Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 September 2026 | 03.19 WIB

Jika Kamu Ingin Tetap Penuh Harapan dan Bahagia Setelah Usia 60 Tahun, Lakukan 6 Kebiasaan Ini

seseorang yang tetap penuh harapan di usia tua / foto: Magnific/Lifestylememory

 

JawaPos.com - Memasuki usia 60 tahun sering kali membuat seseorang melihat kehidupan dengan cara yang berbeda.

Ada yang merasa bersyukur karena telah melewati begitu banyak pengalaman. Ada pula yang mulai bertanya-tanya: “Setelah semua yang kulalui, apa lagi yang bisa kuharapkan?”

Anak-anak mungkin sudah memiliki kehidupan sendiri. Pekerjaan yang dahulu memenuhi sebagian besar waktu mungkin telah berakhir. Beberapa teman mulai jarang bertemu. Tubuh pun perlahan memberikan tanda bahwa kita tidak lagi berada di usia muda.

Namun, usia 60 bukanlah tanda bahwa kehidupan telah selesai.

Justru pada tahap kehidupan ini, seseorang memiliki kesempatan untuk menjalani hidup dengan lebih sadar. Kita mungkin tidak lagi mengejar hal-hal yang sama seperti ketika berusia 30 atau 40 tahun, tetapi kita dapat menemukan sesuatu yang sering kali jauh lebih berharga: ketenangan, makna, hubungan yang tulus, dan kemampuan untuk menikmati hari ini.

Dalam psikologi, kebahagiaan pada usia lanjut tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya uang, keberhasilan masa lalu, atau seberapa muda tubuh seseorang. Cara seseorang memandang kehidupan, menjaga hubungan sosial, mengatur pikirannya, dan menemukan makna dalam keseharian juga memainkan peran penting.

Karena itu, jika kamu ingin tetap memiliki harapan dan menikmati hidup setelah usia 60 tahun, ada beberapa kebiasaan sederhana yang layak dibangun.

Bukan kebiasaan yang membutuhkan kehidupan sempurna.

Bukan pula sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang sehat, kaya, atau memiliki banyak teman.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (17/9), kebiasaan-kebiasaan ini berangkat dari hal-hal sederhana yang masih dapat kita lakukan sedikit demi sedikit.

1. Berhenti Terlalu Sering Membandingkan Hidupmu dengan Orang Lain

Salah satu sumber ketidakbahagiaan yang sering tidak disadari adalah kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.

Ketika masih muda, kita mungkin membandingkan pekerjaan, rumah, kendaraan, penghasilan, atau pencapaian.

Setelah usia 60 tahun, bentuk perbandingan itu bisa berubah.

Kita mungkin melihat teman yang masih sehat dan berpikir, “Mengapa tubuhku tidak seperti dia?”

Kita melihat seseorang yang anak-anaknya sering mengunjungi mereka dan berpikir, “Mengapa keluargaku tidak seperti itu?”

Atau melihat orang lain bepergian, menikmati masa pensiun, atau tampak bahagia di media sosial, lalu merasa kehidupan kita tertinggal.

Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan nyata kita dengan bagian terbaik dari kehidupan orang lain.

Kita melihat senyum mereka, tetapi tidak melihat kekhawatiran mereka.

Kita melihat rumah mereka, tetapi tidak mengetahui masalah di dalam rumah tersebut.

Kita melihat perjalanan mereka, tetapi tidak mengetahui kesepian yang mungkin mereka rasakan.

Karena itu, setelah usia 60 tahun, salah satu bentuk kebebasan terbesar adalah belajar mengatakan:

“Hidupku tidak harus terlihat seperti kehidupan orang lain agar tetap berharga.”

Cobalah mengubah pertanyaan.

Daripada bertanya:

“Mengapa hidupku tidak seperti dia?”

tanyakan:

“Apa yang masih bisa kunikmati dari hidupku hari ini?”

Mungkin jawabannya sederhana.

Secangkir kopi di pagi hari.

Percakapan dengan seorang teman.

Berjalan santai di sekitar rumah.

Mendengarkan lagu lama.

Berkebun.

Membaca buku.

Beribadah.

Memasak makanan kesukaan.

Atau sekadar duduk tenang menikmati pagi.

Kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar.

Kadang-kadang, kebahagiaan muncul ketika kita berhenti menganggap hal-hal kecil sebagai sesuatu yang tidak berarti.

2. Tetap Memiliki Sesuatu yang Dinantikan

Harapan membutuhkan masa depan.

Bukan berarti setelah usia 60 tahun kamu harus memiliki ambisi besar seperti ketika masih muda. Kamu tidak harus membangun perusahaan, mengejar jabatan, atau mencapai sesuatu yang spektakuler.

Tetapi memiliki sesuatu yang ingin dilakukan minggu depan, bulan depan, atau tahun depan dapat membuat kehidupan terasa lebih hidup.

Misalnya:

“Bulan depan aku ingin mengunjungi saudara.”

“Minggu depan aku ingin mencoba resep baru.”

“Besok pagi aku ingin berjalan-jalan.”

“Bulan ini aku ingin menyelesaikan buku yang sedang kubaca.”

“Atau tahun depan aku ingin belajar sesuatu yang selama ini belum pernah kucoba.”

Hal-hal seperti itu mungkin tampak sederhana.

Namun secara psikologis, memiliki tujuan dan aktivitas yang bermakna dapat membantu seseorang merasa bahwa hidup masih bergerak ke depan.

Salah satu kesalahan setelah pensiun adalah menganggap bahwa karena pekerjaan telah selesai, maka semua tujuan juga harus selesai.

Padahal pekerjaan hanyalah salah satu bentuk aktivitas.

Kamu masih bisa memiliki tujuan.

Tujuan tidak harus menghasilkan uang.

Tujuan bisa membuat hidup terasa berarti.

Belajar memainkan alat musik.

Merawat tanaman.

Menulis cerita tentang pengalaman hidup.

Mengajarkan keterampilan kepada cucu.

Mengikuti komunitas.

Membantu tetangga.

Membaca satu buku setiap bulan.

Memasak untuk keluarga.

Atau membuat jadwal sederhana agar setiap hari memiliki sesuatu yang ditunggu.

Jangan meremehkan kekuatan sebuah rencana kecil.

Kadang-kadang, harapan untuk menjalani hari esok dimulai dari satu alasan sederhana untuk bangun pagi.

3. Rawat Hubungan dengan Orang yang Membuatmu Merasa Dihargai

Semakin bertambah usia, hubungan sosial menjadi semakin penting.

Namun hubungan sosial tidak selalu berarti memiliki banyak teman.

Kamu tidak membutuhkan puluhan orang.

Terkadang, beberapa hubungan yang hangat dan tulus jauh lebih berarti daripada banyak kenalan yang tidak benar-benar mengenal kita.

Setelah usia 60 tahun, jangan hanya menunggu orang lain menghubungimu.

Hubungi seseorang terlebih dahulu.

Kirim pesan.

Telepon teman lama.

Ajak saudara minum kopi.

Kunjungi tetangga.

Bergabung dengan komunitas.

Atau sekadar berbicara dengan seseorang setiap hari.

Dan yang tidak kalah penting: jangan takut mengatakan bahwa kamu menghargai mereka.

Kita sering berasumsi bahwa orang lain sudah tahu bahwa kita menyayangi mereka.

Padahal terkadang, mendengar kalimat sederhana seperti:

“Aku senang bisa mengenalmu.”

atau

“Terima kasih sudah selalu ada.”

bisa memiliki arti yang sangat besar.

Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan.

Tidak semua hubungan harus dipertahankan dengan cara yang sama.

Jika ada hubungan yang terus-menerus membuatmu merasa direndahkan, dimanfaatkan, atau dipenuhi konflik, kamu berhak membuat batasan yang sehat.

Menua bukan berarti harus menerima semua perlakuan orang lain.

Justru semakin bertambah usia, kita dapat menjadi lebih selektif dalam menggunakan waktu dan energi.

Gunakan lebih banyak waktumu bersama orang-orang yang membuatmu merasa menjadi dirimu sendiri.

4. Latih Pikiran untuk Melihat Apa yang Masih Bisa Dilakukan, Bukan Hanya Apa yang Hilang

Penuaan membawa perubahan.

Tidak ada gunanya berpura-pura bahwa semua akan tetap sama.

Beberapa kemampuan mungkin berkurang.

Beberapa orang yang kita cintai mungkin tidak lagi bersama kita.

Pekerjaan mungkin sudah berakhir.

Anak-anak mungkin tinggal jauh.

Tubuh mungkin tidak sekuat dahulu.

Jika kita terus memikirkan semua yang telah hilang, kehidupan dapat terasa seperti daftar kehilangan yang panjang.

Karena itu, penting untuk mengembangkan kebiasaan melihat sisi lain dari kehidupan.

Bukan menyangkal kehilangan.

Bukan berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Tetapi bertanya:

“Dengan keadaan yang sekarang, apa yang masih bisa kulakukan?”

Dulu mungkin kamu tidak punya banyak waktu untuk membaca.

Sekarang kamu bisa membaca lebih banyak.

Dulu kamu terlalu sibuk bekerja untuk belajar memasak.

Sekarang kamu bisa mencoba resep baru.

Dulu kamu jarang berbicara dengan teman lama.

Sekarang kamu bisa menghubunginya.

Dulu kamu selalu terburu-buru.

Sekarang kamu bisa menikmati pagi dengan lebih perlahan.

Kita tidak selalu dapat memilih apa yang berubah dalam hidup.

Tetapi kita masih dapat memilih bagaimana merespons perubahan tersebut.

Dan inilah salah satu bentuk kedewasaan psikologis yang sangat berharga.

Bukan mengatakan:

“Aku ingin kembali menjadi 30 tahun.”

Melainkan:

“Aku ingin menggunakan usia yang kumiliki sekarang sebaik mungkin.”

5. Jangan Berhenti Belajar

Otak manusia tidak berhenti membutuhkan stimulasi hanya karena seseorang telah memasuki usia 60 tahun.

Belajar sesuatu yang baru dapat memberikan rasa ingin tahu dan membuat kehidupan sehari-hari terasa lebih menarik.

Dan belajar tidak harus berarti kembali ke sekolah.

Belajar bisa berarti membaca buku.

Mempelajari teknologi.

Belajar menggunakan aplikasi baru.

Memasak masakan yang belum pernah dicoba.

Mempelajari bahasa.

Berkebun.

Fotografi.

Melukis.

Menulis.

Bermain musik.

Atau memahami sesuatu yang selama ini membuat penasaran.

Jangan berkata:

“Aku sudah terlalu tua untuk belajar.”

Gantilah dengan:

“Aku belum pernah mempelajarinya.”

Perbedaan kedua kalimat tersebut sangat besar.

Kalimat pertama menutup pintu.

Kalimat kedua membuka pintu.

Tidak ada keharusan untuk menjadi ahli.

Tujuannya bukan membuktikan bahwa kamu masih muda.

Tujuannya adalah menjaga rasa ingin tahu.

Ketika seseorang masih memiliki sesuatu untuk dipelajari, dunia terasa lebih luas.

Setiap hari masih menawarkan kemungkinan baru.

Dan perasaan seperti itu dapat membantu menjaga rasa hidup dan harapan.

6. Bangun Kebiasaan Bersyukur Tanpa Mengabaikan Masalah

Bersyukur bukan berarti berpura-pura bahwa hidup selalu baik.

Ada hari ketika kita sedih.

Ada hari ketika tubuh terasa lelah.

Ada masalah keluarga.

Ada kekhawatiran tentang masa depan.

Ada kehilangan yang tidak mudah dilupakan.

Karena itu, bersyukur bukan berarti mengatakan:

“Aku tidak boleh sedih.”

Sebaliknya, rasa syukur dapat berjalan berdampingan dengan kesedihan.

Kamu bisa merasa kehilangan seseorang sekaligus bersyukur pernah memilikinya.

Kamu bisa kecewa dengan keadaan sekaligus menghargai hal-hal baik yang masih ada.

Kamu bisa khawatir tentang masa depan sekaligus menikmati secangkir teh pagi ini.

Cobalah sebuah kebiasaan sederhana.

Sebelum tidur, tanyakan kepada diri sendiri:

“Apa tiga hal yang masih baik dalam hidupku hari ini?”

Tidak perlu sesuatu yang besar.

“Tubuhku masih membawaku berjalan.”

“Aku sempat berbicara dengan seseorang yang kusayangi.”

“Hari ini cuacanya menyenangkan.”

“Aku bisa menikmati makanan yang kusukai.”

“Aku masih memiliki rumah untuk pulang.”

“Aku berhasil menyelesaikan sesuatu.”

“Aku mendapatkan waktu tenang.”

Semakin sering kita melatih perhatian terhadap hal-hal yang baik, semakin mudah kita menyadari bahwa kehidupan tidak hanya terdiri dari masalah.

Ada juga momen-momen kecil yang layak dihargai.

Setelah 60 Tahun, Kebahagiaan Tidak Harus Terlihat Seperti Masa Muda

Ada satu hal penting yang perlu dipahami.

Kebahagiaan pada usia 60 tahun tidak harus sama dengan kebahagiaan pada usia 20 atau 30 tahun.

Ketika masih muda, kebahagiaan mungkin berkaitan dengan pencapaian.

Mendapat pekerjaan.

Membeli rumah.

Menikah.

Membangun karier.

Membesarkan anak.

Mengejar penghasilan.

Mencapai status tertentu.

Namun ketika usia bertambah, definisi kebahagiaan dapat berubah.

Kita mungkin mulai lebih menghargai ketenangan daripada kesibukan.

Kesehatan daripada kemewahan.

Waktu daripada uang.

Hubungan yang tulus daripada popularitas.

Kebebasan daripada status.

Dan kedamaian daripada keinginan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.

Itulah sebabnya jangan merasa hidupmu gagal hanya karena kamu tidak lagi mengejar hal-hal yang dahulu dianggap penting.

Mungkin prioritasmu memang telah berubah.

Dan itu bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Itu bagian dari perjalanan hidup.

Jangan Menunggu Hidup Menjadi Sempurna

Salah satu jebakan terbesar di usia lanjut adalah menunggu keadaan menjadi sempurna sebelum merasa bahagia.

Menunggu kesehatan sempurna.

Menunggu keluarga berkumpul.

Menunggu keuangan lebih baik.

Menunggu semua masalah selesai.

Masalahnya, hidup hampir tidak pernah benar-benar bebas dari masalah.

Jika kebahagiaan selalu menunggu kehidupan menjadi sempurna, kita mungkin akan terus menundanya.

Karena itu, belajarlah menemukan kebahagiaan di tengah kehidupan yang nyata.

Bukan kehidupan yang ideal.

Hari ini mungkin tidak sempurna.

Tetapi mungkin ada satu hal yang baik.

Minggu ini mungkin tidak berjalan sesuai rencana.

Tetapi mungkin masih ada seseorang yang menyayangimu.

Tubuh mungkin tidak sekuat dahulu.

Tetapi mungkin masih ada banyak hal yang dapat dilakukan.

Masa lalu tidak dapat diubah.

Tetapi hari ini masih ada di tanganmu.

Dan besok belum datang.

Pada Akhirnya, Usia Hanyalah Bagian dari Cerita

Enam puluh tahun bukan garis akhir.

Tujuh puluh bukan garis akhir.

Delapan puluh pun bukan berarti seseorang berhenti memiliki harapan.

Selama kita masih hidup, masih ada kemungkinan untuk belajar, mencintai, berteman, membantu orang lain, menikmati hal-hal sederhana, dan menemukan makna.

Mungkin langkahmu sekarang tidak secepat dahulu.

Tidak masalah.

Mungkin lingkaran pertemananmu tidak sebesar dulu.

Tidak masalah.

Mungkin hidupmu tidak berjalan persis seperti yang pernah kamu bayangkan.

Itu juga tidak berarti semuanya berakhir.

Kamu masih memiliki hari ini.

Dan hari ini adalah tempat kehidupan berlangsung.

Jadi, jika kamu ingin tetap penuh harapan dan bahagia setelah usia 60 tahun, mulailah dari enam kebiasaan sederhana:

Jangan terlalu sering membandingkan hidupmu dengan orang lain.

Tetap memiliki sesuatu yang bisa dinantikan.

Rawat hubungan dengan orang-orang yang menghargaimu.

Fokus pada apa yang masih bisa dilakukan.

Jangan berhenti belajar.

Dan latih rasa syukur terhadap hal-hal kecil yang masih kamu miliki.

Kita tidak bisa menghentikan waktu.

Kita tidak bisa mengembalikan masa muda.

Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana menjalani usia yang kita miliki.

Dan mungkin, kebahagiaan terbesar setelah usia 60 tahun bukanlah memiliki kehidupan yang sempurna.

Melainkan mampu berkata dengan tenang:

“Aku mungkin tidak memiliki semua yang dulu kuinginkan, tetapi aku masih bisa menghargai kehidupan yang sekarang kumiliki.”

Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa banyak tahun yang telah kita lalui.

Tetapi tentang seberapa dalam kita menghargai tahun-tahun yang masih diberikan kepada kita.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore