seseorang yang mengubah hidupnya ke arah yang lebih baik / foto: Magnific/Kiwistocks
Kadang, kita berpikir bahwa untuk menjadi lebih bahagia, lebih percaya diri, atau lebih tenang, kita harus mengubah banyak hal sekaligus. Kita harus punya pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih besar, tubuh yang lebih ideal, lingkungan yang lebih mendukung, atau kehidupan yang terlihat sempurna.
Padahal, perubahan psikologis sering kali dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: cara kita berbicara kepada diri sendiri dan cara kita merespons keadaan.
Satu kata mungkin terlihat kecil. Tetapi kata tertentu dapat mengubah cara kita memandang sebuah masalah, mengatur emosi, berkomunikasi dengan orang lain, bahkan mengambil keputusan.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (16/9), terdapat enam kata sederhana yang dapat menjadi pengingat untuk menjalani hidup dengan cara yang lebih sehat dan positif.
1. “Cukup”
Kita hidup di tengah budaya yang sering membuat kita merasa tidak pernah cukup.
Belum cukup sukses.
Belum cukup kaya.
Belum cukup produktif.
Belum cukup cantik atau tampan.
Belum cukup pintar.
Belum cukup jauh dalam kehidupan.
Akibatnya, banyak orang terus mengejar sesuatu tanpa pernah memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk berhenti sejenak dan mengakui:
“Apa yang sudah saya lakukan sebenarnya sudah cukup untuk hari ini.”
Kata “cukup” bukan berarti menyerah atau berhenti berkembang.
Cukup berarti mampu membedakan antara ambisi untuk bertumbuh dan tekanan untuk selalu merasa kurang.
Dalam psikologi, kemampuan menerima keadaan diri tanpa terus-menerus menghakimi diri sendiri berkaitan dengan konsep self-compassion atau welas asih terhadap diri. Seseorang dapat mengakui kekurangan dan kesalahannya tanpa harus memperlakukan dirinya dengan kejam.
Bayangkan kamu sudah bekerja seharian.
Tetapi sebelum tidur, kamu justru memikirkan hal-hal yang belum selesai.
“Aku belum melakukan ini.”
“Aku masih gagal dalam hal itu.”
“Orang lain sudah jauh lebih maju.”
Pikiran seperti ini membuat otak terus berada dalam mode mengejar.
Cobalah sesekali berkata:
“Untuk hari ini, cukup.”
Besok kamu bisa melanjutkan lagi.
Kamu tidak harus menyelesaikan seluruh hidupmu dalam satu hari.
Mengapa “cukup” penting?
Karena manusia membutuhkan jeda.
Istirahat bukan lawan dari produktivitas. Dalam banyak situasi, istirahat justru membantu menjaga energi, perhatian, dan kemampuan seseorang untuk berfungsi dengan baik.
Jadi, ketika kamu sudah memberikan usaha terbaikmu hari ini, jangan selalu merasa bersalah karena berhenti.
Tidak semua hal harus selesai hari ini.
2. “Belum”
Ada perbedaan yang sangat besar antara mengatakan:
“Aku tidak bisa.”
dan
“Aku belum bisa.”
Keduanya terdengar hampir sama, tetapi memberikan pesan psikologis yang berbeda.
“Aku tidak bisa” terdengar seperti sebuah kesimpulan.
“Aku belum bisa” membuka kemungkinan bahwa kemampuan tersebut masih dapat berkembang.
Inilah salah satu gagasan yang dekat dengan konsep growth mindset, yaitu pandangan bahwa kemampuan tertentu dapat dikembangkan melalui proses belajar, latihan, strategi, dan pengalaman.
Misalnya kamu gagal melakukan sesuatu.
Daripada berkata:
“Aku memang tidak pintar.”
Cobalah mengubahnya menjadi:
“Aku belum menguasainya.”
Kamu gagal dalam sebuah pekerjaan?
Belum berhasil.
Kamu belum percaya diri berbicara di depan umum?
Belum percaya diri.
Kamu belum mampu mengatur keuangan?
Belum mampu.
Kata “belum” tidak menghapus kenyataan bahwa saat ini kamu masih mengalami kesulitan.
Tetapi kata tersebut menghindarkanmu dari membuat kesimpulan permanen tentang dirimu berdasarkan satu pengalaman.
Ada perbedaan antara “Saya gagal” dan “Saya mengalami kegagalan.”
Yang pertama dapat terasa seperti identitas.
Yang kedua adalah sebuah peristiwa.
Dan peristiwa dapat berubah.
Gunakan “belum” ketika menghadapi kegagalan
Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, tanyakan:
“Apa yang belum saya pelajari?”
Bukan hanya:
“Apa yang salah dengan saya?”
Pertanyaan pertama mengarahkan perhatian pada proses.
Pertanyaan kedua dapat mendorong kita untuk menyerang diri sendiri.
Kamu tidak harus meyakinkan diri bahwa semuanya akan berhasil.
Cukup akui bahwa kegagalan hari ini tidak selalu menentukan kemampuanmu selamanya.
3. “Tidak”
Salah satu kata paling sederhana, tetapi juga salah satu yang paling sulit diucapkan.
Tidak.
Banyak orang merasa bersalah ketika mengatakan tidak.
Takut mengecewakan.
Takut dianggap egois.
Takut kehilangan hubungan.
Takut tidak disukai.
Akibatnya, mereka mengatakan “iya” ketika sebenarnya ingin mengatakan “tidak”.
Lama-kelamaan, terlalu banyak mengatakan iya dapat membuat seseorang kelelahan dan merasa hidupnya dikendalikan oleh tuntutan orang lain.
Dalam psikologi dan komunikasi interpersonal, kemampuan menetapkan batas atau boundaries merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.
Mengatakan “tidak” tidak otomatis berarti kamu tidak peduli.
Kamu bisa peduli kepada seseorang sekaligus memiliki batas.
Kamu bisa menyayangi keluarga tanpa selalu memenuhi semua permintaan.
Kamu bisa menghargai teman tanpa selalu tersedia.
Kamu bisa menjadi orang yang baik tanpa harus menyenangkan semua orang.
Contohnya:
“Terima kasih sudah mengajak, tapi kali ini saya tidak bisa.”
Atau:
“Saya memahami kebutuhanmu, tetapi saya belum bisa membantu.”
Tidak perlu selalu memberikan penjelasan panjang.
Tidak perlu meminta maaf karena memiliki keterbatasan.
Tidak perlu membuat alasan yang rumit hanya agar penolakanmu terdengar dapat diterima.
“Tidak” juga berarti memilih
Setiap kali kamu mengatakan “iya” kepada sesuatu, sebenarnya kamu juga mengatakan “tidak” kepada hal lain.
Ketika kamu memilih bekerja sampai larut malam, mungkin kamu sedang mengatakan tidak kepada waktu istirahat.
Ketika kamu terus memenuhi permintaan orang lain, mungkin kamu sedang mengatakan tidak kepada kebutuhanmu sendiri.
Karena itu, belajar berkata “tidak” bukan hanya tentang menolak orang lain.
Ini juga tentang belajar berkata “ya” kepada dirimu sendiri.
4. “Terima”
Ada banyak hal dalam hidup yang tidak dapat kita kendalikan.
Masa lalu.
Pendapat orang lain.
Keputusan seseorang.
Kegagalan yang sudah terjadi.
Kenyataan bahwa beberapa hubungan memang berakhir.
Dan semakin keras kita berusaha mengubah sesuatu yang berada di luar kendali, semakin besar pula energi psikologis yang terkuras.
Di sinilah kata “terima” menjadi penting.
Menerima bukan berarti menyukai.
Menerima bukan berarti menyetujui.
Menerima juga bukan berarti berhenti berusaha.
Penerimaan lebih dekat dengan kemampuan untuk mengakui realitas sebagaimana adanya sebelum menentukan respons berikutnya.
Misalnya:
“Ya, ini memang terjadi.”
Setelah itu, baru kita dapat bertanya:
“Sekarang apa yang bisa saya lakukan?”
Bayangkan seseorang kehilangan kesempatan yang sangat diinginkannya.
Ada dua kemungkinan respons.
Pertama:
“Ini tidak seharusnya terjadi. Kenapa hidup saya seperti ini?”
Kedua:
“Saya kecewa. Saya tidak menyukai keadaan ini. Tetapi ini sudah terjadi. Apa yang bisa saya lakukan sekarang?”
Perasaan kecewa tetap ada.
Tetapi respons kedua memberikan ruang untuk bergerak.
Dalam berbagai pendekatan psikologis, penerimaan terhadap pengalaman internal dan kenyataan yang tidak dapat dikendalikan dapat membantu seseorang mengurangi perjuangan yang tidak produktif terhadap sesuatu yang memang sudah terjadi.
Bedakan antara menerima dan menyerah
Ini penting.
Menerima kenyataan bukan berarti pasif.
Kalau kamu menerima bahwa kamu sedang kesulitan keuangan, bukan berarti kamu tidak boleh mencari pekerjaan tambahan.
Kalau kamu menerima bahwa sebuah hubungan telah berakhir, bukan berarti kamu tidak boleh berduka.
Kalau kamu menerima bahwa kamu melakukan kesalahan, bukan berarti kamu tidak perlu memperbaikinya.
Justru penerimaan dapat menjadi titik awal tindakan yang lebih realistis.
Pertama terima kenyataan. Kemudian tentukan tindakan.
5. “Terima kasih”
Dua kata ini sangat sederhana.
Kita mengucapkannya hampir setiap hari.
Namun ketika digunakan secara sadar, “terima kasih” dapat mengubah arah perhatian kita.
Manusia memiliki kecenderungan untuk memperhatikan masalah, ancaman, kekurangan, dan sesuatu yang belum dimiliki. Hal tersebut memiliki fungsi penting karena membantu kita mendeteksi masalah.
Namun jika perhatian kita terus-menerus tertuju pada kekurangan, kehidupan dapat terasa jauh lebih buruk daripada keadaan sebenarnya.
Rasa syukur dapat membantu mengarahkan sebagian perhatian kepada hal-hal yang masih kita miliki.
Bukan berarti kita harus berpura-pura bahwa hidup selalu baik.
Kamu bisa mengalami hari yang buruk dan tetap menemukan satu hal yang layak disyukuri.
Misalnya:
“Hari ini berat, tetapi saya bersyukur masih bisa berbicara dengan seseorang yang saya percaya.”
Atau:
“Pekerjaan hari ini melelahkan, tetapi saya bersyukur memiliki kesempatan untuk belajar sesuatu.”
Atau bahkan sesederhana:
“Saya bersyukur hari ini bisa beristirahat.”
Penelitian psikologi positif telah banyak membahas hubungan antara praktik rasa syukur dan berbagai aspek kesejahteraan psikologis. Namun penting untuk tidak menganggap rasa syukur sebagai obat untuk semua masalah.
Rasa syukur bukan berarti menyangkal kesedihan.
Kamu tidak harus mengatakan:
“Saya harus bersyukur, jadi saya tidak boleh sedih.”
Kamu bisa mengatakan:
“Saya sedang sedih, dan pada saat yang sama ada sesuatu yang masih saya syukuri.”
Keduanya dapat hadir bersamaan.
Cobalah latihan sederhana
Sebelum tidur, pikirkan tiga hal:
Apa yang saya syukuri hari ini?
Tidak perlu sesuatu yang besar.
Mungkin secangkir kopi.
Percakapan singkat.
Tubuh yang masih membawamu menjalani hari.
Seseorang yang mengirim pesan.
Atau kesempatan untuk memulai lagi besok.
Semakin sederhana, semakin mudah dilakukan secara konsisten.
6. “Sekarang”
Banyak kecemasan berasal dari hidup terlalu jauh ke masa depan.
“Bagaimana kalau nanti gagal?”
“Bagaimana kalau semuanya menjadi buruk?”
“Bagaimana kalau saya tidak mencapai apa yang saya inginkan?”
Sebaliknya, sebagian penyesalan muncul karena kita terus hidup di masa lalu.
“Seandainya saya tidak melakukan itu.”
“Seandainya saya memilih berbeda.”
“Kenapa dulu saya tidak menyadarinya?”
Masa lalu dapat memberikan pelajaran.
Masa depan dapat memberikan arah.
Tetapi satu-satunya waktu ketika kita benar-benar dapat mengambil tindakan adalah:
sekarang.
Kata “sekarang” membantu mengembalikan perhatian kepada sesuatu yang dapat dilakukan saat ini.
Bukan:
“Bagaimana saya memperbaiki seluruh hidup saya?”
Tetapi:
“Apa satu hal yang bisa saya lakukan sekarang?”
Jika kamu ingin hidup lebih sehat, mungkin sekarang adalah waktunya minum air dan berjalan selama beberapa menit.
Jika kamu ingin memperbaiki hubungan, mungkin sekarang adalah waktunya mengirim pesan dengan tulus.
Jika kamu ingin belajar sesuatu, mungkin sekarang adalah waktunya membaca satu halaman.
Jika kamu sedang menghadapi masalah besar, mungkin sekarang adalah waktunya menyelesaikan satu bagian kecil terlebih dahulu.
Perubahan besar sering kali terdiri dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.
Jangan menunggu merasa siap
Salah satu jebakan dalam perubahan diri adalah menunggu motivasi datang terlebih dahulu.
Padahal, dalam banyak situasi, tindakan justru dapat membantu menciptakan momentum.
Kamu tidak harus merasa percaya diri untuk mulai.
Kamu tidak harus merasa berani untuk mencoba.
Kamu tidak harus mengetahui seluruh langkah untuk mengambil langkah pertama.
Tanyakan saja:
“Apa yang bisa saya lakukan sekarang?”
Kemudian lakukan hal kecil tersebut.
Keenam Kata Ini Sebenarnya Saling Berhubungan
Menariknya, keenam kata tersebut bukanlah nasihat yang berdiri sendiri.
Mereka dapat membentuk sebuah cara sederhana untuk menghadapi kehidupan.
Cukup — berhenti menyiksa diri dengan tuntutan yang tidak ada habisnya.
Belum — melihat kegagalan sebagai bagian dari proses, bukan selalu sebagai identitas.
Tidak — menetapkan batas dan menjaga ruang untuk diri sendiri.
Terima — mengakui kenyataan yang tidak dapat diubah agar energi dapat diarahkan kepada hal yang masih bisa dilakukan.
Terima kasih — menyadari bahwa hidup tidak hanya berisi kekurangan.
Sekarang — mengembalikan perhatian kepada tindakan yang bisa dilakukan hari ini.
Jika diperhatikan, semuanya memiliki satu kesamaan:
keenam kata tersebut mengubah cara kita merespons kehidupan.
Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi.
Tetapi dalam banyak keadaan, kita masih dapat belajar memilih bagaimana kita meresponsnya.
Jangan Mengubah Seluruh Hidup dalam Satu Hari
Ada satu hal penting yang sering dilupakan dalam pembahasan tentang pengembangan diri.
Kamu tidak harus menjadi versi terbaik dari dirimu setiap hari.
Ada hari ketika kamu produktif.
Ada hari ketika kamu hanya mampu bertahan.
Ada hari ketika kamu merasa percaya diri.
Ada hari ketika kamu meragukan diri sendiri.
Ada hari ketika semuanya terasa berjalan sesuai rencana.
Ada pula hari ketika satu-satunya keberhasilanmu adalah bangun dan menjalani hari.
Dan itu manusiawi.
Perubahan positif tidak selalu terlihat dramatis.
Kadang-kadang perubahan itu terlihat seperti:
Tidak membalas pesan dengan emosi.
Berani mengatakan tidak.
Berhenti membandingkan diri.
Memaafkan diri sendiri.
Beristirahat tanpa merasa bersalah.
Mencoba lagi setelah gagal.
Meminta bantuan ketika membutuhkannya.
Atau sekadar berkata kepada diri sendiri:
“Hari ini berat, tetapi saya akan menjalani satu langkah pada satu waktu.”
Itulah sebabnya perubahan tidak selalu dimulai dengan keputusan besar.
Kadang-kadang perubahan dimulai dengan satu kata yang kita pilih untuk digunakan ketika berbicara kepada diri sendiri.
Penutup: Pilih Kata yang Ingin Kamu Bawa Hari Ini
Cobalah mengingat keenam kata sederhana ini:
CUKUP
Aku tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini.
BELUM
Aku mungkin belum bisa sekarang, tetapi prosesku belum selesai.
TIDAK
Aku boleh memiliki batas.
TERIMA
Aku tidak harus menyukai kenyataan untuk mengakuinya.
TERIMA KASIH
Di tengah kesulitan, masih ada sesuatu yang bisa dihargai.
SEKARANG
Aku tidak bisa mengubah masa lalu dan belum mengetahui masa depan, tetapi aku bisa mengambil satu langkah hari ini.
Hidup tidak akan tiba-tiba menjadi sempurna hanya karena kita mengucapkan enam kata tersebut.
Namun kata-kata dapat memengaruhi cara kita berpikir, dan cara berpikir dapat memengaruhi cara kita bertindak.
Jadi, ketika besok datang dan hidup kembali memberikan tantangannya, mungkin kamu tidak perlu mencari jawaban yang rumit.
Berhenti sebentar.
Tarik napas.
Lalu tanyakan kepada dirimu:
“Kata mana yang paling saya butuhkan hari ini?”
Mungkin jawabannya adalah cukup.
Mungkin belum.
Mungkin tidak.
Mungkin terima.
Mungkin terima kasih.
Atau mungkin hanya satu kata sederhana:
sekarang.
Karena perubahan hidup tidak selalu dimulai dari langkah yang besar.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor Parma vs Genoa di Liga Italia: Duel Tim Papan Bawah Berakhir Imbang
Prediksi Skor FC Twente vs PSV Eindhoven: Pemuncak Klasemen Berpeluang Pesta Gol

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022