Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 September 2026 | 17.15 WIB

7 Ciri Orang yang Terbiasa Meminta Maaf Bahkan Sebelum Mengajukan Permintaan

ilustrasi orang yang melakukan permintaan. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com – Pernahkah Anda memperhatikan seseorang yang hampir selalu mengawali pertanyaan atau permintaannya dengan kalimat, “Maaf mengganggu”?

Sekilas, ungkapan tersebut terdengar sebagai bentuk kesopanan. Namun, jika digunakan berulang kali, pilihan kata tertentu dapat mencerminkan cara seseorang memandang dirinya sendiri maupun hubungannya dengan orang lain.

Dalam konteks psikologi, kebiasaan berkomunikasi seperti ini dapat dikaitkan dengan sejumlah kecenderungan kepribadian. Namun, satu kebiasaan berbicara saja tentu tidak cukup untuk menentukan karakter atau kondisi psikologis seseorang.

Dilansir Expert Editor, berikut sejumlah karakter yang disebut dapat ditemukan pada orang yang terbiasa mengucapkan “maaf mengganggu” sebelum menyampaikan keperluannya.

1. Sangat Mempertimbangkan Perasaan Orang Lain

Orang yang terbiasa mengatakan “maaf mengganggu” mungkin memiliki perhatian besar terhadap kenyamanan orang lain.

Sebelum menyampaikan keinginan, mereka cenderung memikirkan apakah kehadiran atau permintaannya akan merepotkan. Mereka berusaha memastikan orang lain tidak merasa terbebani.

Sikap tersebut dapat terlihat sebagai bentuk empati karena mereka berusaha memahami situasi dari sudut pandang orang lain.

2. Sering Mengecilkan Kebutuhan Sendiri

Kebiasaan meminta maaf sebelum meminta sesuatu juga dapat muncul dari kecenderungan menganggap kebutuhan pribadi tidak terlalu penting.

Seseorang mungkin merasa permintaannya terlalu merepotkan atau khawatir akan dianggap banyak menuntut. Akibatnya, permintaan maaf digunakan sebagai cara untuk “mengurangi” kesan bahwa dirinya sedang membebani orang lain.

Jika dilakukan terus-menerus, pola tersebut dapat membuat seseorang kurang nyaman dalam menyampaikan kebutuhan secara terbuka.

3. Cenderung Ingin Menyenangkan Orang Lain

Ungkapan “maaf mengganggu” juga bisa muncul pada orang yang sangat ingin menjaga perasaan orang lain.

Mereka mungkin berusaha menghindari situasi yang berpotensi menimbulkan penolakan atau konflik. Karena itu, mereka memilih bahasa yang sangat hati-hati ketika hendak meminta bantuan, menyampaikan pendapat, atau mengajukan sesuatu.

Dalam beberapa situasi, kecenderungan tersebut dapat beririsan dengan perilaku yang sering disebut people pleasing, meskipun kebiasaan meminta maaf saja tidak otomatis berarti seseorang merupakan people pleaser.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore