Ilustrasi orang tua yang sedang emosi (magnific)
JawaPos.com - Anak yang tumbuh bersama orang tua yang mudah berteriak saat emosi dapat membawa sejumlah kebiasaan hingga dewasa. Kenali 8 pola yang mungkin muncul.
Rumah seharusnya menjadi tempat pertama bagi seorang anak untuk merasa aman, didengarkan, dan belajar memahami emosinya.
Namun, ketika orang tua sering berteriak setiap kali marah, kecewa, atau menghadapi tekanan, anak dapat belajar bahwa emosi adalah sesuatu yang harus diwaspadai.
Bagi anak, suara keras bukan sekadar suara. Jika terjadi berulang kali, teriakan dapat dikaitkan dengan konflik, hukuman, ketakutan, atau ancaman sehingga anak memilih berbagai cara untuk menghindari situasi tersebut.
Ketika tumbuh dewasa, pengalaman itu terkadang masih terbawa dalam bentuk kebiasaan tertentu.
Seseorang mungkin menjadi terlalu berhati-hati ketika berbicara, sulit menerima kritik, mudah cemas saat terjadi konflik, atau bahkan terbiasa mengutamakan perasaan orang lain demi menjaga suasana tetap tenang.
Dirangkum dari laman YourTango, artikel ini membahas sejumlah pola yang dapat terbawa hingga dewasa pada anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan kebiasaan berteriak saat menghadapi emosi.
Namun perlu ditekankan bahwa delapan kebiasaan berikut bukan diagnosis dan tidak berarti setiap anak yang pernah dibentak pasti akan mengalaminya.
Pengalaman seseorang sangat dipengaruhi banyak faktor, termasuk dukungan sosial, kepribadian, lingkungan, serta pengalaman positif yang diperoleh setelah masa kanak-kanak.
Selengkapnya, inilah 8 pola yang mungkin muncul saat anak tumbuh bersama orang tua yang mudah berteriak saat emosi.
Anak yang sering menghadapi teriakan orang tua dapat belajar bahwa mengungkapkan perasaan berisiko memicu masalah baru. Ketika setiap keluhan, pertanyaan, atau ketidaksetujuan berpotensi dibalas dengan suara keras, diam akhirnya terasa seperti pilihan yang paling aman.
Kebiasaan ini dapat terbawa hingga dewasa. Seseorang mungkin sebenarnya sedang kecewa, terluka, takut, atau marah, tetapi memilih mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja karena tidak ingin memicu konflik.
Menurut artikel YourTango, anak yang terbiasa menghadapi teriakan dapat mengalami kesulitan mengekspresikan perasaan secara terbuka dan cenderung menekan kebutuhan emosionalnya demi menghindari pertengkaran.
Masalahnya, menekan emosi tidak selalu membuat emosi tersebut menghilang.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Espanyol vs Sevilla di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Malaga vs Levante: Laga Sengit yang Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Cagliari vs Lecce di Liga Italia: Duel Ketat di Sardinia Bisa Berakhir Imbang
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Heerenveen vs AZ Alkmaar di Liga Belanda: Kans De Kaasboeren Pesta Gol!
Dr. Iwan Aflanie, Pakar Forensik Indonesia untuk ULM yang Lebih Maju
