Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 September 2026 | 22.39 WIB

6 Alasan Mengapa Tidur Berdekatan dengan Bayi Bisa Bermanfaat bagi Mereka Menurut Psikologi

seseorang yang tidur bersama bayi / foto: Magnific/momodesain99

 

JawaPos.com - Bagi banyak orang tua, tidur berdekatan dengan bayi terasa seperti bagian alami dari proses merawat anak. Bayi yang baru lahir membutuhkan perhatian hampir sepanjang waktu, termasuk pada malam hari. Karena itu, berada di dekat bayi ketika mereka tidur dapat membuat orang tua lebih mudah merespons ketika bayi terbangun, menangis, atau membutuhkan bantuan.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (28/9), dari sudut pandang psikologi perkembangan, kedekatan fisik dan emosional antara bayi dengan pengasuh memang memiliki peran penting.

Pada bulan-bulan pertama kehidupan, bayi belum mampu mengatur emosi dan kondisi tubuhnya secara mandiri. Mereka masih sangat bergantung pada orang dewasa untuk mendapatkan rasa aman, ketenangan, kehangatan, serta bantuan ketika merasa tidak nyaman.

Namun, ada hal penting yang perlu dibedakan: tidur berdekatan secara psikologis tidak selalu berarti berbagi tempat tidur yang sama. Kedekatan dapat berupa bayi tidur di ruangan yang sama dengan orang tua, tetapi di permukaan tidur tersendiri. Dari sisi keselamatan, pengaturan tempat tidur bayi perlu mengikuti pedoman tidur aman yang berlaku.

Lalu, apa saja kemungkinan manfaat kedekatan tersebut bagi perkembangan psikologis bayi?

1. Membantu Bayi Mengembangkan Rasa Aman

Salah satu kebutuhan psikologis paling mendasar pada bayi adalah rasa aman.

Bayi belum memahami dunia sebagaimana orang dewasa. Mereka tidak mengetahui bahwa ketika orang tua meninggalkan ruangan, orang tua sebenarnya masih berada di dekat mereka. Bagi bayi, hilangnya sosok yang memberikan kenyamanan dapat terasa seperti perubahan besar.

Kehadiran orang tua secara fisik dapat menjadi salah satu sumber rasa aman tersebut.

Dalam psikologi perkembangan, hubungan ini berkaitan dengan attachment, yaitu ikatan emosional antara bayi dan pengasuhnya. Melalui interaksi berulang, bayi secara perlahan belajar bahwa ketika mereka merasa lapar, takut, tidak nyaman, atau menangis, ada seseorang yang akan memberikan respons.

Misalnya, seorang bayi terbangun pada malam hari dan mulai menangis. Orang tua yang berada di dekatnya dapat lebih cepat menyadari keadaan tersebut. Orang tua kemudian menggendong, menenangkan, menyusui, atau memenuhi kebutuhan bayi.

Pengalaman yang berulang seperti ini membantu bayi membangun pola sederhana:

"Ketika aku membutuhkan bantuan, seseorang akan merespons."

Seiring waktu, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari fondasi rasa aman emosional.

Yang penting, rasa aman tidak dibentuk hanya oleh keberadaan orang tua di samping bayi ketika tidur. Kualitas dan konsistensi respons pengasuh dalam berbagai situasi jauh lebih luas pengaruhnya terhadap pembentukan hubungan yang aman.

Jadi, tidur berdekatan dapat menjadi salah satu konteks yang memudahkan terjadinya respons tersebut, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas attachment.

2. Memudahkan Orang Tua Merespons Kebutuhan Bayi

Bayi memiliki kemampuan komunikasi yang masih sangat terbatas. Mereka belum dapat mengatakan, "Saya lapar," "Saya kepanasan," atau "Saya ingin digendong."

Sebagai gantinya, mereka menggunakan berbagai sinyal: menangis, bergerak, mengeluarkan suara, mengubah ekspresi wajah, atau menjadi gelisah.

Ketika bayi dan orang tua berada berdekatan, orang tua dapat lebih mudah memperhatikan sinyal-sinyal tersebut.

Dalam konteks psikologi, kemampuan pengasuh untuk membaca dan merespons sinyal bayi merupakan bagian penting dari proses responsive caregiving.

Respons yang tepat tidak selalu berarti orang tua harus langsung memenuhi setiap suara kecil dari bayi. Yang lebih penting adalah orang tua secara bertahap belajar memahami pola anaknya.

Contohnya:

suara tertentu mungkin menandakan bayi mulai lapar;
gerakan tertentu mungkin menunjukkan bayi mulai terbangun;
tangisan tertentu mungkin muncul ketika bayi merasa tidak nyaman;
bayi mungkin menjadi lebih tenang ketika mendengar suara atau sentuhan orang tua.

Semakin sering orang tua berinteraksi dengan bayi, semakin banyak kesempatan untuk memahami pola tersebut.

Kedekatan pada malam hari dapat membuat proses ini lebih mudah karena orang tua tidak harus selalu pergi ke ruangan lain untuk mengetahui kondisi bayi.

Dengan demikian, manfaat psikologisnya bukan semata-mata karena "bayi harus tidur di samping orang tua", melainkan karena kedekatan dapat meningkatkan kesempatan terjadinya interaksi dan respons yang sensitif terhadap kebutuhan bayi.

3. Membantu Bayi Belajar Regulasi Emosi

Bayi belum lahir dengan kemampuan mengendalikan emosinya seperti orang dewasa.

Ketika merasa lapar, lelah, takut, atau tidak nyaman, bayi dapat mengalami perubahan emosi yang sangat cepat. Mereka membutuhkan bantuan orang dewasa untuk kembali ke keadaan tenang.

Proses ini sering disebut sebagai co-regulation, yaitu ketika pengasuh membantu bayi mengatur keadaan emosional dan fisiologisnya.

Misalnya, bayi terbangun pada malam hari dan menangis. Orang tua kemudian berbicara dengan suara lembut, menggendong, membelai, atau memberikan kebutuhan yang diperlukan.

Setelah beberapa saat, bayi menjadi lebih tenang.

Pada tahap awal kehidupan, bayi seolah-olah "meminjam" kemampuan regulasi orang dewasa.

Orang tua yang tenang membantu menciptakan lingkungan yang lebih menenangkan. Setelah pengalaman tersebut terjadi berulang kali, bayi secara bertahap mulai mengembangkan kemampuan regulasi dirinya sendiri.

Prosesnya berlangsung dalam jangka panjang.

Bayi tidak tiba-tiba menjadi mampu menenangkan dirinya hanya karena tidur dekat dengan orang tua. Namun, pengalaman berulang ketika seseorang membantu mereka menghadapi ketidaknyamanan dapat menjadi salah satu bagian dari perkembangan kemampuan regulasi emosi.

Karena itu, kedekatan pada waktu tidur dapat memberikan lebih banyak kesempatan bagi orang tua untuk membantu bayi kembali tenang ketika mereka terbangun.

4. Memberikan Kesempatan untuk Membangun Ikatan Emosional

Malam hari bukan hanya waktu untuk tidur.

Bagi orang tua dan bayi, malam juga dapat menjadi kesempatan untuk melakukan berbagai bentuk interaksi sederhana.

Misalnya:

menyusui;
berbicara dengan suara pelan;
melakukan kontak mata ketika bayi terjaga;
membelai;
menggendong;
menenangkan bayi;
atau sekadar berada di dekat bayi ketika mereka mulai kembali tertidur.

Interaksi-interaksi kecil tersebut mungkin tampak sederhana bagi orang dewasa. Namun bagi bayi, pengalaman berulang dengan pengasuh merupakan bagian dari proses mengenali suara, aroma, sentuhan, dan pola interaksi orang yang merawat mereka.

Hubungan emosional tidak dibangun melalui satu momen besar.

Ia lebih sering terbentuk melalui ribuan interaksi kecil yang terjadi berulang kali.

Ketika orang tua merespons bayi secara konsisten, bayi mendapatkan kesempatan untuk mengenali pengasuhnya sebagai sumber kenyamanan dan perlindungan.

Karena itu, kedekatan pada waktu tidur dapat menjadi salah satu kesempatan untuk memperkuat hubungan emosional tersebut.

Tetapi sekali lagi, hal ini tidak berarti bahwa orang tua yang tidak tidur berdekatan dengan bayinya akan memiliki ikatan yang buruk. Attachment terbentuk melalui keseluruhan pola hubungan antara anak dan pengasuh, bukan hanya dari lokasi tidur.

5. Membantu Bayi Mengenali Kehadiran Orang Tua sebagai Sumber Kenyamanan

Bayi belajar melalui pengalaman.

Mereka mengenali berbagai aspek lingkungan melalui suara, sentuhan, aroma, gerakan, dan rutinitas.

Suara orang tua yang familiar, misalnya, dapat menjadi sesuatu yang menenangkan bagi bayi. Begitu pula dengan sentuhan lembut dan pola interaksi yang konsisten.

Ketika bayi terbangun dan mendengar suara orang tua atau merasakan kehadiran pengasuhnya, pengalaman tersebut dapat membantu menciptakan lingkungan yang familiar.

Secara psikologis, lingkungan yang dapat diprediksi biasanya lebih mudah dipahami dibandingkan lingkungan yang sepenuhnya tidak familiar.

Bayangkan seorang bayi yang secara rutin mengalami pola:

terbangun → mendengar suara pengasuh → mendapatkan respons → menjadi tenang → kembali beristirahat.

Pengalaman semacam ini dapat membantu bayi mengenali bahwa keadaan tidak nyaman tidak selalu berlangsung lama dan bahwa pengasuh dapat membantu mereka melewatinya.

Dalam jangka panjang, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses perkembangan rasa aman.

Namun, orang tua tidak perlu merasa harus selalu berada tepat di samping bayi setiap detik. Bayi juga secara bertahap perlu mengalami bahwa mereka dapat berada dalam keadaan aman meskipun tidak selalu bersentuhan dengan orang tua.

Tujuan akhirnya bukan menciptakan ketergantungan, melainkan membangun rasa aman yang kemudian menjadi dasar bagi kemandirian.

6. Membantu Orang Tua Lebih Peka terhadap Pola dan Perkembangan Bayi

Manfaat kedekatan tidak hanya dirasakan oleh bayi.

Orang tua juga dapat menjadi lebih peka terhadap pola tidur, kebiasaan, dan perubahan perilaku anak ketika mereka sering berada dekat dengan bayi.

Misalnya, orang tua mungkin mulai mengenali:

kapan bayi biasanya mulai mengantuk;
tanda-tanda bayi mulai lelah;
pola terbangun pada malam hari;
cara tertentu yang membuat bayi lebih mudah tenang;
perubahan perilaku ketika bayi sedang tidak nyaman.

Kepekaan tersebut dapat membantu orang tua memberikan respons yang lebih sesuai.

Dalam psikologi perkembangan, kemampuan orang tua untuk memperhatikan sinyal anak dan memberikan respons yang sesuai merupakan bagian penting dari hubungan pengasuhan yang responsif.

Kedekatan dapat membuat proses pengamatan tersebut lebih mudah karena orang tua mempunyai lebih banyak kesempatan untuk melihat dan mendengar perilaku bayi.

Selain itu, semakin orang tua memahami pola bayinya, semakin kecil kemungkinan mereka harus menebak-nebak setiap kali bayi menangis.

Hal ini dapat membantu menciptakan interaksi yang lebih tenang.

Kedekatan Bukan Berarti Harus Satu Tempat Tidur

Di sinilah pembahasan psikologi perlu dipisahkan dari persoalan keselamatan tidur.

Ada perbedaan antara:

room-sharing — bayi tidur di ruangan yang sama dengan orang tua, tetapi di tempat tidur bayi sendiri,

dan

bed-sharing — bayi tidur di permukaan tidur yang sama dengan orang tua.

Keduanya sama-sama merupakan bentuk "tidur berdekatan", tetapi memiliki implikasi keselamatan yang berbeda.

Bagi orang tua yang ingin mendapatkan manfaat kedekatan tanpa mengabaikan keselamatan, salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah menempatkan tempat tidur bayi di dekat tempat tidur orang tua.

Dengan pengaturan seperti ini, orang tua tetap dapat:

mendengar bayi;
memeriksa kondisi bayi;
merespons ketika bayi membutuhkan sesuatu;
memberikan kenyamanan;
dan melakukan interaksi pada malam hari,

sementara bayi tetap memiliki ruang tidur yang terpisah.

Hal ini juga menunjukkan bahwa kebutuhan psikologis bayi dan kebutuhan keselamatan tidur tidak harus dipertentangkan.

Apakah Bayi Akan Menjadi Manja Jika Tidur Dekat Orang Tua?

Ini merupakan kekhawatiran yang cukup umum.

Sebagian orang takut bahwa terlalu banyak memberikan perhatian akan membuat bayi menjadi terlalu bergantung.

Namun, dalam perkembangan anak, memberikan respons terhadap kebutuhan bayi tidak sama dengan memanjakan bayi.

Bayi yang menangis karena lapar, takut, lelah, atau membutuhkan kenyamanan memang belum mempunyai kapasitas untuk mengatur kebutuhan tersebut secara mandiri.

Mereka membutuhkan bantuan orang dewasa.

Kemandirian biasanya berkembang secara bertahap.

Seorang bayi tidak dapat diperlakukan seperti orang dewasa kecil yang sudah mampu memahami alasan mengapa orang tuanya tidak segera datang.

Justru melalui pengalaman mendapatkan keamanan dan dukungan, anak secara bertahap dapat mengembangkan keberanian untuk mengeksplorasi lingkungan.

Dengan kata lain, tujuan pengasuhan bukan membuat anak selalu membutuhkan orang tua.

Tujuannya adalah memberikan fondasi rasa aman yang memungkinkan anak pada akhirnya mampu semakin mandiri.

Yang Lebih Penting daripada Sekadar Jarak Tidur

Walaupun kedekatan dapat memberikan berbagai kesempatan positif, lokasi tidur bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan psikologis bayi.

Hal-hal seperti:

Respons orang tua terhadap tangisan dan kebutuhan bayi
Konsistensi pengasuhan
Interaksi hangat sehari-hari
Sentuhan dan komunikasi yang sesuai
Lingkungan yang aman
Kebutuhan dasar bayi yang terpenuhi
Kondisi emosional dan kemampuan orang tua dalam merawat bayi

juga memainkan peran penting.

Karena itu, orang tua tidak perlu merasa bersalah apabila situasi keluarga membuat mereka memilih pengaturan tidur yang berbeda.

Yang terpenting adalah memastikan bayi mendapatkan keamanan, perhatian, respons yang sensitif, dan lingkungan tidur yang aman.

Kesimpulan

Tidur berdekatan dengan bayi dapat memiliki manfaat psikologis terutama karena kedekatan tersebut meningkatkan kesempatan bagi orang tua untuk memberikan respons terhadap kebutuhan bayi.

Dari perspektif psikologi perkembangan, beberapa manfaat yang mungkin muncul antara lain:

1. Membantu membangun rasa aman.

2. Memudahkan orang tua merespons sinyal bayi.

3. Mendukung proses regulasi emosi melalui co-regulation.

4. Memberikan lebih banyak kesempatan untuk membangun ikatan emosional.

5. Membantu bayi mengenali orang tua sebagai sumber kenyamanan.

6. Membantu orang tua memahami pola dan kebutuhan bayi.

Namun, manfaat psikologis tersebut tidak berarti bayi harus tidur di kasur yang sama dengan orang tua. Kedekatan emosional dan kedekatan fisik dapat dibangun tanpa harus mengorbankan prinsip keselamatan tidur.

Pada akhirnya, bayi tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan pengasuh yang cukup responsif, konsisten, hangat, dan mampu menciptakan lingkungan yang aman.

Kehadiran orang tua—termasuk pada saat-saat sederhana ketika bayi terbangun di malam hari—dapat menjadi bagian kecil tetapi bermakna dari proses tersebut.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore