Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 September 2026 | 03.37 WIB

8 Kebiasaan Ini Akan Dibawa Anak Ketika Tumbuh dengan Orang Tua yang Mudah Berteriak saat Emosi

Ilustrasi orang tua yang sedang emosi (magnific)

JawaPos.com - Anak yang tumbuh bersama orang tua yang mudah berteriak saat emosi dapat membawa sejumlah kebiasaan hingga dewasa. Kenali 8 pola yang mungkin muncul.

Rumah seharusnya menjadi tempat pertama bagi seorang anak untuk merasa aman, didengarkan, dan belajar memahami emosinya. 

Namun, ketika orang tua sering berteriak setiap kali marah, kecewa, atau menghadapi tekanan, anak dapat belajar bahwa emosi adalah sesuatu yang harus diwaspadai.

Bagi anak, suara keras bukan sekadar suara. Jika terjadi berulang kali, teriakan dapat dikaitkan dengan konflik, hukuman, ketakutan, atau ancaman sehingga anak memilih berbagai cara untuk menghindari situasi tersebut.

Ketika tumbuh dewasa, pengalaman itu terkadang masih terbawa dalam bentuk kebiasaan tertentu. 

Seseorang mungkin menjadi terlalu berhati-hati ketika berbicara, sulit menerima kritik, mudah cemas saat terjadi konflik, atau bahkan terbiasa mengutamakan perasaan orang lain demi menjaga suasana tetap tenang.

Dirangkum dari laman YourTango, artikel ini membahas sejumlah pola yang dapat terbawa hingga dewasa pada anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan kebiasaan berteriak saat menghadapi emosi.

Namun perlu ditekankan bahwa delapan kebiasaan berikut bukan diagnosis dan tidak berarti setiap anak yang pernah dibentak pasti akan mengalaminya. 

Pengalaman seseorang sangat dipengaruhi banyak faktor, termasuk dukungan sosial, kepribadian, lingkungan, serta pengalaman positif yang diperoleh setelah masa kanak-kanak.

Selengkapnya, inilah 8 pola yang mungkin muncul saat anak tumbuh bersama orang tua yang mudah berteriak saat emosi. 

1. Terbiasa Menyembunyikan Perasaan yang Rumit

Anak yang sering menghadapi teriakan orang tua dapat belajar bahwa mengungkapkan perasaan berisiko memicu masalah baru. Ketika setiap keluhan, pertanyaan, atau ketidaksetujuan berpotensi dibalas dengan suara keras, diam akhirnya terasa seperti pilihan yang paling aman.

Kebiasaan ini dapat terbawa hingga dewasa. Seseorang mungkin sebenarnya sedang kecewa, terluka, takut, atau marah, tetapi memilih mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja karena tidak ingin memicu konflik.

Menurut artikel YourTango, anak yang terbiasa menghadapi teriakan dapat mengalami kesulitan mengekspresikan perasaan secara terbuka dan cenderung menekan kebutuhan emosionalnya demi menghindari pertengkaran.

Masalahnya, menekan emosi tidak selalu membuat emosi tersebut menghilang.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore