Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 September 2026 | 22.34 WIB

7 Alasan Mengapa Depresi Terlihat Berbeda pada Setiap Orang Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang terlihat depresi / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Ketika mendengar kata depresi, banyak orang langsung membayangkan seseorang yang selalu sedih, sering menangis, menarik diri dari lingkungan, dan kehilangan semangat untuk menjalani kehidupan. Gambaran tersebut memang dapat muncul pada orang yang mengalami depresi, tetapi depresi tidak selalu terlihat seperti itu.

Pada kenyataannya, dua orang yang sama-sama mengalami depresi dapat menunjukkan kondisi yang sangat berbeda. Seseorang mungkin lebih banyak diam dan mengurung diri di kamar. Orang lain justru tetap bekerja, bercanda, aktif di media sosial, dan terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Ada pula yang menjadi mudah marah, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, terlalu banyak tidur, atau merasa tubuhnya terus-menerus lelah.

Perbedaan tersebut bukan berarti salah satu orang "benar-benar depresi" sementara yang lainnya tidak. Dalam psikologi, pengalaman depresi dipahami sebagai kondisi yang kompleks. Gejala, tingkat keparahan, cara seseorang menghadapi tekanan, lingkungan sosial, pengalaman hidup, serta faktor biologis dapat memengaruhi bagaimana depresi muncul dan terlihat dari luar.

Karena itu, memahami bahwa depresi tidak mempunyai satu "wajah" yang sama sangat penting. Hal ini dapat membantu kita lebih peka terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (28/9), terdapat 7 alasan mengapa depresi dapat terlihat berbeda pada setiap orang menurut psikologi.

1. Setiap orang memiliki cara berbeda dalam merespons tekanan

Manusia tidak mempunyai respons psikologis yang seragam ketika menghadapi masalah.

Ketika mengalami kehilangan, kegagalan, konflik, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau perubahan besar dalam kehidupan, setiap orang dapat memberikan respons yang berbeda. Ada yang menangis dan mencari dukungan dari orang lain. Ada yang memilih menyendiri. Ada pula yang justru semakin sibuk agar tidak perlu memikirkan masalahnya.

Perbedaan respons ini juga dapat memengaruhi bagaimana gejala depresi terlihat.

Seseorang mungkin menunjukkan kesedihan secara terbuka. Sementara itu, orang lain mungkin memendam emosinya dan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.

Inilah salah satu alasan mengapa kita tidak dapat menentukan kondisi psikologis seseorang hanya berdasarkan penampilannya.

Orang yang masih bekerja, kuliah, mengurus keluarga, atau tersenyum ketika bertemu orang lain tetap bisa mengalami masalah psikologis yang serius.

Bahkan, sebagian orang berusaha mempertahankan rutinitas justru karena rutinitas tersebut membantu mereka merasa tetap memiliki kendali atas kehidupannya.

Dengan kata lain, kemampuan seseorang untuk tetap berfungsi dalam kehidupan sehari-hari tidak otomatis berarti dirinya bebas dari depresi.

2. Gejala depresi tidak hanya berupa kesedihan

Salah satu kesalahpahaman yang cukup umum adalah menganggap depresi identik dengan rasa sedih.

Padahal, pengalaman depresi dapat melibatkan berbagai macam gejala emosional, kognitif, perilaku, dan fisik.

Seseorang dapat mengalami:

kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai,
merasa sangat lelah,
sulit berkonsentrasi,
perubahan pola tidur,
perubahan nafsu makan,
merasa tidak berharga,
merasa bersalah secara berlebihan,
kehilangan motivasi,
menjadi mudah tersinggung,
menarik diri dari orang lain,
merasa kosong atau mati rasa secara emosional.

Karena gejalanya beragam, depresi pada satu orang dapat terlihat sangat berbeda dibandingkan depresi pada orang lain.

Misalnya, seseorang mungkin tidak sering menangis, tetapi kehilangan kemampuan untuk menikmati sesuatu yang sebelumnya membuatnya bahagia.

Orang lain mungkin masih tertawa dan bercanda, tetapi setelah itu merasa sangat kosong ketika sendirian.

Ada juga yang lebih banyak merasakan gejala fisik, seperti kelelahan dan gangguan tidur, sehingga awalnya mengira masalah yang dialaminya hanya berkaitan dengan kondisi tubuh.

Itulah sebabnya depresi tidak sebaiknya dinilai hanya berdasarkan satu gejala tertentu.

3. Kepribadian dan kebiasaan menghadapi emosi berbeda-beda

Kepribadian dapat memengaruhi cara seseorang mengekspresikan emosi.

Orang yang terbiasa terbuka mungkin lebih mudah mengatakan, "Saya sedang tidak baik-baik saja."

Sebaliknya, orang yang sejak lama terbiasa menyimpan masalah sendiri mungkin justru semakin tertutup ketika mengalami tekanan psikologis.

Ada orang yang terbiasa mencari bantuan ketika menghadapi masalah. Ada pula yang merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri.

Sebagian orang mengekspresikan emosi melalui tangisan. Sebagian lainnya lebih mudah mengekspresikan tekanan melalui kemarahan atau sikap mudah tersinggung.

Tidak semua perbedaan tersebut berarti seseorang mengalami depresi. Namun, pola kepribadian dan cara menghadapi emosi dapat memengaruhi bagaimana gejala psikologis terlihat ketika seseorang benar-benar mengalami depresi.

Misalnya, orang yang dikenal sangat bertanggung jawab mungkin tetap datang bekerja meskipun dirinya sedang mengalami masalah emosional yang berat.

Orang yang dikenal pendiam mungkin tidak pernah menceritakan apa yang sedang dirasakannya.

Karena itu, perubahan dari kebiasaan normal seseorang terkadang lebih informatif daripada membandingkannya dengan stereotip tentang bagaimana "seharusnya" orang depresi terlihat.

4. Lingkungan sosial dapat membentuk cara seseorang menyembunyikan atau menunjukkan gejala

Lingkungan tempat seseorang hidup juga berpengaruh.

Seseorang yang berada dalam lingkungan yang mendukung keterbukaan mengenai kesehatan mental mungkin lebih mudah mengatakan bahwa dirinya sedang kesulitan.

Sebaliknya, orang yang takut dianggap lemah, merepotkan orang lain, atau mendapatkan stigma mungkin memilih menyembunyikan kondisinya.

Hal ini dapat membuat depresi terlihat berbeda dari luar.

Bayangkan seseorang yang setiap hari tetap bekerja, bercanda dengan rekan kerja, dan terlihat produktif. Orang-orang di sekitarnya mungkin menganggap kehidupannya baik-baik saja.

Namun, ketika pulang ke rumah, ia mungkin merasa tidak memiliki energi untuk melakukan apa pun.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa perilaku yang terlihat di ruang publik belum tentu menggambarkan keseluruhan pengalaman psikologis seseorang.

Manusia juga memiliki kemampuan untuk menyesuaikan perilaku dengan situasi sosial. Seseorang bisa tersenyum ketika berada di depan orang lain meskipun secara internal sedang mengalami kesulitan.

Karena itu, kalimat seperti "Dia kelihatannya baik-baik saja" tidak cukup untuk menyimpulkan kondisi mental seseorang.

5. Pengalaman hidup setiap orang tidak sama

Riwayat kehidupan seseorang juga dapat memengaruhi cara depresi muncul.

Pengalaman masa kecil, hubungan keluarga, kehilangan, konflik interpersonal, tekanan akademik, pekerjaan, masalah finansial, pengalaman traumatis, penyakit fisik, perubahan hidup, dan berbagai tekanan lainnya dapat menjadi bagian dari konteks seseorang mengalami masalah psikologis.

Namun, penting untuk dipahami bahwa tidak semua orang yang mengalami pengalaman sulit akan mengalami depresi.

Sebaliknya, seseorang juga tidak harus memiliki satu peristiwa traumatis yang jelas untuk mengalami depresi.

Kadang-kadang seseorang mengalami akumulasi tekanan dalam waktu yang panjang. Masalah yang tampaknya kecil jika dilihat satu per satu dapat terasa sangat berat ketika terjadi terus-menerus tanpa kesempatan untuk pulih.

Orang lain mungkin mengalami perubahan suasana hati setelah sebuah peristiwa kehidupan yang sangat besar.

Karena latar belakang setiap individu berbeda, pengalaman depresi juga tidak dapat dipahami hanya dengan satu cerita atau satu penyebab.

Psikologi modern cenderung melihat kesehatan mental sebagai hasil interaksi berbagai faktor, bukan sekadar akibat satu kejadian.

6. Faktor biologis dan psikologis ikut berperan

Depresi bukan hanya persoalan "kurang bersyukur", "kurang kuat", atau "kurang berpikir positif".

Kondisi psikologis melibatkan interaksi yang kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan lingkungan.

Faktor biologis tertentu dapat berhubungan dengan kerentanan seseorang terhadap gangguan depresi. Di sisi lain, pola pikir, pengalaman hidup, kemampuan mengatur emosi, hubungan sosial, stres, dan lingkungan juga dapat berperan.

Karena kombinasi faktor tersebut berbeda pada setiap individu, manifestasinya pun dapat berbeda.

Misalnya, seseorang mungkin lebih banyak mengalami gangguan tidur dan kelelahan. Orang lain mungkin lebih dominan mengalami kehilangan minat dan kesulitan berkonsentrasi.

Ada pula yang mengalami perubahan nafsu makan atau berat badan.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa depresi bukan kondisi yang dapat dipahami hanya dengan melihat satu aspek manusia.

Tubuh dan pikiran saling berhubungan.

Ketika seseorang mengalami gangguan suasana hati, dampaknya dapat terasa pada energi, tidur, nafsu makan, konsentrasi, motivasi, serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

7. Tingkat keparahan dan perjalanan depresi dapat berbeda

Tidak semua orang mengalami depresi dengan intensitas dan perjalanan yang sama.

Pada sebagian orang, gejalanya mungkin relatif ringan tetapi berlangsung cukup lama. Pada orang lain, gejalanya dapat menjadi jauh lebih berat dan mengganggu berbagai aspek kehidupan.

Gejala juga dapat berubah dari waktu ke waktu.

Seseorang mungkin pada awalnya hanya merasa kehilangan motivasi. Setelah tekanan berlanjut, ia mulai mengalami gangguan tidur, kehilangan minat, kesulitan berkonsentrasi, dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Sebaliknya, seseorang yang sebelumnya mengalami gejala berat dapat mengalami periode ketika dirinya mulai mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

Inilah alasan mengapa kondisi mental seseorang sebaiknya tidak dinilai berdasarkan satu hari atau satu momen.

Seseorang bisa terlihat baik hari ini dan mengalami hari yang sangat berat beberapa hari kemudian.

Perjalanan kondisi psikologis perlu dilihat secara lebih menyeluruh, termasuk durasi gejala, intensitasnya, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Mengapa Memahami Perbedaan Ini Sangat Penting?

Memahami bahwa depresi dapat terlihat berbeda membantu kita menghindari penilaian yang terlalu cepat.

Kita tidak seharusnya mengatakan:

"Kalau benar-benar depresi, pasti menangis."

Atau:

"Kalau masih bisa bekerja, berarti tidak mungkin depresi."

Begitu pula dengan anggapan:

"Dia masih sering bercanda, jadi pasti baik-baik saja."

Pernyataan seperti itu dapat membuat orang yang sedang mengalami masalah psikologis merasa tidak dipercaya atau bahkan enggan mencari bantuan.

Sebaliknya, kita dapat belajar memperhatikan perubahan yang terjadi pada seseorang.

Misalnya, seseorang yang biasanya aktif tiba-tiba kehilangan minat terhadap berbagai kegiatan.

Seseorang yang biasanya mudah berkomunikasi menjadi sangat tertutup.

Seseorang yang biasanya tidur teratur mengalami perubahan pola tidur dalam waktu yang cukup lama.

Atau seseorang yang biasanya mampu menikmati hal-hal sederhana tiba-tiba merasa tidak tertarik pada hampir semua hal.

Perubahan semacam itu tidak otomatis berarti depresi, tetapi dapat menjadi alasan untuk memberikan perhatian dan membuka ruang percakapan.

Jangan Mendiagnosis Diri Sendiri Berdasarkan Satu Gejala

Membaca artikel mengenai depresi dapat membantu seseorang memahami kesehatan mental, tetapi artikel seperti ini tidak dapat menggantikan evaluasi profesional.

Merasa sedih selama beberapa hari, misalnya, tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan depresi.

Sebaliknya, seseorang juga tidak perlu menunggu sampai kondisinya menjadi sangat parah untuk mencari bantuan.

Jika perubahan suasana hati, kehilangan minat, kelelahan, gangguan tidur, masalah konsentrasi, atau gejala lainnya berlangsung dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, berbicara dengan psikolog atau tenaga kesehatan dapat menjadi langkah yang tepat.

Terutama jika seseorang mengalami pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau merasa hidupnya tidak layak dipertahankan, bantuan profesional dan dukungan dari orang yang dipercaya perlu dicari sesegera mungkin. Dalam situasi darurat, hubungi layanan darurat setempat atau pergi ke fasilitas kesehatan terdekat.

Pada Akhirnya, Depresi Tidak Memiliki Satu Wajah

Depresi tidak selalu terlihat sebagai seseorang yang menangis di sudut kamar.

Kadang-kadang depresi terlihat seperti seseorang yang terlalu lelah untuk melakukan aktivitas sederhana.

Kadang terlihat seperti seseorang yang kehilangan minat terhadap hal-hal yang dahulu dicintainya.

Kadang terlihat seperti seseorang yang mudah marah.

Kadang terlihat seperti seseorang yang tetap bekerja, tetap tersenyum, dan tetap menjalankan tanggung jawabnya, tetapi merasa sangat kosong ketika tidak ada orang lain di sekitarnya.

Perbedaan tersebut terjadi karena manusia memiliki pengalaman, tubuh, kepribadian, lingkungan, dan cara menghadapi tekanan yang berbeda.

Karena itu, memahami depresi membutuhkan lebih dari sekadar melihat apakah seseorang tampak sedih atau tidak.

Yang lebih penting adalah melihat perubahan, memahami konteks, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberikan ruang bagi seseorang untuk berbicara tentang apa yang sebenarnya sedang dialaminya.

Seseorang tidak harus terlihat hancur di depan kita untuk benar-benar sedang mengalami masa yang berat.

Dan terkadang, bentuk kepedulian yang paling sederhana bukanlah mencoba menebak apa yang sedang terjadi, melainkan bertanya dengan tulus:

"Kamu benar-benar baik-baik saja, atau sebenarnya akhir-akhir ini terasa berat?"***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore