seseorang yang menginginkan cinta / foto: Magnific/katemangostar
Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan menarik: mengapa sebagian pria lajang yang mengalami kesepian tampaknya lebih kuat menginginkan hubungan romantis dibandingkan perempuan?
Psikologi tidak memberikan jawaban sederhana bahwa pria "lebih membutuhkan cinta" atau perempuan "lebih tahan kesepian". Kenyataannya jauh lebih kompleks. Perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan cara seseorang membangun hubungan sosial, mengekspresikan emosi, mencari dukungan, serta peran budaya yang membentuk perilaku laki-laki dan perempuan sejak kecil.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (18/9), terdapat enam penjelasan psikologis yang dapat membantu memahami fenomena tersebut.
1. Bagi sebagian pria, pasangan romantis menjadi sumber utama kedekatan emosional
Salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa jumlah hubungan sosial tidak selalu sama dengan kualitas kedekatan emosional.
Seorang pria bisa mempunyai banyak teman, rekan kerja, atau pengikut di media sosial, tetapi belum tentu memiliki seseorang yang benar-benar menjadi tempat untuk berbicara tentang ketakutan, kegagalan, rasa tidak aman, dan masalah pribadi.
Dalam banyak budaya, termasuk budaya yang menekankan maskulinitas, pria sejak kecil sering menerima pesan bahwa mereka harus kuat, mandiri, tidak terlalu emosional, dan mampu menyelesaikan masalah sendiri.
Akibatnya, sebagian pria tidak terbiasa membangun banyak hubungan yang sangat intim secara emosional dengan teman sesama pria.
Ketika mereka tidak mempunyai pasangan, kekosongan tersebut dapat terasa lebih besar.
Perempuan, secara rata-rata, sering kali lebih terbiasa mempertahankan jaringan dukungan sosial yang beragam. Seorang perempuan mungkin mempunyai sahabat dekat, saudara perempuan, keluarga, atau kelompok pertemanan yang menjadi tempat berbagi cerita dan mendapatkan dukungan emosional.
Ini bukan berarti semua perempuan mempunyai jaringan sosial yang lebih baik atau semua pria tidak mampu terbuka. Namun, jika seorang pria telah menjadikan pasangan romantis sebagai salah satu-satunya tempat untuk memperoleh kedekatan emosional, kehilangan pasangan dapat membuat rasa kesepian menjadi jauh lebih intens.
Dengan kata lain, masalahnya bukan semata-mata karena pria "lebih membutuhkan cinta".
Bisa jadi, bagi sebagian pria, cinta romantis telah menjadi salah satu-satunya saluran utama untuk mendapatkan keintiman.
2. Kesepian pria sering kali tersembunyi di balik kemandirian
Kesepian tidak selalu terlihat seperti seseorang yang menangis atau mengeluh bahwa dirinya tidak mempunyai teman.
Pada pria, kesepian dapat muncul dalam bentuk yang jauh lebih tersamar.
Ia mungkin terus bekerja.
Ia memenuhi waktunya dengan olahraga.
Ia bermain gim berjam-jam.
Ia sibuk dengan bisnis.
Ia sering keluar bersama teman.
Ia aktif di media sosial.
Dari luar, kehidupannya terlihat penuh.
Namun, kesibukan tidak selalu menghilangkan kebutuhan manusia akan kedekatan emosional.
Psikologi sosial mengenal perbedaan antara kesendirian secara fisik dan kesepian secara subjektif. Seseorang dapat berada sendirian tetapi merasa nyaman. Sebaliknya, seseorang dapat berada di tengah banyak orang tetapi tetap merasa tidak dipahami.
Bagi pria yang tidak terbiasa membicarakan perasaannya, kesepian bahkan dapat sulit dikenali oleh dirinya sendiri.
Ia mungkin tidak mengatakan:
"Aku merasa kesepian."
Sebaliknya, perasaan tersebut dapat muncul sebagai:
"Aku ingin punya seseorang."
Atau:
"Aku ingin pulang dan ada yang menungguku."
Atau bahkan:
"Aku ingin punya pasangan."
Keinginan tersebut sebenarnya bisa menjadi ekspresi dari kebutuhan yang lebih mendasar: ingin merasa dekat, dipahami, diterima, dan mempunyai seseorang yang dianggap penting dalam kehidupannya.
Karena itu, ketika seorang pria lajang mulai mengalami kesepian kronis, keinginan terhadap hubungan romantis bisa menjadi semakin kuat.
3. Pasangan romantis dapat memenuhi beberapa kebutuhan sekaligus
Hubungan romantis memiliki karakteristik yang membuatnya sangat kuat secara psikologis.
Dalam satu hubungan, seseorang bisa mendapatkan berbagai bentuk kebutuhan sosial sekaligus: kasih sayang, perhatian, sentuhan fisik, dukungan emosional, companionship, validasi, rasa memiliki, dan keintiman.
Bagi sebagian pria lajang, kebutuhan-kebutuhan tersebut mungkin tidak tersedia melalui hubungan sosial lainnya.
Bayangkan seorang pria yang tinggal sendirian.
Setelah bekerja, ia pulang ke rumah tanpa seseorang yang bertanya bagaimana harinya.
Ketika mengalami masalah, ia tidak mempunyai orang yang secara rutin menjadi tempat berbagi.
Ketika mendapatkan kabar baik, tidak ada pasangan yang secara otomatis menjadi orang pertama yang ingin ia hubungi.
Ketika sedang sakit, tidak ada seseorang yang memberikan perhatian secara langsung.
Kesepian dalam situasi seperti ini bukan hanya tentang "tidak punya pacar".
Yang hilang adalah serangkaian pengalaman kedekatan yang biasanya hadir dalam kehidupan berpasangan.
Itulah sebabnya keinginan untuk memiliki pasangan terkadang menjadi sangat kuat.
Bukan karena hubungan romantis merupakan satu-satunya bentuk kebahagiaan, tetapi karena hubungan tersebut dapat memenuhi banyak kebutuhan psikologis secara bersamaan.
4. Pria mungkin lebih kehilangan manfaat hubungan ketika hubungan itu berakhir
Ada temuan dalam penelitian tentang hubungan dan kesepian yang menunjukkan bahwa dampak kehilangan pasangan tidak selalu sama bagi pria dan perempuan.
Salah satu penjelasannya kembali pada struktur jaringan sosial.
Jika seseorang mempunyai banyak sumber dukungan—pasangan, sahabat dekat, keluarga, komunitas, dan sebagainya—maka kehilangan satu hubungan memang menyakitkan, tetapi masih ada sumber hubungan lainnya.
Sebaliknya, apabila pasangan merupakan pusat dari hampir seluruh kehidupan sosial seseorang, berakhirnya hubungan dapat menciptakan perubahan yang sangat besar.
Ini dapat terjadi pada pria yang selama bertahun-tahun secara perlahan mengalihkan sebagian besar kehidupan sosialnya ke dalam hubungan romantis.
Sebelum mempunyai pasangan, mungkin ia sering bertemu teman.
Setelah memiliki pasangan, frekuensi tersebut menurun.
Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama pasangan.
Hubungan dengan teman menjadi lebih jarang.
Kontak sosial dengan keluarga mungkin juga berkurang.
Kemudian hubungan romantis berakhir.
Tiba-tiba, bukan hanya pasangan yang hilang.
Seluruh ekosistem sosialnya ikut menyusut.
Dalam kondisi seperti itu, rasa kehilangan dapat menjadi sangat besar.
Hal tersebut membantu menjelaskan mengapa seorang pria yang baru saja putus terkadang terlihat sangat ingin segera menemukan pasangan baru. Keinginan tersebut tidak selalu berarti ia belum selesai dengan hubungan sebelumnya. Bisa juga karena kehidupan sosial dan emosionalnya telah sangat terpusat pada hubungan romantis tersebut.
5. Norma maskulinitas dapat membuat pria lebih sulit mencari bantuan emosional
Ada paradoks yang menarik dalam psikologi laki-laki.
Di satu sisi, manusia membutuhkan kedekatan.
Di sisi lain, sebagian pria tumbuh dengan keyakinan bahwa menunjukkan kerentanan adalah sesuatu yang harus dihindari.
Pesan seperti "jangan cengeng", "harus kuat", "jangan terlalu banyak mengeluh", atau "selesaikan sendiri" dapat memengaruhi cara seorang pria menghadapi kesulitan emosional.
Akibatnya, seorang pria mungkin mempunyai masalah tetapi tidak membicarakannya dengan teman.
Ia merasa stres tetapi tidak mencari dukungan.
Ia merasa kesepian tetapi menyimpannya sendiri.
Namun kebutuhan emosional tidak menghilang hanya karena seseorang tidak membicarakannya.
Justru ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam waktu lama, hubungan romantis dapat terlihat seperti solusi yang sangat menarik.
Seorang pria mungkin berpikir:
"Kalau aku punya pasangan, aku tidak akan merasa sendirian lagi."
Pikiran tersebut dapat dimengerti, tetapi ada satu hal yang perlu diperhatikan: pasangan tidak seharusnya menjadi satu-satunya sumber dukungan emosional.
Hubungan yang sehat biasanya menjadi bagian dari kehidupan sosial yang lebih luas, bukan pengganti seluruh jaringan sosial seseorang.
Memiliki sahabat, hubungan keluarga, komunitas, aktivitas sosial, dan ruang untuk mengekspresikan emosi dapat membantu seseorang menjadi lebih tangguh secara psikologis—baik ketika lajang maupun ketika berada dalam hubungan.
6. Kerinduan terhadap cinta sebenarnya sering merupakan kerinduan terhadap "rasa memiliki"
Alasan terakhir mungkin yang paling mendasar.
Manusia mempunyai kebutuhan psikologis untuk merasa bahwa dirinya terhubung dengan orang lain.
Kita ingin dicintai.
Kita ingin dianggap penting.
Kita ingin mempunyai seseorang yang mengenal kita secara mendalam.
Kita ingin mempunyai tempat di mana kita merasa diterima tanpa harus terus-menerus membuktikan diri.
Bagi sebagian pria lajang, kebutuhan tersebut baru terasa sangat jelas ketika kehidupan menjadi sunyi.
Pada siang hari, pekerjaan dapat mengalihkan perhatian.
Pada sore hari, olahraga atau aktivitas lain membuat pikiran tetap sibuk.
Tetapi ketika semuanya selesai, kesunyian dapat membuat seseorang berhadapan dengan kebutuhan emosional yang selama ini diabaikan.
Itulah mengapa seseorang bisa tiba-tiba merasa:
"Aku tidak hanya ingin punya pacar. Aku ingin dicintai."
Perbedaannya penting.
Keinginan untuk mempunyai pasangan dapat berasal dari berbagai motivasi. Seseorang mungkin menginginkan status hubungan, seks, companionship, keluarga, atau validasi.
Tetapi pada tingkat yang lebih dalam, keinginan tersebut dapat berhubungan dengan kebutuhan manusia yang sangat universal: belongingness, yaitu kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari kehidupan orang lain dan memiliki hubungan yang bermakna.
Dan kebutuhan tersebut sebenarnya tidak hanya dimiliki pria.
Perempuan juga mengalaminya.
Jadi, Apakah Pria Memang Lebih Menginginkan Cinta daripada Perempuan?
Jawabannya tidak sesederhana "ya".
Psikologi tidak mendukung kesimpulan bahwa semua pria lebih membutuhkan cinta daripada semua perempuan.
Perbedaan yang terlihat pada sebagian kelompok pria dan perempuan kemungkinan merupakan hasil interaksi banyak faktor: kepribadian, usia, pengalaman hubungan, budaya, kualitas persahabatan, pola komunikasi emosional, kondisi sosial, serta bagaimana seseorang membangun jaringan dukungan.
Ada pria yang sangat nyaman hidup sendiri dan memiliki hubungan persahabatan yang sangat kuat.
Ada perempuan yang merasa sangat kesepian meskipun mempunyai banyak teman.
Ada pula orang yang sangat membutuhkan hubungan romantis terlepas dari jenis kelaminnya.
Karena itu, lebih tepat jika kita mengatakan bahwa sebagian pria lajang dapat mengalami kebutuhan terhadap hubungan romantis dengan sangat kuat, terutama ketika pasangan sebelumnya telah menjadi sumber utama keintiman dan dukungan emosional mereka.
Kesepian Bukan Berarti Ada yang Salah dengan Diri Seseorang
Merasa kesepian bukan tanda kelemahan.
Kesepian adalah sinyal bahwa kebutuhan sosial dan emosional seseorang mungkin belum terpenuhi.
Masalahnya muncul ketika seseorang menganggap bahwa satu-satunya obat untuk kesepian adalah mendapatkan pasangan.
Hubungan romantis memang dapat memberikan kedekatan yang luar biasa. Tetapi hubungan tersebut juga membutuhkan kemampuan berkomunikasi, mengelola konflik, memberikan dukungan, menjaga batasan, dan mempertahankan identitas pribadi.
Karena itu, seorang pria yang sedang lajang tidak harus buru-buru mencari seseorang hanya karena merasa kesepian.
Ia juga dapat mulai membangun kehidupan sosial yang lebih kaya.
Menghubungi teman lama.
Membangun persahabatan yang lebih dekat.
Menghabiskan waktu bersama keluarga.
Bergabung dengan komunitas.
Menekuni aktivitas yang memungkinkan interaksi sosial.
Dan yang tidak kalah penting, belajar membicarakan perasaan tanpa menganggap kerentanan sebagai kelemahan.
Ironisnya, ketika seseorang mampu membangun kehidupan emosional yang sehat tanpa bergantung sepenuhnya pada pasangan, ia justru dapat memasuki hubungan romantis dengan lebih sehat.
Ia tidak mencari seseorang untuk "menyelamatkan" dirinya dari kesepian.
Ia mencari seseorang untuk berbagi kehidupan yang sudah bermakna.
Kesimpulan
Keinginan pria lajang terhadap cinta sering kali bukan sekadar tentang keinginan memiliki pacar. Di baliknya dapat terdapat kebutuhan yang jauh lebih dalam: kebutuhan untuk ditemani, didengar, disentuh, dihargai, dipahami, dan merasa menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang.
Perbedaan antara pria dan perempuan dalam hal ini tidak bisa dijelaskan hanya dengan jenis kelamin. Cara seseorang dibesarkan, kualitas persahabatan, norma sosial, pengalaman hubungan, serta kemampuan mengekspresikan emosi semuanya ikut berperan.
Jadi, ketika seorang pria lajang berkata bahwa ia sangat merindukan cinta, mungkin yang sebenarnya ia rindukan bukan sekadar "seorang perempuan".
Ia mungkin sedang merindukan perasaan bahwa dirinya dicintai, dibutuhkan, dipahami, dan tidak harus menghadapi hidup seorang diri.
Dan pada akhirnya, kebutuhan tersebut bukanlah kebutuhan pria atau perempuan semata.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022