Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 September 2026 | 04.02 WIB

Jika Kamu Merasa Lelah dengan Kehidupan yang Semakin Tak Terarah, Lakukan 6 Teknik Ini

seseorang yang lelah dengan kehidupan / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Ada masa dalam hidup ketika kita merasa begitu lelah, tetapi tidak benar-benar tahu apa yang membuat kita lelah.

Bukan hanya tubuh yang terasa berat. Pikiran juga seolah tidak pernah berhenti bekerja. Bangun tidur sudah memikirkan banyak hal. Menjalani aktivitas terasa seperti kewajiban yang harus diselesaikan. Malam hari, ketika seharusnya beristirahat, justru muncul berbagai pertanyaan tentang kehidupan.

"Sebenarnya aku sedang menuju ke mana?"

"Mengapa hidupku terasa begini-begini saja?"

"Apa yang sebenarnya ingin aku lakukan?"

"Mengapa orang lain tampaknya sudah jauh melangkah, sementara aku masih berada di tempat yang sama?"

Perasaan seperti ini bisa membuat kehidupan terasa kehilangan arah.

Kita mungkin masih bekerja, masih bertemu orang, masih menjalankan rutinitas, bahkan mungkin masih tertawa. Namun jauh di dalam diri, ada bagian dari kita yang merasa kosong.

Jika kamu sedang berada di fase seperti ini, mungkin yang kamu butuhkan bukan perubahan besar dalam semalam.

Kamu mungkin hanya perlu berhenti sebentar, melihat kembali cara menjalani kehidupan, kemudian mulai membangun kembali hal-hal kecil yang membuat hidup terasa lebih bermakna.

Dalam psikologi, kebahagiaan bukan sekadar keadaan ketika seseorang selalu merasa senang. Kebahagiaan yang lebih sehat berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengalami emosi yang beragam, memiliki hubungan yang bermakna, merasakan bahwa hidup memiliki tujuan, serta mampu menjalani kehidupan sesuai dengan nilai yang dianggap penting.

Karena itu, ketika hidup terasa semakin tidak terarah, jangan langsung menganggap bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirimu.

Mungkin kamu hanya terlalu lama berjalan tanpa memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk bertanya: "Apa yang sebenarnya penting bagiku?"

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (18/9), terdapat enam teknik yang dapat membantu kamu menata kembali kehidupan dan membangun kesejahteraan psikologis secara perlahan.

1. Berhenti Sejenak dan Sadari Apa yang Sedang Kamu Rasakan

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika sedang lelah secara emosional adalah berusaha secepat mungkin menghilangkan perasaan tersebut.

Ketika sedih, kita memaksa diri untuk bahagia.

Ketika kecewa, kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.

Ketika cemas, kita berusaha mengalihkan perhatian.

Padahal, tidak semua emosi harus segera dihilangkan.

Emosi pada dasarnya memberikan informasi tentang apa yang sedang terjadi dalam diri kita.

Rasa lelah mungkin memberi tahu bahwa kita membutuhkan istirahat.

Rasa marah mungkin menunjukkan bahwa ada batas yang telah dilanggar.

Kesedihan mungkin muncul karena ada kehilangan atau sesuatu yang sangat berarti bagi kita.

Kecemasan mungkin menunjukkan bahwa kita merasa tidak aman menghadapi sesuatu yang belum diketahui.

Karena itu, cobalah melakukan teknik sederhana yang dikenal dalam praktik mindfulness: berhenti dan mengamati pengalaman saat ini tanpa langsung menghakiminya.

Ketika merasa kacau, ambil beberapa menit.

Duduk dengan tenang.

Tarik napas perlahan.

Kemudian tanyakan kepada diri sendiri:

"Apa yang sedang aku rasakan sekarang?"

Jangan berhenti pada jawaban "aku baik-baik saja" atau "aku sedang lelah".

Cobalah lebih spesifik.

Apakah kamu kecewa?

Kesepian?

Takut?

Jenuh?

Merasa tertinggal?

Kehilangan motivasi?

Atau sebenarnya kamu hanya terlalu banyak memikul sesuatu sendirian?

Memberi nama pada emosi dapat membantu kita mengambil jarak dari emosi tersebut. Kita tidak lagi sekadar "aku adalah orang yang kacau", tetapi mulai melihatnya sebagai "aku sedang mengalami kebingungan."

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi secara psikologis penting.

Kamu bukan perasaanmu.

Kamu adalah seseorang yang sedang mengalami perasaan tersebut.

Dan sesuatu yang sedang dialami dapat dipahami, diterima, dan perlahan dikelola.

Cobalah malam ini

Ambil selembar kertas dan tuliskan tiga kalimat:

Saat ini aku merasa...
Hal yang paling menguras energiku adalah...
Hal yang sebenarnya paling aku butuhkan adalah...

Tidak perlu membuat jawaban yang indah.

Tulislah dengan jujur.

Kadang-kadang, kejelasan tidak muncul karena kita membutuhkan lebih banyak jawaban, tetapi karena kita akhirnya berani mengakui apa yang sebenarnya sedang kita rasakan.

2. Berhenti Mengejar Semua Hal dan Tentukan Apa yang Benar-Benar Penting

Kehidupan modern sering membuat kita merasa harus melakukan semuanya.

Harus sukses.

Harus produktif.

Harus punya karier bagus.

Harus memiliki hubungan yang sehat.

Harus mengikuti perkembangan orang lain.

Harus punya tabungan.

Harus terlihat bahagia.

Harus terus berkembang.

Masalahnya, manusia memiliki energi, waktu, dan perhatian yang terbatas.

Ketika terlalu banyak hal dianggap penting, akhirnya tidak ada satu pun yang benar-benar mendapatkan perhatian yang cukup.

Di sinilah pentingnya memiliki nilai hidup.

Nilai berbeda dengan tujuan.

Tujuan adalah sesuatu yang ingin kamu capai.

Misalnya:

"Aku ingin mendapatkan pekerjaan baru."

Sedangkan nilai adalah prinsip mengenai bagaimana kamu ingin menjalani hidup.

Misalnya:

"Aku ingin menjalani pekerjaan dengan integritas dan tetap memiliki waktu untuk keluarga."

Tujuan bisa tercapai lalu selesai.

Nilai justru menjadi arah yang dapat digunakan berulang kali dalam mengambil keputusan.

Cobalah tanyakan kepada dirimu:

Jika tidak ada seorang pun yang bisa melihat kehidupanku, seperti apa kehidupan yang sebenarnya ingin aku jalani?

Pertanyaan ini penting karena sebagian keputusan kita dibuat bukan berdasarkan apa yang kita inginkan, melainkan berdasarkan apa yang kita pikir akan membuat kita terlihat berhasil di mata orang lain.

Kita mengejar sesuatu karena orang lain mengejarnya.

Kita membeli sesuatu karena orang lain memilikinya.

Kita mengambil pekerjaan tertentu karena dianggap bergengsi.

Kita takut berhenti karena takut dianggap gagal.

Padahal, hidup yang terlihat berhasil dari luar belum tentu terasa bermakna dari dalam.

Cobalah pilih tiga sampai lima nilai yang paling penting bagimu.

Misalnya:

keluarga
kesehatan
kebebasan
pembelajaran
kreativitas
kejujuran
kedamaian
kontribusi
hubungan
spiritualitas

Kemudian tanyakan:

"Apakah cara hidupku saat ini benar-benar mencerminkan nilai tersebut?"

Jika jawabannya belum, jangan langsung mengubah seluruh kehidupan.

Mulailah dari satu tindakan kecil.

Jika keluarga penting, mungkin kamu bisa menyediakan waktu tanpa ponsel untuk berbicara dengan orang terdekat.

Jika kesehatan penting, mungkin kamu bisa mulai tidur lebih teratur.

Jika pembelajaran penting, sisihkan 20 menit untuk membaca.

Jika kreativitas penting, mulai kembali membuat sesuatu.

Kebahagiaan tidak selalu datang ketika kita mendapatkan lebih banyak.

Terkadang kebahagiaan muncul ketika kehidupan kita mulai terasa selaras dengan apa yang sebenarnya kita anggap penting.

3. Gunakan Tujuan Kecil, Bukan Tekanan untuk Mengubah Seluruh Hidup Sekaligus

Ketika merasa hidup berantakan, kita sering membuat rencana yang terlalu besar.

"Mulai besok aku akan berubah total."

Kita ingin bangun pagi, olahraga setiap hari, membaca buku, bekerja lebih keras, berhenti bermain media sosial, makan sehat, belajar keterampilan baru, mengatur keuangan, dan menjadi manusia yang sepenuhnya berbeda.

Semangat itu bisa terasa luar biasa pada hari pertama.

Namun beberapa hari kemudian, semuanya mulai terasa berat.

Kemudian kita gagal menjalankannya.

Lalu muncul kesimpulan:

"Aku memang tidak disiplin."

Padahal, masalahnya mungkin bukan kurangnya disiplin.

Masalahnya adalah target yang dibuat tidak realistis untuk kondisi kita saat ini.

Dalam perubahan perilaku, langkah kecil yang konsisten sering lebih mudah dipertahankan daripada perubahan ekstrem yang hanya bertahan sebentar.

Jadi, jika hidupmu terasa tidak terarah, jangan bertanya:

"Bagaimana caranya memperbaiki seluruh hidupku?"

Pertanyaan itu terlalu besar.

Tanyakan:

"Apa satu hal kecil yang bisa kulakukan hari ini agar hidupku sedikit lebih baik?"

Mungkin hanya:

merapikan kamar selama 10 menit,
berjalan kaki selama 15 menit,
menyelesaikan satu tugas penting,
tidur 30 menit lebih awal,
menelepon seseorang yang kamu sayangi,
membaca beberapa halaman buku,
atau menyelesaikan pekerjaan yang selama ini terus ditunda.

Jangan meremehkan tindakan kecil.

Setiap tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menciptakan pengalaman bahwa "aku masih memiliki kendali atas hidupku."

Dan rasa memiliki kendali tersebut sangat penting ketika kehidupan sedang terasa kacau.

Gunakan prinsip "cukup kecil untuk dilakukan"

Jika targetmu adalah olahraga, jangan langsung memaksakan satu jam setiap hari.

Mulai dengan 10–15 menit.

Jika ingin membaca, mulai dengan lima halaman.

Jika ingin menulis, mulai dengan satu paragraf.

Jika ingin merapikan rumah, pilih satu sudut.

Tujuannya bukan membuktikan bahwa kamu bisa melakukan sesuatu yang luar biasa.

Tujuannya adalah membangun kembali hubungan yang sehat dengan tindakan.

Sedikit demi sedikit.

Hari demi hari.

4. Kurangi Kebiasaan Membandingkan Kehidupanmu dengan Kehidupan Orang Lain

Salah satu sumber kelelahan psikologis yang sering tidak disadari adalah perbandingan sosial.

Kita membuka media sosial dan melihat seseorang membeli rumah.

Orang lain menikah.

Teman mendapatkan pekerjaan baru.

Seseorang memulai bisnis.

Orang lain bepergian ke berbagai negara.

Ada yang tampaknya sudah memiliki kehidupan yang sempurna pada usia yang sama ketika kita masih mencari arah.

Kemudian kita melihat kehidupan sendiri dan merasa tertinggal.

Namun ada satu hal yang sering dilupakan:

Kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan kehidupan orang lain yang kita lihat.

Kita mengetahui semua kegagalan, keraguan, dan hari buruk dalam kehidupan sendiri.

Tetapi kita sering hanya melihat hasil terbaik orang lain.

Perbandingan seperti ini tentu tidak seimbang.

Karena itu, ketika merasa hidup semakin tidak terarah, cobalah mengurangi konsumsi konten yang membuatmu terus-menerus mempertanyakan nilai dirimu sendiri.

Bukan berarti semua media sosial harus ditinggalkan.

Namun kamu bisa lebih sadar terhadap dampaknya.

Setelah melihat akun tertentu, tanyakan:

"Apakah aku merasa terinspirasi atau justru merasa tidak cukup?"

Jika sebuah lingkungan digital secara konsisten membuatmu merasa rendah diri, kamu berhak mengambil jarak.

Dan ketika pikiran mulai berkata:

"Dia sudah sejauh itu, sedangkan aku belum melakukan apa-apa,"

cobalah menggantinya dengan:

"Aku sedang menjalani perjalanan yang berbeda."

Ini bukan berarti kita tidak boleh belajar dari orang lain.

Perbandingan bisa menjadi berguna jika digunakan sebagai informasi.

Tetapi ketika perbandingan berubah menjadi ukuran harga diri, kita mulai kehilangan kemampuan untuk melihat kehidupan sendiri secara objektif.

Kamu tidak harus berada di tempat yang sama dengan orang lain.

Tidak semua kehidupan memiliki jadwal yang sama.

Ada orang yang menemukan arah hidupnya di usia muda.

Ada yang menemukannya setelah bertahun-tahun mencoba.

Ada yang harus memulai kembali.

Ada yang mengubah jalan hidupnya berkali-kali.

Tidak ada satu jadwal universal yang menentukan kapan seseorang harus berhasil.

5. Bangun Kembali Hubungan dengan Orang yang Membuatmu Merasa Menjadi Dirimu Sendiri

Ketika sedang lelah dengan kehidupan, seseorang terkadang memilih menghilang.

Tidak ingin bertemu siapa-siapa.

Tidak ingin bercerita.

Tidak ingin merepotkan orang lain.

Awalnya mungkin terasa nyaman.

Tetapi jika berlangsung terlalu lama, isolasi sosial dapat membuat beban psikologis terasa semakin berat.

Manusia membutuhkan hubungan.

Bukan berarti kita harus memiliki banyak teman.

Satu atau dua hubungan yang aman dan bermakna bisa jauh lebih berharga daripada memiliki banyak kenalan.

Pikirkan orang-orang yang membuatmu merasa nyaman menjadi dirimu sendiri.

Orang yang tidak membuatmu harus selalu terlihat kuat.

Orang yang bisa mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi.

Orang yang membuatmu bisa tertawa bahkan ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.

Jika ada seseorang seperti itu, cobalah menghubunginya.

Tidak perlu membuat percakapan yang panjang.

Kamu bisa mengatakan:

"Aku akhir-akhir ini agak capek. Boleh ngobrol sebentar?"

Kalimat sederhana seperti itu sudah cukup.

Terkadang kita berpikir bahwa meminta dukungan berarti menunjukkan kelemahan.

Padahal, kemampuan untuk mencari dukungan ketika dibutuhkan justru merupakan bagian dari kemampuan menghadapi kehidupan secara sehat.

Hubungan yang baik juga tidak selalu membutuhkan percakapan serius.

Makan bersama.

Berjalan sore.

Minum kopi.

Berolahraga.

Mengobrol tentang hal-hal sederhana.

Semua itu dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak harus dijalani sendirian.

Dan jika kamu sedang berada dalam kondisi yang membuat aktivitas sehari-hari terasa sangat berat, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental juga dapat menjadi pilihan yang tepat.

Mencari bantuan bukan berarti kamu gagal menyelesaikan masalahmu sendiri.

Terkadang kita hanya membutuhkan seseorang yang memiliki perspektif berbeda untuk membantu kita melihat jalan yang sebelumnya tidak terlihat.

6. Latih Diri untuk Menemukan Hal-Hal Kecil yang Masih Layak Disyukuri

Ketika hidup terasa berat, otak kita cenderung lebih mudah memperhatikan masalah.

Kita memikirkan apa yang kurang.

Apa yang salah.

Apa yang belum tercapai.

Apa yang seharusnya terjadi tetapi tidak terjadi.

Akibatnya, hal-hal baik yang masih ada dalam kehidupan bisa menjadi tidak terlihat.

Salah satu latihan psikologis yang dapat membantu adalah gratitude practice, atau latihan rasa syukur.

Namun rasa syukur bukan berarti memaksa diri mengatakan:

"Aku harus bersyukur karena orang lain lebih menderita."

Bukan begitu.

Rasa syukur yang sehat bukan penyangkalan terhadap masalah.

Kamu tetap boleh kecewa.

Tetap boleh sedih.

Tetap boleh mengakui bahwa kehidupan sedang sulit.

Di saat yang sama, kamu dapat melatih perhatian untuk melihat hal-hal kecil yang masih memberikan arti.

Misalnya:

Secangkir kopi di pagi hari.

Percakapan singkat dengan orang yang kamu sayangi.

Tubuh yang masih memungkinkanmu berjalan.

Tempat untuk pulang.

Musik yang membuatmu tenang.

Udara pagi.

Seekor hewan peliharaan yang menyambutmu.

Teman yang mengirim pesan.

Kesempatan untuk mencoba lagi.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana.

Tetapi kehidupan sebenarnya tersusun dari banyak hal sederhana.

Cobalah sebelum tidur menuliskan tiga hal yang kamu hargai dari hari itu.

Tidak perlu sesuatu yang luar biasa.

Bahkan kalimat seperti:

"Hari ini aku sempat tertawa."

atau

"Hari ini aku menyelesaikan satu pekerjaan."

sudah cukup.

Latihan ini bukan tentang berpura-pura bahwa hidup selalu indah.

Ini tentang melatih perhatian agar tidak hanya tertuju pada apa yang hilang.

Jangan Menunggu Hidup Sempurna untuk Mulai Merasa Bahagia

Ada sebuah jebakan yang sering terjadi dalam kehidupan.

Kita mengatakan:

"Aku akan bahagia kalau sudah punya pekerjaan yang lebih baik."

"Aku akan tenang kalau sudah punya cukup uang."

"Aku akan bahagia kalau sudah menemukan pasangan."

"Aku akan menikmati hidup kalau semua masalah selesai."

Masalahnya, kehidupan hampir tidak pernah benar-benar bebas dari masalah.

Ketika satu masalah selesai, masalah lain mungkin muncul.

Ketika satu tujuan tercapai, kita membuat tujuan baru.

Jika kebahagiaan selalu ditempatkan di masa depan, kita akan terus merasa sedang menunggu kehidupan yang sebenarnya belum datang.

Karena itu, belajar menjalani kehidupan saat ini menjadi penting.

Bukan berarti kita berhenti memiliki ambisi.

Bukan berarti kita tidak perlu memperbaiki keadaan.

Justru kita tetap boleh mengejar kehidupan yang lebih baik, sambil belajar menghargai kehidupan yang sedang berlangsung sekarang.

Kamu bisa ingin memiliki karier yang lebih baik dan tetap menikmati makan malam hari ini.

Kamu bisa ingin memiliki lebih banyak uang dan tetap bersyukur atas hal-hal yang sudah kamu miliki.

Kamu bisa ingin menemukan pasangan dan tetap membangun kehidupan yang bermakna ketika masih sendiri.

Kamu bisa ingin mencapai banyak hal tanpa menjadikan pencapaian tersebut sebagai satu-satunya sumber nilai dirimu.

Pada Akhirnya, Kamu Tidak Harus Memiliki Semua Jawaban

Jika saat ini kamu merasa hidupmu tidak terarah, mungkin kamu sedang berada dalam fase transisi.

Dan transisi memang sering terasa membingungkan.

Kamu tidak lagi ingin hidup dengan cara lama, tetapi belum tahu bagaimana menjalani cara yang baru.

Itu bisa terasa menakutkan.

Namun tidak memiliki semua jawaban bukan berarti kamu tidak memiliki masa depan.

Kamu tidak harus mengetahui seluruh jalan.

Kamu hanya perlu mengetahui langkah berikutnya.

Hari ini mungkin langkahnya adalah beristirahat.

Besok mungkin menyelesaikan satu pekerjaan.

Lusa mungkin berbicara dengan seseorang.

Minggu depan mungkin mulai memikirkan kembali apa yang sebenarnya kamu inginkan.

Tidak apa-apa jika prosesnya lambat.

Tidak apa-apa jika kamu harus mengulang.

Tidak apa-apa jika beberapa rencana tidak berhasil.

Hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang pertama yang sampai di suatu tempat.

Yang lebih penting adalah apakah kehidupan yang kamu jalani perlahan mulai terasa seperti kehidupan yang memang ingin kamu jalani.

Jadi, jika akhir-akhir ini kamu merasa lelah, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hidupmu gagal.

Berhentilah sejenak.

Tarik napas.

Dengarkan dirimu sendiri.

Kenali apa yang kamu rasakan.

Kembali kepada nilai-nilai yang penting.

Pilih satu langkah kecil.

Kurangi perbandingan.

Dekatkan diri dengan orang-orang yang berarti.

Dan jangan lupa memperhatikan hal-hal kecil yang masih baik.

Mungkin hidupmu belum berada di tempat yang kamu inginkan.

Tetapi itu tidak berarti semuanya sudah terlambat.

Kamu masih bisa menata ulang arah.

Pelan-pelan.

Satu keputusan.

Satu kebiasaan.

Satu hari pada satu waktu.

Karena terkadang, kehidupan yang terasa lebih bahagia tidak dimulai dengan perubahan besar.

Ia dimulai ketika seseorang akhirnya berkata kepada dirinya sendiri:

"Aku tidak harus menyelesaikan seluruh hidupku hari ini. Aku hanya perlu mengambil satu langkah yang benar untuk hari ini."***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore