuhnya. Petenis dapat terjebak memikirkan kesalahan pada poin sebelumnya.
Masalahnya bukan bahwa pikiran-pikiran tersebut muncul.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022