seseorang yang memiliki hubungan jangka panjang./Magnific/zavalishina
JawaPos.com - Memulai sebuah hubungan mungkin terasa mudah ketika semuanya masih dipenuhi rasa penasaran, perhatian, dan perasaan berbunga-bunga. Ada pesan yang selalu ditunggu, percakapan yang terasa tidak pernah membosankan, dan keinginan untuk terus menghabiskan waktu bersama.
Namun, mempertahankan hubungan dalam jangka panjang adalah cerita yang berbeda.
Seiring berjalannya waktu, hubungan akan bertemu dengan rutinitas, perbedaan karakter, kesibukan, konflik, perubahan prioritas, masalah keuangan, tekanan pekerjaan, bahkan fase ketika perasaan tidak lagi terasa seintens seperti di awal.
Di titik inilah banyak orang menyadari bahwa hubungan yang bertahan bukan hanya dibangun oleh rasa cinta.
Cinta memang penting. Tetapi cinta membutuhkan sesuatu yang lebih konkret agar dapat bertahan: cara berkomunikasi, kemampuan memahami pasangan, rasa aman, kepercayaan, batasan yang sehat, serta kemauan untuk terus memperbaiki hubungan.
Dalam psikologi hubungan, kualitas hubungan jangka panjang sering kali tidak hanya berkaitan dengan seberapa kuat seseorang mencintai pasangannya, tetapi juga bagaimana kedua orang tersebut memperlakukan satu sama lain ketika menghadapi kehidupan nyata.
Jadi, jika kamu menginginkan hubungan yang tidak hanya bertahan beberapa bulan atau beberapa tahun, ada beberapa hal yang layak kamu genggam erat.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (26/9), terdapat 7 kunci penting yang dapat membantu membangun hubungan jangka panjang yang lebih sehat.
1. Belajarlah Berkomunikasi, Bukan Sekadar Berbicara
Banyak orang mengira komunikasi dalam hubungan berarti sering mengobrol.
Padahal, komunikasi yang sehat jauh lebih dalam daripada sekadar bertukar kata.
Kamu bisa berbicara dengan pasangan setiap hari, tetapi tetap tidak benar-benar memahami satu sama lain.
Komunikasi yang sehat berarti mampu menyampaikan apa yang kamu rasakan, apa yang kamu butuhkan, apa yang membuatmu tidak nyaman, sekaligus memberi ruang kepada pasangan untuk melakukan hal yang sama.
Misalnya, ketika pasangan pulang terlambat, kamu bisa mengatakan:
"Kamu memang selalu bikin aku menunggu."
Kalimat tersebut mungkin muncul karena kamu merasa kecewa. Tetapi pasangan bisa mendengarnya sebagai serangan.
Alternatif yang lebih konstruktif adalah:
"Aku merasa khawatir dan kecewa ketika kamu pulang terlambat tanpa memberi kabar. Aku berharap lain kali kamu bisa memberi tahu aku."
Pesannya hampir sama.
Namun, cara menyampaikannya berbeda.
Yang pertama menyerang pribadi. Yang kedua menjelaskan perasaan dan kebutuhan.
Dalam hubungan jangka panjang, perbedaan kecil seperti ini dapat menjadi sangat penting karena konflik yang terjadi berulang kali dapat membentuk pola interaksi.
Komunikasi yang baik bukan berarti tidak pernah marah.
Kamu tetap boleh kecewa. Kamu tetap boleh kesal. Kamu bahkan boleh mengatakan bahwa kamu tidak setuju.
Yang penting adalah bagaimana kamu menyampaikannya.
Cobalah membiasakan diri menggunakan kalimat seperti:
"Aku merasa..."
"Aku membutuhkan..."
"Aku berharap..."
daripada langsung menggunakan:
"Kamu selalu..."
"Kamu memang tidak pernah..."
"Semua ini salah kamu..."
Tujuannya bukan membuat komunikasi terdengar sempurna.
Tujuannya adalah membuat pasangan memahami isi kepalamu tanpa harus merasa diserang.
Karena dalam hubungan jangka panjang, pasangan bukan lawan yang harus dikalahkan.
Kalian sedang menghadapi masalah yang sama.
2. Bangun Rasa Aman, Bukan Ketergantungan
Salah satu fondasi penting dalam hubungan adalah rasa aman secara emosional.
Rasa aman membuat seseorang merasa bahwa dirinya dapat menjadi dirinya sendiri tanpa terus-menerus takut ditolak, dipermalukan, atau ditinggalkan hanya karena menunjukkan sisi yang rentan.
Hubungan yang sehat seharusnya menjadi tempat seseorang dapat mengatakan:
"Aku sedang tidak baik-baik saja."
Tanpa harus takut dianggap lemah.
Namun, ada perbedaan antara rasa aman dan ketergantungan emosional yang tidak sehat.
Rasa aman berarti kamu merasa dicintai dan dihargai oleh pasangan, tetapi tetap memiliki identitas, kehidupan, dan kemampuan untuk berdiri sebagai individu.
Ketergantungan yang berlebihan dapat membuat seseorang merasa bahwa hidupnya tidak memiliki makna tanpa pasangan.
Misalnya, seluruh kebahagiaanmu hanya bergantung pada seberapa cepat pasangan membalas pesan.
Ketika balasannya terlambat, kamu langsung merasa tidak dicintai.
Ketika pasangan ingin menghabiskan waktu dengan teman-temannya, kamu merasa ditinggalkan.
Ketika pasangan memiliki kesibukan sendiri, kamu menganggapnya sebagai tanda bahwa hubungan mulai berakhir.
Pola seperti ini dapat membuat hubungan terasa melelahkan bagi kedua belah pihak.
Hubungan jangka panjang justru membutuhkan dua orang yang mampu mengatakan:
"Aku mencintaimu, tetapi aku juga tetap menjadi diriku sendiri."
Kamu boleh memiliki teman.
Kamu boleh memiliki hobi.
Kamu boleh memiliki tujuan hidup.
Pasanganmu juga demikian.
Kedekatan tidak harus berarti kehilangan diri sendiri.
Justru ketika dua orang mampu mempertahankan identitas masing-masing sekaligus membangun kehidupan bersama, hubungan dapat memiliki ruang untuk berkembang.
3. Jangan Berhenti Menunjukkan Apresiasi
Salah satu jebakan dalam hubungan jangka panjang adalah menganggap pasangan sudah "seharusnya" melakukan hal-hal tertentu.
Di awal hubungan, perhatian kecil mungkin terasa sangat berarti.
Ketika pasangan mengingat makanan favoritmu, kamu merasa diperhatikan.
Ketika dia mengantarmu pulang, kamu merasa dihargai.
Ketika dia bertanya apakah kamu sudah makan, kamu merasa dicintai.
Tetapi setelah hubungan berjalan bertahun-tahun, hal-hal tersebut dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
Di sinilah apresiasi menjadi penting.
Bukan karena pasangan membutuhkan pujian setiap saat.
Melainkan karena manusia cenderung membutuhkan pengakuan bahwa usaha mereka terlihat dan dihargai.
Coba perhatikan perbedaan antara:
"Ya memang kamu harus melakukan itu."
dengan:
"Terima kasih sudah melakukan itu. Aku benar-benar menghargainya."
Sederhana.
Tetapi dampak emosionalnya berbeda.
Apresiasi tidak selalu harus berbentuk hadiah besar atau kejutan romantis.
Kadang-kadang cukup dengan:
"Terima kasih sudah mendengarkan aku."
"Aku menghargai usaha kamu."
"Aku senang kamu selalu mengingat hal kecil seperti itu."
"Aku tahu kamu sedang sibuk, tapi kamu tetap meluangkan waktu untukku."
Kalimat sederhana seperti ini dapat membantu pasangan merasa dilihat.
Dan dalam hubungan jangka panjang, merasa dilihat sering kali sama pentingnya dengan merasa dicintai.
Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk menyadari bahwa perhatian kecil yang selama ini dia berikan ternyata sangat berharga.
4. Belajar Bertengkar dengan Cara yang Sehat
Ini mungkin terdengar aneh.
Tetapi hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang tidak pernah bertengkar.
Dua orang dengan latar belakang, pengalaman, kebutuhan, dan kepribadian yang berbeda sangat mungkin memiliki perbedaan pendapat.
Masalah sebenarnya bukan apakah kalian pernah bertengkar.
Masalahnya adalah bagaimana kalian bertengkar.
Ada konflik yang membuat hubungan semakin matang karena kedua pihak belajar memahami satu sama lain.
Namun, ada juga konflik yang meninggalkan luka karena diwarnai penghinaan, ancaman, manipulasi, atau usaha untuk menyakiti pasangan.
Ketika sedang marah, cobalah mengingat satu prinsip sederhana:
Serang masalahnya, bukan harga diri pasangan.
Jika masalahnya adalah pasangan terlalu sering terlambat, fokuslah pada masalah keterlambatan.
Jangan mengubahnya menjadi:
"Kamu memang manusia paling tidak bertanggung jawab."
Jika masalahnya adalah kurangnya perhatian, jangan langsung menyerang karakter:
"Kamu memang tidak pernah peduli kepadaku."
Semakin konflik berubah menjadi serangan terhadap karakter, semakin sulit bagi kedua pihak untuk menyelesaikan persoalan sebenarnya.
Hal lain yang penting adalah belajar mengambil jeda.
Jika emosi sudah terlalu tinggi, percakapan dapat berubah menjadi pertukaran kata-kata yang sebenarnya tidak ingin diucapkan.
Mengambil waktu untuk menenangkan diri bukan berarti melarikan diri dari masalah.
Yang penting, jeda tersebut bukan digunakan sebagai hukuman atau silent treatment.
Kamu bisa mengatakan:
"Aku sedang terlalu emosi. Aku ingin menenangkan diri dulu supaya kita tidak saling menyakiti. Setelah lebih tenang, kita lanjutkan pembicaraan ini."
Itu jauh lebih sehat daripada pergi tanpa penjelasan dan membiarkan pasangan bertanya-tanya.
5. Jangan Mengharapkan Pasangan Membaca Pikiranmu
Salah satu sumber konflik yang sering terjadi dalam hubungan adalah ekspektasi yang tidak pernah diucapkan.
Kamu berharap pasangan mengerti.
Kamu berharap dia tahu apa yang kamu butuhkan.
Kamu berharap dia menyadari bahwa kamu sedang kecewa.
Namun ketika dia tidak melakukannya, kamu merasa:
"Kalau dia benar-benar mencintaiku, seharusnya dia tahu."
Padahal, pasangan bukan pembaca pikiran.
Seseorang dapat mencintaimu dengan tulus dan tetap tidak mengetahui apa yang sedang kamu pikirkan.
Karena itu, kebutuhan emosional perlu dikomunikasikan.
Daripada berharap pasangan secara otomatis mengetahui apa yang kamu inginkan, cobalah mengatakan:
"Aku sebenarnya sedang membutuhkan waktu bersamamu."
atau:
"Aku sedang merasa tidak percaya diri dan ingin kamu mendengarkanku."
atau:
"Aku ingin kamu lebih sering memberi kabar ketika sedang sibuk."
Menyampaikan kebutuhan bukan berarti manja.
Justru itu merupakan bagian dari kedewasaan emosional.
Pasangan juga perlu diberi kesempatan untuk mengetahui bagaimana cara mencintaimu dengan lebih baik.
Dan kamu pun perlu belajar memahami cara pasangan menerima dan memberikan kasih sayang.
Hubungan bukan permainan tebak-tebakan.
Semakin jelas kebutuhan dikomunikasikan, semakin kecil kemungkinan munculnya kekecewaan yang berasal dari asumsi.
6. Pertahankan Kehidupan dan Identitasmu Sendiri
Hubungan yang panjang tidak berarti dua orang harus melakukan segala sesuatu bersama.
Kedekatan memang penting.
Tetapi ruang pribadi juga penting.
Kamu tetap perlu memiliki kehidupan di luar hubungan.
Teman-temanmu.
Keluargamu.
Pekerjaanmu.
Hobimu.
Impianmu.
Hal-hal yang membuatmu merasa menjadi dirimu sendiri.
Mengapa?
Karena hubungan yang sehat bukan tentang dua orang yang kehilangan identitas untuk menjadi satu.
Lebih tepatnya, dua individu tetap menjadi dirinya sendiri sambil memilih untuk berjalan bersama.
Ketika seluruh kehidupan seseorang hanya berpusat pada pasangan, hubungan dapat menjadi terlalu berat.
Setiap perubahan kecil dalam hubungan kemudian terasa seperti ancaman terhadap seluruh kehidupannya.
Sebaliknya, ketika seseorang tetap memiliki dunia pribadi yang sehat, hubungan dapat menjadi bagian penting dari kehidupannya tanpa menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan.
Jadi, jangan merasa bersalah ketika sesekali ingin melakukan sesuatu sendiri.
Pasanganmu juga berhak memiliki ruangnya.
Memiliki ruang bukan berarti menjauh.
Terkadang justru ruang yang sehat membuat dua orang dapat kembali bertemu dengan energi dan perspektif yang lebih baik.
7. Pilih untuk Terus Bertumbuh Bersama
Mungkin ini adalah salah satu kunci yang paling sering dilupakan.
Orang berubah.
Kamu berubah.
Pasanganmu juga berubah.
Hal-hal yang kamu inginkan ketika berusia 20 tahun mungkin tidak lagi sama ketika berusia 30 atau 40 tahun.
Prioritas bisa berubah.
Karier berubah.
Pandangan tentang keluarga berubah.
Kondisi ekonomi berubah.
Cara seseorang memahami dirinya sendiri juga bisa berubah.
Karena itu, hubungan jangka panjang membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi.
Jangan hanya bertanya:
"Apakah aku masih mencintainya?"
Sesekali tanyakan juga:
"Apakah kita masih mengenal satu sama lain?"
"Apa yang sedang dia perjuangkan sekarang?"
"Apa yang berubah dalam dirinya?"
"Apa yang berubah dalam diriku?"
"Apa yang bisa kita bangun bersama di tahap kehidupan berikutnya?"
Hubungan yang sehat bukan sesuatu yang selesai dibangun sekali lalu dibiarkan.
Ia perlu dirawat.
Seperti rumah, hubungan membutuhkan perhatian.
Ada bagian yang perlu diperbaiki.
Ada kebiasaan yang perlu diperbarui.
Ada kesalahan yang perlu diakui.
Ada luka yang perlu dibicarakan.
Dan ada mimpi baru yang mungkin perlu dibangun bersama.
Orang yang kamu cintai hari ini mungkin masih merupakan orang yang sama secara fisik, tetapi pengalaman hidupnya terus membentuk dirinya.
Karena itu, jangan berhenti mengenal pasanganmu hanya karena kalian sudah lama bersama.
Tetaplah penasaran.
Tetap bertanya.
Tetap mendengarkan.
Tetap belajar.
Pada Akhirnya, Hubungan Panjang Bukan Hanya Tentang Bertahan
Ada perbedaan besar antara hubungan yang bertahan lama dan hubungan yang sehat dalam jangka panjang.
Sebuah hubungan bisa berlangsung bertahun-tahun tetapi dipenuhi ketakutan, penghinaan, manipulasi, atau ketidakamanan.
Durasi bukan satu-satunya ukuran kualitas hubungan.
Yang lebih penting adalah bagaimana dua orang memperlakukan satu sama lain sepanjang perjalanan tersebut.
Hubungan jangka panjang membutuhkan lebih dari sekadar perasaan.
Ia membutuhkan komunikasi.
Kepercayaan.
Rasa aman.
Apresiasi.
Batasan yang sehat.
Kemampuan menyelesaikan konflik.
Dan kemauan untuk terus bertumbuh.
Tentu saja, tidak ada hubungan yang sempurna.
Akan ada hari ketika kalian salah memahami satu sama lain.
Akan ada pertengkaran.
Akan ada masa ketika salah satu merasa lebih lelah daripada yang lain.
Akan ada periode ketika hubungan terasa biasa saja.
Itu bagian dari kehidupan bersama.
Yang penting adalah apakah kalian mampu kembali berbicara, memperbaiki kesalahan, belajar dari pengalaman, dan memilih untuk memperlakukan satu sama lain dengan hormat.
Karena pada akhirnya, hubungan yang bertahan bukan selalu hubungan yang memiliki dua orang yang paling sempurna.
Sering kali, hubungan tersebut dibangun oleh dua orang yang bersedia mengatakan:
"Aku mungkin tidak selalu benar, tetapi aku mau mendengarkan."
"Aku mungkin tidak selalu tahu apa yang kamu butuhkan, tetapi aku mau belajar."
"Kita mungkin akan menghadapi masalah, tetapi kita tidak harus menjadi musuh ketika masalah itu datang."
Dan mungkin, itulah salah satu rahasia terbesar dalam hubungan jangka panjang:
bukan hanya menemukan seseorang yang ingin kamu cintai, tetapi menemukan cara untuk terus mencintai, menghargai, memahami, dan menghormati satu sama lain ketika kehidupan tidak lagi terasa seperti awal hubungan.
Jika kamu ingin hubunganmu bertahan lama, jangan hanya menjaga perasaan cinta.
Jagalah cara kalian berbicara.
Jagalah kepercayaan.
Jagalah rasa hormat.
Jagalah ruang untuk menjadi diri sendiri.
Dan yang paling penting, jangan berhenti mengenal orang yang kamu pilih untuk berjalan bersamamu.
Karena hubungan jangka panjang bukan sekadar tentang berapa lama kalian bersama.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ketua Komisi II DPR Usulkan Gaji PNS lewat Koperasi Hanya untuk Pegawai Pusat
Tak Hanya Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala BPK Perwakilan Jawa Tengah
Prediksi Skor Estudiantes vs Flamengo: Panas Menuju Final Copa Libertadores
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante: Granotes Paksa Tuan Rumah Berbagi Poin
Menkop Pastikan Gaji PNS Lewat Koperasi Mulai Tahun Ini, Tak Perlu Tunggu 2027
Prediksi Skor Garudayaksa FC vs Arema FC: Singo Edan Kembali ke Jalur Kemenangan
Prediksi Skor Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga: Lini Pertahanan Rapuh Jadi Ancaman Tuan Rumah
KPK Terima Pengembalian Uang Rp 800 Juta dari Hercules Berkaitan Kasus Suap HGB Summarecon
Prediksi Skor Le Mans vs Toulouse: Duel Seru Tim Papan Bawah Demi Lolos Zona Degradasi
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022