seseorang yang mengatasi konflik antarsaudara./Magnific/stockking
JawaPos.com - Konflik antarsaudara adalah sesuatu yang sangat umum terjadi dalam kehidupan keluarga. Kakak dan adik bisa bertengkar karena hal sederhana seperti berebut mainan, memilih tontonan di televisi, menggunakan barang milik satu sama lain, hingga persoalan yang lebih kompleks seperti merasa kurang diperhatikan orang tua.
Bagi orang tua, pertengkaran antarsaudara terkadang terasa melelahkan. Baru saja rumah tenang, beberapa menit kemudian terdengar suara saling menyalahkan. Satu anak menangis, anak lainnya merasa diperlakukan tidak adil, sementara orang tua berada di tengah-tengah dan harus menentukan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, konflik antarsaudara tidak selalu harus dipandang sebagai masalah yang harus segera dihentikan.
Dalam sudut pandang psikologi perkembangan, interaksi dengan saudara dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar berbagai keterampilan sosial: mengungkapkan perasaan, memahami sudut pandang orang lain, bernegosiasi, menyelesaikan masalah, mengelola emosi, dan memperbaiki hubungan setelah terjadi perselisihan.
Artinya, tujuan orang tua bukan sekadar membuat anak berhenti bertengkar.
Tujuan yang lebih penting adalah membantu mereka belajar menghadapi konflik dengan cara yang semakin sehat.
Lalu, bagaimana caranya?
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), terdapat enam pendekatan kreatif yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi konflik antarsaudara.
1. Ubah Pertengkaran Menjadi "Misi Pemecahan Masalah"
Ketika dua saudara sedang bertengkar, respons spontan orang tua sering kali adalah:
"Sudah! Jangan bertengkar!"
Kalimat tersebut memang dapat menghentikan suara ribut untuk sementara. Namun, anak belum tentu memahami bagaimana menyelesaikan persoalan yang menyebabkan konflik.
Sebagai alternatif, orang tua dapat mengubah konflik menjadi sebuah misi pemecahan masalah.
Misalnya, dua anak berebut satu mainan.
Daripada langsung menentukan siapa yang boleh mendapatkan mainan tersebut, orang tua bisa mengatakan:
"Sepertinya kalian berdua ingin menggunakan mainan yang sama. Sekarang kita cari solusi yang membuat kalian berdua merasa cukup adil."
Kemudian ajukan beberapa pertanyaan:
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"
"Menurutmu, apa yang diinginkan kakak/adikmu?"
"Solusi apa yang bisa membuat kalian berdua bisa bermain?"
"Apakah ada cara untuk bergantian?"
"Kalau bergantian, siapa yang mulai dulu?"
"Berapa lama masing-masing boleh bermain?"
Pendekatan seperti ini menggeser posisi orang tua dari hakim menjadi fasilitator.
Anak juga belajar bahwa konflik tidak selalu berarti seseorang harus menang dan seseorang harus kalah.
Mengapa cara ini menarik secara psikologis?
Konflik sebenarnya merupakan situasi yang membutuhkan kemampuan problem solving. Ketika anak diberi kesempatan untuk mencari solusi, mereka berlatih mengidentifikasi masalah, mempertimbangkan kepentingan pihak lain, menghasilkan alternatif, dan mengevaluasi pilihan.
Tentu, kemampuan ini tidak akan langsung muncul dalam satu percakapan.
Anak membutuhkan latihan berulang.
Karena itu, jangan berharap dua saudara yang masih kecil langsung mampu menyelesaikan konflik secara mandiri. Pada awalnya, orang tua mungkin perlu memberikan contoh dan struktur yang cukup jelas.
Misalnya:
"Pilihan pertama, kalian bergantian. Pilihan kedua, kalian bermain bersama. Pilihan ketiga, mainannya disimpan dulu sampai kalian sudah bisa menentukan giliran."
Dengan demikian, anak mulai memahami bahwa konflik memiliki jalan keluar selain berteriak atau menangis.
2. Gunakan Teknik "Tukar Sepatu" untuk Melatih Empati
Salah satu sumber konflik antarsaudara adalah ketidakmampuan anak memahami sudut pandang saudaranya.
Bagi seorang anak, sesuatu yang terlihat sangat jelas dari sudut pandangnya belum tentu terlihat sama bagi kakak atau adiknya.
Karena itu, orang tua bisa menggunakan permainan sederhana yang disebut "tukar sepatu".
Bukan berarti anak benar-benar harus bertukar sepatu.
Maksudnya adalah mengajak anak membayangkan dirinya berada di posisi saudaranya.
Misalnya kakak mengatakan:
"Adik selalu mengambil barangku!"
Daripada langsung menjawab:
"Ya sudah, kamu harus mengalah karena dia masih kecil."
Cobalah bertanya:
"Kalau kamu menjadi adik, kira-kira kenapa kamu mengambil barang itu?"
Kemudian tanyakan kepada adik:
"Kalau kamu menjadi kakak dan barangmu diambil tanpa izin, kira-kira bagaimana perasaanmu?"
Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu anak melihat bahwa setiap orang memiliki pengalaman subjektif yang berbeda.
Jangan langsung memaksa anak meminta maaf
Orang tua terkadang terlalu cepat meminta anak mengatakan:
"Maaf."
Masalahnya, permintaan maaf yang dipaksakan belum tentu disertai pemahaman.
Yang lebih penting adalah membantu anak memahami dampak perilakunya.
Misalnya:
"Kamu mengambil pensil kakak tanpa izin. Menurutmu, apa yang mungkin kakak rasakan?"
Setelah anak memahami situasinya, barulah orang tua dapat bertanya:
"Kalau begitu, apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaikinya?"
Jawabannya mungkin:
"Aku kembalikan."
Atau:
"Aku minta maaf karena mengambil tanpa izin."
Dengan demikian, anak belajar bahwa memperbaiki hubungan bukan sekadar mengucapkan kata "maaf", tetapi juga memahami dampak perilaku dan melakukan tindakan perbaikan.
3. Buat "Rapat Keluarga" untuk Konflik yang Berulang
Jika konflik yang sama terjadi berkali-kali, menyelesaikannya satu per satu mungkin tidak cukup.
Misalnya:
Setiap sore kakak dan adik selalu bertengkar karena berebut tablet.
Hari ini orang tua melerai.
Besok terjadi lagi.
Lusa terjadi lagi.
Daripada terus menjadi "petugas pemadam kebakaran" setiap kali konflik muncul, orang tua dapat membuat rapat keluarga singkat.
Tidak perlu terlalu formal.
Bahkan bisa dilakukan sambil duduk santai di ruang keluarga.
Orang tua dapat membuka percakapan dengan:
"Kita punya satu masalah yang terus muncul. Bagaimana kalau kita cari aturan bersama supaya tidak terus bertengkar?"
Kemudian setiap anak mendapat kesempatan berbicara.
Aturannya sederhana:
Satu orang berbicara.
Yang lain mendengarkan.
Tidak boleh menghina.
Boleh tidak setuju, tetapi harus menjelaskan alasannya.
Tujuan rapat adalah mencari solusi.
Misalnya konflik mengenai penggunaan tablet.
Kakak mungkin menginginkan satu jam.
Adik mungkin ingin menggunakan tablet sepanjang sore.
Orang tua kemudian membantu mereka membuat aturan yang realistis.
Contohnya:
Kakak menggunakan tablet selama 30 menit.
Setelah itu giliran adik.
Jika ada kebutuhan khusus, anak harus meminta izin.
Timer digunakan agar tidak ada perdebatan mengenai waktu.
Jika seseorang sudah selesai, perangkat diberikan kepada saudara berikutnya.
Mengapa aturan bersama bisa membantu?
Anak akan lebih mudah memahami aturan ketika mereka ikut terlibat dalam proses pembuatannya.
Selain itu, aturan yang dibuat sebelum konflik terjadi dapat mengurangi kebutuhan orang tua untuk mengambil keputusan secara spontan ketika emosi sedang tinggi.
Jadi, bukan:
"Berhenti bertengkar! Sekarang berikan tabletnya kepada adik."
Melainkan:
"Kita sudah punya aturan. Mari kita lihat kesepakatan keluarga."
Konflik pun berubah dari pertengkaran pribadi menjadi persoalan yang dapat diselesaikan berdasarkan aturan yang telah disepakati.
4. Pisahkan "Anak" dari "Perilakunya"
Salah satu hal yang perlu diperhatikan orang tua adalah bahasa yang digunakan ketika menghadapi konflik.
Ada perbedaan besar antara mengatakan:
"Kamu memang selalu menyebalkan."
dan:
"Perilakumu tadi membuat adik kesulitan."
Kalimat pertama menyerang identitas anak.
Kalimat kedua membahas perilaku tertentu.
Perbedaan ini penting.
Ketika anak terus-menerus mendapatkan label seperti "nakal", "egois", "pemarah", atau "pengganggu", ia dapat mulai mengidentifikasi dirinya dengan label tersebut.
Sebaliknya, ketika orang tua berfokus pada perilaku, anak memperoleh pesan bahwa:
"Kamu bukan masalahnya. Ada perilaku tertentu yang perlu diperbaiki."
Misalnya:
Bukan:
"Kamu egois sekali!"
Tetapi:
"Kamu ingin menggunakan mainan itu sendiri. Itu boleh. Tetapi kamu tidak boleh merebutnya dari tangan adik."
Bukan:
"Kakak selalu mengganggu!"
Tetapi:
"Kakak boleh mengajak adik bermain, tetapi kalau adik mengatakan ingin sendiri, kita perlu menghargainya."
Bahasa seperti ini membuat batas perilaku tetap jelas tanpa merendahkan harga diri anak.
Tegas tidak harus kasar
Ini merupakan prinsip penting dalam pengasuhan.
Orang tua tetap boleh mengatakan "tidak".
Anak tetap perlu mengetahui batas.
Namun, batas dapat disampaikan tanpa penghinaan.
Contohnya:
"Aku tidak akan membiarkan kamu memukul adik."
Kalimat tersebut tegas.
Tetapi berbeda dari:
"Kamu memang anak nakal. Dasar tukang pukul."
Yang kedua menyerang pribadi anak, bukan perilakunya.
Tujuan disiplin seharusnya membantu anak belajar mengatur perilaku, bukan membuatnya merasa dirinya buruk.
5. Ciptakan "Zona Damai" Ketika Emosi Terlalu Tinggi
Ada kalanya konflik sudah berada pada tingkat emosi yang terlalu tinggi.
Anak berteriak.
Menangis.
Membanting benda.
Bahkan mungkin mulai memukul.
Pada kondisi seperti ini, meminta anak berdiskusi panjang biasanya tidak efektif.
Sebelum mencari solusi, emosi perlu diturunkan terlebih dahulu.
Orang tua dapat menciptakan sebuah "zona damai" di rumah.
Tidak harus berupa ruangan khusus.
Bisa berupa sudut kecil dengan bantal, buku, boneka, atau benda yang membantu anak menenangkan diri.
Pesannya bukan:
"Kamu dihukum. Pergi ke sana!"
Tetapi:
"Kita berhenti dulu. Kamu sedang sangat marah. Kita tenangkan badan dulu, setelah itu kita bicarakan."
Anak dapat diajak melakukan aktivitas sederhana:
menarik napas perlahan,
minum air,
duduk sejenak,
menghitung secara perlahan,
memeluk bantal,
atau berada di tempat yang lebih tenang.
Setelah emosi menurun, barulah pembicaraan dilanjutkan.
Mengapa harus menunggu?
Ketika seseorang sedang sangat marah, kemampuan untuk mendengarkan dan memproses informasi dapat menurun.
Karena itu, nasihat panjang seperti:
"Kamu harus mengerti bahwa adikmu juga punya perasaan dan kamu sebagai kakak seharusnya..."
sering kali tidak masuk ketika anak sedang berteriak.
Lebih efektif jika orang tua terlebih dahulu membantu anak kembali tenang.
Setelah itu:
"Tadi kamu marah karena apa?"
"Bagian mana yang membuatmu kesal?"
"Kalau kejadian itu terulang, apa yang bisa kamu lakukan?"
Dengan begitu, proses belajar terjadi ketika anak sudah berada dalam kondisi yang lebih siap.
6. Jangan Hanya Mengajarkan Cara Bertengkar—Ajarkan Cara Berdamai
Banyak orang tua berfokus pada bagaimana menghentikan pertengkaran.
Namun, ada satu keterampilan lain yang tidak kalah penting: bagaimana memperbaiki hubungan setelah konflik.
Anak perlu memahami bahwa hubungan tidak berakhir hanya karena mereka bertengkar.
Setelah konflik selesai, orang tua dapat membantu anak melakukan proses rekonsiliasi.
Misalnya:
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Bagaimana keadaan adikmu?"
"Apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki keadaan?"
Bentuk perbaikan bisa berbeda-beda.
Tidak selalu harus berupa pelukan.
Anak mungkin memilih:
mengembalikan barang,
membantu membereskan mainan,
mengatakan maaf,
membuat gambar,
menawarkan bermain bersama,
atau sekadar mengatakan, "Aku sudah tidak marah."
Yang terpenting adalah anak memahami konsep repair, yaitu usaha untuk memperbaiki hubungan setelah terjadi konflik.
Konflik bukan berarti hubungan gagal
Dalam hubungan manusia, perbedaan pendapat hampir tidak mungkin dihindari.
Yang perlu dipelajari anak bukan bagaimana memastikan dirinya tidak pernah marah kepada saudaranya.
Anak perlu belajar:
"Aku boleh marah."
"Aku boleh tidak setuju."
"Tetapi aku tidak boleh menyakiti orang lain."
"Dan setelah terjadi masalah, aku bisa memperbaikinya."
Inilah salah satu keterampilan sosial yang dapat berguna jauh melampaui hubungan dengan saudara.
Bonus: Jangan Selalu Mencari Siapa yang Salah
Ini mungkin merupakan salah satu perubahan pola pikir paling penting bagi orang tua.
Ketika dua anak bertengkar, orang tua sering merasa harus menentukan:
"Siapa yang memulai?"
"Siapa yang salah?"
"Siapa yang benar?"
Dalam situasi tertentu, memang penting menentukan tanggung jawab—terutama jika ada tindakan yang membahayakan atau melanggar batas yang jelas.
Namun, tidak semua konflik membutuhkan hakim.
Kadang-kadang lebih bermanfaat bertanya:
"Apa yang terjadi?"
"Bagaimana kita bisa memperbaikinya?"
"Apa yang bisa kalian lakukan berbeda lain kali?"
Dengan begitu, perhatian anak bergeser dari memenangkan argumen menuju menyelesaikan masalah.
Hal yang Sebaiknya Dihindari Orang Tua
Selain mengetahui apa yang harus dilakukan, penting juga memahami beberapa respons yang dapat memperburuk konflik antarsaudara.
1. Membandingkan anak
"Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?"
"Adikmu saja bisa, masa kamu tidak?"
Perbandingan dapat meningkatkan persaingan dan rasa tidak adil.
2. Memberi label
"Kamu pemalas."
"Kamu egois."
"Kamu memang pembuat masalah."
Fokuskan koreksi pada perilaku, bukan identitas anak.
3. Selalu memaksa anak mengalah
Anak yang lebih tua tidak selalu harus mengalah hanya karena ia lebih tua.
Begitu pula anak yang lebih kecil tidak selalu harus mendapatkan apa yang diinginkannya hanya karena usianya lebih muda.
Yang lebih sehat adalah mencari solusi berdasarkan kebutuhan, batas, dan situasi.
4. Mengabaikan konflik yang berbahaya
Tidak semua pertengkaran bisa dibiarkan begitu saja.
Jika konflik sudah melibatkan kekerasan fisik, ancaman, penghinaan berat, atau perilaku yang membahayakan, orang tua perlu segera melakukan intervensi dan memastikan keselamatan anak.
5. Mengharapkan anak menyelesaikan semuanya sendiri
Kemandirian dalam menyelesaikan konflik perlu dibangun secara bertahap.
Anak kecil mungkin membutuhkan banyak bantuan.
Seiring perkembangan usia dan keterampilan sosialnya, bantuan tersebut dapat dikurangi.
Pada Akhirnya, Tujuannya Bukan Rumah Tanpa Konflik
Rumah yang sehat bukan berarti rumah yang tidak pernah terdengar pertengkaran.
Kakak dan adik mungkin tetap akan berbeda pendapat.
Mereka mungkin masih berebut.
Mereka mungkin masih merasa kesal satu sama lain.
Itu bagian dari proses belajar hidup bersama.
Yang berubah adalah cara mereka menghadapi konflik.
Anak yang sebelumnya langsung memukul mungkin perlahan belajar mengatakan:
"Aku tidak suka kalau kamu mengambil barangku."
Anak yang sebelumnya berteriak mungkin belajar:
"Kita bergantian saja."
Anak yang sebelumnya pergi sambil membanting pintu mungkin belajar:
"Aku butuh waktu sebentar untuk tenang."
Dan setelah konflik selesai, mereka belajar mengatakan:
"Maaf."
"Terima kasih."
"Yuk, kita mulai lagi."
Itulah perkembangan yang sebenarnya.
Jadi, jika kamu ingin mengatasi konflik antarsaudara secara kreatif, jangan hanya berusaha membuat mereka berhenti bertengkar.
Gunakan konflik tersebut sebagai kesempatan untuk mengajarkan enam keterampilan penting:
memecahkan masalah, memahami perspektif orang lain, membuat kesepakatan, memisahkan perilaku dari identitas, mengelola emosi, dan memperbaiki hubungan setelah konflik.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022