seseorang yang berusaha bermeditasi./Magnific/benzoix
JawaPos.com - Di tengah kehidupan yang semakin cepat, manusia tidak hanya menghadapi banyak pekerjaan, tetapi juga harus berhadapan dengan arus informasi, tuntutan sosial, tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, serta berbagai kekhawatiran mengenai masa depan. Pikiran seolah-olah jarang benar-benar berhenti. Bahkan ketika tubuh sedang beristirahat, pikiran masih dapat sibuk memikirkan berbagai hal.
Dalam kondisi seperti ini, meditasi sering dipandang sebagai salah satu cara sederhana untuk membantu seseorang memberikan jeda kepada pikirannya. Meditasi tidak selalu berarti duduk bersila dalam ruangan yang sunyi selama berjam-jam. Dalam psikologi modern, praktik seperti mindfulness dan meditasi perhatian dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat dan dapat disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari.
Meditasi juga bukan berarti berusaha menghilangkan seluruh pikiran. Justru, salah satu prinsip penting dalam meditasi adalah belajar menyadari pikiran, emosi, dan sensasi tubuh tanpa harus langsung bereaksi terhadap semuanya.
Lalu, mengapa meditasi dapat menjadi praktik yang bermanfaat bagi banyak orang?
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (26/9), terdapat enam alasannya.
1. Meditasi Membantu Seseorang Mengambil Jeda dari Arus Pikiran
Salah satu pengalaman yang umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari adalah pikiran yang terus berpindah dari satu hal ke hal lainnya.
Saat sedang bekerja, seseorang mungkin memikirkan masalah keluarga. Ketika sedang bersama keluarga, pikirannya mungkin kembali kepada pekerjaan. Ketika hendak tidur, berbagai kejadian sepanjang hari justru kembali muncul dalam pikirannya.
Dalam psikologi, kemampuan untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi pada diri sendiri merupakan bagian penting dari kesadaran diri. Meditasi dapat menjadi latihan untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
Ketika seseorang duduk dan memperhatikan napas, misalnya, pikirannya kemungkinan tetap akan mengembara. Ia mungkin teringat pekerjaan, percakapan dengan orang lain, rencana besok, atau masalah yang belum selesai.
Namun, latihan meditasi bukanlah tentang memastikan pikiran tidak mengembara.
Yang dilatih adalah kemampuan untuk menyadari bahwa pikiran telah mengembara, kemudian dengan lembut mengembalikan perhatian kepada sesuatu yang sedang diamati, seperti napas.
Proses sederhana tersebut sebenarnya memiliki nilai psikologis.
Seseorang belajar bahwa tidak setiap pikiran harus segera diikuti.
Misalnya, muncul pikiran:
"Bagaimana kalau besok pekerjaan saya berantakan?"
Dalam kehidupan sehari-hari, pikiran tersebut mungkin langsung diikuti oleh kecemasan, pemeriksaan berulang, atau berbagai skenario negatif.
Dalam latihan mindfulness, seseorang dapat belajar mengamati:
"Saya sedang memikirkan kemungkinan bahwa pekerjaan saya akan bermasalah."
Perbedaannya terlihat kecil, tetapi secara psikologis cukup penting.
Pada cara pertama, seseorang seolah-olah berada di dalam pikirannya. Pada cara kedua, ia mulai mengambil jarak dan menyadari bahwa pikiran hanyalah salah satu pengalaman mental yang sedang muncul.
Dengan latihan berulang, meditasi dapat membantu seseorang mengembangkan kemampuan untuk mengamati isi pikirannya tanpa selalu bereaksi secara otomatis.
Karena itu, meditasi bukan sekadar aktivitas untuk "mengosongkan pikiran". Lebih tepat jika meditasi dipahami sebagai latihan perhatian dan kesadaran.
2. Meditasi Dapat Membantu Mengelola Respons terhadap Stres
Stres merupakan bagian dari kehidupan. Deadline pekerjaan, masalah finansial, konflik hubungan, perubahan hidup, dan ketidakpastian masa depan dapat menjadi sumber tekanan psikologis.
Masalahnya bukan semata-mata keberadaan stres.
Respons kita terhadap stres juga memiliki peranan penting.
Ketika menghadapi tekanan, tubuh dan pikiran dapat memasuki keadaan waspada. Seseorang mungkin menjadi lebih mudah tegang, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, atau terus memikirkan masalah yang sedang dihadapi.
Meditasi dapat menjadi salah satu cara untuk melatih seseorang berhenti sejenak sebelum memberikan respons.
Bayangkan seseorang menerima pesan yang membuatnya marah.
Respons spontan mungkin berupa langsung membalas dengan kata-kata keras.
Namun, jika ia memiliki kebiasaan berhenti sejenak dan memperhatikan napas serta reaksi tubuhnya, ia mungkin menyadari:
"Dada saya terasa tegang. Saya sedang marah."
Kesadaran tersebut menciptakan sedikit ruang antara stimulus dan respons.
Ruang kecil itu dapat menjadi sangat berharga.
Bukan berarti meditasi membuat seseorang tidak pernah marah atau stres. Tujuannya lebih realistis: membantu seseorang mengenali apa yang sedang terjadi sehingga ia memiliki kesempatan lebih besar untuk menentukan bagaimana akan merespons.
Dalam konteks ini, meditasi dapat dipandang sebagai latihan regulasi diri.
Seseorang tidak selalu dapat mengendalikan apa yang terjadi di luar dirinya. Namun, ia dapat berlatih mengenali respons internalnya.
3. Meditasi Membantu Meningkatkan Kesadaran terhadap Emosi
Banyak orang tidak benar-benar menyadari apa yang sedang mereka rasakan sampai emosi tersebut sudah sangat kuat.
Seseorang mungkin mengatakan bahwa dirinya hanya "lelah", padahal sebenarnya ia sedang kecewa.
Orang lain mungkin merasa sangat marah kepada pasangannya, tetapi di balik kemarahan tersebut terdapat rasa takut, tidak dihargai, atau terluka.
Meditasi dapat membantu seseorang memperhatikan pengalaman emosional dengan lebih dekat.
Dalam praktik mindfulness, seseorang dapat mengamati emosi tanpa harus langsung menghakiminya.
Misalnya:
"Saya sedang merasa cemas."
Kemudian memperhatikan:
Bagaimana rasanya di tubuh?
Apakah napas menjadi lebih cepat?
Apakah bahu terasa tegang?
Pikiran seperti apa yang muncul?
Apakah perasaan tersebut berubah setelah beberapa menit?
Proses ini dapat membantu seseorang memahami bahwa emosi bukanlah sesuatu yang selalu bersifat permanen.
Emosi muncul, berubah intensitasnya, dan pada akhirnya dapat berlalu.
Kesadaran seperti ini penting karena manusia sering melakukan dua hal ekstrem terhadap emosi.
Pertama, menekan emosi.
Kedua, langsung mengikuti emosi.
Meditasi menawarkan kemungkinan ketiga: mengamati emosi.
Mengamati bukan berarti menyukai emosi tersebut. Mengamati juga bukan berarti membiarkan diri melakukan apa saja karena sedang marah atau sedih.
Mengamati berarti mengakui:
"Perasaan ini sedang ada."
Dari sana, seseorang dapat mulai mempertimbangkan apa yang sebenarnya ia butuhkan dan bagaimana merespons dengan lebih tepat.
4. Meditasi Dapat Membantu Seseorang Lebih Fokus pada Saat Ini
Salah satu masalah kehidupan modern adalah perhatian manusia mudah terpecah.
Kita dapat makan sambil melihat ponsel, bekerja sambil memeriksa pesan, menonton sesuatu sambil membuka media sosial, atau berbicara dengan seseorang sambil memikirkan pekerjaan.
Tubuh berada di satu tempat, tetapi perhatian berada di tempat lain.
Meditasi memberikan kesempatan untuk melatih perhatian agar kembali kepada satu pengalaman pada satu waktu.
Dalam latihan sederhana, seseorang dapat memperhatikan napas.
Tarik napas.
Sadari udara yang masuk.
Buang napas.
Sadari udara yang keluar.
Pikiran mengembara.
Sadari bahwa pikiran mengembara.
Kembali kepada napas.
Proses ini mungkin terlihat sangat sederhana. Namun, pengulangan tersebut merupakan inti dari latihan perhatian.
Meditasi mengajarkan bahwa kehilangan fokus bukanlah kegagalan. Yang penting adalah kemampuan untuk menyadari kehilangan fokus dan kembali.
Prinsip ini juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika membaca, seseorang dapat mencoba benar-benar membaca.
Ketika berbicara dengan orang lain, ia dapat mencoba mendengarkan tanpa terus mempersiapkan jawaban.
Ketika makan, ia dapat memperhatikan rasa, tekstur, aroma, dan sensasi makanan.
Dengan demikian, meditasi tidak harus selalu dilakukan ketika seseorang duduk diam.
Prinsip mindfulness dapat dibawa ke berbagai aktivitas.
Tujuannya adalah meningkatkan kualitas perhatian terhadap pengalaman yang sedang berlangsung.
5. Meditasi Dapat Menjadi Bentuk Perawatan Diri yang Sederhana
Tidak semua bentuk perawatan diri harus mahal atau membutuhkan banyak peralatan.
Meditasi merupakan salah satu praktik yang secara relatif mudah dilakukan.
Seseorang tidak membutuhkan ruang khusus untuk memulai. Tidak selalu diperlukan pakaian tertentu. Tidak harus memiliki pengalaman spiritual tertentu.
Bahkan beberapa menit perhatian yang disengaja dapat menjadi awal latihan.
Hal ini membuat meditasi menarik sebagai salah satu kebiasaan perawatan diri.
Namun, penting untuk memahami bahwa "praktis" tidak berarti "ajaib".
Meditasi bukan solusi otomatis untuk semua persoalan psikologis. Manfaat yang dirasakan setiap orang dapat berbeda, dan hasilnya sering kali bergantung pada konsistensi, jenis latihan, kondisi individu, serta konteks kehidupan.
Meski demikian, karakteristiknya yang sederhana membuat meditasi relatif mudah dimasukkan ke dalam rutinitas.
Misalnya, seseorang dapat membuat kebiasaan meditasi selama lima menit setelah bangun tidur.
Atau melakukan latihan perhatian selama beberapa menit sebelum tidur.
Bagi orang yang memiliki jadwal sangat padat, latihan singkat dapat terasa lebih realistis daripada menetapkan target yang terlalu besar.
Dalam pembentukan kebiasaan, target yang dapat dilakukan secara konsisten sering kali lebih mudah dipertahankan daripada target yang terlalu ambisius.
Karena itu, seseorang tidak harus memulai dengan meditasi selama 30 atau 60 menit.
Lima menit yang dilakukan dengan konsisten dapat menjadi titik awal.
6. Meditasi Mengajarkan Hubungan yang Berbeda dengan Pikiran
Mungkin inilah salah satu pelajaran paling penting dari meditasi.
Manusia sering menganggap bahwa setiap pikiran yang muncul harus memiliki makna atau harus ditindaklanjuti.
Padahal, pikiran dapat muncul secara spontan.
Ketika seseorang berpikir:
"Saya tidak cukup baik."
Pikiran tersebut dapat terasa seperti fakta.
Ketika muncul:
"Orang itu pasti tidak menyukai saya."
Kita dapat memperlakukannya sebagai kesimpulan yang sudah pasti benar.
Meditasi mengajarkan seseorang untuk memperhatikan proses berpikir tersebut.
Bukan dengan mengatakan bahwa semua pikiran salah, tetapi dengan menyadari bahwa pikiran dan kenyataan bukanlah hal yang selalu identik.
Dalam latihan mindfulness, seseorang dapat belajar mengatakan:
"Saya menyadari bahwa pikiran ini muncul."
Bukan:
"Pikiran ini pasti benar."
Perubahan kecil dalam cara memandang pikiran tersebut dapat membantu menciptakan jarak psikologis.
Misalnya, daripada mengatakan:
"Saya adalah orang yang gagal."
seseorang dapat mengenali:
"Saya sedang memiliki pikiran bahwa saya gagal."
Kalimat kedua tidak otomatis menyelesaikan masalah. Namun, ia memberikan ruang untuk melihat pikiran tersebut secara lebih objektif.
Apakah pikiran itu didukung fakta?
Apakah ada perspektif lain?
Apakah saya sedang terlalu keras terhadap diri sendiri?
Apakah ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki situasi?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memungkinkan seseorang berpindah dari reaksi otomatis menuju refleksi yang lebih sadar.
Meditasi Tidak Harus Membuat Pikiran Menjadi Kosong
Ada satu kesalahpahaman yang cukup umum mengenai meditasi: seseorang dianggap gagal bermeditasi jika pikirannya masih muncul.
Padahal, pikiran yang muncul merupakan bagian normal dari pengalaman manusia.
Otak memang terus menghasilkan pikiran, ingatan, penilaian, dan asosiasi.
Jika seseorang duduk untuk bermeditasi dan menyadari bahwa pikirannya terus berjalan, itu bukan berarti latihannya gagal.
Justru, setiap kali ia menyadari pikirannya mengembara dan kembali memperhatikan napas, ia sedang melakukan latihan.
Karena itu, meditasi bukan kompetisi untuk menjadi orang yang paling tenang.
Seseorang tidak perlu mencapai kondisi mental tertentu agar meditasinya dianggap berhasil.
Yang lebih penting adalah proses menyadari pengalaman saat ini dengan perhatian yang lebih terbuka dan tidak reaktif.
Bagaimana Memulai Meditasi bagi Pemula?
Bagi orang yang belum pernah bermeditasi, memulainya dapat dibuat sederhana.
Cobalah langkah berikut.
Pertama, cari posisi yang nyaman.
Tidak harus duduk bersila. Duduk di kursi juga bisa.
Kedua, tentukan waktu yang singkat.
Mulailah dengan sekitar lima menit.
Ketiga, arahkan perhatian kepada napas.
Perhatikan sensasi ketika udara masuk dan keluar.
Keempat, biarkan pikiran muncul.
Tidak perlu memaksa pikiran pergi.
Kelima, ketika menyadari bahwa pikiran mengembara, kembali kepada napas.
Lakukan berulang kali.
Jika pikiran mengembara 20 kali, mungkin Anda akan kembali kepada napas 20 kali.
Itulah latihannya.
Tidak perlu menilai diri sendiri sebagai "buruk dalam meditasi".
Meditasi Bukan Pengganti Bantuan Profesional
Meskipun meditasi dapat menjadi bagian dari kebiasaan menjaga kesejahteraan psikologis, meditasi bukan pengganti terapi psikologis atau perawatan medis ketika seseorang mengalami masalah yang membutuhkan bantuan profesional.
Jika seseorang mengalami tekanan psikologis yang berat, gejala yang menetap, gangguan tidur yang serius, atau kesulitan menjalankan kehidupan sehari-hari, berbicara dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang sesuai dapat menjadi langkah penting.
Meditasi dapat menjadi salah satu pelengkap, bukan satu-satunya solusi.
Hal ini penting karena kesehatan mental dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kondisi biologis, pengalaman hidup, hubungan sosial, lingkungan, kebiasaan sehari-hari, dan keadaan psikologis.
Kesimpulan
Meditasi dapat menjadi praktik sederhana yang memiliki relevansi psikologis dalam kehidupan sehari-hari.
Enam alasan utamanya adalah:
Membantu seseorang mengambil jeda dari arus pikiran.
Mendukung kemampuan mengelola respons terhadap stres.
Meningkatkan kesadaran terhadap emosi.
Melatih perhatian terhadap apa yang sedang terjadi saat ini.
Dapat menjadi bentuk perawatan diri yang relatif sederhana dan fleksibel.
Mengajarkan seseorang untuk melihat pikiran sebagai pengalaman mental, bukan selalu sebagai fakta yang harus dipercaya atau diikuti.
Pada akhirnya, inti meditasi bukanlah menjadi seseorang yang tidak pernah stres, marah, cemas, atau memiliki pikiran negatif.
Tujuannya lebih sederhana: belajar menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri sebelum kita secara otomatis bereaksi terhadapnya.
Dalam kehidupan yang penuh tuntutan dan gangguan, kemampuan untuk berhenti sejenak, bernapas, memperhatikan, dan menyadari keadaan diri dapat menjadi keterampilan psikologis yang berharga.
Meditasi mungkin hanya membutuhkan beberapa menit.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Skor Azerbaijan vs Liechtenstein di Liga Nations UEFA: Milli Menang Tipis Kejar Promosi
Prediksi Skor Wales vs Norwegia di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022