Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 September 2026 | 03.42 WIB

6 Cara Bagaimana Kepercayaan Memengaruhi Hubungan Kita dengan Diri Sendiri dan Orang Lain

seseorang yang mulai mempercayai orang lain / foto: Magnific/seventyfour

 

JawaPos.com - Kepercayaan adalah sesuatu yang sering kita anggap sederhana. Kita percaya bahwa seseorang menyayangi kita, percaya bahwa diri kita mampu melakukan sesuatu, percaya bahwa kehidupan akan membawa kita ke arah tertentu, atau bahkan percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi memiliki alasan.

Namun, dalam psikologi, kepercayaan bukan sekadar pendapat atau keyakinan yang berada di dalam pikiran. Kepercayaan dapat menjadi semacam "kacamata" yang memengaruhi cara kita melihat diri sendiri, menafsirkan perilaku orang lain, mengambil keputusan, menghadapi kegagalan, dan merespons berbagai peristiwa dalam kehidupan.

Dua orang dapat mengalami kejadian yang hampir sama, tetapi memberikan makna yang sangat berbeda karena memiliki sistem kepercayaan yang berbeda.

Seseorang yang percaya bahwa dirinya tidak cukup baik mungkin melihat kritik sebagai bukti bahwa dirinya memang gagal. Sebaliknya, seseorang yang memiliki keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang mungkin melihat kritik sebagai informasi yang dapat digunakan untuk belajar.

Begitu pula dalam hubungan.

Orang yang percaya bahwa orang lain pada dasarnya tidak dapat dipercaya mungkin lebih mudah mencurigai pasangan, teman, atau rekan kerja. Sementara seseorang yang memiliki rasa aman terhadap hubungan mungkin lebih mampu memberikan ruang, berkomunikasi secara terbuka, dan menyelesaikan konflik tanpa langsung menganggap hubungan tersebut terancam.

Dengan kata lain, kepercayaan tidak hanya menentukan apa yang kita pikirkan, tetapi juga dapat memengaruhi apa yang kita rasakan dan bagaimana kita bertindak.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (23/9), terdapat enam cara penting bagaimana kepercayaan memengaruhi hubungan kita dengan diri sendiri, orang lain, dan kehidupan secara keseluruhan.

1. Kepercayaan Membentuk Cara Kita Melihat Diri Sendiri

Salah satu pengaruh kepercayaan yang paling kuat adalah terhadap hubungan kita dengan diri sendiri.

Setiap orang memiliki berbagai keyakinan mengenai siapa dirinya. Misalnya:

"Saya orang yang mampu."

"Saya selalu membuat kesalahan."

"Saya tidak cukup menarik."

"Saya bisa belajar meskipun sekarang belum mampu."

"Saya tidak pantas mendapatkan hal-hal baik."

Keyakinan semacam ini sering disebut sebagai self-beliefs, yaitu keyakinan seseorang mengenai dirinya sendiri.

Keyakinan tersebut kemudian dapat memengaruhi cara kita menafsirkan pengalaman sehari-hari.

Bayangkan seseorang melakukan presentasi dan mendapatkan beberapa kritik.

Jika ia memiliki kepercayaan bahwa dirinya tidak kompeten, kritik tersebut mungkin ditafsirkan sebagai:

"Saya memang tidak pintar."

Sementara orang yang memiliki keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan mungkin berpikir:

"Presentasi saya masih memiliki kekurangan. Saya bisa memperbaikinya."

Peristiwa yang sama menghasilkan interpretasi yang berbeda.

Inilah sebabnya mengapa hubungan kita dengan diri sendiri tidak hanya dibentuk oleh apa yang terjadi kepada kita, tetapi juga oleh makna yang kita berikan terhadap apa yang terjadi.

Kepercayaan dapat menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya

Dalam psikologi, terdapat fenomena yang berkaitan dengan self-fulfilling prophecy, ketika ekspektasi atau keyakinan seseorang dapat memengaruhi perilakunya sedemikian rupa sehingga membantu menghasilkan hasil yang sesuai dengan keyakinan tersebut.

Misalnya, seseorang percaya:

"Tidak ada orang yang benar-benar menyukai saya."

Karena keyakinan tersebut, ia mungkin menjadi sangat tertutup ketika bertemu orang baru. Ia sulit memulai percakapan, takut menunjukkan dirinya yang sebenarnya, dan cepat menarik diri ketika merasa tidak mendapat respons.

Orang lain kemudian mungkin menganggapnya tidak tertarik berteman.

Akibatnya, ia semakin sedikit mendapatkan hubungan sosial yang dekat.

Pengalaman tersebut kemudian memperkuat keyakinan awal:

"Benar kan? Tidak ada yang menyukai saya."

Padahal, masalahnya mungkin bukan semata-mata karena orang lain menolaknya. Keyakinan awal telah memengaruhi perilakunya dan ikut membentuk pengalaman sosialnya.

Karena itu, mengenali keyakinan tentang diri sendiri menjadi penting

Cobalah bertanya:

Apa yang sebenarnya saya percayai tentang diri saya?
Dari mana keyakinan tersebut berasal?
Apakah keyakinan tersebut masih sesuai dengan kenyataan saat ini?
Apakah saya memperlakukan satu kesalahan sebagai bukti tentang seluruh diri saya?
Apakah saya melihat kemampuan sebagai sesuatu yang tetap atau dapat berkembang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang membedakan antara fakta tentang dirinya dan cerita yang selama ini ia percayai tentang dirinya.

2. Kepercayaan Memengaruhi Cara Kita Mempercayai dan Menilai Orang Lain

Hubungan sosial tidak pernah benar-benar netral.

Ketika berinteraksi dengan orang lain, kita membawa pengalaman masa lalu, harapan, ketakutan, dan keyakinan kita sendiri.

Seseorang yang pernah dikhianati mungkin menjadi lebih waspada terhadap tanda-tanda ketidakjujuran.

Seseorang yang sejak kecil mengalami hubungan yang penuh ketidakpastian mungkin lebih mudah merasa bahwa orang lain akan meninggalkannya.

Sebaliknya, pengalaman hubungan yang aman dan konsisten dapat membantu seseorang mengembangkan ekspektasi bahwa orang lain dapat menjadi sumber dukungan.

Dalam konteks ini, kepercayaan memiliki hubungan erat dengan konsep attachment atau kelekatan.

Pengalaman hubungan awal, terutama dengan pengasuh utama, dapat berperan dalam membentuk pola seseorang dalam memahami kedekatan, keamanan, ketergantungan, dan hubungan interpersonal.

Namun, penting untuk diingat bahwa pola tersebut bukanlah takdir.

Pengalaman hubungan selanjutnya juga dapat mengubah cara seseorang memahami dirinya sendiri dan orang lain.

Ketika kepercayaan berubah menjadi kecurigaan

Kurangnya kepercayaan dapat membuat seseorang terlalu fokus mencari tanda-tanda ancaman.

Contohnya, pasangan terlambat membalas pesan.

Orang yang merasa aman mungkin berpikir:

"Mungkin dia sedang sibuk."

Tetapi seseorang yang memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya akan ditinggalkan mungkin langsung berpikir:

"Dia mulai tidak peduli."

Pikiran tersebut kemudian menghasilkan kecemasan.

Kecemasan dapat menyebabkan perilaku seperti mengirim pesan berulang kali, menuntut kepastian, atau menjadi marah.

Perilaku tersebut kemudian dapat membuat pasangan merasa tertekan.

Terjadilah sebuah siklus:

ketakutan → interpretasi negatif → perilaku defensif → konflik → semakin sulit percaya.

Karena itu, kepercayaan bukan hanya soal apakah orang lain memang dapat dipercaya.

Kepercayaan juga berkaitan dengan bagaimana otak kita menafsirkan informasi yang ambigu.

3. Kepercayaan Memengaruhi Cara Kita Menghadapi Kegagalan

Kehidupan tidak pernah sepenuhnya berjalan sesuai rencana.

Kita gagal, ditolak, kehilangan kesempatan, membuat keputusan buruk, mengalami konflik, dan menghadapi berbagai keadaan yang berada di luar kendali.

Dalam situasi seperti itu, kepercayaan yang kita miliki dapat menentukan bagaimana kita merespons.

Salah satu contoh yang terkenal dalam psikologi adalah perbedaan antara pola pikir yang lebih tetap dan pola pikir yang melihat kemampuan sebagai sesuatu yang dapat berkembang.

Konsep growth mindset, yang banyak dikaitkan dengan penelitian Carol Dweck, menggambarkan keyakinan bahwa kemampuan tertentu dapat berkembang melalui proses belajar, latihan, strategi, dan bantuan yang tepat.

Sebaliknya, seseorang dengan pandangan yang lebih tetap terhadap kemampuan mungkin menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa kemampuan tersebut memang tidak dimilikinya.

Perbedaannya terlihat sederhana.

Orang pertama berkata:

"Saya belum bisa."

Orang kedua mungkin berkata:

"Saya memang tidak bisa."

Kata "belum" tampak kecil, tetapi secara psikologis dapat mengandung perbedaan cara memandang kemungkinan.

Kegagalan tidak selalu terasa sebagai ancaman terhadap identitas

Jika seseorang percaya bahwa nilai dirinya sepenuhnya ditentukan oleh keberhasilan, kegagalan dapat terasa sangat menyakitkan.

Nilai ujian buruk bukan lagi sekadar:

"Saya mendapat nilai rendah."

Tetapi berubah menjadi:

"Saya bodoh."

Kegagalan pekerjaan bukan lagi:

"Strategi saya tidak berhasil."

Melainkan:

"Saya adalah orang gagal."

Ketika kegagalan dianggap sebagai ancaman terhadap identitas, seseorang mungkin menjadi lebih takut mengambil risiko.

Ironisnya, ketakutan tersebut dapat membuat seseorang lebih sedikit mencoba hal-hal baru.

Sebaliknya, ketika kegagalan dipandang sebagai bagian dari proses belajar, seseorang lebih mungkin mengevaluasi:

Apa yang tidak berhasil?
Apa yang dapat diperbaiki?
Informasi apa yang saya dapatkan?
Strategi apa yang bisa dicoba berikutnya?

Dengan demikian, kepercayaan dapat menentukan apakah sebuah kegagalan menjadi vonis terhadap diri sendiri atau informasi untuk perkembangan.

4. Kepercayaan Memengaruhi Cara Kita Menemukan Makna dalam Kehidupan

Manusia tidak hanya ingin bertahan hidup.

Kita juga ingin memahami kehidupan.

Kita bertanya:

"Untuk apa saya melakukan semua ini?"

"Apa yang membuat hidup saya berarti?"

"Mengapa saya harus terus berjalan ketika keadaan terasa sulit?"

Pertanyaan seperti ini berkaitan dengan makna, nilai, tujuan, dan pandangan seseorang mengenai kehidupan.

Kepercayaan dapat membantu seseorang menyusun pengalaman hidup menjadi sebuah cerita yang lebih dapat dipahami.

Misalnya, seseorang yang percaya bahwa kesulitan dapat menjadi kesempatan untuk belajar mungkin akan mencoba mencari pelajaran dari pengalaman buruk.

Bukan berarti ia menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang baik.

Ia hanya memberikan makna tertentu terhadap pengalaman tersebut.

Sebaliknya, jika seseorang percaya bahwa penderitaan membuktikan bahwa hidup tidak adil dan tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan, pengalaman sulit mungkin terasa lebih tidak berdaya.

Makna dapat memengaruhi ketahanan psikologis

Konsep meaning-making dalam psikologi menjelaskan bagaimana manusia berusaha memahami pengalaman, terutama pengalaman yang sulit atau mengguncang.

Ketika realitas tidak sesuai dengan harapan, seseorang dapat mengalami ketegangan psikologis.

Misalnya, seseorang percaya:

"Jika saya bekerja keras, semuanya akan berjalan baik."

Kemudian ia kehilangan pekerjaan meskipun telah bekerja dengan sungguh-sungguh.

Pengalaman tersebut dapat mengguncang sistem kepercayaannya.

Ia mungkin kemudian belajar bahwa kerja keras penting, tetapi hasil hidup tidak selalu sepenuhnya berada dalam kendali manusia.

Proses seperti ini tidak selalu menyenangkan.

Namun, terkadang perkembangan psikologis terjadi bukan karena seseorang mempertahankan semua keyakinan lamanya, melainkan karena ia mampu menyesuaikan keyakinannya dengan realitas yang baru.

Dengan kata lain, kepercayaan yang sehat tidak harus berarti selalu berpikir positif.

Kadang-kadang justru berarti mampu mengatakan:

"Saya tidak mengerti mengapa ini terjadi, tetapi saya akan mencoba menemukan cara untuk tetap menjalani kehidupan saya."

5. Kepercayaan Memengaruhi Cara Kita Mengambil Keputusan

Setiap hari kita membuat keputusan.

Mulai dari hal kecil seperti memilih makanan, sampai keputusan besar seperti memilih pekerjaan, pasangan, tempat tinggal, atau arah kehidupan.

Keputusan tersebut tidak hanya didasarkan pada informasi objektif.

Kita juga dipengaruhi oleh apa yang kita percaya.

Misalnya, seseorang percaya bahwa:

"Kesalahan harus dihindari dengan segala cara."

Ia mungkin menjadi sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Sementara orang yang percaya:

"Kesalahan adalah bagian normal dari proses belajar."

mungkin lebih bersedia bereksperimen.

Keduanya akan memiliki pola perilaku yang berbeda.

Kepercayaan menentukan apa yang kita anggap berisiko

Risiko tidak selalu hanya berada pada situasi.

Risiko juga dipersepsikan melalui keyakinan kita.

Bagi seseorang, berbicara di depan umum mungkin merupakan kesempatan untuk berkembang.

Bagi orang lain, hal tersebut terasa seperti ancaman besar terhadap harga dirinya.

Bagi seseorang, memulai hubungan baru mungkin merupakan pengalaman menyenangkan.

Bagi orang lain, hubungan baru mungkin terasa seperti kemungkinan untuk kembali disakiti.

Artinya, sebelum mengambil keputusan, kita tidak hanya bertanya:

"Apa yang akan terjadi?"

Secara psikologis, kita juga sering bertanya:

"Apa yang saya percaya akan terjadi?"

Pertanyaan kedua ini dapat memiliki pengaruh besar terhadap perilaku.

Kepercayaan juga dapat membuat kita terjebak

Jika seseorang percaya:

"Saya harus selalu membuat keputusan yang benar."

ia mungkin mengalami analysis paralysis, yaitu terlalu banyak menganalisis sehingga sulit mengambil keputusan.

Ia terus mencari kepastian yang sebenarnya tidak mungkin diperoleh.

Padahal, sebagian keputusan dalam kehidupan memang harus dibuat dalam kondisi tidak pasti.

Karena itu, salah satu bentuk kepercayaan yang lebih adaptif mungkin bukan:

"Saya harus selalu memilih dengan benar."

melainkan:

"Saya akan mengambil keputusan sebaik mungkin berdasarkan informasi yang saya miliki, dan jika keadaan berubah, saya dapat menyesuaikan diri."

Ini mengubah hubungan seseorang dengan ketidakpastian.

6. Kepercayaan Memengaruhi Hubungan Kita dengan Masa Depan

Cara kita membayangkan masa depan juga dipengaruhi oleh apa yang kita percaya.

Ketika seseorang percaya bahwa masa depan masih memungkinkan untuk berubah, ia cenderung memiliki alasan untuk berusaha.

Sebaliknya, jika seseorang yakin bahwa tidak ada yang akan berubah apa pun yang ia lakukan, motivasi untuk bertindak dapat berkurang.

Di sinilah konsep self-efficacy dari Albert Bandura menjadi relevan.

Self-efficacy berkaitan dengan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan tindakan yang diperlukan dalam situasi tertentu.

Perhatikan perbedaannya:

"Saya pasti berhasil."

dan

"Saya mungkin menghadapi kesulitan, tetapi saya percaya saya mampu mencoba dan menghadapi prosesnya."

Self-efficacy tidak sama dengan keyakinan bahwa segala sesuatu akan berjalan sempurna.

Justru seseorang dapat memiliki self-efficacy sambil menyadari bahwa kegagalan mungkin terjadi.

Harapan tidak selalu berarti optimisme berlebihan

Memiliki kepercayaan terhadap masa depan bukan berarti harus yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kehidupan memiliki terlalu banyak faktor yang berada di luar kendali kita.

Harapan yang lebih realistis dapat berbentuk:

"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya masih memiliki sesuatu yang bisa saya lakukan."

Pola pikir semacam ini memungkinkan seseorang mempertahankan rasa memiliki kendali tanpa berpura-pura bahwa semua keadaan dapat dikendalikan.

Dalam psikologi, kemampuan membedakan antara hal yang dapat dikendalikan dan hal yang tidak dapat dikendalikan dapat membantu seseorang mengalokasikan energi secara lebih efektif.

Kita tidak selalu dapat menentukan hasil.

Tetapi kita sering masih dapat menentukan:

bagaimana kita merespons,
apa yang kita pelajari,
kepada siapa kita meminta bantuan,
tindakan apa yang kita ambil berikutnya,
dan nilai apa yang ingin kita pertahankan.
Ketika Kepercayaan Perlu Dipertanyakan

Tidak semua kepercayaan yang kita miliki benar.

Dan tidak semua kepercayaan harus dipertahankan hanya karena sudah kita miliki sejak lama.

Sebagian keyakinan terbentuk dari pengalaman masa kecil.

Sebagian berasal dari keluarga.

Sebagian berasal dari budaya.

Sebagian muncul setelah pengalaman traumatis atau menyakitkan.

Sebagian terbentuk karena kita berulang kali mendengar sesuatu sampai akhirnya menganggapnya sebagai kebenaran.

Masalahnya, keyakinan yang dahulu mungkin membantu kita bertahan belum tentu masih membantu kita menjalani kehidupan sekarang.

Misalnya, seseorang mungkin pernah belajar:

"Jangan percaya siapa pun."

Mungkin keyakinan tersebut terbentuk karena pengalaman yang membuatnya merasa tidak aman.

Pada suatu masa, kewaspadaan mungkin memang diperlukan.

Namun jika keyakinan tersebut dibawa ke semua hubungan selama bertahun-tahun, ia dapat membuat hubungan yang sehat menjadi sulit terbentuk.

Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan hanya:

"Apakah saya percaya ini?"

Tetapi:

"Apakah keyakinan ini masih membantu saya menjalani kehidupan yang saya inginkan?"

Bagaimana Mengubah Kepercayaan yang Tidak Lagi Membantu?

Mengubah keyakinan bukan berarti memaksa diri berpikir positif.

Kita tidak perlu mengganti:

"Saya tidak mampu."

menjadi:

"Saya luar biasa dan pasti bisa melakukan semuanya."

Jika pengalaman kita belum mendukung keyakinan tersebut, kalimat itu mungkin terasa tidak masuk akal.

Pendekatan yang lebih realistis adalah mencari keyakinan yang lebih fleksibel.

Misalnya:

"Saya belum menguasainya, tetapi saya dapat belajar."

Atau:

"Saya pernah gagal, tetapi kegagalan itu tidak menentukan seluruh nilai diri saya."

Atau:

"Saya pernah disakiti, tetapi tidak semua orang akan memperlakukan saya dengan cara yang sama."

Perubahan semacam ini lebih dekat dengan reframing, yaitu mengubah cara memahami suatu pengalaman tanpa menyangkal fakta yang terjadi.

Kesimpulan: Kepercayaan Adalah Lensa, Bukan Selalu Kenyataan

Kepercayaan memiliki pengaruh besar terhadap cara kita berhubungan dengan diri sendiri, orang lain, dan kehidupan.

Ia dapat memengaruhi:

Cara kita melihat diri sendiri — apakah kita menganggap diri mampu berkembang atau terjebak dalam label tertentu.
Cara kita mempercayai orang lain — apakah kita melihat hubungan sebagai tempat yang relatif aman atau selalu penuh ancaman.
Cara kita menghadapi kegagalan — apakah kegagalan menjadi bukti bahwa kita tidak mampu atau menjadi informasi untuk belajar.
Cara kita menemukan makna — bagaimana kita memahami pengalaman sulit dan menempatkannya dalam cerita kehidupan.
Cara kita mengambil keputusan — apa yang kita anggap aman, berisiko, mungkin, atau mustahil.
Cara kita memandang masa depan — apakah kita merasa masih memiliki kemampuan untuk bertindak dan memengaruhi arah kehidupan.

Namun, satu hal penting perlu diingat:

Kepercayaan bukanlah kenyataan itu sendiri.

Ia adalah cara kita memahami kenyataan.

Dan karena itu, beberapa kepercayaan dapat diperiksa, dipertanyakan, dan diperbarui.

Mungkin kita tidak dapat memilih semua pengalaman yang terjadi kepada kita. Kita juga tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain memperlakukan kita atau apa yang akan terjadi di masa depan.

Tetapi kita dapat belajar memperhatikan keyakinan yang kita gunakan untuk memahami semua pengalaman tersebut.

Kadang-kadang perubahan terbesar bukan terjadi ketika kehidupan tiba-tiba menjadi berbeda.

Perubahan terjadi ketika kita mulai melihat kehidupan melalui lensa yang berbeda.

Bukan lensa yang mengatakan bahwa semuanya akan selalu baik.

Bukan pula lensa yang mengatakan bahwa semuanya akan buruk.

Melainkan lensa yang lebih realistis:

"Saya tidak dapat mengetahui semuanya. Saya mungkin salah. Saya mungkin gagal. Saya mungkin terluka. Tetapi saya masih dapat belajar, memilih, beradaptasi, dan menentukan bagaimana saya ingin menjalani kehidupan saya."

Dan mungkin, di situlah hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri, orang lain, dan kehidupan mulai terbentuk.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore