seseorang yang hubungannya berakhir tiba-tiba / foto: Magnific/makistock
Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada masalah yang tampak serius. Komunikasi masih berjalan. Masih saling mengucapkan selamat pagi. Masih pergi bersama. Bahkan, beberapa hari sebelumnya mungkin masih terlihat begitu bahagia.
Lalu tiba-tiba salah satu berkata, “Aku rasa kita harus berhenti sampai di sini.”
Bagi orang yang ditinggalkan, situasi seperti ini bisa terasa sangat membingungkan. Muncul banyak pertanyaan:
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Bukankah kita baik-baik saja?”
“Mengapa dia tidak pernah mengatakan kalau ada masalah?”
“Apakah selama ini aku tidak menyadarinya?”
Dalam psikologi hubungan, berakhirnya sebuah hubungan memang tidak selalu disebabkan oleh satu kejadian besar yang terlihat jelas. Terkadang, keputusan untuk mengakhiri hubungan merupakan hasil dari proses psikologis yang berlangsung perlahan dan diam-diam.
Dengan kata lain, sesuatu yang terlihat tiba-tiba dari luar belum tentu benar-benar terjadi secara tiba-tiba di dalam diri seseorang.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (28/9), terdapat delapan alasan yang dapat menjelaskan mengapa hubungan yang tampak baik-baik saja bisa berakhir secara mendadak.
1. Salah Satu Orang Sudah Lama Mengalami Ketidakpuasan yang Tidak Pernah Dibicarakan
Salah satu alasan paling umum adalah adanya ketidakpuasan yang dipendam terlalu lama.
Tidak semua orang terbiasa mengungkapkan ketidaknyamanan dalam hubungan. Ada orang yang ketika merasa kecewa langsung membicarakannya. Namun, ada pula yang memilih diam karena takut konflik, takut menyakiti pasangan, atau berharap masalah tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Pada awalnya mungkin hanya masalah kecil.
Pasangan jarang memiliki waktu bersama.
Komunikasi terasa semakin hambar.
Perhatian mulai berkurang.
Ada kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Namun karena setiap masalah tampak kecil, seseorang mungkin memilih untuk menahannya.
Masalahnya, emosi yang terus ditekan tidak selalu menghilang.
Kekecewaan kecil dapat terakumulasi menjadi rasa lelah secara emosional.
Hari ini kecewa karena tidak didengarkan.
Besok kecewa karena merasa tidak dihargai.
Minggu berikutnya kecewa karena kebutuhan emosional kembali diabaikan.
Jika pola ini berlangsung lama, seseorang bisa sampai pada titik ketika dirinya tidak lagi ingin memperbaiki hubungan.
Pasangannya mungkin baru mengetahui hal tersebut ketika keputusan untuk berpisah sudah dibuat.
Itulah mengapa bagi satu pihak perpisahan terasa mendadak, sementara bagi pihak lain prosesnya mungkin sudah berlangsung selama berbulan-bulan.
Pelajaran pentingnya
Hubungan yang terlihat tenang bukan selalu hubungan yang sehat.
Terkadang ketenangan berarti kedua orang sudah menemukan cara menyelesaikan masalah.
Namun terkadang ketenangan juga berarti salah satu orang sudah berhenti membicarakan masalah karena merasa tidak ada gunanya.
Karena itu, komunikasi dalam hubungan bukan hanya tentang membicarakan hal-hal menyenangkan.
Membicarakan ketidaknyamanan juga merupakan bagian penting dari kedekatan.
2. Seseorang Bisa Mengalami “Emotional Disconnection” Sebelum Hubungan Benar-Benar Berakhir
Hubungan tidak selalu berakhir ketika seseorang berhenti mencintai.
Dalam beberapa kasus, hubungan mulai retak ketika seseorang merasa tidak lagi terhubung secara emosional dengan pasangannya.
Secara fisik mereka masih bersama.
Masih makan bersama.
Masih berbicara.
Masih menjalani rutinitas.
Tetapi secara emosional, jaraknya semakin jauh.
Percakapan yang dahulu terasa menarik mulai terasa seperti kewajiban.
Cerita tentang kehidupan sehari-hari tidak lagi dibagikan.
Masalah pribadi lebih sering disimpan sendiri.
Ketika mengalami sesuatu yang menyenangkan, pasangan bukan lagi orang pertama yang ingin diberi tahu.
Ketika sedang mengalami kesulitan, mencari dukungan dari pasangan juga tidak lagi terasa nyaman.
Inilah salah satu tanda penting dari keterputusan emosional.
Seseorang bisa berada dalam hubungan, tetapi secara psikologis mulai hidup sendirian.
Dan ketika keterputusan emosional berlangsung cukup lama, perpisahan dapat terasa seperti langkah yang logis bagi orang tersebut.
Yang menarik, pasangan yang ditinggalkan sering kali tidak menyadari proses tersebut karena tidak ada konflik besar.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada pertengkaran.
Hanya ada jarak yang semakin melebar.
3. Hubungan Terlihat Baik karena Keduanya Terbiasa, Bukan karena Keduanya Bahagia
Rutinitas dapat menciptakan ilusi bahwa sebuah hubungan baik-baik saja.
Setiap hari melakukan hal yang sama.
Bangun bersama.
Bekerja.
Mengobrol.
Makan.
Menonton sesuatu.
Tidur.
Besok mengulanginya lagi.
Dari luar, semuanya terlihat stabil.
Namun stabilitas tidak selalu sama dengan kepuasan.
Ada hubungan yang bertahan karena kedua orang memang bahagia.
Tetapi ada pula hubungan yang bertahan karena sudah menjadi kebiasaan.
Manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan sesuatu yang sudah familiar. Dalam psikologi, kondisi yang sudah dikenal sering terasa lebih aman dibandingkan ketidakpastian.
Karena itu, seseorang mungkin tetap menjalani hubungan meskipun sebenarnya ada bagian dirinya yang mulai merasa tidak puas.
Ia mungkin berpikir:
“Mungkin nanti akan membaik.”
“Kami sudah bersama terlalu lama.”
“Sayang kalau harus berakhir.”
“Sebenarnya hubungan ini tidak buruk.”
Namun suatu saat, seseorang bisa mulai bertanya:
“Apakah aku benar-benar bahagia, atau aku hanya sudah terbiasa?”
Pertanyaan semacam ini dapat menjadi titik perubahan.
Bukan karena pasangan tiba-tiba menjadi buruk.
Bukan pula karena hubungan tiba-tiba berubah.
Melainkan karena seseorang mulai mengevaluasi kembali apa yang sebenarnya ia inginkan dari kehidupannya.
4. Prioritas Hidup Bisa Berubah
Dua orang dapat saling mencintai tetapi tetap mengalami perubahan arah kehidupan.
Pada awal hubungan, tujuan mereka mungkin terlihat serupa.
Mereka ingin menikmati masa muda bersama.
Membangun karier.
Menabung.
Bepergian.
Menikmati kehidupan.
Namun beberapa tahun kemudian, prioritas dapat berubah.
Salah satu ingin menikah.
Yang lain belum siap.
Salah satu ingin memiliki anak.
Yang lain tidak menginginkannya.
Salah satu ingin pindah kota.
Yang lain ingin tetap tinggal dekat keluarga.
Salah satu ingin fokus pada karier.
Yang lain menginginkan kehidupan yang lebih tenang.
Perubahan seperti ini tidak selalu berarti seseorang melakukan kesalahan.
Terkadang dua orang hanya berkembang ke arah yang berbeda.
Inilah sebabnya sebuah hubungan dapat berakhir meskipun masih ada kasih sayang.
Cinta saja tidak selalu menyelesaikan perbedaan tujuan hidup.
Hubungan jangka panjang membutuhkan lebih dari sekadar perasaan.
Dibutuhkan juga kesesuaian nilai, kebutuhan, tujuan, harapan, dan kemampuan untuk berkompromi.
Ketika perbedaan tersebut semakin besar, seseorang mungkin akhirnya merasa bahwa mempertahankan hubungan justru berarti mengorbankan arah hidup yang dianggap penting.
5. Salah Satu Orang Sudah Mengambil Keputusan Secara Internal
Ini merupakan salah satu alasan mengapa perpisahan bisa terlihat sangat tiba-tiba.
Seseorang dapat menjalani proses pengambilan keputusan secara internal tanpa melibatkan pasangannya.
Ia mungkin berbulan-bulan mempertimbangkan:
“Apakah hubungan ini masih bisa diperbaiki?”
“Apakah aku masih ingin berada di sini?”
“Apakah aku melihat masa depan bersama dia?”
“Apakah masalah ini bisa berubah?”
Selama proses tersebut, pasangan mungkin tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Karena itu ketika keputusan akhirnya disampaikan, pasangan merasa seperti mendapatkan berita yang muncul dari ruang kosong.
Padahal keputusan tersebut mungkin sudah melalui banyak pertimbangan.
Hal ini juga menjelaskan mengapa seseorang yang memutuskan hubungan terkadang terlihat sangat tenang ketika mengatakannya.
Bukan berarti ia tidak memiliki emosi.
Bisa jadi sebagian proses emosionalnya sudah terjadi jauh sebelum percakapan perpisahan.
Sementara itu, orang yang ditinggalkan baru memulai proses emosional tersebut ketika hubungan benar-benar dinyatakan berakhir.
Akibatnya, keduanya bisa terlihat berada pada tahap yang sangat berbeda.
Satu orang merasa sudah sampai pada kesimpulan.
Yang lain masih berusaha memahami pertanyaannya.
6. Konflik yang Terlihat Kecil Sebenarnya Menyimpan Masalah yang Lebih Besar
Terkadang penyebab perpisahan bukanlah satu masalah besar, melainkan pola kecil yang berulang.
Misalnya:
Pasangan sering membatalkan janji.
Salah satu merasa tidak didengarkan.
Masalah yang sama terus muncul.
Permintaan untuk berubah tidak pernah benar-benar ditindaklanjuti.
Permintaan maaf selalu diberikan, tetapi pola perilaku kembali berulang.
Jika kejadian seperti ini terjadi terus-menerus, masalah sebenarnya bukan lagi tentang satu kejadian.
Masalahnya berubah menjadi pola.
Dalam hubungan, seseorang bisa menjadi lelah bukan karena satu kesalahan, tetapi karena merasa kesalahan yang sama terus berulang tanpa perubahan yang berarti.
Misalnya, seseorang mungkin tidak pergi karena pasangannya pernah lupa membalas pesan.
Ia mungkin pergi setelah bertahun-tahun merasa bahwa kebutuhan emosionalnya selalu berada di urutan terakhir.
Dari luar, orang lain mungkin hanya melihat:
“Mereka putus gara-gara masalah kecil.”
Padahal masalah kecil tersebut mungkin hanya menjadi pemicu terakhir dari akumulasi masalah yang jauh lebih panjang.
7. Seseorang Bisa Mengalami Perubahan Diri
Manusia tidak berhenti berkembang setelah memasuki sebuah hubungan.
Nilai, kebutuhan, identitas, dan cara seseorang melihat masa depan dapat berubah.
Orang yang memulai hubungan pada usia 20 tahun mungkin memiliki kebutuhan yang sangat berbeda ketika berusia 27 atau 30 tahun.
Dulu mungkin yang paling penting adalah memiliki seseorang untuk menemani.
Kemudian kebutuhan berubah menjadi hubungan yang stabil.
Dulu mungkin perhatian kecil sudah cukup.
Kemudian seseorang membutuhkan komunikasi yang lebih matang.
Dulu mungkin mereka menikmati kehidupan yang spontan.
Kemudian salah satu mulai menginginkan struktur dan kepastian.
Perubahan tersebut tidak selalu berarti pasangan gagal.
Terkadang orang memang berubah.
Dan ketika seseorang mulai mengenali dirinya dengan lebih jelas, ia mungkin menyadari bahwa hubungan yang dulu cocok ternyata tidak lagi sesuai dengan dirinya saat ini.
Ini bisa terasa menyakitkan karena muncul pertanyaan:
“Kalau dulu kita cocok, mengapa sekarang tidak?”
Jawabannya mungkin sederhana tetapi sulit diterima:
Karena manusia berubah.
Hubungan yang bertahan lama bukan berarti kedua orang tidak berubah.
Justru hubungan yang sehat perlu memiliki ruang agar kedua orang dapat berkembang tanpa kehilangan hubungan emosional satu sama lain.
8. Ada Masalah yang Tidak Terlihat dari Luar
Tidak semua masalah dalam hubungan terlihat oleh orang lain.
Teman-teman mungkin melihat pasangan yang selalu tersenyum.
Keluarga mungkin menganggap mereka sangat cocok.
Di media sosial, foto mereka terlihat bahagia.
Mereka masih pergi bersama.
Masih saling memberi hadiah.
Masih terlihat romantis.
Namun kehidupan pribadi memiliki bagian yang tidak selalu ditampilkan kepada orang lain.
Salah satu orang mungkin merasa kesepian.
Mungkin ada masalah kepercayaan.
Mungkin terdapat perbedaan nilai yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka.
Mungkin komunikasi sudah lama tidak sehat.
Mungkin seseorang merasa dirinya tidak lagi menjadi dirinya sendiri dalam hubungan tersebut.
Karena orang luar hanya melihat bagian yang terlihat, keputusan untuk berpisah sering dianggap sebagai sesuatu yang tiba-tiba.
Padahal kita sebenarnya tidak pernah memiliki akses penuh terhadap kehidupan emosional pasangan lain.
Itulah mengapa kalimat seperti “Padahal mereka kelihatannya baik-baik saja” tidak selalu menggambarkan realitas hubungan seseorang.
Apa yang terlihat dari luar hanyalah sebagian kecil dari cerita.
Mengapa Perpisahan yang Tiba-Tiba Terasa Sangat Menyakitkan?
Ada alasan psikologis mengapa perpisahan yang tidak kita duga bisa terasa sangat berat.
Ketika kita tidak memahami penyebabnya, pikiran cenderung mencari penjelasan.
Kita memutar kembali percakapan.
Mengingat pesan terakhir.
Menganalisis perubahan kecil dalam perilaku pasangan.
Mencari kesalahan dalam diri sendiri.
“Apa yang aku lakukan?”
“Kapan semuanya berubah?”
“Mengapa aku tidak menyadarinya?”
Pikiran manusia memang tidak nyaman dengan ketidakpastian.
Karena itu, setelah hubungan berakhir, kita sering mencoba membuat sebuah cerita yang menjelaskan semuanya.
Namun tidak semua perpisahan memiliki satu penyebab sederhana.
Kadang-kadang hubungan berakhir karena kombinasi dari banyak faktor yang berlangsung perlahan.
Dan terkadang kita memang tidak akan mendapatkan penjelasan yang sepenuhnya memuaskan.
Jangan Selalu Menganggap “Tiba-Tiba” Berarti “Tanpa Alasan”
Salah satu kesalahan setelah mengalami perpisahan mendadak adalah menganggap:
“Kalau aku tidak melihat masalahnya, berarti tidak ada masalah.”
Padahal tidak selalu demikian.
Ada perbedaan antara:
tidak adanya masalah
dan
tidak adanya masalah yang terlihat oleh kita.
Seseorang bisa menyembunyikan ketidakpuasannya.
Seseorang bisa kesulitan mengomunikasikan kebutuhannya.
Seseorang bisa membutuhkan waktu untuk memahami perasaannya sendiri.
Seseorang juga bisa mengalami perubahan prioritas yang baru disadari setelah menjalani proses refleksi.
Karena itu, hubungan yang terlihat baik-baik saja dari luar belum tentu benar-benar baik-baik saja bagi kedua orang di dalamnya.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Hubungan yang Berakhir Secara Tiba-Tiba?
Perpisahan bukan hanya tentang kehilangan seseorang.
Dalam banyak kasus, perpisahan juga memaksa seseorang melihat kembali cara dirinya menjalani hubungan.
Apakah kita terbiasa mengatakan ketika ada sesuatu yang mengganggu?
Apakah kita benar-benar mendengarkan pasangan?
Apakah kita hanya menghindari konflik?
Apakah kita menganggap hubungan baik-baik saja hanya karena tidak bertengkar?
Apakah kita mengetahui kebutuhan emosional pasangan?
Apakah kita juga memiliki ruang untuk membicarakan perubahan tujuan hidup?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih berguna daripada terus mencari siapa yang harus disalahkan.
Karena pada akhirnya, tidak semua hubungan berakhir karena seseorang adalah “orang jahat” dan seseorang lainnya adalah “korban”.
Terkadang hubungan berakhir karena kebutuhan, tujuan, komunikasi, atau arah kehidupan dua orang sudah tidak lagi berjalan bersama.
Dan menerima kenyataan tersebut memang tidak mudah.
Penutup: Tidak Semua Perpisahan Bisa Diprediksi
Hubungan yang berakhir secara tiba-tiba sering membuat seseorang merasa kehilangan kendali.
Kemarin masih memiliki pasangan.
Hari ini harus belajar hidup tanpanya.
Kemarin masih membuat rencana bersama.
Hari ini semua rencana tersebut harus dipikirkan ulang.
Namun satu hal penting untuk dipahami adalah bahwa perpisahan yang terasa tiba-tiba bagi kita belum tentu terjadi tiba-tiba dalam diri orang lain.
Mungkin ada kekecewaan yang tidak pernah disampaikan.
Mungkin ada jarak emosional yang berkembang perlahan.
Mungkin ada perubahan kebutuhan.
Mungkin ada perbedaan tujuan hidup.
Mungkin seseorang sudah lama melakukan evaluasi terhadap hubungannya sebelum akhirnya mengambil keputusan.
Dan meskipun memahami alasan tersebut tidak selalu membuat perpisahan menjadi lebih mudah, pemahaman dapat membantu kita berhenti menyiksa diri dengan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.
Tidak semua hubungan yang berakhir berarti hubungan tersebut gagal.
Ada hubungan yang berakhir karena memang sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan kedua orang di dalamnya.
Ada pula hubungan yang berakhir karena dua orang yang pernah cocok akhirnya tumbuh ke arah yang berbeda.
Yang paling penting setelah sebuah hubungan berakhir bukan hanya mencari tahu “Mengapa dia pergi?”
Tetapi juga belajar bertanya:
“Apa yang bisa aku pahami tentang diriku dari hubungan ini?”
“Apa yang sebenarnya aku butuhkan dalam sebuah hubungan?”
Dan yang tidak kalah penting:
“Bagaimana aku bisa membangun hubungan yang lebih sehat di masa depan?”
Karena terkadang, akhir dari sebuah hubungan bukan akhir dari perjalanan emosional kita.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022