seseorang yang menjadi sasaran gaslighting / foto: Magnific/gzorgz
Kamu merasa yakin bahwa sesuatu benar-benar terjadi. Kamu ingat dengan jelas apa yang dikatakan atasan, rekan kerja, atau bahkan anggota timmu. Namun ketika masalah itu dibicarakan kembali, orang tersebut justru mengatakan, “Kamu salah ingat,” “Saya tidak pernah bilang begitu,” atau “Kamu terlalu sensitif.”
Awalnya mungkin terlihat seperti perbedaan ingatan biasa.
Namun, jika pola tersebut terjadi berulang kali hingga membuatmu mulai meragukan ingatan, penilaian, atau persepsimu sendiri, kamu mungkin sedang berhadapan dengan gaslighting.
Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis ketika seseorang secara konsisten membuat orang lain mempertanyakan persepsi, ingatan, atau penilaiannya terhadap suatu kejadian. Istilah ini sering digunakan dalam konteks hubungan pribadi, tetapi pola serupa juga dapat muncul di lingkungan kerja.
Di tempat kerja, gaslighting bisa menjadi sangat sulit dikenali karena sering dibungkus dalam komunikasi profesional.
Pelaku mungkin tidak selalu berteriak atau menghina. Sebaliknya, mereka bisa menggunakan kalimat yang terdengar biasa:
“Kamu terlalu memikirkan hal itu.”
“Sepertinya kamu salah memahami instruksinya.”
“Semua orang juga tahu kamu memang gampang panik.”
“Saya rasa masalahnya ada di cara kamu bekerja.”
Jika terjadi sesekali, pernyataan seperti itu belum tentu merupakan gaslighting. Bisa saja memang terjadi miskomunikasi atau perbedaan persepsi.
Yang perlu diperhatikan adalah polanya.
Ketika seseorang berulang kali menyangkal kejadian yang dapat diverifikasi, memutarbalikkan percakapan, menyalahkanmu atas masalah yang bukan tanggung jawabmu, atau membuatmu merasa tidak bisa mempercayai penilaian sendiri, situasinya patut diperhatikan.
Lalu, bagaimana cara melindungi diri?
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (19/9), menurut prinsip-prinsip psikologi komunikasi, regulasi emosi, dan penetapan batasan, ada beberapa langkah yang dapat membantu.
1. Jangan langsung meragukan dirimu sendiri
Salah satu dampak paling mengganggu dari gaslighting adalah munculnya keraguan terhadap diri sendiri.
Awalnya kamu mungkin berpikir:
“Bukankah tadi dia mengatakan itu?”
Kemudian berubah menjadi:
“Mungkin saya memang salah dengar.”
Lama-kelamaan:
“Jangan-jangan memang saya yang selalu salah.”
Inilah salah satu alasan mengapa gaslighting bisa terasa melelahkan secara psikologis. Masalahnya bukan hanya pada konflik yang sedang terjadi, tetapi pada kepercayaan seseorang terhadap penilaiannya sendiri.
Karena itu, ketika menghadapi percakapan yang membingungkan, jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa kamu pasti salah.
Berikan dirimu kesempatan untuk memeriksa kembali situasinya.
Tanyakan:
Apa sebenarnya yang terjadi?
Apa yang saya dengar atau lihat secara langsung?
Apa yang hanya merupakan asumsi saya?
Apakah ada bukti atau catatan yang dapat diperiksa?
Apakah orang tersebut mengatakan hal yang berbeda sebelumnya?
Apakah pola seperti ini sudah pernah terjadi?
Perbedaan antara fakta, interpretasi, dan perasaan sangat penting.
Misalnya:
Fakta: Atasan mengatakan laporan harus dikumpulkan hari Jumat.
Interpretasi: “Atasan sengaja menjebak saya.”
Perasaan: “Saya merasa tertekan dan tidak dihargai.”
Ketiganya berbeda.
Dengan memisahkannya, kamu menjadi lebih sulit dibuat bingung oleh percakapan yang tidak jelas.
Kamu tidak perlu langsung menuduh seseorang melakukan gaslighting. Cukup pastikan bahwa kamu tidak meninggalkan kemampuanmu untuk berpikir kritis hanya karena seseorang mengatakan bahwa persepsimu salah.
2. Biasakan mendokumentasikan komunikasi penting
Salah satu cara paling praktis untuk mengurangi kebingungan di tempat kerja adalah membuat dokumentasi.
Bukan untuk mencari-cari kesalahan orang lain.
Bukan pula untuk membuat setiap percakapan menjadi konflik.
Dokumentasi berguna karena komunikasi di lingkungan kerja memang bisa berubah, terlupakan, atau disalahpahami.
Jika ada instruksi penting dalam rapat, misalnya, kamu dapat membuat ringkasan melalui email atau pesan kerja.
Contohnya:
“Untuk memastikan saya tidak salah memahami hasil pembicaraan tadi, saya rangkum beberapa poin: laporan A diselesaikan hari Rabu, laporan B hari Jumat, dan revisi terakhir akan diperiksa oleh tim C.”
Cara sederhana seperti ini memiliki dua manfaat.
Pertama, semua pihak memiliki kesempatan untuk mengoreksi kesalahpahaman sejak awal.
Kedua, kamu memiliki catatan mengenai apa yang sebenarnya telah disepakati.
Dokumentasi juga dapat berupa:
email;
pesan kerja;
notulen rapat;
daftar tugas;
kalender;
hasil revisi;
instruksi tertulis;
atau catatan pribadi mengenai kejadian penting.
Namun, dokumentasikan secara profesional.
Hindari menulis catatan dengan bahasa emosional seperti:
“Bos saya memang selalu berusaha menjatuhkan saya.”
Lebih baik tuliskan:
“Pada pukul 10.00, dalam rapat tim, X mengatakan bahwa laporan akan dikumpulkan pada Jumat. Pada pukul 15.00, saya menerima pesan yang menyebutkan bahwa tenggat berubah menjadi Kamis.”
Catatan berbasis fakta jauh lebih berguna daripada catatan yang penuh kesimpulan.
3. Gunakan komunikasi yang spesifik, bukan defensif
Ketika seseorang mengatakan, “Saya tidak pernah mengatakan itu,” respons spontan mungkin berupa kemarahan.
Kamu ingin membuktikan bahwa dia berbohong.
Namun, respons emosional terkadang justru membuat percakapan semakin sulit.
Cobalah kembali pada hal yang spesifik.
Daripada berkata:
“Kamu selalu memutarbalikkan perkataan saya!”
Kamu bisa mengatakan:
“Saya memiliki catatan bahwa pada rapat hari Senin kita membahas tenggat Jumat. Kalau ada perubahan setelah itu, mari kita cek kapan perubahan tersebut disampaikan.”
Perhatikan perbedaannya.
Kalimat pertama menyerang karakter.
Kalimat kedua membicarakan informasi yang bisa diverifikasi.
Teknik ini membantu menggeser percakapan dari:
“Siapa yang benar?”
menjadi:
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Dalam komunikasi profesional, pergeseran tersebut sangat penting.
Jika lawan bicara terus membawa percakapan ke arah personal, kamu dapat mengembalikannya ke persoalan konkret.
Misalnya:
“Saya memahami bahwa kita mungkin memiliki persepsi berbeda. Untuk saat ini, saya ingin memastikan instruksi yang harus saya ikuti ke depannya.”
Ini membuatmu tidak harus memenangkan argumen untuk tetap mendapatkan kejelasan.
4. Tetapkan batasan ketika percakapan mulai menyerang pribadi
Tidak semua kritik adalah gaslighting.
Di tempat kerja, kamu memang mungkin mendapatkan kritik.
Atasan dapat mengatakan pekerjaanmu perlu diperbaiki. Rekan kerja dapat menunjukkan kesalahan. Bahkan kamu mungkin memang melakukan kesalahan.
Menerima kritik tidak berarti kamu harus menerima penghinaan.
Ada perbedaan antara:
“Laporan ini masih memiliki beberapa kesalahan data. Tolong perbaiki bagian A dan B.”
dengan:
“Kamu memang tidak pernah bisa bekerja dengan benar.”
Kalimat pertama berfokus pada pekerjaan.
Kalimat kedua menyerang pribadi.
Jika percakapan mulai berubah menjadi serangan personal, kamu berhak menetapkan batasan.
Contohnya:
“Saya bersedia membahas kesalahan dalam pekerjaan saya, tetapi saya ingin pembahasannya tetap pada tugas dan hasil kerja.”
Atau:
“Kalau ada masalah dengan pekerjaan saya, tolong jelaskan bagian yang perlu diperbaiki agar saya bisa menindaklanjutinya.”
Batasan tidak harus disampaikan dengan marah.
Justru semakin tenang kamu menyampaikannya, semakin jelas pesan yang diberikan.
Batasan yang sehat pada dasarnya mengatakan:
“Saya bersedia membicarakan masalah, tetapi tidak semua bentuk komunikasi dapat saya terima.”
5. Jangan menghadapi pola manipulasi seorang diri
Ketika seseorang terus-menerus mempertanyakan persepsimu, kamu bisa kehilangan sudut pandang yang objektif.
Karena itu, dukungan dari orang yang dapat dipercaya bisa membantu.
Misalnya, kamu dapat berbicara dengan:
rekan kerja yang memahami situasi;
mentor;
supervisor lain;
bagian HR, jika sesuai dengan struktur organisasi;
perwakilan serikat pekerja, jika ada;
atau profesional kesehatan mental ketika situasi tersebut mulai berdampak serius pada kesejahteraanmu.
Tujuannya bukan membangun “tim untuk melawan” seseorang.
Tujuannya adalah mendapatkan perspektif yang lebih luas.
Ketika hanya memiliki satu sumber informasi—yaitu orang yang terus mengatakan bahwa persepsimu salah—kamu bisa semakin mudah meragukan diri sendiri.
Tetapi tetap berhati-hati.
Jangan mengubah dukungan menjadi penyebaran gosip.
Fokuskan pembicaraan pada kejadian yang dapat dijelaskan:
“Ini yang dikatakan.”
“Ini catatan yang saya punya.”
“Ini perubahan instruksinya.”
“Ini yang membuat saya bingung.”
Dengan begitu, orang lain dapat membantu menilai situasi berdasarkan informasi, bukan sekadar emosi.
6. Kenali kapan masalahnya sudah membutuhkan langkah yang lebih serius
Tidak semua konflik di tempat kerja dapat diselesaikan hanya dengan komunikasi yang lebih baik.
Jika pola perilaku terus berlangsung, terutama jika sudah memengaruhi pekerjaan, reputasi profesional, atau kesejahteraan psikologis, jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang harus kamu tahan selamanya.
Perhatikan pola seperti:
instruksi penting sering disangkal setelah diberikan;
kesalahan orang lain berulang kali dibebankan kepadamu;
kamu terus-menerus dibuat mempertanyakan ingatan sendiri;
percakapan sering diputarbalikkan;
kritik terhadap pekerjaan berubah menjadi serangan terhadap pribadi;
kamu dibuat merasa bersalah setiap kali mencoba meminta kejelasan;
standar atau ekspektasi berubah tanpa penjelasan;
atau perilaku tersebut semakin mengganggu kemampuanmu untuk bekerja.
Dalam kondisi seperti ini, dokumentasi yang rapi menjadi semakin penting.
Jika diperlukan, gunakan jalur formal yang tersedia di organisasi untuk melaporkan masalah.
Sampaikan fakta secara kronologis.
Misalnya:
Tanggal: 5 September
Kejadian: Instruksi A diberikan dalam rapat.
Bukti: Notulen dan pesan setelah rapat.
Perubahan: Pada 7 September, instruksi berbeda diberikan.
Dampak: Pekerjaan harus dikerjakan ulang dan tenggat berubah.
Format seperti ini jauh lebih kuat daripada sekadar mengatakan:
“Saya merasa sedang digaslight.”
Perasaanmu tetap penting, tetapi dalam situasi kerja, fakta yang terdokumentasi dapat membantu orang lain memahami masalah dengan lebih jelas.
Yang Perlu Diingat: Tidak Semua Perbedaan Pendapat Adalah Gaslighting
Ini bagian yang sangat penting.
Istilah gaslighting sekarang sering digunakan untuk menjelaskan hampir semua konflik atau perbedaan pendapat.
Padahal, tidak setiap orang yang menyangkal perkataan sebelumnya sedang melakukan gaslighting.
Manusia bisa salah mengingat.
Manusia bisa salah memahami instruksi.
Orang bisa lupa apa yang pernah dikatakan.
Dua orang juga bisa mengingat sebuah percakapan secara berbeda tanpa ada niat manipulatif.
Karena itu, jangan hanya melihat satu kejadian.
Lihat pola perilakunya.
Apakah orang tersebut bersedia memeriksa fakta?
Apakah dia dapat mengakui kesalahan?
Apakah dia bersedia memperbaiki miskomunikasi?
Atau justru setiap kali terjadi masalah, kamu selalu dibuat menjadi pihak yang “gila”, “terlalu sensitif”, “tidak kompeten”, atau “salah ingat”?
Perbedaan tersebut penting.
Tujuan memahami gaslighting bukan agar kamu mencurigai semua orang.
Tujuannya justru agar kamu memiliki kemampuan untuk membedakan antara miskomunikasi biasa dan pola manipulasi yang berulang.
Jangan Biarkan Orang Lain Menentukan Realitasmu
Pada akhirnya, melindungi diri dari gaslighting bukan berarti kamu harus menjadi orang yang selalu curiga.
Sebaliknya, kamu perlu membangun beberapa kebiasaan psikologis yang sehat:
Periksa fakta.
Dokumentasikan hal penting.
Pisahkan fakta dari interpretasi.
Berkomunikasi secara spesifik.
Tetapkan batasan.
Cari perspektif dari orang yang dapat dipercaya.
Dan yang tidak kalah penting, tetap bersedia mengakui ketika memang kamu melakukan kesalahan.
Kemampuan mengatakan “Saya salah” justru merupakan tanda bahwa kamu memiliki hubungan yang sehat dengan realitas.
Orang yang kuat secara psikologis bukan orang yang tidak pernah salah.
Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengatakan:
“Saya mungkin salah. Mari kita periksa faktanya.”
Kalimat tersebut jauh lebih sehat daripada harus terus mempertahankan diri hanya demi membuktikan bahwa kamu selalu benar.
Jika seseorang benar-benar sedang mencoba membuatmu meragukan kenyataan, kebiasaan untuk kembali pada fakta, dokumentasi, komunikasi yang jelas, dan batasan yang sehat dapat menjadi perlindungan yang penting.
Kamu tidak harus memenangkan setiap percakapan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor Parma vs Genoa di Liga Italia: Duel Tim Papan Bawah Berakhir Imbang
Prediksi Skor FC Twente vs PSV Eindhoven: Pemuncak Klasemen Berpeluang Pesta Gol

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022