Ilustrasi, persahabatan dan teman baik. Magnific/ ansiia.
JawaPos.com - Arti persahabatan dan seperti apa ciri teman baik bisa saja berbeda untuk masing-masing generasi.
Mungkin Gen Z memandang persahabatan dan ciri teman baik ialah yang mengutamakan batasan pribadi dan self care.
Sementara bagi Generasi Baby Boomer, Gen X, dan Milenial mengedepankan loyalitas, komunikasi, dan kehadiran fisik.
Lebih lengkap, dilansir JawaPos.com dari yourtango pada Jumat (18/9), berikut ini arti persahabatan dan ciri teman baik menurut Generasi Baby Boomer, Gen X, Milenial, dan Gen Z.
Generasi Baby Boomer
Teman baik bagi mereka adalah teman yang bersedia meluangkan waktu untuk bertemu secara langsung.
Mereka yang lahir tahun 1946 – 1964 tumbuh besar tanpa ponsel dan media sosial.
Sehingga mereka mempelajari dasar-dasar interaksi sejak dini yang diperlukan untuk menjalin pertemanan.
Ketidakhadiran ponsel atau media sosial membuat semua momen tidak dapat direkam dengan mudah, sehingga kegiatan berkumpul bersama teman terasa lebih alami, tidak sekadar untuk tampil atau pamer.
Kualitas persahabatan mereka jauh lebih baik dibandingkan dengan persahabatan generasi muda saat ini.
Gen X
Bagi Gen X, teman yang baik adalah teman yang mampu menjadi sosok yang benar-benar hadir saat dibutuhkan.
Generasi yang terlahir tahun 1965 – 1980 lebih mengandalkan persahabatan dibandingkan Generasi Milenial atau Gen Z, terutama saat mereka berusia dewasa muda.
Maksudnya, meski mereka dekat dengan kedua orang tua, tapi mereka tidak terlalu bergantung pada keduanya sebagaimana Generasi Milenial dan Gen Z.
Sebaliknya, Gen X lebih mengandalkan teman-teman mereka.
Generasi Milenial
Bagi Generasi Milenial, teman yang baik adalah teman yang tetap menjalin kedekatan tanpa merasa kewalahan atau kelelahan secara emosional.
Mereka banyak menghadapi tantangan yang serupa dengan Gen Z dalam hal persahabatan, khususnya terkait penetapan batasan dan self care.
Ini membuat mereka yang lahir tahun 1981 – 1996 lebih memilih berteman dengan orang-orang dari generasi sebelumnya, karena dianggap lebih bisa diandalkan.
Sementara teman-teman yang usianya sama dengan mereka sering kali membutuhkan waktu berhari-hari untuk membalas pesan dan tidak mengangkat telepon saat dihubungi.
Gen Z
Menurut Gen Z, teman yang baik adalah teman yang menghargai batasan pribadi.
Mereka yang lahir 1997 – 2012 menganggap batasan itu penting dalam persahabatan.
Namun, persahabatan berlandaskan 'batasan' seperti ini bisa menjadi tidak sehat, karena 'batasan' bisa dijadikan alasan untuk berhenti saling hadir dan mendukung satu sama lain.
Mungkin, konsep 'batasan' ini muncul karena banyak dari generasi ini yang menggunakan istilah-istilah psikologi di dunia maya.
Jadi, media sosial tanpa sadar menjadi faktor terbesarnya.
Media sosial juga membuat mereka menganggap teman yang baik adalah yang banyak 'like' unggahan mereka di Instagram.
Sementara itu, teman yang jarang membuka media sosial dipandang sebaliknya.
Sejatinya, persahabatan yang baik seharusnya tetap terjalin di luar media sosial.
Media sosial menciptakan budaya yang sangat kompetitif dalam persahabatan yang pada akhirnya berdampak buruk bagi kesehatan mental.
Lalu, banyak dari Gen Z yang tidak sependapat dengan pendapat kalau persahabatan adalah hubungan dua arah.
Mereka lebih meyakini bahwa mereka harus memprioritaskan diri.
Itu berarti tidak mau bersusah payah demi teman-teman mereka.
Padahal, untuk memiliki lingkaran dukungan yang solid, kita juga harus menjadi bagian dari lingkaran dukungan orang lain.