Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 September 2026 | 03.40 WIB

7 Hal yang Sebaiknya Lebih Sering Kamu Katakan kepada Pasangan, Jika Ingin Hubungan Lebih Langgeng

seseorang yang memiliki hubungan yang langgeng / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Dalam hubungan jangka panjang, cinta tidak hanya ditunjukkan melalui hadiah, perhatian besar, atau momen romantis. Sering kali, justru kalimat-kalimat sederhana yang diucapkan setiap hari memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana seseorang merasa dicintai, dihargai, dan aman bersama pasangannya.

Sayangnya, semakin lama sebuah hubungan berjalan, semakin banyak hal yang dianggap "sudah pasti". Kita mengira pasangan sudah tahu bahwa dirinya dicintai. Kita merasa tidak perlu lagi mengucapkan terima kasih karena toh pasangan sudah melakukan hal yang sama setiap hari. Kita juga terkadang menganggap permintaan maaf atau ungkapan penghargaan sebagai sesuatu yang sepele.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (17/9), dalam psikologi hubungan, komunikasi sehari-hari merupakan salah satu bagian penting dari kualitas hubungan. Cara pasangan berbicara, merespons, menghargai, dan menunjukkan perhatian dapat ikut membentuk rasa aman emosional di dalam hubungan.

Bukan berarti setiap masalah dapat diselesaikan hanya dengan kata-kata. Hubungan yang sehat tetap membutuhkan tindakan, kepercayaan, batasan yang sehat, kemampuan menyelesaikan konflik, serta komitmen dari kedua belah pihak.

Namun, kata-kata yang tepat dapat menjadi "jembatan" yang membuat tindakan tersebut terasa lebih bermakna.

Lalu, apa saja kalimat yang sebaiknya lebih sering kita katakan kepada pasangan?

1. "Terima kasih sudah melakukan itu."

Kalimat ini terdengar sangat sederhana. Namun, dalam hubungan jangka panjang, apresiasi sering kali justru menjadi salah satu hal yang paling mudah dilupakan.

Pada awal hubungan, kita mungkin memperhatikan hampir semua hal yang dilakukan pasangan. Ketika ia mengantar kita pulang, membawakan makanan, mengingat sesuatu yang kita sukai, atau sekadar bertanya apakah kita sudah makan, kita merasa tersentuh.

Setelah bertahun-tahun bersama, tindakan yang sama dapat berubah menjadi rutinitas.

Pasangan menyiapkan sarapan? Biasa.

Menjemput setelah bekerja? Biasa.

Mengingat jadwal penting kita? Biasa.

Mendengarkan cerita kita setelah hari yang melelahkan? Biasa.

Masalahnya, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan bagi satu orang belum tentu kehilangan maknanya bagi orang lain.

Karena itu, sesekali katakan:

"Terima kasih sudah melakukan itu untuk aku."

Atau lebih spesifik:

"Terima kasih sudah menjemput aku. Aku benar-benar menghargainya."

Mengapa harus spesifik?

Karena apresiasi yang spesifik menunjukkan bahwa kita benar-benar memperhatikan usaha pasangan. Bukan sekadar mengucapkan "makasih" sebagai formalitas.

Dalam hubungan, seseorang biasanya tidak hanya ingin dicintai. Ia juga ingin merasa bahwa kontribusinya dilihat.

Dan ketika seseorang merasa usahanya dihargai, ia cenderung lebih mudah merasakan bahwa hubungan tersebut merupakan kerja sama dua orang, bukan kewajiban sepihak.

Jangan menunggu pasangan melakukan sesuatu yang besar

Kita sering berpikir bahwa ucapan terima kasih harus diberikan untuk sesuatu yang istimewa.

Padahal, justru hal-hal kecil bisa menjadi kesempatan untuk menunjukkan penghargaan.

"Terima kasih sudah mengingat aku suka makanan ini."

"Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku."

"Terima kasih sudah tetap menemani aku hari ini."

"Terima kasih sudah berusaha memahami aku."

Hubungan yang sehat tidak selalu dibangun oleh gestur besar. Sering kali, ia dibangun oleh banyak momen kecil yang terjadi berulang-ulang.

2. "Aku menghargai kamu."

Ada perbedaan antara mencintai seseorang dan membuat orang tersebut merasa dihargai.

Kita mungkin sangat mencintai pasangan, tetapi tidak selalu berhasil menunjukkannya.

Kalimat seperti "Aku menghargai kamu" dapat menjadi pengingat bahwa pasangan bukan sekadar seseorang yang hadir dalam kehidupan kita, tetapi seseorang yang memiliki kualitas, usaha, dan nilai yang kita lihat.

Cobalah mengatakan:

"Aku menghargai caramu selalu berusaha menyelesaikan masalah."

"Aku menghargai kesabaranmu menghadapi aku."

"Aku menghargai bagaimana kamu selalu berusaha menjaga hubungan ini."

Atau bahkan:

"Aku mungkin tidak selalu mengatakannya, tapi aku benar-benar menghargai keberadaanmu dalam hidupku."

Kalimat seperti ini menjadi lebih kuat ketika disertai alasan yang konkret.

Daripada mengatakan:

"Kamu baik."

Lebih bermakna jika mengatakan:

"Aku suka caramu memperlakukan orang lain dengan hormat. Itu salah satu hal yang membuatku semakin menghargaimu."

Dengan begitu, pasangan mengetahui bahwa kita bukan hanya memberikan pujian kosong. Kita benar-benar memperhatikan siapa dirinya.

3. "Aku bangga sama kamu."

Tidak semua orang membutuhkan pujian dengan cara yang sama. Namun, hampir setiap manusia memiliki kebutuhan untuk merasa bahwa usaha dan perkembangannya dilihat oleh orang-orang yang penting baginya.

Karena itu, jangan hanya memuji hasil akhirnya.

Perhatikan juga prosesnya.

Misalnya pasangan sedang membangun karier, belajar sesuatu yang baru, menghadapi masalah keluarga, menyelesaikan pendidikan, atau berusaha memperbaiki dirinya.

Kita bisa mengatakan:

"Aku bangga melihat kamu terus berusaha."

Kalimat tersebut berbeda dengan:

"Aku bangga karena kamu berhasil."

Yang pertama memberikan penghargaan terhadap proses, sedangkan yang kedua lebih berfokus pada hasil.

Dalam hubungan jangka panjang, perbedaan tersebut bisa berarti.

Sebab kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada masa ketika seseorang berhasil dan ada masa ketika ia gagal. Ada saat ketika karier berkembang dan ada saat ketika semuanya terasa stagnan.

Jika penghargaan hanya diberikan ketika pasangan berhasil, hubungan dapat terasa seperti tempat seseorang dinilai berdasarkan pencapaiannya.

Sebaliknya, ketika kita mampu mengatakan:

"Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku melihat kamu sudah berusaha."

pasangan dapat merasakan bahwa dukungan kita tidak hanya muncul ketika semuanya berjalan dengan baik.

Pujilah karakter, bukan hanya pencapaian

Selain mengatakan "Aku bangga kamu mendapat promosi", cobalah juga mengatakan:

"Aku bangga melihat bagaimana kamu tetap jujur meskipun situasinya sulit."

Atau:

"Aku bangga melihat kamu berani mencoba lagi setelah sebelumnya gagal."

Pujian semacam ini membantu pasangan merasa bahwa yang kita hargai bukan hanya prestasinya, tetapi juga dirinya.

4. "Aku mendengarkan kamu."

Salah satu kebutuhan emosional yang sering muncul dalam hubungan adalah keinginan untuk didengar dan dipahami.

Namun, mendengarkan tidak selalu berarti langsung memberikan solusi.

Kadang pasangan bercerita bukan karena ia meminta kita memperbaiki masalahnya.

Ia hanya ingin didengar.

Misalnya pasangan pulang kerja dan mengatakan:

"Hari ini aku benar-benar capek. Atasanku bikin aku kesal."

Respons yang sering muncul adalah:

"Ya sudah, jangan dipikirin."

Atau:

"Kalau memang begitu, kamu harusnya..."

Mungkin maksud kita baik. Kita ingin membantu.

Tetapi tidak semua curhat membutuhkan solusi pada saat itu juga.

Terkadang respons yang lebih membantu justru:

"Aku dengarkan. Ceritain saja."

Atau:

"Aku paham kamu lagi capek. Aku di sini."

Bahkan kita bisa bertanya:

"Kamu mau aku dengarkan saja atau kamu ingin kita cari solusinya bersama?"

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menghindari banyak kesalahpahaman.

Sebab ada perbedaan antara memecahkan masalah dan menemani seseorang menghadapi masalah.

Keduanya penting, tetapi waktunya tidak selalu sama.

5. "Aku mengerti kenapa kamu merasa begitu."

Kalimat ini tidak berarti kita harus selalu setuju dengan pasangan.

Ini penting.

Memahami perasaan seseorang tidak sama dengan membenarkan semua tindakannya.

Kita dapat memahami mengapa pasangan kecewa tanpa menganggap semua reaksinya benar.

Kita dapat memahami mengapa pasangan marah tanpa berarti kita menyetujui cara ia menyampaikan kemarahannya.

Dalam konflik, kemampuan untuk memvalidasi perasaan dapat membantu percakapan menjadi lebih tenang.

Misalnya pasangan mengatakan:

"Aku merasa kamu nggak pernah benar-benar mendengarkan aku."

Daripada langsung menjawab:

"Aku kan selalu dengar!"

kita bisa mencoba:

"Aku mengerti kenapa kamu merasa begitu. Mungkin akhir-akhir ini aku memang kurang hadir ketika kamu sedang cerita."

Setelah itu, barulah kita dapat menjelaskan perspektif kita.

"Tapi aku juga ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dari sisi aku."

Urutannya penting.

Ketika seseorang merasa emosinya tidak diakui, ia mungkin semakin sibuk membuktikan bahwa perasaannya benar.

Sebaliknya, ketika ia merasa didengar, percakapan dapat memiliki ruang yang lebih besar untuk membahas persoalan sebenarnya.

Validasi bukan berarti menyerah

Ada kesalahpahaman bahwa memvalidasi pasangan berarti harus mengatakan:

"Kamu benar, aku salah."

Tidak selalu demikian.

Validasi bisa sesederhana:

"Aku bisa memahami kenapa kamu melihatnya seperti itu."

Kalimat tersebut membuka ruang bagi dua orang untuk memahami perspektif masing-masing tanpa harus langsung menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Dalam hubungan jangka panjang, tujuan konflik seharusnya bukan memenangkan perdebatan.

Tujuannya adalah memahami masalah dan mencari cara agar hubungan dapat berjalan lebih baik.

6. "Maaf, aku salah."

Dua kata yang sangat sederhana tetapi terkadang sangat sulit diucapkan.

"Aku salah."

Dalam hubungan, meminta maaf bukan tanda kelemahan.

Justru kemampuan mengakui kesalahan menunjukkan bahwa seseorang bersedia mengambil tanggung jawab atas perilakunya.

Namun, meminta maaf juga sebaiknya tidak dilakukan sekadar untuk menghentikan pertengkaran.

Misalnya:

"Ya sudah, maaf deh."

Kalimat seperti itu mungkin menyelesaikan percakapan untuk sementara, tetapi belum tentu menyelesaikan masalah.

Permintaan maaf yang lebih bermakna biasanya mengakui apa yang terjadi.

Contohnya:

"Maaf karena tadi aku membentak kamu. Aku seharusnya menyampaikan kekesalanku tanpa berbicara seperti itu."

Lebih baik lagi jika dilanjutkan dengan:

"Aku akan berusaha tidak mengulanginya. Kalau aku mulai emosi, aku akan mengambil waktu sebentar sebelum melanjutkan pembicaraan."

Dengan begitu, permintaan maaf tidak berhenti pada kata "maaf", tetapi diikuti tanggung jawab dan perubahan perilaku.

Hindari "maaf kalau..."

Ada perbedaan besar antara:

"Maaf kalau kamu merasa tersinggung."

dan:

"Maaf karena perkataanku tadi memang menyakitkan."

Kalimat pertama dapat terdengar seperti memindahkan tanggung jawab kepada perasaan pasangan.

Sementara kalimat kedua menunjukkan bahwa kita bersedia melihat dampak dari tindakan kita.

Tentu saja, tidak semua konflik memiliki satu pihak yang sepenuhnya benar dan pihak lain sepenuhnya salah.

Tetapi ketika memang ada bagian yang menjadi tanggung jawab kita, mengakuinya dapat menjadi langkah penting untuk memperbaiki hubungan.

7. "Aku memilih kamu, dan kita bisa melewati ini bersama."

Hubungan jangka panjang akan menghadapi masa sulit.

Ada masalah keuangan.

Ada tekanan pekerjaan.

Ada perbedaan pendapat.

Ada perubahan prioritas.

Ada masa ketika salah satu pasangan sedang tidak berada dalam kondisi terbaiknya.

Pada saat seperti itu, pasangan membutuhkan lebih dari sekadar solusi praktis.

Mereka juga membutuhkan rasa aman.

Kalimat sederhana seperti:

"Kita hadapi ini bersama."

dapat memberikan pesan bahwa masalah sedang dihadapi oleh dua orang yang berada di sisi yang sama.

Bukan:

Aku melawan kamu.

Tetapi:

Kita melawan masalahnya.

Perbedaan tersebut sangat penting.

Dalam konflik, pasangan sering kali tanpa sadar berubah menjadi dua pihak yang saling berhadapan.

"Masalahnya karena kamu."

"Kamu memang selalu begitu."

"Kamu nggak pernah mengerti aku."

Kalimat-kalimat seperti ini dapat membuat konflik berubah dari pembahasan masalah menjadi serangan terhadap karakter.

Sebaliknya, kita dapat mengubah cara berbicara menjadi:

"Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan supaya ini tidak terjadi lagi?"

atau:

"Kita cari jalan keluarnya sama-sama, ya."

Kalimat tersebut mengingatkan bahwa hubungan bukan pertandingan.

Tidak ada pemenang jika salah satu pasangan merasa kalah.

Mengapa Kalimat-Kalimat Sederhana Ini Penting?

Pada akhirnya, hubungan yang langgeng bukan berarti hubungan yang tidak pernah mengalami konflik.

Pasangan yang telah bersama selama bertahun-tahun tetap bisa berbeda pendapat, kecewa, marah, atau mengalami masa ketika hubungan terasa berat.

Yang membedakan bukan selalu seberapa sedikit konflik yang terjadi.

Salah satu hal penting adalah bagaimana pasangan merespons satu sama lain ketika konflik maupun ketika keadaan berjalan baik.

Karena itu, jangan hanya berbicara kepada pasangan ketika ada masalah.

Berbicara juga ketika semuanya baik-baik saja.

Katakan terima kasih ketika ia melakukan sesuatu.

Katakan bahwa kamu menghargainya.

Berikan apresiasi atas usahanya.

Dengarkan ketika ia ingin bercerita.

Validasi perasaannya tanpa harus selalu setuju.

Minta maaf ketika memang melakukan kesalahan.

Dan ketika hidup sedang terasa berat, ingatkan satu sama lain bahwa kalian berada di sisi yang sama.

Jangan menunggu momen romantis untuk mengatakannya

Salah satu kesalahan dalam hubungan adalah menganggap komunikasi penuh kasih hanya diperlukan pada momen tertentu.

Hari ulang tahun.

Hari jadi.

Valentine.

Setelah bertengkar.

Padahal, hubungan justru dibentuk oleh interaksi yang terjadi setiap hari.

Satu kalimat sederhana yang diucapkan secara konsisten dapat memiliki arti yang jauh lebih besar daripada satu deklarasi cinta yang hanya muncul setahun sekali.

Kamu tidak harus mengucapkan semua kalimat tersebut setiap hari.

Yang lebih penting adalah ketulusan dan konsistensinya.

Tanyakan kepada diri sendiri:

Kapan terakhir kali pasanganmu mendengar bahwa kamu menghargai dirinya?

Kapan terakhir kali kamu berterima kasih atas hal kecil yang ia lakukan?

Kapan terakhir kali kamu mengatakan bahwa kamu bangga padanya?

Dan mungkin yang paling penting:

Kapan terakhir kali kamu benar-benar mendengarkan pasanganmu tanpa sibuk mempersiapkan jawaban?

Kadang-kadang, hubungan tidak membutuhkan kata-kata yang lebih indah.

Hubungan hanya membutuhkan kata-kata yang lebih sering diucapkan.

Sebab mencintai seseorang bukan hanya tentang apa yang kita rasakan di dalam hati.

Cinta juga tentang bagaimana perasaan tersebut sampai kepada orang yang kita cintai—melalui tindakan, perhatian, dan cara kita berbicara kepadanya setiap hari.

Tujuh kalimat yang bisa mulai lebih sering kamu gunakan:
"Terima kasih sudah melakukan itu."
"Aku menghargai kamu."
"Aku bangga sama kamu."
"Aku mendengarkan kamu."
"Aku mengerti kenapa kamu merasa begitu."
"Maaf, aku salah."
"Kita bisa melewati ini bersama."

Tidak ada satu kalimat ajaib yang otomatis membuat sebuah hubungan bertahan selamanya.

Namun, ketika penghargaan, empati, tanggung jawab, dan dukungan menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari, pasangan memiliki lebih banyak kesempatan untuk merasa aman, dihargai, dan terhubung.

Dan sering kali, hubungan yang kuat memang dibangun bukan dari satu momen besar, melainkan dari ribuan percakapan kecil yang membuat dua orang merasa:

"Aku dilihat. Aku didengar. Aku dihargai. Dan aku tidak sendirian dalam hubungan ini."***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore