Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 September 2026 | 03.10 WIB

6 Alasan Mengapa Sebagian Orang Berteriak ketika Berbicara di Tempat Umum Menurut Psikologi

seseorang yang berteriak di tempat umum / foto: Magnific/carlosbarquero

 

JawaPos.com - Pernahkah Anda berada di tempat umum—di restoran, ruang tunggu, kantor, kendaraan umum, atau sebuah acara—lalu mendapati seseorang berbicara dengan suara yang jauh lebih keras daripada orang-orang di sekitarnya?

Menariknya, orang tersebut belum tentu sedang marah. Ada orang yang memang terbiasa berbicara keras, bahkan ketika topik pembicaraannya biasa saja. Dalam situasi tertentu, suara keras juga bisa muncul karena kegembiraan, rasa gugup, keinginan untuk mendapatkan perhatian, atau karena seseorang tidak menyadari seberapa keras suaranya terdengar bagi orang lain.

Dalam psikologi, perilaku berbicara dengan suara keras tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu penyebab. Cara seseorang menggunakan volume suara dipengaruhi oleh kepribadian, pengalaman hidup, lingkungan sosial, kondisi emosional, hingga kemampuan membaca situasi.

Lalu, mengapa sebagian orang cenderung berteriak atau berbicara sangat keras ketika berada di tempat umum?

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (18/9), terdapat enam kemungkinan penjelasannya.

1. Mereka terbiasa dengan lingkungan komunikasi yang keras

Salah satu alasan paling sederhana adalah kebiasaan.

Cara seseorang berbicara sering kali terbentuk dari lingkungan tempat ia tumbuh dan berinteraksi. Jika sejak kecil seseorang terbiasa berada di lingkungan yang penuh suara keras—misalnya keluarga besar, lingkungan kerja yang ramai, pasar, tempat usaha, atau komunitas yang komunikasinya ekspresif—berbicara dengan volume tinggi dapat terasa normal baginya.

Masalahnya, standar "suara normal" setiap orang tidak selalu sama.

Seseorang mungkin merasa dirinya hanya berbicara dengan volume biasa, sementara orang di sebelahnya merasa bahwa ia sedang berteriak.

Kebiasaan ini dapat berlangsung begitu lama sehingga orang tersebut tidak lagi secara sadar memikirkan volume suaranya.

Dalam psikologi perilaku, pengalaman berulang dapat membentuk pola yang kemudian dilakukan secara otomatis. Karena itu, seseorang tidak selalu berbicara keras dengan tujuan mengganggu orang lain.

Ia mungkin hanya menggunakan pola komunikasi yang sudah dikenalnya sejak lama.

Hal ini juga menjelaskan mengapa seseorang bisa berbicara keras di berbagai situasi tanpa menunjukkan tanda-tanda kemarahan.

2. Mereka ingin mendapatkan perhatian atau memastikan dirinya didengar

Suara keras memiliki satu fungsi komunikasi yang sangat jelas: membuat pesan lebih mudah terdengar.

Di tempat umum yang ramai, seseorang mungkin secara otomatis meningkatkan volume suara agar lawan bicaranya tidak kehilangan informasi.

Namun pada sebagian orang, perilaku tersebut bisa berkembang menjadi pola yang lebih luas. Berbicara keras dapat menjadi cara untuk memastikan dirinya mendapatkan perhatian dari orang lain.

Ketika seseorang berbicara dengan volume tinggi, orang-orang di sekitarnya cenderung lebih mudah menyadari keberadaannya. Secara sosial, hal tersebut dapat membuat seseorang merasa lebih terlihat atau didengarkan.

Tidak berarti setiap orang yang berbicara keras sedang mencari perhatian. Tetapi bagi sebagian orang, volume suara dapat menjadi bagian dari cara mereka mempertahankan posisi dalam percakapan.

Misalnya, dalam kelompok yang banyak orangnya berbicara sekaligus, seseorang mungkin menaikkan volume suaranya karena merasa jika berbicara dengan volume normal, ia akan kalah oleh suara orang lain.

Akhirnya terbentuk semacam siklus:

tidak terdengar → suara dinaikkan → berhasil mendapatkan perhatian → pola tersebut semakin sering digunakan.

Dalam jangka panjang, perilaku itu dapat menjadi kebiasaan bahkan ketika situasinya sebenarnya tidak lagi membutuhkan suara keras.

3. Rasa gugup atau cemas dapat memengaruhi cara berbicara

Berbicara di depan atau di tengah banyak orang dapat membuat sebagian orang merasa tidak nyaman.

Menariknya, rasa gugup tidak selalu membuat seseorang menjadi pendiam. Pada sebagian orang, kecemasan justru dapat muncul dalam bentuk bicara terlalu banyak, terlalu cepat, atau terlalu keras.

Ketika seseorang merasa tegang, tubuh mengalami peningkatan aktivasi fisiologis. Perubahan tersebut dapat memengaruhi berbagai aspek perilaku, termasuk cara seseorang mengatur suara dan kecepatan berbicara.

Orang yang gugup mungkin tidak sepenuhnya menyadari bahwa volume suaranya meningkat.

Ia terlalu fokus pada isi pembicaraan, bagaimana dirinya diterima oleh orang lain, atau bagaimana percakapan tersebut akan berlangsung.

Akibatnya, perhatian terhadap aspek-aspek kecil seperti volume suara menjadi berkurang.

Contohnya dapat terlihat ketika seseorang harus memperkenalkan diri dalam sebuah kelompok baru. Pada awalnya ia mungkin berbicara dengan suara sangat keras dan cepat. Setelah merasa lebih nyaman, volume suaranya perlahan kembali normal.

Karena itu, suara keras tidak selalu menunjukkan kepercayaan diri. Dalam beberapa situasi, perilaku tersebut justru dapat berkaitan dengan ketegangan atau kegugupan.

4. Emosi yang kuat membuat volume suara meningkat

Emosi memiliki hubungan erat dengan cara manusia berkomunikasi.

Ketika seseorang merasa sangat senang, bersemangat, terkejut, kesal, takut, atau marah, perubahan emosional dapat terlihat melalui intonasi, kecepatan bicara, ekspresi wajah, dan volume suara.

Itulah sebabnya orang yang sedang menceritakan pengalaman yang sangat menyenangkan terkadang berbicara jauh lebih keras daripada biasanya.

Begitu pula seseorang yang sedang marah dapat menaikkan volume suara untuk menekankan ketidaksetujuannya.

Dalam konteks ini, suara keras merupakan bagian dari ekspresi emosi.

Namun penting untuk membedakan antara berbicara keras karena emosi dan berteriak sebagai bentuk agresi.

Tidak semua peningkatan volume suara berarti seseorang sedang menyerang atau mengintimidasi orang lain. Konteks sangat menentukan.

Perhatikan pula bahasa tubuh, pilihan kata, ekspresi wajah, serta arah pembicaraan.

Seseorang yang tertawa, antusias, dan berbicara keras ketika menceritakan sesuatu kemungkinan sedang menunjukkan kegembiraan. Sebaliknya, seseorang yang menggunakan suara keras disertai ancaman, penghinaan, atau gerakan agresif berada dalam konteks yang berbeda.

Dengan kata lain, volume suara sebaiknya tidak ditafsirkan secara terpisah dari perilaku lainnya.

5. Mereka kurang menyadari norma sosial dalam situasi tertentu

Setiap tempat memiliki aturan sosial yang tidak selalu tertulis.

Di stadion, konser, atau pasar yang ramai, suara keras mungkin dianggap wajar. Namun di perpustakaan, ruang ibadah, ruang rapat, atau ruang tunggu yang tenang, volume yang sama dapat dianggap mengganggu.

Kemampuan untuk menyesuaikan perilaku dengan situasi merupakan bagian penting dari interaksi sosial.

Sebagian orang lebih cepat menangkap perubahan suasana dan menyesuaikan volume suaranya. Sebagian lainnya mungkin membutuhkan waktu lebih lama atau bahkan tidak menyadari bahwa perilakunya sudah tidak sesuai dengan lingkungan.

Ada juga orang yang begitu terlibat dalam percakapan sehingga perhatian mereka tertuju sepenuhnya kepada lawan bicara. Mereka lupa memperhatikan orang-orang lain di sekitarnya.

Misalnya, dua orang sedang membicarakan pengalaman pribadi di sebuah kafe. Karena percakapan semakin menarik, volume suara mereka meningkat secara bertahap. Mereka mungkin baru menyadarinya setelah orang lain menoleh atau setelah teman mereka memberikan isyarat.

Dalam situasi seperti ini, perilaku tersebut belum tentu menunjukkan kurangnya rasa hormat. Bisa saja masalahnya adalah rendahnya kesadaran terhadap konteks sosial pada saat itu.

6. Ada faktor pendengaran atau kondisi lain yang membuat seseorang berbicara keras

Tidak semua kebiasaan berbicara keras berasal dari faktor kepribadian atau psikologis.

Kemampuan mendengar juga dapat berpengaruh.

Seseorang yang mengalami gangguan pendengaran mungkin tidak memperoleh umpan balik suara secara normal. Akibatnya, ia dapat berbicara dengan volume lebih tinggi karena merasa bahwa suara tersebut diperlukan agar dirinya dapat mendengar atau merasakan suaranya sendiri.

Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang berada di lingkungan yang sangat bising.

Ada pula kondisi tertentu yang dapat memengaruhi regulasi bicara, perhatian, atau kontrol terhadap perilaku. Karena itu, terlalu cepat menyimpulkan bahwa orang yang berbicara keras adalah "suka cari perhatian", "sombong", atau "tidak tahu diri" dapat menjadi penilaian yang tidak akurat.

Dalam psikologi, perilaku sebaiknya dipahami berdasarkan konteks dan pola, bukan hanya satu ciri yang terlihat dari luar.

Jika seseorang tiba-tiba mengalami perubahan yang mencolok dalam cara berbicaranya, terutama bila disertai perubahan kemampuan mendengar atau gejala lain, faktor kesehatan juga layak dipertimbangkan.

Berbicara keras tidak selalu berarti orang tersebut kasar

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam kehidupan sosial adalah menganggap perilaku yang terlihat mengganggu sebagai gambaran langsung tentang kepribadian seseorang.

Padahal, perilaku yang sama dapat memiliki penyebab berbeda.

Dua orang sama-sama berbicara keras, tetapi alasannya bisa sangat berbeda.

Orang pertama mungkin memang terbiasa dengan volume suara tinggi. Orang kedua mungkin sedang gugup. Orang ketiga mungkin kesulitan mendengar. Orang keempat sedang sangat bersemangat. Orang kelima mungkin sedang berada di lingkungan yang terlalu bising.

Dari luar, semuanya terlihat sama.

Namun proses psikologis di baliknya belum tentu sama.

Karena itu, memahami konteks menjadi penting sebelum memberikan label terhadap seseorang.

Bagaimana menghadapi orang yang berbicara terlalu keras?

Jika Anda merasa terganggu oleh seseorang yang berbicara terlalu keras, komunikasi langsung biasanya lebih efektif daripada langsung memberikan penilaian negatif.

Anda dapat menyampaikannya secara sederhana:

"Boleh sedikit pelan? Di sini cukup tenang, jadi suaranya terdengar cukup keras."

Cara tersebut memberikan informasi mengenai perilakunya tanpa menyerang karakter pribadinya.

Jika orang tersebut tidak menyadari volume suaranya, pemberitahuan sederhana mungkin sudah cukup.

Sebaliknya, jika seseorang terus berbicara keras dalam situasi yang memang membutuhkan ketenangan, batasan yang lebih jelas dapat disampaikan dengan tetap menjaga nada bicara.

Yang penting adalah membedakan antara mengkritik perilaku dan menyerang kepribadian.

Mengatakan "suaranya terlalu keras untuk ruangan ini" berbeda dengan mengatakan "kamu memang orang yang menyebalkan."

Yang pertama memberikan informasi mengenai perilaku yang dapat diperbaiki. Yang kedua memberikan label terhadap pribadi seseorang.

Kesimpulan

Sebagian orang berbicara keras di tempat umum karena berbagai alasan. Kebiasaan dari lingkungan, keinginan untuk didengar, rasa gugup, emosi yang kuat, kurangnya kesadaran terhadap norma situasi, hingga faktor pendengaran dapat berperan.

Yang menarik, perilaku yang sama tidak selalu memiliki makna psikologis yang sama.

Karena itu, ketika melihat seseorang berbicara sangat keras, kita sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa ia sedang marah, mencari perhatian, sombong, atau tidak menghargai orang lain.

Perilaku yang terlihat sederhana sering kali memiliki latar belakang yang lebih kompleks.

Memahami hal tersebut bukan berarti membenarkan perilaku yang mengganggu. Namun, dengan memahami kemungkinan penyebabnya, kita dapat merespons secara lebih proporsional—menetapkan batas ketika diperlukan sekaligus menghindari penilaian yang terburu-buru terhadap orang lain.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore