Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 September 2026 | 21.21 WIB

Jika Kamu Sedang Tertekan karena Orang Lain Menginginkan Kamu Gagal, Lakukan 7 Cara Ini

seseorang yang sukses meski diharapkan gagal oleh orang lain / foto: Magnific/kremen

 

JawaPos.com - Ada masa ketika hidup terasa jauh lebih berat bukan karena masalah yang sedang kita hadapi, tetapi karena kita merasa ada orang lain yang berharap kita tidak berhasil.

Mungkin kamu sedang membangun sesuatu, lalu ada orang yang meremehkanmu. Kamu mendapatkan kesempatan baru, tetapi seseorang justru mengatakan bahwa kamu tidak akan mampu. Kamu mencoba berubah menjadi lebih baik, tetapi ada orang yang terus mengingatkan kesalahan masa lalumu.

Lebih melelahkan lagi ketika kamu merasa bahwa setiap langkahmu seperti sedang diawasi.

Ketika berhasil, ada yang mencari kekurangan. Ketika gagal, ada yang terlihat senang. Ketika mencoba menjelaskan diri, kamu justru dianggap terlalu sensitif.

Dalam kondisi seperti ini, pikiran bisa menjadi sangat sibuk.

"Bagaimana kalau mereka benar?"

"Bagaimana kalau aku benar-benar gagal?"

"Kenapa mereka ingin melihatku jatuh?"

"Apa yang harus kulakukan supaya mereka berhenti meremehkanku?"

Masalahnya, ketika perhatian kita terlalu banyak tertuju pada orang yang mungkin menginginkan kita gagal, kehidupan kita perlahan mulai dikendalikan oleh reaksi terhadap mereka.

Kita tidak lagi bertanya, "Apa yang penting bagi hidupku?"

Kita mulai bertanya, "Bagaimana caranya membuktikan bahwa mereka salah?"

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), menurut psikologi, menghadapi tekanan sosial seperti ini membutuhkan lebih dari sekadar berpikir positif. Kita perlu belajar mengelola interpretasi, emosi, perhatian, batasan, dan perilaku kita sendiri.

Yang juga penting: perasaan bahwa seseorang menginginkan kita gagal tidak selalu berarti kita mengetahui isi pikiran mereka secara pasti. Kadang memang ada perilaku merendahkan atau sabotase yang nyata. Namun, kadang kecemasan dan pengalaman buruk membuat kita menafsirkan tindakan orang lain secara lebih negatif daripada yang sebenarnya.

Karena itu, berikut tujuh cara yang dapat membantu ketika kamu merasa tertekan karena orang lain menginginkanmu gagal.

1. Bedakan antara fakta dan interpretasi pikiranmu

Ini adalah langkah pertama yang sangat penting.

Ketika seseorang bersikap dingin kepadamu, misalnya, pikiranmu mungkin langsung menyimpulkan:

"Dia pasti ingin aku gagal."

Tetapi perhatikan perbedaannya.

Fakta:
Dia mengatakan bahwa rencanamu terlalu berisiko.

Interpretasi:
Dia mengatakan itu karena dia ingin melihatmu gagal.

Keduanya bukan hal yang sama.

Dalam psikologi kognitif, kita mengenal pola berpikir yang dapat membuat seseorang mengambil kesimpulan terlalu cepat. Salah satunya adalah mind reading, yaitu kecenderungan menganggap kita mengetahui apa yang dipikirkan atau dimaksudkan orang lain tanpa bukti yang cukup.

Bukan berarti semua kekhawatiranmu salah.

Mungkin memang ada orang yang tidak mendukungmu.

Mungkin memang ada orang yang iri.

Mungkin ada orang yang secara terbuka meremehkanmu.

Tetapi kamu tetap perlu memisahkan apa yang benar-benar terjadi dari apa yang kamu simpulkan tentang kejadian tersebut.

Cobalah bertanya:

Apa yang benar-benar dia katakan?
Apa yang benar-benar dia lakukan?
Bukti apa yang menunjukkan bahwa dia ingin aku gagal?
Apakah ada kemungkinan penjelasan lain?
Apakah perilakunya terjadi sekali atau berulang kali?
Apakah aku sedang menafsirkan sesuatu karena pengalaman buruk sebelumnya?

Latihan sederhana ini dapat membuat pikiran menjadi lebih tenang.

Misalnya, daripada berkata:

"Mereka semua ingin aku gagal."

ubah menjadi:

"Ada beberapa orang yang tidak mendukung pilihanku, tetapi aku belum tentu tahu apa yang sebenarnya mereka pikirkan."

Kalimat kedua mungkin terdengar lebih sederhana, tetapi jauh lebih sehat.

Kamu tidak sedang menyangkal kenyataan.

Kamu hanya berhenti memberikan kepastian pada sesuatu yang belum tentu benar.

2. Jangan jadikan keberhasilan sebagai alat untuk membalas mereka

Ketika diremehkan, ada dorongan yang sangat manusiawi untuk membuktikan bahwa orang tersebut salah.

"Nanti kalau aku sukses, mereka akan menyesal."

Kalimat seperti ini memang bisa memberikan energi untuk sementara.

Tetapi ada masalah.

Jika motivasi utamamu adalah membuktikan sesuatu kepada orang lain, maka orang tersebut masih memiliki kendali atas hidupmu.

Kamu bekerja keras bukan karena itu sesuai dengan tujuanmu, tetapi karena kamu ingin mendapatkan pengakuan dari mereka.

Kamu mengejar pencapaian bukan karena kamu menginginkannya, tetapi karena kamu ingin seseorang merasa kalah.

Secara psikologis, ini dapat membuat keberhasilan terasa tidak pernah cukup.

Setelah mencapai satu target, muncul target lain:

"Aku harus menunjukkan lebih banyak lagi."

Setelah mendapat pengakuan, muncul kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan berikutnya.

Akhirnya, hidup berubah menjadi kompetisi yang tidak pernah selesai.

Karena itu, cobalah mengubah pertanyaan.

Jangan:

"Bagaimana caranya supaya mereka melihat bahwa aku berhasil?"

Tetapi:

"Apa yang ingin aku bangun dalam hidupku, bahkan jika mereka tidak pernah mengetahuinya?"

Ini perubahan yang sangat besar.

Kamu mulai mengambil kembali kendali atas motivasimu.

Kalau suatu hari kamu berhasil, biarkan keberhasilan itu menjadi hasil dari perjalananmu, bukan sekadar senjata untuk membungkam orang lain.

Dan kalau kamu gagal, kegagalan itu juga tidak harus menjadi bukti bahwa mereka benar.

Gagal dalam satu usaha tidak sama dengan menjadi orang yang gagal.

3. Fokus pada hal-hal yang benar-benar berada dalam kendalimu

Salah satu sumber tekanan terbesar adalah mencoba mengendalikan sesuatu yang memang tidak bisa kita kendalikan.

Kamu tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan.

Kamu tidak bisa mengontrol apakah seseorang menyukaimu.

Kamu tidak bisa memaksa orang lain mendukung impianmu.

Kamu juga tidak bisa menjamin bahwa semua orang akan memahami keputusanmu.

Namun, ada banyak hal yang masih bisa kamu kendalikan.

Kamu bisa mengontrol:

seberapa keras kamu berusaha;
bagaimana kamu merespons kritik;
siapa yang kamu dengarkan;
bagaimana kamu menetapkan batasan;
bagaimana kamu memperbaiki kesalahan;
bagaimana kamu mengelola waktumu;
dan keputusan apa yang kamu ambil berikutnya.

Bayangkan hidupmu seperti sebuah lingkaran.

Di bagian tengah terdapat hal-hal yang bisa kamu kendalikan.

Di bagian luar terdapat hal-hal yang tidak bisa kamu kendalikan.

Ketika perhatianmu terus berada di bagian luar, kamu akan merasa tidak berdaya.

"Bagaimana kalau dia membicarakanku?"

"Bagaimana kalau mereka menertawakanku?"

"Bagaimana kalau mereka tidak suka?"

"Bagaimana kalau mereka berharap aku gagal?"

Tetapi ketika perhatianmu kembali ke bagian tengah, pertanyaanmu berubah:

"Apa yang bisa kulakukan hari ini?"

"Apa yang perlu kuperbaiki?"

"Siapa yang perlu kudengarkan?"

"Langkah kecil apa yang bisa kuambil sekarang?"

Inilah bentuk pengendalian diri yang jauh lebih sehat.

Kamu tidak perlu mengendalikan dunia.

Kamu hanya perlu belajar mengelola bagian hidup yang memang menjadi tanggung jawabmu.

4. Kurangi kebutuhan untuk menjelaskan dirimu kepada semua orang

Ketika merasa disalahpahami, kita sering memiliki dorongan untuk menjelaskan diri secara berlebihan.

Kita ingin semua orang memahami alasan kita.

Kita ingin mereka tahu bahwa kita tidak seperti yang mereka pikirkan.

Kita ingin membuktikan bahwa keputusan kita benar.

Namun, semakin banyak kamu mencoba meyakinkan orang yang memang tidak berniat memahami, semakin lelah kamu.

Tidak semua orang membutuhkan penjelasan.

Dan tidak semua orang layak mendapatkan akses penuh terhadap kehidupanmu.

Ada perbedaan antara komunikasi yang sehat dan mencari validasi tanpa henti.

Komunikasi yang sehat berbunyi:

"Aku menghargai pendapatmu, tetapi setelah mempertimbangkannya, aku memilih jalan ini."

Sedangkan kebutuhan validasi mungkin berbunyi:

"Tolong pahami kenapa aku melakukan ini. Tolong jangan berpikir buruk tentangku. Tolong akui bahwa keputusanku benar."

Yang kedua membuat ketenanganmu bergantung pada respons orang lain.

Karena itu, belajarlah menerima bahwa terkadang seseorang akan salah memahami dirimu.

Dan kamu tidak selalu harus memperbaikinya.

Ada kalanya diam bukan berarti kalah.

Diam berarti kamu menyadari bahwa tidak semua perdebatan layak dimenangkan.

5. Bangun batasan terhadap orang yang terus merendahkanmu

Tidak semua tekanan harus kamu toleransi.

Jika seseorang berulang kali menghina, mempermalukan, mengancam, mengganggu, menyabotase pekerjaanmu, atau sengaja membuatmu merasa tidak berharga, masalahnya bukan lagi sekadar bagaimana kamu mengubah pola pikir.

Kamu juga perlu mempertimbangkan batasan yang sehat.

Batasan bukan berarti membenci seseorang.

Batasan berarti menentukan perilaku apa yang dapat kamu terima dan apa yang tidak.

Misalnya:

"Aku bersedia menerima kritik, tetapi aku tidak akan melanjutkan percakapan jika kamu menghina pribadi."

Atau:

"Aku menghargai pendapatmu, tetapi keputusan ini akan tetap menjadi tanggung jawabku."

Atau bahkan:

"Aku memilih untuk tidak membicarakan rencana ini denganmu karena percakapan sebelumnya selalu membuat situasinya menjadi tidak sehat."

Batasan yang sehat tidak selalu membutuhkan kemarahan.

Kadang justru disampaikan dengan tenang.

Dan yang paling penting, batasan bukan hanya tentang apa yang kamu katakan.

Batasan juga tentang apa yang kamu lakukan setelah seseorang melanggarnya.

Jika seseorang terus menunjukkan perilaku yang sama, kamu mungkin perlu mengurangi interaksi, menjaga jarak, atau mencari dukungan dari orang yang dapat dipercaya.

Dalam situasi yang melibatkan ancaman, kekerasan, pelecehan, atau sabotase serius, utamakan keselamatan dan cari bantuan yang sesuai.

6. Jangan biarkan satu suara negatif mengalahkan banyak bukti positif

Otak manusia memiliki kecenderungan memperhatikan informasi negatif dengan sangat kuat.

Karena itu, satu komentar buruk terkadang dapat mengalahkan sepuluh komentar positif.

Seseorang mengatakan:

"Kamu tidak akan berhasil."

Dan sepanjang hari kamu memikirkan kalimat itu.

Padahal sebelumnya ada banyak orang yang menghargai kerja kerasmu.

Kamu sudah melewati banyak kesulitan.

Kamu pernah berhasil menyelesaikan sesuatu yang sulit.

Tetapi satu komentar negatif terasa lebih kuat.

Karena itu, ketika sedang tertekan, cobalah melakukan evaluasi yang lebih seimbang.

Tanyakan:

"Apa saja bukti bahwa aku mampu menghadapi situasi ini?"

Buat daftar konkret.

Misalnya:

Aku pernah melewati kegagalan sebelumnya.
Aku pernah menyelesaikan masalah yang lebih sulit.
Aku sudah belajar dari kesalahan tertentu.
Ada orang yang mendukungku.
Aku memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan.
Aku belum mencapai tujuan, tetapi itu tidak berarti aku tidak mampu.
Aku masih bisa mengubah strategi.

Tujuannya bukan memaksa diri berpikir positif.

Tujuannya adalah memberikan gambaran yang lebih lengkap.

Optimisme yang sehat bukan berkata:

"Aku pasti berhasil."

Optimisme yang lebih realistis adalah:

"Aku tidak tahu hasil akhirnya, tetapi aku masih memiliki kemampuan untuk belajar, beradaptasi, dan mengambil langkah berikutnya."

Kalimat seperti itu jauh lebih kokoh.

7. Bangun kehidupan yang tidak berpusat pada penilaian orang lain

Pada akhirnya, salah satu cara paling kuat untuk menghadapi orang yang mungkin menginginkanmu gagal adalah dengan membangun kehidupan yang tidak bergantung pada persetujuan mereka.

Ini bukan berarti kamu menjadi tidak peduli kepada siapa pun.

Manusia tetap membutuhkan hubungan sosial.

Kita membutuhkan dukungan, kasih sayang, masukan, dan koneksi dengan orang lain.

Tetapi ada perbedaan antara membutuhkan hubungan sosial dan menyerahkan kendali atas harga diri kepada penilaian orang lain.

Cobalah menentukan beberapa nilai yang benar-benar penting bagimu.

Misalnya:

Kejujuran.

Keluarga.

Kemandirian.

Pertumbuhan.

Kebaikan.

Kreativitas.

Tanggung jawab.

Kemudian tanyakan:

"Kalau aku hidup berdasarkan nilai-nilai ini, keputusan apa yang perlu kuambil?"

Pertanyaan tersebut membantu menggeser fokus dari:

"Apa yang mereka pikirkan tentangku?"

menjadi:

"Apakah tindakanku sesuai dengan orang yang ingin aku menjadi?"

Itulah bentuk kedewasaan psikologis yang penting.

Karena pada akhirnya, kamu tidak bisa membuat semua orang menyukaimu.

Kamu juga tidak bisa membuat semua orang percaya kepadamu.

Dan kamu tidak bisa memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang berharap kamu gagal.

Tetapi kamu bisa memilih bagaimana menjalani hidupmu.

Jangan Habiskan Hidup untuk Membuktikan Mereka Salah

Ada satu jebakan yang sering tidak disadari.

Ketika seseorang meragukan kita, kita mungkin menghabiskan bertahun-tahun mencoba membuktikan bahwa mereka salah.

Ironisnya, dalam proses tersebut kita masih membiarkan mereka menentukan arah hidup kita.

Mereka berkata:

"Kamu tidak akan berhasil."

Kita menjawab dengan kerja keras.

Mereka berkata:

"Kamu tidak cukup baik."

Kita menjawab dengan pencapaian.

Mereka meremehkan kita.

Kita membalas dengan keberhasilan.

Tetapi pertanyaannya:

Untuk siapa semua itu dilakukan?

Jika jawabannya selalu "untuk membuktikan kepada mereka", mungkin sudah waktunya berhenti sejenak.

Kamu tidak harus menjalani hidup sebagai pembuktian.

Kamu boleh berkembang karena memang ingin berkembang.

Kamu boleh bekerja keras karena pekerjaan itu memiliki arti bagimu.

Kamu boleh mengejar impian karena impian tersebut memang penting bagimu.

Dan kamu juga boleh mengubah arah jika ternyata sesuatu yang dulu kamu inginkan sudah tidak sesuai dengan hidupmu.

Keberhasilan yang paling bermakna bukan selalu keberhasilan yang membuat orang lain terdiam.

Terkadang keberhasilan yang paling bermakna adalah ketika kamu akhirnya bisa menjalani hidup tanpa terus-menerus bertanya apakah orang lain menganggapmu berhasil atau gagal.

Ketika Kamu Merasa Semua Orang Menentangmu, Berhentilah Sejenak

Jika saat ini kamu sedang berada dalam situasi seperti itu, jangan terburu-buru mengambil keputusan hanya karena emosi sedang tinggi.

Tarik napas.

Ambil jarak.

Tuliskan apa yang sebenarnya terjadi.

Pisahkan fakta dari asumsi.

Identifikasi siapa yang benar-benar mendukungmu.

Perhatikan siapa yang memberikan kritik yang berguna dan siapa yang hanya merendahkan.

Kemudian tentukan satu tindakan kecil yang berada dalam kendalimu.

Tidak perlu menyelesaikan seluruh hidupmu hari ini.

Tidak perlu membuktikan sesuatu kepada semua orang hari ini.

Cukup lakukan langkah berikutnya.

Karena terkadang kekuatan psikologis bukan terlihat dari seberapa keras kita membalas orang yang meragukan kita.

Kekuatan justru terlihat ketika kita mampu berkata:

"Aku tidak bisa mengendalikan apa yang mereka pikirkan tentangku. Tetapi aku masih bisa memilih bagaimana aku menjalani hidupku."

Dan mungkin itu adalah salah satu bentuk kebebasan yang paling penting.

Penutup

Jika kamu merasa ada orang yang menginginkanmu gagal, jangan langsung menjadikan perasaan tersebut sebagai fakta. Periksa situasinya dengan tenang.

Jika memang ada perilaku yang merendahkan atau merugikanmu, bangun batasan yang sehat.

Jika sebagian tekanan berasal dari pikiran dan kekhawatiranmu sendiri, belajar memisahkan fakta dari interpretasi.

Jika kamu terlalu sibuk membuktikan bahwa orang lain salah, kembalikan fokus kepada alasan mengapa kamu memulai perjalanan tersebut.

Dan jika suatu hari kamu gagal, ingatlah satu hal:

Kegagalan dalam satu tujuan tidak menentukan nilai dirimu sebagai manusia.

Kamu masih bisa belajar.

Kamu masih bisa berubah.

Kamu masih bisa mencoba lagi.

Kamu masih bisa memilih jalan yang berbeda.

Jadi, daripada menghabiskan seluruh energimu untuk bertanya apakah orang lain ingin melihatmu jatuh, tanyakan sesuatu yang jauh lebih penting:

"Apa yang ingin aku lakukan dengan hidupku, terlepas dari apa yang mereka pikirkan?"

Jawaban atas pertanyaan itulah yang perlahan dapat mengembalikan kendali hidupmu ke tanganmu sendiri.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore