Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 September 2026 | 04.27 WIB

7 Alasan Mengapa Ungkapan “Good Vibes Only” Bisa Menjadi Toxic Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang memegang ungkapan good vibes only / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Ungkapan “Good Vibes Only” terdengar positif. Kalimat ini sering digunakan untuk menggambarkan keinginan seseorang agar hidupnya dipenuhi energi baik, lingkungan yang menyenangkan, dan orang-orang yang memberikan pengaruh positif. Di media sosial, ungkapan tersebut bahkan sering muncul sebagai slogan untuk menjaga pikiran tetap optimistis dan menjauh dari hal-hal yang dianggap negatif.

Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan menginginkan kehidupan yang lebih positif. Memiliki harapan, mencari lingkungan yang sehat, serta berusaha melihat sisi baik dari sebuah keadaan merupakan bagian penting dari kesehatan psikologis.

Namun, masalah muncul ketika “Good Vibes Only” berubah dari sebuah harapan menjadi sebuah aturan bahwa emosi negatif tidak boleh muncul sama sekali.

Manusia tidak hanya memiliki rasa bahagia. Ada kesedihan, kemarahan, ketakutan, kecewa, iri, malu, frustrasi, kehilangan, dan berbagai emosi lain. Semua emosi tersebut memiliki fungsi psikologis tertentu. Ketika seseorang merasa harus selalu bahagia, selalu tenang, atau selalu berpikir positif, ia justru dapat belajar bahwa emosi tertentu harus disembunyikan.

Dalam psikologi, kecenderungan seperti ini dapat berkaitan dengan emotional suppression atau penekanan emosi, serta apa yang populer disebut toxic positivity, yaitu kecenderungan memaksakan sikap positif secara berlebihan sampai pengalaman emosional yang nyata menjadi tidak diakui.

Berikut adalah tujuh alasan mengapa ungkapan “Good Vibes Only” dapat menjadi toxic jika dipahami secara ekstrem.

1. “Good Vibes Only” Bisa Membuat Kita Menganggap Emosi Negatif sebagai Sesuatu yang Salah

Salah satu masalah terbesar dari pola pikir “Good Vibes Only” adalah munculnya anggapan bahwa emosi negatif merupakan sesuatu yang harus segera dihilangkan.

Ketika seseorang sedang sedih, misalnya, ia mungkin mendengar:

“Jangan sedih, pikirkan yang positif saja.”

Ketika seseorang kecewa:

“Sudahlah, ambil hikmahnya.”

Ketika seseorang sedang marah:

“Jangan bawa energi negatif.”

Sekilas, kalimat-kalimat tersebut terlihat seperti bentuk dukungan. Tetapi konteks dan waktunya sangat penting.

Seseorang yang sedang mengalami emosi tertentu tidak selalu membutuhkan nasihat untuk segera mengubah perasaannya. Terkadang, ia hanya membutuhkan ruang untuk merasakan dan memahami apa yang sedang terjadi.

Kesedihan bukan kegagalan.

Kemarahan bukan berarti seseorang buruk.

Kecemasan bukan tanda bahwa seseorang lemah.

Kekecewaan bukan berarti seseorang kurang bersyukur.

Emosi pada dasarnya merupakan bagian dari sistem psikologis manusia yang membantu kita memahami pengalaman dan merespons lingkungan.

Jika seseorang terus-menerus diberi pesan bahwa hanya emosi positif yang boleh muncul, ia dapat mulai mempertanyakan dirinya sendiri ketika mengalami emosi yang tidak menyenangkan.

“Kenapa aku masih sedih?”

“Kenapa aku tidak bisa bahagia seperti orang lain?”

“Apakah ada yang salah denganku?”

Pada akhirnya, seseorang bukan hanya menghadapi masalah awal, tetapi juga merasa bersalah karena memiliki reaksi emosional terhadap masalah tersebut.

Inilah salah satu bentuk jebakan psikologis dari toxic positivity.

Masalahnya bukan karena seseorang ingin berpikir positif. Masalahnya adalah ketika berpikir positif digunakan untuk menolak kenyataan emosional.

Ada perbedaan besar antara:

“Aku sedang sedih, tetapi aku percaya keadaan ini bisa membaik.”

dan:

“Aku tidak boleh sedih karena aku harus selalu positif.”

Kalimat pertama memberi ruang bagi emosi sekaligus mempertahankan harapan.

Kalimat kedua justru menyangkal emosi.

2. Ungkapan Ini Bisa Mendorong Emotional Suppression

Manusia memiliki kemampuan untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakan. Kita mungkin tersenyum ketika sedang sedih, mengatakan “aku baik-baik saja” ketika sebenarnya sedang kewalahan, atau berpura-pura tenang ketika di dalam diri sedang penuh kecemasan.

Dalam kondisi tertentu, mengatur ekspresi emosi memang diperlukan.

Namun, ada perbedaan antara mengatur emosi dan menekan emosi.

Regulasi emosi berarti seseorang mampu mengenali apa yang dirasakan, memahami penyebabnya, kemudian menentukan cara merespons yang sehat.

Sebaliknya, penekanan emosi terjadi ketika seseorang berusaha mendorong perasaan tersebut keluar dari kesadaran atau menolak mengakuinya.

Slogan “Good Vibes Only” dapat memperkuat penekanan emosi apabila seseorang mulai berpikir:

“Aku tidak boleh menunjukkan kesedihan.”

“Aku harus terlihat bahagia.”

“Aku tidak boleh mengeluh.”

“Aku harus selalu terlihat kuat.”

Akibatnya, seseorang mungkin menjadi sangat terampil dalam terlihat baik-baik saja, tetapi tidak semakin terampil dalam memahami dirinya sendiri.

Padahal, mengenali emosi merupakan bagian penting dari kesehatan psikologis.

Bayangkan seseorang yang terus mengabaikan rasa lelah karena selalu mengatakan kepada dirinya bahwa ia harus tetap positif.

Hari pertama mungkin tidak terlalu bermasalah.

Hari kedua ia masih bisa memaksakan diri.

Hari ketiga ia mulai kehilangan energi.

Namun karena ia menganggap kelelahan sebagai “vibes negatif”, ia tetap memaksakan diri.

Pada akhirnya, tubuh dan pikirannya mungkin memberikan sinyal yang jauh lebih kuat.

Ini menunjukkan bahwa masalah tidak selalu selesai hanya karena kita berhenti membicarakannya.

Emosi yang diabaikan bukan berarti emosi tersebut hilang.

Terkadang, emosi justru perlu didengarkan agar kita memahami kebutuhan psikologis di baliknya.

3. “Good Vibes Only” Bisa Membuat Seseorang Sulit Memproses Kesedihan

Kesedihan memiliki prosesnya sendiri.

Ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai, mengalami kegagalan, berpisah dari pasangan, kehilangan pekerjaan, atau menghadapi perubahan besar dalam hidup, ia mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi secara emosional.

Tidak realistis jika kita mengharapkan seseorang langsung kembali bahagia.

Tetapi budaya “Good Vibes Only” terkadang menciptakan tekanan untuk cepat move on.

Seseorang baru saja mengalami sesuatu yang menyakitkan, tetapi lingkungan di sekitarnya mengatakan:

“Sudah, jangan dipikirkan.”

“Fokus ke hal-hal positif.”

“Banyak orang yang lebih susah darimu.”

“Bersyukurlah.”

“Everything happens for a reason.”

Kalimat-kalimat tersebut tidak selalu salah. Namun jika diberikan terlalu cepat, kalimat tersebut dapat membuat seseorang merasa bahwa kesedihannya tidak memiliki tempat.

Padahal, menerima kenyataan bahwa sesuatu menyakitkan merupakan bagian dari proses adaptasi.

Kita tidak selalu harus mencari sisi positif dari sebuah pengalaman sebelum kita diperbolehkan merasa sedih karena pengalaman tersebut.

Ada saat ketika seseorang membutuhkan solusi.

Ada saat ketika seseorang membutuhkan perspektif.

Tetapi ada juga saat ketika seseorang hanya membutuhkan pengakuan:

“Ya, apa yang kamu alami memang berat.”

Pengakuan semacam itu justru dapat terasa lebih manusiawi daripada memaksa seseorang segera menjadi positif.

4. Ungkapan Ini Dapat Membuat Masalah Nyata Terlihat Seolah Hanya Masalah Pola Pikir

Ini adalah salah satu aspek yang paling berbahaya.

Tidak semua masalah hidup dapat diselesaikan dengan mengubah cara berpikir.

Seseorang bisa mengalami tekanan finansial, lingkungan kerja yang buruk, hubungan yang tidak sehat, konflik keluarga, diskriminasi, kehilangan, atau situasi kehidupan yang memang sulit.

Dalam kondisi seperti itu, mengatakan:

“Coba lebih positif.”

terkadang terlalu menyederhanakan masalah.

Seolah-olah masalah utama bukanlah keadaan yang sedang dihadapi, melainkan ketidakmampuan seseorang untuk berpikir positif.

Padahal, psikologi membedakan antara cara seseorang menafsirkan situasi dan situasi itu sendiri.

Pikiran memang dapat memengaruhi bagaimana kita mengalami suatu keadaan. Tetapi bukan berarti semua penderitaan dapat diselesaikan hanya dengan mengubah pikiran.

Misalnya, seseorang yang berada dalam lingkungan kerja yang terus-menerus membuatnya stres mungkin tidak hanya membutuhkan afirmasi positif.

Ia mungkin membutuhkan batasan yang lebih sehat.

Ia mungkin perlu berbicara dengan orang yang dipercaya.

Ia mungkin perlu mencari bantuan profesional.

Atau dalam kondisi tertentu, ia mungkin perlu mengubah lingkungan tersebut.

Dengan kata lain:

Positive thinking dapat membantu seseorang menghadapi masalah, tetapi positive thinking bukan pengganti penyelesaian masalah.

Jika semua persoalan dikembalikan pada “vibes”, kita berisiko mengabaikan akar masalah yang sebenarnya.

5. “Good Vibes Only” Bisa Menciptakan Tekanan untuk Selalu Terlihat Bahagia

Media sosial memperkuat fenomena ini.

Kita melihat orang tersenyum, bepergian, bekerja, berolahraga, berkumpul dengan teman, menikmati makanan, mencapai target, dan merayakan keberhasilan.

Kemudian muncul slogan:

Good Vibes Only.

Jika seseorang sedang mengalami hari yang buruk, ia bisa mulai membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.

“Kenapa hidup mereka terlihat begitu menyenangkan?”

“Kenapa aku tidak sebahagia itu?”

“Kenapa hidupku terasa berantakan?”

Masalahnya, apa yang ditampilkan di media sosial biasanya hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Seseorang dapat mengunggah foto tersenyum sambil menyembunyikan bahwa beberapa jam sebelumnya ia menangis.

Seseorang dapat membagikan keberhasilannya tanpa memperlihatkan kegagalan yang terjadi selama bertahun-tahun.

Seseorang dapat terlihat sangat percaya diri di internet tetapi tetap memiliki ketakutan dan keraguan dalam kehidupan pribadi.

Ketika “Good Vibes Only” dijadikan standar kehidupan, kita berisiko membandingkan realitas penuh kehidupan kita dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.

Perbandingan seperti ini dapat membuat seseorang merasa tertinggal.

Ironisnya, semakin seseorang berusaha terlihat positif, semakin besar tekanan untuk mempertahankan citra tersebut.

Akhirnya, muncul sebuah paradoks:

Kita ingin terlihat bahagia karena merasa harus bahagia.

Bukan karena kita benar-benar sedang bahagia.

6. Ungkapan Ini Bisa Menghambat Hubungan yang Sehat dan Jujur

Hubungan yang sehat tidak hanya dibangun dari tawa dan pengalaman menyenangkan.

Hubungan yang sehat juga membutuhkan kemampuan untuk mengatakan:

“Aku sedang tidak baik-baik saja.”

“Aku kecewa dengan apa yang terjadi.”

“Aku merasa terluka.”

“Aku butuh bantuan.”

“Aku tidak setuju denganmu.”

Jika sebuah kelompok pertemanan, keluarga, atau hubungan romantis memiliki aturan tidak tertulis bahwa hanya energi positif yang boleh dibawa, orang-orang di dalamnya mungkin mulai menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.

Akibatnya, hubungan terlihat harmonis di permukaan tetapi tidak memiliki kedalaman emosional.

Padahal, kedekatan psikologis membutuhkan kejujuran emosional.

Kita tidak bisa benar-benar merasa dekat dengan seseorang jika kita hanya diperbolehkan menunjukkan versi diri yang menyenangkan.

Teman yang baik bukan hanya orang yang bisa tertawa bersama kita.

Teman yang baik juga seharusnya mampu duduk bersama kita ketika kehidupan sedang berantakan.

Pasangan yang sehat bukan hanya orang yang mendukung ketika kita sukses.

Ia juga perlu menjadi seseorang yang dapat mendengarkan ketika kita sedang takut, bingung, kecewa, atau sedih.

Hubungan yang sehat tidak membutuhkan:

“Good vibes only.”

Hubungan yang sehat lebih membutuhkan:

“You can be honest here.”

Dengan kata lain, seseorang seharusnya tidak perlu menjadi bahagia terlebih dahulu agar merasa layak mendapatkan dukungan.

7. “Good Vibes Only” Bisa Membuat Kita Kehilangan Kemampuan untuk Menerima Diri Secara Utuh

Mungkin inilah alasan paling mendalam mengapa pola pikir tersebut dapat menjadi toxic.

Jika kita hanya menerima diri ketika bahagia, produktif, percaya diri, optimistis, dan bersemangat, berarti kita hanya menerima sebagian dari diri kita.

Bagaimana dengan versi diri yang lelah?

Bagaimana dengan versi diri yang takut?

Bagaimana dengan versi diri yang gagal?

Bagaimana dengan versi diri yang membutuhkan bantuan?

Bagaimana dengan versi diri yang sedang tidak tahu harus melakukan apa?

Penerimaan diri bukan berarti kita menyukai semua aspek kehidupan kita.

Penerimaan diri berarti kita mampu mengakui:

“Ini yang sedang aku rasakan, dan aku tetap manusia yang berharga.”

Seseorang dapat berkata:

“Aku sedang kecewa.”

tanpa menyimpulkan:

“Aku adalah orang yang gagal.”

Seseorang dapat berkata:

“Aku sedang takut.”

tanpa menyimpulkan:

“Aku adalah orang yang lemah.”

Seseorang dapat berkata:

“Aku sedang sedih.”

tanpa menyimpulkan:

“Aku seharusnya tidak merasakan ini.”

Inilah perbedaan antara menerima emosi dan membiarkan emosi mengendalikan seluruh hidup.

Menerima bukan berarti menyerah.

Mengakui kesedihan bukan berarti memilih untuk terus bersedih.

Merasakan kemarahan bukan berarti harus melampiaskannya kepada orang lain.

Mengakui kecemasan bukan berarti berhenti menjalani hidup.

Kita dapat mengakui emosi sekaligus memilih tindakan yang sehat.

Jadi, Apakah Berpikir Positif Itu Buruk?

Tentu saja tidak.

Berpikir positif bukanlah sesuatu yang harus dihindari.

Optimisme, harapan, rasa syukur, dan kemampuan melihat kemungkinan yang lebih baik dapat menjadi sumber daya psikologis yang sangat berguna.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menggunakan positivity.

Ada perbedaan antara:

Positive thinking:
“Aku sedang mengalami masa sulit, tetapi aku percaya aku bisa melewatinya.”

dan:

Toxic positivity:
“Aku tidak boleh merasa sedih. Aku harus selalu bahagia.”

Yang pertama mengakui realitas.

Yang kedua menyangkal realitas.

Positive thinking mengatakan:

“Ini sulit, tetapi aku masih memiliki harapan.”

Toxic positivity mengatakan:

“Ini tidak boleh dianggap sulit.”

Perbedaannya tampak kecil, tetapi secara psikologis sangat penting.

Kita Tidak Harus Memilih antara Positif atau Negatif

Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah menganggap bahwa jika kita mengakui emosi negatif, berarti kita menjadi orang negatif.

Padahal, manusia dapat merasakan dua hal yang tampaknya bertentangan sekaligus.

Kita bisa sedih dan tetap bersyukur.

Kita bisa kecewa dan tetap berharap.

Kita bisa takut dan tetap berani.

Kita bisa gagal dan tetap menghargai diri sendiri.

Kita bisa marah dan tetap memilih untuk tidak menyakiti orang lain.

Kita bisa mengakui bahwa kehidupan sedang berat tanpa kehilangan keyakinan bahwa keadaan dapat berubah.

Inilah bentuk keseimbangan emosional yang jauh lebih realistis.

Hidup bukan tentang mempertahankan “good vibes” setiap saat.

Hidup adalah tentang mampu menghadapi berbagai macam vibes tanpa kehilangan kemampuan untuk memahami diri sendiri.

Ganti “Good Vibes Only” dengan Pola Pikir yang Lebih Sehat

Daripada mengatakan:

“Good Vibes Only.”

mungkin kita bisa menggunakan prinsip yang lebih fleksibel:

“All Feelings Are Welcome, But Not All Actions Are.”

Artinya, semua emosi boleh hadir, tetapi tidak semua tindakan harus dilakukan.

Kemarahan boleh muncul, tetapi kita tidak harus menyakiti orang.

Kesedihan boleh hadir, tetapi kita tetap bisa mencari dukungan.

Kecemasan boleh dirasakan, tetapi kita tetap dapat mengambil langkah kecil.

Kekecewaan boleh diakui, tetapi kita tidak harus kehilangan harapan.

Dengan prinsip tersebut, kita tidak lagi berusaha menjadi manusia yang selalu positif.

Kita berusaha menjadi manusia yang mampu menghadapi emosi dengan sehat.

Dan mungkin, itulah bentuk kesehatan psikologis yang lebih realistis.

Kesimpulan

Ungkapan “Good Vibes Only” sebenarnya tidak selalu toxic. Jika digunakan sebagai pengingat untuk mencari lingkungan yang sehat, membangun optimisme, dan mengurangi hal-hal yang merugikan, ungkapan tersebut dapat memiliki makna positif.

Namun, ungkapan itu dapat menjadi toxic ketika berubah menjadi tuntutan bahwa kita harus selalu bahagia dan tidak boleh mengalami emosi yang tidak menyenangkan.

Ada setidaknya tujuh masalah yang perlu diperhatikan: membuat emosi negatif terlihat salah, mendorong penekanan emosi, menghambat proses kesedihan, menyederhanakan masalah nyata menjadi persoalan pola pikir, menciptakan tekanan untuk selalu terlihat bahagia, menghambat hubungan yang jujur, serta membuat kita sulit menerima diri secara utuh.

Pada akhirnya, kesehatan mental bukan tentang selalu memiliki energi positif.

Kesehatan mental juga bukan tentang tersenyum setiap hari.

Dan kesehatan mental bukan tentang menghapus semua emosi negatif dari kehidupan.

Sebaliknya, kesehatan psikologis yang lebih sehat adalah kemampuan untuk mengatakan:

“Aku sedang tidak baik-baik saja, dan itu tidak membuatku menjadi manusia yang gagal.”

Kita tidak harus selalu bahagia untuk menjalani hidup dengan baik.

Kita hanya perlu belajar bahwa setiap emosi memiliki tempatnya, setiap pengalaman layak dipahami, dan kita tetap bisa memilih respons yang sehat meskipun perasaan kita sedang tidak menyenangkan.

Karena terkadang, menjadi sehat secara emosional bukan berarti memiliki good vibes only.

Melainkan memiliki cukup ruang dalam diri untuk berkata:

“Aku menerima apa yang sedang kurasakan, lalu perlahan aku mencari tahu apa yang perlu kulakukan.”

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore