Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 September 2026 | 17.51 WIB

6 Alasan Mengapa Kita Perlu Merasa Sedih Setelah Mengalami Kegagalan Menurut Psikologi

seseorang yang sedih setelah mengalami kegagalan / foto: Magnific/jcomp

 

JawaPos.com - Kegagalan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang harus segera dilupakan.

Ketika sebuah rencana tidak berjalan sesuai harapan, pekerjaan yang diinginkan tidak berhasil didapatkan, hubungan berakhir, bisnis mengalami kerugian, atau usaha yang sudah dilakukan berbulan-bulan ternyata tidak membuahkan hasil, kita sering mendengar nasihat seperti, “Jangan terlalu dipikirkan,” “Harus tetap positif,” atau “Bangkit saja dan lanjutkan hidup.”

Nasihat tersebut mungkin terdengar baik. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: kita tidak selalu harus langsung baik-baik saja setelah mengalami kegagalan.

Merasa sedih setelah gagal bukan berarti kita lemah, terlalu sensitif, atau tidak mampu menerima kenyataan. Kesedihan merupakan salah satu respons emosional manusia ketika kehilangan sesuatu yang dianggap penting. Dalam banyak situasi, justru dengan memberi ruang bagi kesedihan, kita dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi, menerima pengalaman tersebut, dan perlahan menemukan cara untuk melanjutkan hidup.

Tentu saja, merasa sedih bukan berarti kita harus terus-menerus tenggelam dalam kesedihan. Ada perbedaan antara memberi ruang pada emosi dan membiarkan diri terjebak di dalamnya.

Lalu, mengapa kita perlu memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk merasa sedih setelah mengalami kegagalan?

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), terdapat enam alasannya.

1. Kesedihan membantu kita mengakui bahwa sesuatu yang penting telah hilang

Salah satu alasan mengapa kegagalan terasa menyakitkan adalah karena kegagalan hampir selalu berkaitan dengan kehilangan.

Kita mungkin kehilangan kesempatan, rencana, uang, pekerjaan, hubungan, status, kepercayaan diri, atau bahkan gambaran tentang masa depan yang selama ini kita bayangkan.

Misalnya, seseorang sudah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun untuk mendapatkan pekerjaan tertentu. Ia mengikuti berbagai pelatihan, mengirimkan banyak lamaran, dan membayangkan kehidupan yang akan dijalani setelah mendapatkan pekerjaan tersebut. Ketika akhirnya ditolak, yang hilang bukan hanya sebuah kesempatan kerja.

Ada sebuah kemungkinan masa depan yang ikut runtuh.

Hal yang sama dapat terjadi ketika seseorang gagal dalam bisnis. Yang hilang mungkin bukan hanya uang, tetapi juga harapan, waktu, energi, identitas sebagai seorang pengusaha, dan rencana-rencana yang sudah dibuat.

Karena itu, tidak mengherankan apabila kegagalan bisa memunculkan kesedihan yang cukup dalam.

Kesedihan membantu kita mengakui:

“Ini penting bagi saya. Karena itu, wajar kalau saya merasa kehilangan.”

Pengakuan seperti ini berbeda dengan menyerah.

Justru dengan mengakui bahwa sesuatu terasa menyakitkan, kita berhenti menghabiskan energi untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Sebaliknya, jika kita terus memaksa diri untuk tidak merasa sedih, emosi tersebut tidak otomatis hilang. Kita mungkin hanya menekannya atau mengalihkannya ke hal lain.

Itulah mengapa setelah mengalami kegagalan, tidak masalah jika kita membutuhkan waktu untuk diam, kecewa, menangis, atau sekadar mengakui bahwa pengalaman tersebut memang menyakitkan.

Kita tidak harus segera menemukan hikmahnya.

Terkadang langkah pertama untuk menerima kegagalan hanyalah mengatakan kepada diri sendiri:

“Aku kecewa karena ini memang berarti bagiku.”

2. Kesedihan memberi kita kesempatan untuk memproses pengalaman

Emosi bukan sekadar gangguan yang harus disingkirkan agar kita bisa kembali produktif.

Emosi juga membawa informasi.

Rasa sedih setelah kegagalan dapat menjadi bagian dari proses psikologis untuk memahami apa yang baru saja terjadi.

Bayangkan seseorang yang baru saja gagal dalam sebuah proyek besar. Jika ia langsung memaksa dirinya untuk kembali bekerja tanpa memberi kesempatan untuk memproses pengalaman tersebut, ia mungkin memang terlihat produktif dari luar.

Namun secara emosional, ia belum tentu sudah selesai dengan pengalaman itu.

Ia masih mungkin bertanya:

“Mengapa ini terjadi?”

“Apa yang salah?”

“Mengapa aku tidak cukup baik?”

“Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan waktu untuk diproses.

Kesedihan dapat menciptakan ruang untuk berhenti sejenak dari tuntutan untuk terus bergerak. Dalam keadaan tersebut, seseorang dapat mulai melihat pengalaman secara lebih utuh.

Ia bisa membedakan antara fakta dan penilaian terhadap diri sendiri.

Misalnya:

Fakta:
“Saya gagal dalam ujian.”

Penilaian yang mungkin muncul:
“Saya bodoh.”

Keduanya bukan hal yang sama.

Kegagalan pada satu ujian adalah sebuah peristiwa. Menyimpulkan bahwa kegagalan tersebut membuktikan bahwa seseorang tidak cerdas adalah interpretasi.

Ketika kita memberi diri sendiri ruang untuk memproses emosi, kita memiliki kesempatan untuk memeriksa kembali interpretasi tersebut.

Mungkin kita memang kurang persiapan.

Mungkin strategi belajar yang digunakan tidak efektif.

Mungkin kondisi saat itu tidak mendukung.

Mungkin target yang dibuat terlalu tinggi.

Atau mungkin ada faktor eksternal yang berada di luar kendali kita.

Proses semacam ini jauh lebih sulit dilakukan ketika kita memaksa diri untuk segera “move on” tanpa terlebih dahulu mengakui apa yang kita rasakan.

3. Kesedihan dapat membantu kita memahami apa yang benar-benar kita pedulikan

Salah satu hal menarik tentang emosi adalah bahwa intensitasnya sering berkaitan dengan seberapa penting sesuatu bagi kita.

Kita biasanya tidak merasa sangat kecewa terhadap sesuatu yang sama sekali tidak berarti.

Jika seseorang gagal mendapatkan sesuatu yang sangat ia inginkan, rasa sakit yang muncul dapat menunjukkan bahwa tujuan tersebut memiliki nilai yang besar baginya.

Dengan kata lain, kesedihan dapat menjadi semacam petunjuk mengenai apa yang kita anggap penting.

Misalnya, seseorang gagal diterima di universitas impiannya.

Ia mungkin awalnya hanya berpikir bahwa dirinya sedih karena gagal. Namun setelah merenungkannya, ia menemukan bahwa sebenarnya yang paling penting baginya bukan nama universitas tersebut.

Yang ia inginkan adalah kesempatan untuk belajar bidang tertentu, mendapatkan lingkungan akademik yang sesuai, atau membanggakan keluarganya.

Kesadaran tersebut dapat mengubah cara seseorang melihat kegagalan.

Jika yang paling penting adalah bidang studinya, mungkin masih ada universitas lain yang dapat memberikan kesempatan serupa.

Jika yang paling penting adalah membangun karier tertentu, mungkin terdapat jalur lain menuju tujuan tersebut.

Dengan demikian, kesedihan tidak selalu harus dilihat sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan.

Kadang-kadang kesedihan memberi kita kesempatan untuk bertanya:

“Sebenarnya, apa yang begitu penting bagi saya sampai kegagalan ini terasa begitu menyakitkan?”

Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat membantu kita memahami diri sendiri dengan lebih baik.

Bahkan, dalam beberapa kasus, kegagalan dapat membuat seseorang menyadari bahwa tujuan yang selama ini dikejar sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar ia inginkan.

Ia mungkin mengejar pekerjaan tertentu karena tekanan sosial.

Ia mungkin ingin memiliki bisnis karena ingin dianggap sukses.

Ia mungkin ingin mendapatkan pengakuan orang lain.

Ketika gagal, rasa sakit yang muncul kemudian membuka kesempatan untuk bertanya apakah tujuan tersebut memang miliknya atau hanya ekspektasi dari lingkungan.

4. Memberi ruang pada kesedihan dapat mencegah kita menghakimi diri sendiri secara berlebihan

Ada paradoks yang sering terjadi setelah kegagalan.

Kita merasa sedih karena gagal. Kemudian kita merasa bersalah karena merasa sedih.

Akhirnya muncul dua masalah sekaligus.

Pertama:

“Aku gagal.”

Kedua:

“Aku seharusnya tidak sesedih ini.”

Kita kemudian mulai membandingkan diri dengan orang lain.

“Orang lain bisa bangkit, kenapa aku tidak?”

“Kenapa aku masih memikirkan ini?”

“Seharusnya aku lebih kuat.”

“Mungkin aku memang terlalu lemah.”

Padahal, pengalaman emosional setiap orang berbeda.

Dua orang dapat mengalami kegagalan yang serupa tetapi memberikan makna yang berbeda terhadapnya. Karena itu, durasi dan intensitas kesedihan mereka pun bisa berbeda.

Memberi izin kepada diri sendiri untuk merasa sedih dapat mengurangi tekanan tambahan tersebut.

Bukan berarti kita membenarkan semua pikiran negatif yang muncul.

Sebaliknya, kita belajar mengatakan:

“Aku sedang kecewa, dan aku tidak perlu menghukum diriku sendiri karena merasa kecewa.”

Ini berkaitan dengan konsep self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri.

Alih-alih berbicara kepada diri sendiri dengan cara yang sangat keras, kita dapat menggunakan pendekatan yang lebih manusiawi:

“Memang aku gagal.”

“Aku kecewa.”

“Aku berharap hasilnya berbeda.”

“Namun satu kegagalan tidak menjelaskan seluruh diriku.”

Kalimat seperti ini bukan bentuk pembenaran terhadap kesalahan. Ini adalah upaya untuk melihat diri sendiri secara lebih proporsional.

Seseorang dapat mengakui bahwa dirinya melakukan kesalahan tanpa menyimpulkan bahwa dirinya adalah sebuah kegagalan.

“Aku gagal” berbeda dengan “Aku adalah orang gagal.”

Perbedaan kecil dalam bahasa tersebut dapat memiliki dampak besar terhadap cara kita memandang diri sendiri.

5. Kesedihan dapat menjadi bagian dari proses menerima kenyataan

Salah satu alasan kegagalan terasa berat adalah karena kenyataan tidak sesuai dengan harapan.

Kita memiliki gambaran tentang apa yang seharusnya terjadi.

Kita sudah membayangkan hasil tertentu.

Kita sudah membuat rencana.

Lalu kenyataan berkata sebaliknya.

Di sinilah proses penerimaan menjadi penting.

Menerima kenyataan tidak berarti kita menyukai apa yang terjadi.

Menerima juga tidak berarti kita mengatakan bahwa kegagalan tersebut baik atau tidak menyakitkan.

Penerimaan lebih dekat dengan kemampuan untuk mengatakan:

“Ini memang terjadi. Aku tidak bisa mengubah fakta bahwa ini terjadi, tetapi aku masih bisa menentukan apa yang akan kulakukan setelahnya.”

Kesedihan sering menjadi salah satu bagian dari perjalanan menuju penerimaan tersebut.

Pada awalnya, kita mungkin menolak kenyataan.

“Seharusnya tidak begini.”

Kemudian kita marah.

“Kenapa mereka memilih orang lain?”

Lalu kita kecewa.

“Aku sudah berusaha begitu keras.”

Setelah itu, perlahan-lahan kita mulai memahami bahwa hasil tersebut memang tidak dapat diubah.

Proses ini tentu tidak selalu berlangsung secara linear. Seseorang bisa merasa sudah menerima kegagalan, lalu beberapa hari kemudian kembali sedih.

Itu bukan berarti ia kembali ke titik nol.

Pemulihan emosional memang tidak selalu berjalan lurus.

Ada hari ketika kita merasa baik-baik saja.

Ada hari ketika kenangan tentang kegagalan kembali muncul.

Ada hari ketika kita merasa yakin dengan masa depan.

Ada pula hari ketika kita kembali meragukan diri sendiri.

Semua itu dapat menjadi bagian dari proses adaptasi terhadap pengalaman yang tidak sesuai dengan harapan.

Yang penting adalah kita perlahan belajar hidup dengan kenyataan baru tersebut.

6. Kesedihan dapat menjadi titik awal untuk bangkit dengan lebih realistis

Ironisnya, menerima kesedihan dapat menjadi salah satu langkah menuju kebangkitan.

Kita sering membayangkan bahwa untuk bangkit, kita harus segera berpikir positif.

Padahal, kebangkitan yang sehat tidak selalu dimulai dengan:

“Aku tidak peduli.”

Terkadang justru dimulai dengan:

“Aku peduli. Aku kecewa. Aku sedih. Tetapi aku ingin memahami apa yang bisa kupelajari dari ini.”

Perbedaan tersebut penting.

Jika kita terburu-buru menjadi positif, kita mungkin melewatkan informasi penting dari kegagalan.

Namun setelah emosi mulai lebih tenang, kita dapat melakukan evaluasi dengan lebih jernih.

Apa yang bisa dipelajari?

Apa yang berada dalam kendali kita?

Apa yang berada di luar kendali kita?

Apa yang perlu diperbaiki?

Apa yang sebenarnya sudah kita lakukan dengan baik?

Apa yang akan kita lakukan secara berbeda jika mendapat kesempatan berikutnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat kegagalan menjadi sumber informasi.

Kita tidak mengubah kegagalan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kita juga tidak perlu mengatakan bahwa kegagalan adalah “hal terbaik yang pernah terjadi”.

Kita hanya mencoba memahami pengalaman tersebut secara lebih konstruktif.

Misalnya, seseorang gagal dalam sebuah wawancara kerja.

Ia bisa menyimpulkan:

“Aku memang tidak cocok bekerja.”

Atau ia bisa mengatakan:

“Aku gagal dalam proses ini. Aku kecewa. Setelah lebih tenang, aku akan mengevaluasi cara menjawab pertanyaan, mempersiapkan contoh pengalaman kerja, dan mencoba lagi.”

Respons kedua bukan berarti lebih positif secara kosong.

Ia lebih realistis.

Ia mengakui kegagalan sekaligus mempertahankan kemungkinan untuk berkembang.

Dan sering kali, itulah bentuk ketangguhan psikologis yang lebih sehat: bukan tidak pernah merasa sakit, melainkan mampu bergerak setelah mengakui rasa sakit tersebut.

Jadi, apakah kita memang perlu merasa sedih setelah gagal?

Jawabannya bukan berarti “kita harus sengaja membuat diri sendiri sedih.”

Kesedihan bukan tugas yang harus diselesaikan.

Jika kita gagal, kita tidak perlu memaksa diri untuk menangis agar dianggap sedang memproses emosi. Sebaliknya, kita juga tidak perlu merasa bersalah jika ternyata kita tidak terlalu sedih.

Yang lebih penting adalah memberikan ruang bagi emosi yang memang muncul.

Jika kecewa, akui kecewa.

Jika sedih, izinkan diri merasa sedih.

Jika marah, pahami kemarahan tersebut.

Jika membutuhkan waktu untuk sendiri, berikan waktu yang sehat.

Kemudian, ketika emosi mulai lebih tenang, kita dapat perlahan bertanya:

“Apa arti pengalaman ini bagiku?”

“Apa yang sebenarnya hilang?”

“Apa yang bisa kupelajari?”

“Apa yang masih berada dalam kendaliku?”

Dan yang paling penting:

“Apakah aku bisa memisahkan kegagalan ini dari nilai diriku sebagai manusia?”

Satu kegagalan mungkin memberi tahu kita bahwa sebuah strategi tidak berhasil.

Satu penolakan mungkin berarti sebuah kesempatan belum menjadi milik kita.

Satu kesalahan mungkin menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki.

Tetapi tidak satu pun dari hal tersebut secara otomatis menentukan seluruh nilai diri seseorang.

Kesedihan bukan kebalikan dari ketangguhan

Kita hidup dalam budaya yang sering mengagungkan kemampuan untuk terus bergerak.

Bangun.

Produktif.

Jangan menyerah.

Tetap positif.

Keep going.

Semua itu memang dapat menjadi dorongan yang berguna.

Namun manusia bukan mesin yang bisa langsung kembali bekerja setelah mengalami kegagalan.

Ada pengalaman yang membutuhkan waktu untuk dicerna.

Ada harapan yang perlu dilepaskan.

Ada kenyataan yang membutuhkan waktu untuk diterima.

Dan ada kesedihan yang memang perlu dirasakan.

Karena itu, mungkin kita perlu mengubah cara melihat kesedihan setelah kegagalan.

Kesedihan bukan selalu tanda bahwa kita tidak kuat.

Kadang-kadang kesedihan justru menunjukkan bahwa kita peduli, bahwa kita memiliki harapan, dan bahwa sesuatu yang penting bagi kita baru saja tidak berjalan seperti yang diinginkan.

Yang perlu diperhatikan adalah apa yang kita lakukan setelah merasakan emosi tersebut.

Memberi ruang pada kesedihan berbeda dengan menyerah pada keputusasaan.

Kita boleh berhenti sejenak tanpa berhenti selamanya.

Kita boleh kecewa tanpa kehilangan seluruh harapan.

Kita boleh menangis tanpa menganggap diri kita lemah.

Dan kita boleh mengatakan:

“Aku sedih karena aku gagal. Tetapi kegagalan ini bukan keseluruhan cerita tentang diriku.”

Mungkin justru dari titik itulah proses untuk bangkit benar-benar dimulai.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore