Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 September 2026 | 02.53 WIB

7 Alasan Mengapa Kamu Sebaiknya Memilih untuk Menikahi Teman Baik Kamu Menurut Psikologi

seseorang yang menikahi teman baik / foto: Magnific/freepic.diller

 

JawaPos.com - Pernikahan sering kali dibayangkan sebagai puncak dari sebuah kisah cinta. Ada perkenalan, ketertarikan, masa pendekatan, jatuh cinta, lalu akhirnya memutuskan untuk hidup bersama. Namun, ada jenis hubungan yang memiliki jalan cerita sedikit berbeda: ketika orang yang akhirnya ingin kamu nikahi ternyata adalah teman baikmu sendiri.

Hubungan seperti ini mungkin tidak selalu dimulai dengan kembang api atau perasaan menggebu-gebu. Bisa jadi, semuanya berawal dari obrolan sederhana, bercanda bersama, saling membantu, atau menjadi tempat untuk bercerita ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.

Lambat laun, kamu menyadari sesuatu: orang yang selama ini kamu cari mungkin ternyata sudah berada di sampingmu.

Dalam psikologi hubungan, persahabatan memiliki sejumlah karakteristik yang juga penting dalam membangun hubungan romantis yang sehat. Kedekatan emosional, rasa percaya, komunikasi, penerimaan, serta pengalaman bersama merupakan beberapa fondasi yang dapat membantu sebuah hubungan bertahan dalam jangka panjang.

Namun, tentu saja, menjadi teman baik bukan jaminan bahwa seseorang akan menjadi pasangan hidup yang cocok. Pernikahan tetap membutuhkan kecocokan nilai, kesiapan emosional, komitmen, kemampuan menyelesaikan konflik, dan kesediaan untuk membangun kehidupan bersama.

Lalu, mengapa menikahi teman baik bisa menjadi pilihan yang menarik secara psikologis?

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (23/9), terdapat tujuh alasannya.

1. Kamu Sudah Mengenal Dirinya di Luar Fase "Jatuh Cinta"

Salah satu tantangan dalam hubungan romantis adalah bahwa pada tahap awal seseorang cenderung menunjukkan sisi terbaik dirinya.

Ketika sedang jatuh cinta, kita dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap kualitas positif pasangan dan mengabaikan sejumlah kekurangannya. Dalam psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan kecenderungan untuk memiliki persepsi yang lebih positif terhadap orang yang kita sukai.

Teman baik memberikan perspektif yang berbeda.

Kamu kemungkinan sudah melihat bagaimana dirinya ketika sedang bahagia, kecewa, marah, lelah, gagal, atau menghadapi masalah. Kamu juga mungkin sudah mengetahui kebiasaan-kebiasaannya yang tidak selalu menyenangkan.

Artinya, keputusan untuk menjalin hubungan romantis dengannya berpotensi dibuat berdasarkan gambaran yang lebih realistis.

Kamu tidak hanya mengenal versi dirinya yang sedang berusaha membuatmu terkesan.

Kamu mengenal manusia di balik citra tersebut.

Ini penting dalam pernikahan karena kehidupan bersama tidak hanya terdiri dari momen romantis. Ada hari ketika salah satu pasangan sedang stres karena pekerjaan, sedang menghadapi masalah keluarga, kehilangan motivasi, atau hanya sedang mengalami hari yang buruk.

Seseorang yang sudah menjadi teman baik biasanya memiliki kesempatan lebih besar untuk mengenal berbagai sisi tersebut sebelum hubungan berubah menjadi pernikahan.

Dengan kata lain, persahabatan dapat memberi kesempatan untuk melihat seseorang secara lebih utuh.

2. Kepercayaan Sudah Memiliki Fondasi yang Kuat

Kepercayaan merupakan salah satu komponen penting dalam hubungan jangka panjang.

Sebelum menjadi pasangan, teman baik biasanya sudah melewati berbagai pengalaman yang membantu membangun rasa aman satu sama lain.

Mungkin kamu pernah menceritakan rahasia kepadanya.

Mungkin kamu pernah meminta pendapatnya ketika sedang menghadapi masalah.

Mungkin dia pernah berada di sisimu ketika orang lain pergi.

Pengalaman-pengalaman seperti ini dapat membangun keyakinan bahwa orang tersebut dapat diandalkan.

Dalam hubungan romantis, rasa aman semacam ini sangat berharga.

Pernikahan mengharuskan dua orang untuk menjadi rentan satu sama lain. Kamu harus bisa membicarakan ketakutan, kebutuhan, kesalahan, masalah keuangan, keluarga, masa depan, dan berbagai hal yang tidak selalu mudah dibicarakan.

Jika seseorang sudah terbukti mampu menjadi tempat yang aman secara emosional, transisi menuju hubungan yang lebih serius dapat memiliki fondasi yang berbeda dibandingkan hubungan yang baru dimulai.

Namun, tetap perlu diingat bahwa kepercayaan dalam persahabatan tidak otomatis sama dengan kepercayaan dalam pernikahan.

Hubungan romantis membawa tantangan baru: kecemburuan, ekspektasi, keintiman, pembagian tanggung jawab, keuangan, dan keputusan hidup bersama.

Karena itu, kepercayaan yang sudah ada perlu terus dibangun dalam konteks hubungan romantis.

3. Komunikasi Cenderung Lebih Natural

Pernahkah kamu memperhatikan bahwa berbicara dengan teman baik terasa jauh lebih mudah?

Kamu tidak terlalu sibuk memikirkan apakah kalimatmu terdengar sempurna.

Kamu tidak perlu selalu menjaga citra.

Kamu bahkan mungkin bisa mengatakan, "Aku sedang tidak baik-baik saja," tanpa harus menjelaskan terlalu banyak.

Kemampuan berkomunikasi seperti ini merupakan aset besar dalam pernikahan.

Hubungan jangka panjang bukan hanya membutuhkan cinta, tetapi juga kemampuan untuk membicarakan hal-hal yang sulit.

Bagaimana cara membagi pekerjaan rumah?

Apakah ingin memiliki anak?

Bagaimana mengatur keuangan?

Seberapa sering mengunjungi keluarga masing-masing?

Bagaimana menghadapi konflik?

Apa yang dilakukan ketika salah satu pasangan membutuhkan ruang pribadi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar seberapa romantis sebuah hubungan terlihat dari luar.

Teman baik biasanya sudah memiliki "bahasa hubungan" yang terbentuk dari waktu ke waktu. Kalian mungkin sudah memahami cara masing-masing bercanda, cara meminta bantuan, atau cara menunjukkan bahwa sedang kesal.

Kemampuan memahami pola komunikasi satu sama lain dapat membantu ketika hubungan berkembang menjadi lebih serius.

Tetapi ada satu catatan penting: komunikasi yang nyaman tidak selalu berarti komunikasi yang sehat.

Dua orang bisa sangat dekat tetapi tetap memiliki kebiasaan menghindari konflik, memendam perasaan, atau tidak mampu membicarakan kebutuhan.

Karena itu, jika hubungan persahabatan berubah menjadi hubungan romantis, keduanya tetap perlu belajar berkomunikasi secara terbuka.

4. Kamu Memiliki Pengalaman Bersama yang Membentuk Kedekatan Emosional

Hubungan yang kuat tidak hanya dibangun dari percakapan, tetapi juga dari pengalaman bersama.

Pergi bersama.

Menghadapi masalah bersama.

Tertawa karena hal-hal kecil.

Saling membantu ketika salah satu mengalami kesulitan.

Mengingat kejadian yang bahkan sudah lama berlalu.

Semua pengalaman tersebut membentuk semacam sejarah bersama.

Dalam psikologi hubungan, pengalaman bersama dapat membantu menciptakan rasa kedekatan dan identitas sebagai "kita".

Ketika dua orang memiliki banyak kenangan, hubungan mereka tidak hanya berdiri di atas ketertarikan saat ini. Ada perjalanan yang telah dilalui bersama.

Itulah salah satu hal menarik dari menikahi teman baik.

Kamu tidak memulai kehidupan bersama dari titik nol.

Ada cerita yang sudah dimiliki bersama.

Mungkin kalian memiliki tempat favorit yang sering dikunjungi.

Mungkin ada lelucon yang hanya kalian berdua pahami.

Mungkin kalian pernah melalui masa sulit yang membuat hubungan semakin kuat.

Hal-hal sederhana seperti itu dapat menjadi bagian dari identitas sebuah pasangan.

Tentu saja, banyaknya kenangan tidak otomatis membuat pernikahan bahagia. Namun, sejarah bersama dapat menjadi salah satu sumber kedekatan emosional yang berarti.

5. Kamu Lebih Mungkin Merasa Diterima Apa Adanya

Salah satu kebutuhan psikologis manusia adalah merasa diterima.

Dalam hubungan romantis, seseorang tentu ingin dicintai bukan hanya ketika dirinya sedang berada dalam kondisi terbaik, tetapi juga ketika memiliki kelemahan dan kekurangan.

Teman baik sering kali sudah mengetahui sisi-sisi tersebut.

Dia mungkin mengetahui kebiasaan anehmu.

Dia mungkin tahu bagaimana kamu ketika sedang gugup.

Dia tahu hal-hal yang membuatmu sensitif.

Dia mungkin pernah melihatmu gagal.

Dan meskipun mengetahui semua itu, dia tetap memilih untuk berada dalam hidupmu.

Ini dapat menciptakan perasaan bahwa kamu tidak perlu terus-menerus berpura-pura menjadi orang lain agar dicintai.

Dalam hubungan jangka panjang, rasa diterima seperti ini dapat memberikan rasa aman.

Kamu tidak harus selalu tampil sempurna.

Kamu dapat menjadi manusia.

Namun, ada perbedaan antara "diterima apa adanya" dan "tidak pernah diminta untuk berkembang".

Hubungan yang sehat seharusnya memungkinkan dua orang menerima satu sama lain sekaligus mendorong pertumbuhan.

Pasangan bukanlah seseorang yang mengatakan, "Kamu harus berubah agar layak dicintai."

Tetapi pasangan juga bukan seseorang yang selalu membenarkan semua perilaku kita.

Hubungan yang sehat memberikan ruang untuk menjadi diri sendiri sekaligus berkembang menjadi versi diri yang lebih baik.

6. Kamu Sudah Mengetahui Bagaimana Dirinya Memperlakukan Orang Lain

Ada satu keuntungan menarik ketika seseorang sudah menjadi temanmu sebelum menjadi pasangan: kamu dapat mengamati bagaimana dirinya memperlakukan orang lain.

Bagaimana dia memperlakukan teman yang tidak memiliki kepentingan baginya?

Bagaimana dia berbicara kepada pelayan restoran?

Bagaimana dia bersikap ketika sedang kalah?

Bagaimana dia memperlakukan keluarganya?

Bagaimana reaksinya ketika seseorang melakukan kesalahan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat memberikan informasi yang tidak selalu terlihat ketika seseorang sedang berada dalam fase pendekatan romantis.

Dalam hubungan baru, seseorang mungkin sangat perhatian karena sedang berusaha memenangkan hati pasangannya.

Tetapi ketika kamu sudah mengenalnya sebagai teman, kamu memiliki lebih banyak kesempatan untuk melihat perilakunya dalam berbagai konteks.

Ini penting karena pernikahan bukan hanya tentang bagaimana seseorang memperlakukanmu ketika sedang jatuh cinta.

Pernikahan juga tentang bagaimana seseorang berperilaku ketika sedang kecewa, lelah, berbeda pendapat, atau menghadapi tekanan.

Karakter seseorang sering kali terlihat lebih jelas dalam situasi-situasi tersebut.

Teman baik tidak selalu menjadi pasangan yang tepat, tetapi kedekatan yang sudah berlangsung lama dapat memberikan lebih banyak informasi tentang kepribadiannya daripada hubungan yang baru dimulai.

7. Hubungan Kalian Bisa Memiliki Fondasi "Aku Memilihmu", Bukan Sekadar "Aku Membutuhkanmu"

Ini mungkin alasan yang paling penting.

Ada perbedaan antara membutuhkan seseorang dan memilih seseorang.

Ketika hubungan romantis dibangun terlalu cepat, terkadang seseorang dapat merasa bahwa pasangannya adalah satu-satunya sumber kebahagiaan, validasi, atau rasa aman.

Hubungan kemudian berisiko menjadi sangat bergantung secara emosional.

Persahabatan yang sehat biasanya memiliki dinamika yang berbeda.

Kamu memiliki kehidupanmu sendiri.

Dia memiliki kehidupannya sendiri.

Kalian bisa berteman tanpa harus menjadi pasangan.

Karena itu, ketika akhirnya memilih untuk menjadi pasangan, keputusan tersebut dapat terasa seperti sebuah pilihan sadar: bukan karena kamu tidak bisa hidup tanpanya, tetapi karena kamu ingin membangun kehidupan bersamanya.

Ini bukan berarti ketergantungan emosional selalu buruk atau bahwa pasangan tidak boleh menjadi sumber dukungan utama. Dalam hubungan sehat, saling membutuhkan secara wajar justru merupakan bagian dari kedekatan.

Namun, hubungan yang sehat tetap memberikan ruang bagi masing-masing individu untuk mempertahankan identitas, pertemanan, minat, dan kehidupan pribadi.

Menikahi teman baik dapat memberikan kesempatan untuk membawa dinamika tersebut ke dalam pernikahan—selama keduanya tetap mampu menjaga batas yang sehat.

Tetapi, Apakah Teman Baik Selalu Menjadi Pasangan Hidup yang Tepat?

Tidak.

Ini bagian yang sering dilupakan ketika membicarakan konsep "menikahi sahabat".

Persahabatan dan pernikahan memiliki beberapa fondasi yang sama, tetapi bukan berarti keduanya identik.

Kamu bisa memiliki teman terbaik di dunia yang ternyata tidak cocok menjadi pasangan hidup.

Mengapa?

Karena pernikahan membutuhkan sejumlah kecocokan tambahan.

Misalnya:

nilai-nilai kehidupan,
pandangan mengenai keluarga,
keinginan memiliki anak atau tidak,
cara mengelola uang,
gaya komunikasi,
kebutuhan akan ruang pribadi,
tujuan karier,
pandangan mengenai komitmen,
cara menghadapi konflik,
serta kesiapan untuk membangun kehidupan bersama.

Seseorang bisa menjadi teman yang luar biasa tetapi memiliki visi hidup yang sangat berbeda denganmu.

Karena itu, jangan menikahi seseorang hanya karena dia adalah teman baikmu.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah dia adalah teman baik yang juga cocok menjadi pasangan hidupmu?

Itulah perbedaannya.

Persahabatan Sebagai Fondasi, Bukan Jaminan

Ada alasan mengapa banyak hubungan jangka panjang menekankan pentingnya persahabatan di antara pasangan.

Romantisme dapat berubah seiring waktu.

Penampilan berubah.

Kondisi hidup berubah.

Pekerjaan berubah.

Kesehatan berubah.

Tanggung jawab bertambah.

Bahkan cara seseorang mengekspresikan cinta bisa berubah.

Tetapi ketika hubungan romantis juga memiliki unsur persahabatan yang kuat, pasangan dapat tetap memiliki sesuatu yang sangat penting: keinginan untuk menikmati keberadaan satu sama lain.

Pada akhirnya, pernikahan bukan hanya tentang menemukan seseorang yang membuat jantung berdebar.

Pernikahan juga tentang menemukan seseorang yang ingin kamu ajak menjalani kehidupan sehari-hari.

Seseorang yang bisa diajak tertawa.

Seseorang yang bisa diajak berdiskusi.

Seseorang yang bisa kamu percaya.

Seseorang yang tetap kamu hormati ketika kalian sedang berbeda pendapat.

Dan seseorang yang tetap ingin kamu kenal, bahkan setelah bertahun-tahun bersama.

Itulah mengapa teman baik bisa menjadi pasangan hidup yang menarik secara psikologis.

Bukan karena status "teman baik" secara otomatis menjadikannya pasangan yang sempurna.

Melainkan karena persahabatan yang sehat dapat menyediakan sejumlah fondasi penting: kepercayaan, kedekatan, penerimaan, komunikasi, pengalaman bersama, dan rasa aman.

Jika fondasi tersebut kemudian bertemu dengan ketertarikan romantis, kecocokan nilai, komitmen, dan kesiapan membangun kehidupan bersama, sebuah hubungan dapat memiliki dasar yang sangat berarti.

Jadi, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan:

"Apakah aku harus menikahi teman baikku?"

Melainkan:

"Jika suatu hari kami membangun kehidupan bersama, apakah aku masih ingin memiliki dia sebagai teman, pasangan, dan rekan hidup sekaligus?"

Karena pada akhirnya, pasangan hidup bukan hanya orang yang ingin kamu cintai.

Dia juga orang yang ingin kamu ajak menjalani kehidupan—termasuk rutinitas yang membosankan, masalah yang tidak terduga, hari-hari sulit, dan semua momen kecil yang tidak pernah masuk ke dalam foto pernikahan.

Dan mungkin, justru di situlah nilai terbesar dari menikahi seseorang yang juga merupakan teman baikmu.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore