Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Oktober 2026 | 06.44 WIB

Ingin Memiliki Hubungan yang Tangguh dengan Pasangan, Lakukan 7 Hal Ini Menurut Psikologi

seseorang yang memiliki hubungan yang tangguh./Magnific/musefoto

JawaPos.com - Hubungan yang kuat bukan berarti hubungan yang tidak pernah mengalami masalah. Justru, hubungan yang tangguh adalah hubungan yang mampu melewati perbedaan, konflik, kekecewaan, dan perubahan tanpa kehilangan rasa aman serta kedekatan emosional.

Dalam hubungan jangka panjang, perasaan cinta saja sering kali tidak cukup. Dua orang bisa saling mencintai, tetapi tetap kesulitan mempertahankan hubungan jika mereka tidak tahu bagaimana berkomunikasi, menyelesaikan konflik, memahami kebutuhan satu sama lain, dan memperbaiki hubungan setelah terjadi luka emosional.

Psikologi hubungan menunjukkan bahwa kualitas hubungan banyak dipengaruhi oleh pola interaksi sehari-hari. Hal-hal kecil seperti cara pasangan merespons ketika kita bercerita, bagaimana kita menyampaikan ketidaksetujuan, atau apakah kita bersedia memperbaiki kesalahan dapat memberikan pengaruh besar terhadap kedekatan dalam hubungan.

Menariknya, membangun hubungan yang tangguh tidak selalu membutuhkan tindakan romantis yang besar. Sering kali, kekuatan hubungan justru dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (26/9), jika kamu ingin memiliki hubungan yang lebih kuat, sehat, dan mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan, berikut tujuh hal yang dapat dilakukan.

1. Belajar Berkomunikasi Secara Terbuka, Bukan Sekadar Berbicara

Banyak orang mengira komunikasi yang baik berarti sering berbicara dengan pasangan.

Padahal, komunikasi dalam hubungan jauh lebih luas daripada sekadar bertukar kata.

Komunikasi yang sehat berarti mampu menyampaikan perasaan, kebutuhan, harapan, kekhawatiran, dan batasan dengan cara yang dapat dipahami pasangan.

Misalnya, ketika merasa diabaikan, seseorang mungkin berkata:

"Kamu memang tidak pernah peduli sama aku."

Kalimat seperti ini cenderung membuat pasangan merasa diserang sehingga respons yang muncul bisa berupa pembelaan diri.

Pesannya sebenarnya mungkin sederhana: "Aku merasa kurang diperhatikan dan ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu."

Perbedaannya terletak pada cara menyampaikan kebutuhan.

Alih-alih menyerang karakter pasangan, cobalah berbicara mengenai pengalaman dan perasaan diri sendiri.

Misalnya:

"Aku merasa agak kesepian akhir-akhir ini. Aku ingin kita punya waktu berdua tanpa gangguan."

Komunikasi seperti ini memberikan ruang bagi pasangan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan.

Dengarkan untuk memahami, bukan untuk membalas

Komunikasi juga tidak hanya tentang bagaimana kita berbicara.

Kemampuan mendengarkan memiliki peran yang sangat penting.

Ketika pasangan bercerita, jangan langsung sibuk mencari solusi atau mempersiapkan jawaban. Cobalah memahami pengalaman emosionalnya terlebih dahulu.

Kamu bisa mengatakan:

"Jadi kamu merasa kecewa karena menurutmu aku tidak mendukungmu?"

Kalimat sederhana seperti ini menunjukkan bahwa kamu sedang berusaha memahami sudut pandang pasangan.

Pasangan tidak selalu membutuhkan solusi. Kadang-kadang, mereka hanya ingin merasa bahwa emosinya didengar dan dimengerti.

Hubungan yang tangguh biasanya bukan hubungan yang tidak memiliki masalah, tetapi hubungan di mana kedua orang merasa aman untuk membicarakan masalah tersebut.

2. Jangan Menghindari Konflik, Belajarlah Mengelolanya

Konflik adalah bagian normal dari hubungan.

Dua orang yang berbeda tentu memiliki kebutuhan, kebiasaan, pengalaman hidup, dan cara berpikir yang berbeda. Karena itu, hampir mustahil sebuah hubungan terbebas sepenuhnya dari perbedaan pendapat.

Masalahnya bukan semata-mata apakah pasangan bertengkar.

Yang lebih penting adalah bagaimana mereka bertengkar.

Perbedaan pendapat dapat menjadi kesempatan untuk memahami pasangan dengan lebih baik jika dibicarakan secara sehat.

Sebaliknya, konflik dapat menjadi destruktif ketika diwarnai penghinaan, ancaman, merendahkan pasangan, atau terus-menerus mengungkit kesalahan masa lalu.

Ketika emosi sedang tinggi, mengambil jeda juga dapat membantu.

Misalnya:

"Aku sedang terlalu emosional sekarang. Aku ingin menenangkan diri dulu, kemudian kita lanjutkan pembicaraan."

Jeda bukan berarti melarikan diri dari masalah.

Jeda yang sehat berarti memberikan kesempatan kepada kedua pihak untuk mengatur emosi sebelum kembali berdiskusi.

Yang perlu dihindari adalah menghilang tanpa penjelasan atau menggunakan diam sebagai hukuman.

Fokus pada masalah, bukan menyerang pribadi

Perhatikan perbedaannya:

"Kamu memang egois."

dengan:

"Aku merasa kebutuhan aku belum dipertimbangkan dalam keputusan ini."

Kalimat pertama menyerang karakter seseorang.

Kalimat kedua membicarakan persoalan yang sedang terjadi.

Hubungan menjadi lebih aman ketika pasangan dapat membicarakan masalah tanpa merasa harga dirinya sedang dihancurkan.

3. Biasakan Menghargai Hal-Hal Kecil yang Dilakukan Pasangan

Ketika hubungan sudah berlangsung lama, sesuatu yang dulu dianggap istimewa bisa berubah menjadi hal yang dianggap biasa.

Pasangan yang dulu selalu membuat kita tersenyum mungkin akhirnya hanya dianggap sebagai bagian dari rutinitas.

Di sinilah pentingnya penghargaan.

Mengucapkan "terima kasih", memberikan apresiasi, atau mengakui usaha pasangan mungkin terlihat sederhana. Namun, kebiasaan tersebut membantu menciptakan suasana emosional yang positif dalam hubungan.

Contohnya:

"Terima kasih sudah mengingatkan aku."

"Aku menghargai kamu sudah meluangkan waktu hari ini."

"Aku tahu kamu sedang lelah, tapi kamu tetap berusaha membantu. Terima kasih."

Apresiasi tidak harus selalu diberikan untuk sesuatu yang besar.

Justru, mengakui usaha-usaha kecil sehari-hari dapat membuat pasangan merasa dilihat dan dihargai.

Jangan hanya memperhatikan kesalahan

Dalam hubungan yang sedang mengalami masalah, perhatian seseorang sering kali menjadi sangat terfokus pada kekurangan pasangan.

Kita mulai memperhatikan apa yang tidak dilakukan pasangan dan melupakan banyak hal baik yang sebenarnya masih ada.

Karena itu, cobalah sesekali bertanya kepada diri sendiri:

"Apa hal baik yang dilakukan pasangan saya hari ini?"

Pertanyaan sederhana ini dapat membantu menggeser perhatian dari sekadar mencari kesalahan menuju kemampuan mengenali kontribusi pasangan.

Bukan berarti masalah harus diabaikan.

Masalah tetap perlu dibicarakan. Namun, hubungan akan lebih sehat jika kritik tidak menjadi satu-satunya bentuk komunikasi.

4. Berikan Ruang bagi Pasangan untuk Tetap Menjadi Dirinya Sendiri

Hubungan yang dekat bukan berarti dua orang harus melakukan semuanya bersama.

Setiap individu tetap membutuhkan ruang pribadi.

Seseorang bisa mencintai pasangannya sekaligus membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, bertemu teman, menjalani hobi, mengejar tujuan pribadi, atau sekadar menikmati waktu sendirian.

Hubungan yang sehat tidak harus menghapus identitas pribadi.

Justru, dua individu yang tetap memiliki kehidupan pribadi dapat membawa pengalaman baru ke dalam hubungan.

Misalnya, pasangan memiliki hobi membaca, berolahraga, memasak, bermain musik, atau berkumpul dengan teman-temannya.

Selama aktivitas tersebut tidak melanggar kesepakatan dan batasan hubungan, memberikan ruang untuk menjalani kehidupan pribadi dapat menjadi bagian dari hubungan yang sehat.

Dekat bukan berarti harus selalu bersama

Ada perbedaan antara kedekatan emosional dan ketergantungan total.

Kedekatan emosional berarti kita dapat merasa terhubung, aman, dan didukung oleh pasangan.

Sementara itu, hubungan yang terlalu bergantung dapat membuat seseorang merasa tidak mampu menjalani kehidupan tanpa pasangannya.

Karena itu, hubungan yang tangguh bukan hanya dibangun dengan mengatakan:

"Aku membutuhkanmu."

Tetapi juga dengan memiliki kemampuan untuk mengatakan:

"Aku mencintaimu, dan aku juga tetap ingin berkembang sebagai diriku sendiri."

5. Belajar Memperbaiki Hubungan Setelah Terjadi Kesalahan

Tidak ada pasangan yang sempurna.

Dalam hubungan jangka panjang, kemungkinan terjadinya kesalahan hampir pasti ada.

Kita bisa salah bicara, lupa memenuhi janji, kurang peka, atau membuat pasangan kecewa.

Yang membedakan hubungan yang mampu pulih dari konflik dengan hubungan yang terus terluka adalah kemampuan melakukan perbaikan setelah konflik.

Perbaikan bisa berupa permintaan maaf yang tulus.

Namun, meminta maaf bukan sekadar mengatakan:

"Maaf kalau kamu tersinggung."

Kalimat tersebut dapat terdengar seperti memindahkan tanggung jawab kepada perasaan pasangan.

Permintaan maaf yang lebih jelas misalnya:

"Aku sadar cara bicaraku tadi menyakitimu. Seharusnya aku menyampaikan keberatanku tanpa membentak. Aku minta maaf."

Lebih baik lagi jika permintaan maaf disertai perubahan perilaku.

Sebab, pasangan biasanya tidak hanya membutuhkan pengakuan bahwa sesuatu telah salah. Mereka juga membutuhkan alasan untuk percaya bahwa pola tersebut dapat berubah.

Perbaikan kecil dapat memiliki arti besar

Memperbaiki hubungan juga tidak selalu harus melalui percakapan panjang.

Terkadang sebuah pelukan, sentuhan lembut, membuatkan minuman, mengajak bicara kembali setelah emosi mereda, atau mengatakan "kita coba lagi" dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi jarak emosional.

Yang penting adalah adanya usaha untuk kembali terhubung.

6. Bangun Rasa Aman Secara Emosional

Salah satu fondasi penting dalam hubungan adalah rasa aman.

Rasa aman secara emosional berarti seseorang merasa bahwa ia dapat menjadi dirinya sendiri tanpa terus-menerus takut akan dipermalukan, direndahkan, atau ditolak ketika mengungkapkan perasaannya.

Bayangkan seseorang berkata kepada pasangannya:

"Aku sedang merasa tidak percaya diri."

Kemudian pasangannya menjawab:

"Kamu terlalu sensitif."

Respons seperti itu dapat membuat seseorang belajar bahwa mengungkapkan perasaan tidak aman.

Sebaliknya, respons seperti:

"Aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu. Mau cerita lebih banyak?"

dapat membuka ruang untuk kedekatan.

Rasa aman tidak berarti pasangan harus selalu setuju.

Kita tetap boleh memiliki pendapat berbeda.

Namun, perbedaan pendapat dapat disampaikan tanpa membuat pasangan merasa dirinya tidak berharga.

Jadilah tempat yang aman, bukan tempat untuk melampiaskan emosi

Ketika seseorang mengalami hari yang buruk, pasangan sering menjadi orang pertama yang ditemui.

Karena itu, penting untuk membedakan antara membagikan emosi dan melampiaskan emosi kepada pasangan.

Kamu boleh mengatakan:

"Hari ini aku benar-benar lelah. Aku butuh didengarkan."

Tetapi itu berbeda dengan melampiaskan kemarahan kepada pasangan yang sebenarnya tidak menyebabkan masalah tersebut.

Hubungan yang kuat membutuhkan kemampuan mengelola emosi pribadi sekaligus mencari dukungan dari pasangan.

7. Jangan Berhenti Mengenal Pasangan

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam hubungan jangka panjang adalah menganggap kita sudah mengenal pasangan sepenuhnya.

Padahal, manusia berubah.

Pasangan yang kita kenal beberapa tahun lalu mungkin memiliki impian, kekhawatiran, kebutuhan, dan prioritas yang berbeda sekarang.

Karena itu, jangan berhenti bertanya.

Misalnya:

"Apa yang sedang kamu pikirkan akhir-akhir ini?"

"Apa yang sedang membuatmu khawatir?"

"Apa yang ingin kamu capai tahun ini?"

"Ada sesuatu yang kamu butuhkan dariku akhir-akhir ini?"

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat membuka percakapan yang lebih dalam.

Hubungan membutuhkan rasa ingin tahu.

Jangan hanya mengenal pasangan berdasarkan masa lalu.

Kenali juga siapa dirinya sekarang.

Ciptakan pengalaman bersama

Kedekatan tidak hanya dibangun melalui percakapan tentang masalah.

Pengalaman positif bersama juga penting.

Pergi berjalan-jalan, memasak bersama, mencoba sesuatu yang baru, bercanda, menonton film, atau sekadar minum kopi sambil berbicara dapat menciptakan momen yang memperkuat rasa terhubung.

Tidak harus mahal.

Tidak harus mewah.

Yang penting adalah adanya perhatian dan kehadiran.

Kadang-kadang, hubungan membutuhkan lebih banyak momen sederhana daripada gestur romantis yang besar.

Pada Akhirnya, Hubungan yang Tangguh Dibangun dari Kebiasaan Kecil

Hubungan yang kuat tidak terbentuk hanya karena dua orang sangat mencintai satu sama lain.

Hubungan menjadi tangguh ketika cinta tersebut diterjemahkan menjadi perilaku sehari-hari.

Mau mendengarkan.

Mau memahami.

Mau meminta maaf.

Mau memperbaiki kesalahan.

Mau menghargai.

Mau memberi ruang.

Dan yang tidak kalah penting, mau terus mengenal pasangan meskipun hubungan sudah berlangsung bertahun-tahun.

Tidak ada hubungan yang selalu berjalan sempurna.

Akan ada hari ketika kalian salah memahami satu sama lain. Akan ada perbedaan pendapat. Akan ada masa ketika salah satu sedang lelah dan tidak mampu memberikan perhatian sebanyak biasanya.

Namun, satu konflik tidak selalu menentukan kualitas seluruh hubungan.

Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah konflik tersebut.

Apakah kalian saling menjauh?

Atau mencoba kembali mendekat?

Apakah kalian saling menyalahkan?

Atau berusaha memahami?

Apakah kalian mempertahankan ego?

Atau bersedia memperbaiki sesuatu yang telah rusak?

Pada akhirnya, hubungan yang tangguh bukan hubungan tanpa luka.

Hubungan yang tangguh adalah hubungan di mana kedua orang bersedia belajar merawat kedekatan, menghadapi masalah secara bersama-sama, dan terus membangun rasa aman dari waktu ke waktu.

Karena cinta bukan hanya tentang bagaimana perasaan kita terhadap seseorang.

Cinta juga terlihat dari bagaimana kita memperlakukan orang tersebut ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.
Editor: Hanny Suwindari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore