Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 September 2026 | 18.11 WIB

6 Hal Penting yang Harus Diketahui oleh Mereka yang Mencintai Seseorang dengan Depresi

seseorang yang mencintai pasangan yang depresi / foto: Magnific/Drazen Zigic

 

JawaPos.com - Mencintai seseorang yang mengalami depresi bukanlah pengalaman yang sederhana. Ada kalanya kita ingin membantu, tetapi tidak tahu harus melakukan apa. Kita ingin memberi semangat, tetapi justru dianggap tidak memahami. Kita ingin selalu berada di sampingnya, tetapi pada titik tertentu kita sendiri merasa lelah, bingung, bahkan tidak berdaya.

Depresi juga sering disalahpahami sebagai sekadar kesedihan. Padahal, secara psikologis, depresi dapat memengaruhi cara seseorang merasakan emosi, berpikir, memandang dirinya sendiri, mengambil keputusan, berhubungan dengan orang lain, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari.

Karena itu, ketika seseorang yang kita cintai mengalami depresi, yang dibutuhkan bukan hanya kasih sayang, tetapi juga pemahaman.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), terdapat enam hal penting yang perlu diketahui ketika mencintai seseorang dengan depresi.

1. Depresi Bukan Sekadar Sedih dan Bukan Sesuatu yang Bisa Diselesaikan dengan "Semangat"

Salah satu kesalahpahaman paling umum mengenai depresi adalah anggapan bahwa orang yang mengalaminya hanya sedang sedih atau kurang memiliki motivasi.

Padahal, depresi dapat melibatkan perubahan yang jauh lebih luas.

Seseorang mungkin kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya menyenangkan. Ia dapat mengalami perubahan tidur dan nafsu makan, kesulitan berkonsentrasi, kelelahan, perasaan tidak berharga, rasa bersalah yang berlebihan, atau pandangan yang sangat negatif terhadap dirinya dan masa depan.

Karena itu, mengatakan:

"Jangan terlalu dipikirkan."

atau:

"Kamu harus lebih bersyukur."

mungkin dimaksudkan sebagai dukungan, tetapi belum tentu dirasakan sebagai dukungan oleh orang yang sedang mengalami depresi.

Masalahnya bukan karena orang tersebut tidak mau berpikir positif. Dalam depresi, cara seseorang memproses pengalaman dan emosinya dapat berubah sehingga hal-hal yang bagi orang lain terlihat sederhana dapat terasa sangat berat.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Daripada buru-buru memberikan solusi, cobalah memberikan ruang untuk didengarkan.

Misalnya:

"Aku mungkin tidak sepenuhnya memahami apa yang kamu rasakan, tapi aku mau mendengarkan."

Kalimat seperti ini tidak berusaha menghapus perasaan orang tersebut. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa pengalaman emosionalnya dianggap serius.

Dalam hubungan romantis, keluarga, maupun persahabatan, kemampuan untuk hadir tanpa langsung menghakimi sering kali menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti.

2. Menarik Diri Tidak Selalu Berarti Dia Tidak Mencintaimu

Ini merupakan salah satu bagian yang paling menyakitkan bagi orang yang mencintai seseorang dengan depresi.

Bayangkan pasangan yang biasanya sering mengirim pesan tiba-tiba menjadi sangat pendiam. Ia tidak lagi antusias bertemu. Balasan pesannya semakin singkat. Ia terlihat tidak tertarik berbicara, bahkan terkadang meminta untuk sendirian.

Orang yang berada di sisi lain hubungan mungkin mulai berpikir:

"Apakah dia sudah tidak mencintaiku?"

"Apakah aku melakukan kesalahan?"

"Apakah dia bosan denganku?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat manusiawi.

Namun, perubahan perilaku seseorang yang mengalami depresi tidak selalu dapat dipahami sebagai ukuran langsung dari perasaannya terhadap orang lain.

Depresi dapat membuat seseorang kehilangan energi psikologis untuk melakukan berbagai hal, termasuk berkomunikasi dan mempertahankan rutinitas sosial.

Bahkan aktivitas yang tampaknya sederhana—membalas pesan, mandi, makan, pergi bekerja, atau bertemu orang lain—dapat terasa sangat berat.

Tetapi ini bukan berarti semua perilaku harus diterima begitu saja

Memahami depresi bukan berarti mengabaikan kebutuhan dalam sebuah hubungan.

Dua hal dapat benar secara bersamaan:

Orang tersebut sedang mengalami kondisi psikologis yang berat.

Dan:

Pasangan atau orang yang mendampinginya juga memiliki kebutuhan emosional yang valid.

Hubungan yang sehat tetap membutuhkan komunikasi mengenai batasan, kebutuhan, dan ekspektasi.

Daripada langsung menyimpulkan bahwa seseorang menjauh karena tidak mencintai kita, lebih baik mencoba bertanya:

"Aku melihat akhir-akhir ini kamu lebih banyak menyendiri. Apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membantumu?"

Pertanyaan tersebut membuka percakapan tanpa langsung memberikan tuduhan.

3. Kamu Tidak Bisa "Menyembuhkan" Depresi Hanya dengan Cinta

Ini mungkin salah satu kenyataan paling sulit diterima.

Ketika kita mencintai seseorang, naluri kita adalah ingin menyelamatkannya.

Kita ingin mengatakan:

"Aku akan selalu ada untukmu."

"Aku akan membuatmu bahagia lagi."

"Kamu tidak perlu menghadapi ini sendirian."

Semua itu dapat menjadi bentuk kasih sayang yang sangat berarti.

Namun, cinta bukanlah pengganti penanganan profesional ketika seseorang membutuhkan bantuan psikologis atau medis.

Depresi dapat memiliki berbagai faktor yang saling berinteraksi, termasuk faktor biologis, psikologis, sosial, pengalaman hidup, dan kondisi lingkungan. Karena itu, penanganannya juga dapat membutuhkan pendekatan yang berbeda-beda.

Psikolog atau psikiater dapat membantu seseorang memahami kondisinya dan menentukan bentuk penanganan yang sesuai.

Orang terdekat dapat menjadi sumber dukungan, tetapi bukan berarti harus menjadi terapis.

Perbedaan ini penting.

Jangan menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya "penyelamat"

Ketika seseorang yang kita cintai mengalami depresi, kita mungkin mulai merasa bahwa kesehatan mentalnya sepenuhnya merupakan tanggung jawab kita.

Padahal, peran kita bukan untuk menyembuhkan.

Peran kita bisa berupa:

mendengarkan,
menemani,
membantu mencari bantuan profesional,
memberikan dukungan praktis,
menghargai batasannya,
memperhatikan perubahan yang mengkhawatirkan,
dan tetap menjaga kesehatan diri sendiri.

Misalnya, jika ia belum mendapatkan bantuan profesional, kita dapat mengatakan:

"Kalau kamu bersedia, aku bisa menemanimu mencari psikolog atau psikiater."

Perbedaannya cukup besar dibanding mengatakan:

"Aku bisa membuatmu sembuh."

Yang pertama menawarkan dukungan. Yang kedua menempatkan tanggung jawab yang sangat besar pada hubungan.

4. Jangan Mengabaikan Tanda-Tanda Risiko Bunuh Diri

Ada satu hal yang harus diketahui oleh siapa pun yang dekat dengan seseorang yang mengalami depresi: depresi pada sebagian orang dapat disertai pikiran untuk mati atau bunuh diri.

Ini bukan sesuatu yang sebaiknya dianggap sebagai drama, manipulasi, atau sekadar mencari perhatian.

Jika seseorang mengatakan bahwa ia ingin mati, ingin mengakhiri hidup, merasa lebih baik jika tidak ada, atau mulai berbicara tentang rencana menyakiti dirinya, situasinya perlu dianggap serius.

Dalam kondisi seperti ini, fokus utama bukan lagi mencari kalimat yang paling tepat, tetapi memastikan keselamatan.

Apa yang dapat dilakukan?

Dengarkan tanpa menghakimi.

Jangan menantang atau meremehkan perasaannya dengan kalimat seperti:

"Kamu tidak mungkin benar-benar melakukan itu."

atau:

"Pikirkan keluarga kamu."

Lebih baik tetap tenang dan langsung mencari bantuan.

Jika ada risiko segera, jangan meninggalkan orang tersebut sendirian dan hubungi layanan darurat atau fasilitas kesehatan setempat. Libatkan orang tepercaya yang dapat membantu menjaga keselamatannya.

Menanyakan secara langsung mengenai pikiran bunuh diri juga tidak secara otomatis "menanamkan ide" tersebut. Yang lebih penting adalah membuka ruang agar orang tersebut dapat berbicara secara jujur dan mendapatkan pertolongan.

Namun, orang terdekat juga perlu menyadari bahwa mereka tidak harus menangani keadaan darurat seorang diri.

Keselamatan harus menjadi prioritas.

5. Kamu Juga Berhak Lelah

Ketika seseorang yang kita cintai mengalami depresi, perhatian sering kali sepenuhnya tertuju kepadanya.

"Dia sedang sakit."

"Aku harus mengerti."

"Aku tidak boleh mengeluh."

"Aku harus selalu sabar."

Lama-kelamaan, orang yang mendampingi dapat mengalami kelelahan emosional.

Kamu mungkin merasa sedih karena hubungan berubah. Kamu mungkin merasa kesepian meskipun memiliki pasangan. Kamu mungkin frustrasi karena sudah berusaha membantu tetapi tidak melihat perubahan.

Perasaan tersebut tidak otomatis membuatmu menjadi orang yang buruk.

Memiliki empati terhadap seseorang dengan depresi tidak berarti kamu harus mengabaikan dirimu sendiri.

Self-care bukan tindakan egois

Tetaplah memiliki kehidupan di luar hubungan.

Pertahankan hubungan dengan teman dan keluarga. Tidur yang cukup. Makan dengan baik. Lakukan aktivitas yang membuatmu merasa menjadi dirimu sendiri.

Jika situasinya sangat berat, kamu juga dapat mencari dukungan profesional untuk dirimu sendiri.

Ada perbedaan antara:

"Aku meninggalkanmu karena kamu sedang depresi."

dan:

"Aku mencintaimu, tetapi aku juga perlu menjaga diriku agar bisa tetap hadir dengan cara yang sehat."

Batasan bukan berarti tidak peduli.

Justru dalam banyak hubungan, batasan membantu mencegah kasih sayang berubah menjadi kelelahan, ketergantungan, atau hubungan yang tidak sehat.

6. Cinta yang Sehat Tidak Selalu Berarti Mengetahui Apa yang Harus Dilakukan

Banyak orang berpikir bahwa jika mereka benar-benar mencintai seseorang, mereka seharusnya tahu bagaimana cara memperbaiki keadaan.

Padahal tidak demikian.

Terkadang bentuk cinta yang paling realistis bukan menemukan jawaban yang sempurna, melainkan tetap hadir sambil mengakui bahwa kita tidak memiliki semua jawaban.

Kamu mungkin tidak tahu bagaimana membuatnya merasa lebih baik.

Kamu mungkin tidak tahu kapan harus memberi ruang dan kapan harus mendekat.

Kamu mungkin tidak tahu apakah harus mendengarkan atau memberikan solusi.

Dan itu manusiawi.

Daripada berusaha menjadi "penyelamat", cobalah menjadi seseorang yang aman untuk diajak berkomunikasi.

Tanyakan:

"Kamu ingin aku mendengarkan atau kamu ingin kita mencari solusi bersama?"

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu karena tidak semua orang yang sedang mengalami masalah membutuhkan nasihat. Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia berada di samping mereka tanpa menghakimi.

Dengarkan, tetapi jangan mengambil alih hidupnya

Dukungan yang sehat memberikan bantuan tanpa menghilangkan otonomi.

Misalnya:

"Kalau kamu mau, aku bisa menemanimu mencari bantuan."

bukan:

"Mulai besok aku yang mengatur semua hidupmu."

Orang yang mengalami depresi tetap memiliki hak untuk membuat keputusan mengenai dirinya, sejauh kondisinya memungkinkan dan keselamatannya tidak sedang berada dalam risiko akut.

Dukungan terbaik bukan selalu melakukan semuanya untuk seseorang.

Kadang-kadang dukungan berarti membantu seseorang menemukan kembali kemampuan untuk melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri.

Pada Akhirnya, Mencintai Seseorang dengan Depresi Membutuhkan Empati dan Batasan

Mencintai seseorang dengan depresi dapat mengajarkan kita sesuatu yang penting tentang hubungan manusia: cinta saja mungkin tidak menyelesaikan masalah, tetapi cinta yang disertai pemahaman dapat menjadi sumber dukungan yang sangat berarti.

Orang yang mengalami depresi bukanlah masalah yang harus diperbaiki.

Mereka adalah manusia yang sedang menghadapi sesuatu yang mungkin sangat berat.

Dan orang yang mencintainya juga bukan mesin yang harus selalu kuat.

Keduanya membutuhkan ruang, dukungan, komunikasi, dan batasan yang sehat.

Jika kamu sedang berada di sisi seseorang yang mengalami depresi, kamu tidak harus memiliki semua jawaban. Kamu tidak harus selalu mengatakan hal yang benar. Kamu juga tidak harus mengorbankan seluruh dirimu untuk membuktikan bahwa kamu mencintainya.

Terkadang, hal yang paling berarti adalah mengatakan:

"Aku mungkin tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang kamu rasakan. Tapi aku tidak akan menghakimimu. Kalau kamu ingin mencari bantuan, aku bersedia menemanimu."

Dan ketika keadaan menjadi terlalu berat, ingatlah bahwa meminta bantuan bukan berarti gagal mencintai seseorang.

Justru, mengetahui kapan harus mencari bantuan adalah salah satu bentuk kepedulian yang paling penting.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore