seseorang yang melihat tanda masalah pada hubungan / foto: Magnific/thanyakij-12
Kadang, keretakan justru dimulai dari hal-hal kecil yang awalnya terlihat sepele. Cara berbicara yang berubah. Makin jarang bertanya tentang kabar. Lebih mudah tersinggung. Menghindari percakapan penting. Atau mulai merasa bahwa hubungan yang dulu terasa nyaman kini justru melelahkan.
Yang membuatnya sulit dikenali adalah karena perubahan tersebut sering terjadi secara perlahan.
Satu atau dua perilaku tertentu tentu belum bisa dijadikan bukti bahwa pasangan sudah tidak mencintai, tidak setia, atau ingin mengakhiri hubungan. Setiap orang bisa mengalami stres, kelelahan, masalah pekerjaan, tekanan keluarga, atau persoalan pribadi yang memengaruhi cara mereka berinteraksi.
Namun, jika beberapa perubahan muncul secara konsisten, berlangsung cukup lama, dan mulai memengaruhi kualitas hubungan, hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Dalam psikologi hubungan, kualitas komunikasi, rasa aman secara emosional, kemampuan menyelesaikan konflik, dan adanya penghargaan terhadap pasangan merupakan beberapa aspek penting dalam hubungan yang sehat.
Lalu, apa saja tanda yang patut diperhatikan?
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (15/9), terdapat enam di antaranya.
1. Komunikasi Mulai Terasa Dingin dan Hanya Sebatas Formalitas
Salah satu perubahan yang sering terasa ketika hubungan mulai mengalami masalah adalah komunikasi yang semakin berkurang secara emosional.
Bukan hanya soal berkurangnya jumlah pesan atau percakapan. Yang lebih penting adalah hilangnya koneksi di balik komunikasi tersebut.
Dulu pasangan mungkin bercerita tentang hal-hal kecil yang terjadi sepanjang hari. Sekarang, percakapan hanya berkisar pada hal-hal praktis:
"Sudah makan?"
"Jam berapa pulang?"
"Besok ada acara?"
"Jangan lupa bayar ini."
Tidak ada lagi keinginan untuk berbagi cerita, pikiran, kekhawatiran, atau pengalaman pribadi.
Dalam hubungan yang sehat, komunikasi bukan sekadar pertukaran informasi. Komunikasi juga menjadi cara seseorang merasa dilihat, didengar, dan dipahami oleh pasangannya.
Karena itu, perubahan komunikasi perlu diperhatikan terutama ketika pasangan tidak hanya lebih sedikit berbicara, tetapi juga tampak tidak tertarik lagi untuk terhubung secara emosional.
Misalnya, ketika kamu menceritakan sesuatu yang penting bagimu, pasangan hanya memberikan respons singkat tanpa menunjukkan ketertarikan. Atau ketika ada masalah, percakapan selalu diakhiri dengan "terserah", "nggak tahu", atau justru dihindari sama sekali.
Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa pasangan sudah tidak peduli.
Bisa saja ia sedang mengalami tekanan psikologis, kelelahan, masalah pekerjaan, atau membutuhkan ruang pribadi.
Yang penting adalah melihat pola dan konteksnya.
Jika perubahan komunikasi berlangsung lama dan setiap usaha untuk membangun kembali kedekatan selalu ditolak, hubungan tersebut mungkin sedang membutuhkan perhatian lebih serius.
2. Konflik Tidak Lagi Bertujuan Menyelesaikan Masalah
Pertengkaran sebenarnya bukan selalu tanda hubungan yang buruk.
Dua orang yang memiliki kepribadian, pengalaman, kebutuhan, dan sudut pandang berbeda tentu bisa mengalami konflik.
Yang lebih penting bukan apakah pasangan pernah bertengkar, melainkan bagaimana mereka bertengkar.
Dalam hubungan yang relatif sehat, konflik idealnya menjadi kesempatan untuk memahami perbedaan dan mencari solusi.
Sebaliknya, konflik dapat menjadi tanda bahaya ketika berubah menjadi pola saling menyerang.
Misalnya:
Saling menghina.
Merendahkan pasangan.
Mengungkit kesalahan masa lalu berulang kali.
Menyalahkan tanpa mau mendengarkan.
Sengaja membuat pasangan merasa bersalah.
Mengancam akan meninggalkan hubungan setiap kali terjadi konflik.
Menolak semua usaha untuk berdamai.
Menggunakan diam sebagai hukuman.
Ketika pertengkaran tidak lagi berfokus pada "bagaimana kita menyelesaikan masalah ini?", tetapi berubah menjadi "bagaimana aku bisa memenangkan pertengkaran ini?", hubungan bisa menjadi sangat melelahkan.
Salah satu pola komunikasi yang banyak dibahas dalam psikologi hubungan adalah perilaku merendahkan atau menunjukkan penghinaan terhadap pasangan. Sikap seperti mengejek, mencibir, atau memperlakukan pasangan seolah-olah lebih rendah dapat merusak rasa aman dan penghargaan dalam hubungan.
Hal ini berbeda dengan sekadar tidak setuju.
Kamu boleh memiliki pendapat berbeda dari pasangan.
Kamu juga boleh merasa kecewa, marah, atau frustrasi.
Tetapi tetap ada perbedaan antara mengatakan:
"Aku kecewa karena kamu tidak memberitahuku sebelumnya."
dan mengatakan:
"Kamu memang selalu bodoh kalau mengambil keputusan."
Kalimat pertama membicarakan masalah.
Kalimat kedua menyerang pribadi.
Jika pola seperti ini semakin sering muncul, itu adalah sesuatu yang layak diperhatikan.
3. Pasangan Semakin Sering Menghindari Percakapan yang Penting
Ada perbedaan antara membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan terus-menerus menghindari masalah.
Dalam hubungan yang sehat, seseorang mungkin berkata:
"Aku sedang terlalu emosi. Kita bicara lagi nanti malam setelah aku tenang."
Ini berbeda dengan:
"Aku nggak mau membicarakan ini."
Kemudian setiap kali topik tersebut muncul, percakapan selalu dihentikan.
Menghindari konflik sesekali bukanlah sesuatu yang otomatis buruk. Bahkan, mengambil jeda ketika emosi sedang tinggi bisa membantu seseorang berpikir lebih jernih.
Masalah muncul ketika penghindaran menjadi strategi permanen.
Misalnya, kamu ingin membicarakan keuangan, batasan dengan keluarga, masa depan hubungan, pembagian tanggung jawab, atau masalah kepercayaan. Tetapi pasangan selalu mengalihkan pembicaraan, pergi, tidak menjawab, atau berpura-pura bahwa masalah tersebut tidak ada.
Akibatnya, masalah tidak pernah benar-benar selesai.
Ia hanya ditunda.
Dan masalah yang terus ditunda biasanya tidak hilang begitu saja.
Justru, rasa kecewa dan frustrasi bisa menumpuk.
Pada akhirnya, pasangan mungkin tidak lagi bertengkar karena sudah merasa percuma membicarakannya.
Ini juga penting.
Tidak adanya pertengkaran tidak selalu berarti tidak adanya masalah.
Kadang seseorang berhenti mengeluh bukan karena semuanya sudah baik, tetapi karena ia sudah kehilangan harapan bahwa keluhannya akan didengar.
4. Kamu Mulai Merasa Harus Berjalan di Atas "Kulit Telur"
Pernahkah kamu merasa harus sangat berhati-hati ketika berbicara dengan pasangan?
Kamu terus memikirkan:
"Kalau aku mengatakan ini, dia akan marah nggak?"
"Kalau aku bertanya, nanti dia tersinggung?"
"Lebih baik aku diam saja."
"Aku takut suasana berubah."
Jika perasaan seperti itu muncul sesekali, tentu belum tentu berarti hubunganmu tidak sehat.
Tetapi jika kamu secara konsisten merasa takut menjadi dirimu sendiri karena khawatir terhadap reaksi pasangan, hal tersebut patut diperhatikan.
Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kedua orang untuk menyampaikan kebutuhan, pendapat, dan perasaan tanpa terus-menerus merasa terancam secara emosional.
Rasa aman merupakan bagian penting dari kedekatan dalam hubungan.
Kamu seharusnya bisa mengatakan:
"Aku tidak nyaman dengan hal itu."
"Aku butuh waktu sendiri."
"Aku punya pendapat yang berbeda."
"Aku merasa terluka ketika kamu mengatakan seperti itu."
Tanpa harus selalu takut bahwa perbedaan tersebut akan berujung pada penghinaan, ancaman, manipulasi, atau hukuman emosional.
Jika seseorang merasa harus menyembunyikan perasaannya agar hubungan tetap tenang, hubungan tersebut mungkin memang sedang memiliki masalah yang perlu dibicarakan.
Terlebih lagi jika ketakutan tersebut muncul karena pasangan sering meledak-ledak, mengintimidasi, mengontrol, atau membuatmu merasa tidak aman.
Dalam situasi yang melibatkan ancaman atau kekerasan, persoalannya bukan lagi sekadar "komunikasi yang kurang baik". Keselamatan dan dukungan profesional harus menjadi prioritas.
5. Kedekatan Emosional dan Fisik Menurun Secara Konsisten
Kedekatan dalam hubungan memiliki banyak bentuk.
Ada kedekatan emosional, seperti berbagi cerita, menunjukkan perhatian, memberikan dukungan, dan merasa nyaman menjadi diri sendiri.
Ada pula kedekatan fisik, seperti berpegangan tangan, berpelukan, mencium, atau aktivitas seksual.
Perubahan dalam salah satu aspek tersebut tidak otomatis berarti pasangan sudah tidak mencintai.
Stres, masalah kesehatan, kelelahan, perubahan rutinitas, kondisi psikologis, atau persoalan lain dapat memengaruhi keinginan seseorang untuk dekat secara emosional maupun fisik.
Namun, jika perubahan tersebut berlangsung lama dan disertai dengan hilangnya keinginan untuk membangun kembali kedekatan, hal itu patut diperhatikan.
Misalnya, kamu merasa pasangan tidak lagi tertarik mengetahui bagaimana harimu.
Ketika kamu sedang menghadapi masalah, ia tidak lagi menunjukkan dukungan.
Kalian menghabiskan waktu bersama, tetapi masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri.
Secara fisik berada di tempat yang sama, tetapi secara emosional terasa sangat jauh.
Inilah yang terkadang membuat seseorang merasa kesepian meskipun sedang berada dalam sebuah hubungan.
Kesepian dalam hubungan bisa terasa lebih menyakitkan daripada kesendirian biasa karena seseorang mungkin berpikir:
"Aku punya pasangan, tetapi mengapa aku tetap merasa sendirian?"
Jika perasaan ini terus berulang, jangan langsung menyalahkan diri sendiri.
Cobalah melihat apakah kebutuhan emosional dalam hubungan memang sudah lama tidak terpenuhi dan apakah pasangan masih bersedia bekerja sama untuk memperbaikinya.
6. Kamu Mulai Merasa Hubungan Ini Hanya Dipertahankan oleh Satu Orang
Hubungan membutuhkan usaha dari dua pihak.
Tidak harus selalu 50:50 setiap hari.
Ada masa ketika salah satu pasangan mungkin membutuhkan lebih banyak dukungan. Ketika seseorang sedang sakit, kehilangan pekerjaan, menghadapi masalah keluarga, atau berada dalam periode yang sangat berat, pasangannya mungkin perlu memberikan lebih banyak energi.
Namun, hubungan menjadi tidak seimbang ketika hanya satu orang yang terus-menerus berusaha memperbaikinya.
Misalnya:
Kamu selalu memulai percakapan setelah bertengkar.
Kamu yang selalu meminta maaf.
Kamu yang selalu mengajak menghabiskan waktu bersama.
Kamu yang berusaha memperbaiki komunikasi.
Kamu yang memikirkan masa depan hubungan.
Sementara pasangan tampak tidak memiliki keinginan untuk melakukan hal yang sama.
Lama-kelamaan, kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa lelah dan tidak dihargai.
Yang perlu diperhatikan bukan sekadar siapa yang paling sering menghubungi siapa.
Pertanyaannya adalah:
Apakah kedua orang dalam hubungan ini masih memiliki kemauan untuk menjaga hubungan tersebut?
Karena hubungan yang sehat bukan berarti tidak pernah mengalami masalah.
Hubungan yang sehat lebih berkaitan dengan kemampuan kedua pihak untuk mengakui masalah, mendengarkan satu sama lain, mengambil tanggung jawab, dan berusaha mencari jalan keluar.
Jangan Menilai Hubungan Hanya dari Satu Tanda
Ada satu hal penting yang perlu diingat.
Jangan menggunakan daftar tanda di atas untuk langsung mendiagnosis pasangan.
Satu perilaku tidak cukup untuk membuktikan bahwa hubungan sedang bermasalah.
Pasangan yang sedang lebih pendiam mungkin sedang kelelahan.
Pasangan yang membutuhkan ruang mungkin sedang menghadapi tekanan.
Pasangan yang tidak ingin berbicara malam ini mungkin memang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Karena itu, psikologi tidak seharusnya digunakan untuk mencari "bukti" bahwa pasangan bersalah.
Sebaliknya, psikologi dapat membantu kita memahami pola perilaku dan dinamika hubungan.
Perhatikan tiga hal:
Seberapa sering perilaku tersebut terjadi?
Berapa lama perubahan itu berlangsung?
Apa yang terjadi ketika kamu mencoba membicarakannya?
Poin ketiga sangat penting.
Pasangan yang menyadari adanya masalah dan bersedia membicarakannya memiliki kondisi yang berbeda dengan pasangan yang terus menyangkal, meremehkan, atau menolak semua upaya perbaikan.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Jika Kamu Melihat Tanda-Tanda Ini?
Jangan langsung mengambil keputusan besar ketika sedang dikuasai emosi.
Langkah pertama adalah mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Pilih waktu ketika kalian sama-sama tenang.
Kemudian bicarakan perubahan yang kamu rasakan tanpa langsung menuduh.
Daripada berkata:
"Kamu sudah berubah dan sekarang nggak peduli sama aku."
Cobalah mengatakan:
"Aku merasa akhir-akhir ini kita semakin jarang ngobrol dan aku merasa jauh dari kamu. Aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang sedang kamu alami."
Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya bisa besar.
Kalimat pertama cenderung membuat pasangan merasa diserang.
Kalimat kedua membuka ruang untuk percakapan.
Dengarkan juga jawabannya.
Mungkin ada masalah yang selama ini tidak kamu ketahui.
Mungkin pasangan sedang mengalami tekanan.
Mungkin ada kebutuhan dalam hubungan yang belum pernah kalian bicarakan.
Atau mungkin memang ada persoalan yang selama ini kalian hindari.
Apa pun jawabannya, tujuan percakapan pertama bukan untuk memenangkan argumen.
Tujuannya adalah memahami apa yang sedang terjadi.
Hubungan yang Sehat Bukan Hubungan Tanpa Masalah
Banyak orang memiliki gambaran bahwa hubungan yang sehat berarti pasangan tidak pernah bertengkar.
Padahal, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar.
Dua manusia dengan latar belakang berbeda tidak mungkin selalu memiliki keinginan dan pandangan yang sama.
Hubungan yang sehat bukan tentang tidak adanya konflik.
Lebih penting adalah bagaimana konflik tersebut ditangani.
Apakah kalian masih bisa saling menghormati?
Apakah masing-masing bisa mengakui kesalahan?
Apakah pasangan mau mendengarkan?
Apakah kalian dapat membicarakan kebutuhan tanpa saling merendahkan?
Apakah setelah konflik ada usaha untuk memperbaiki hubungan?
Dan yang paling penting:
Apakah kalian masih merasa aman untuk menjadi diri sendiri?
Jika jawabannya semakin sering "tidak", mungkin sudah waktunya hubungan tersebut mendapatkan perhatian lebih serius.
Pada Akhirnya, Perhatikan Polanya, Bukan Satu Kejadian
Dalam hubungan, satu hari yang buruk tidak menentukan seluruh masa depan.
Satu pertengkaran tidak berarti hubungan gagal.
Satu kali pasangan bersikap dingin juga tidak otomatis berarti cintanya hilang.
Yang lebih bermakna adalah pola yang berulang.
Jika komunikasi semakin dingin, konflik semakin merusak, masalah selalu dihindari, rasa aman berkurang, kedekatan menghilang, dan hanya satu orang yang terus berusaha mempertahankan hubungan, maka itu merupakan sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Bukan berarti hubungan tersebut pasti harus berakhir.
Tetapi mungkin sudah waktunya untuk berhenti berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Karena terkadang, masalah terbesar dalam hubungan bukanlah adanya konflik.
Masalah terbesar adalah ketika dua orang sudah berhenti berusaha memahami satu sama lain.
Jika kalian masih sama-sama ingin memperbaiki hubungan, komunikasi yang jujur, batasan yang sehat, dan bila diperlukan bantuan dari konselor atau psikolog dapat menjadi langkah yang lebih konstruktif daripada saling menebak atau mencari kesalahan.
Dan jika sebuah hubungan membuat seseorang terus-menerus merasa takut, terancam, dikontrol, atau mengalami kekerasan, prioritasnya bukan sekadar memperbaiki komunikasi, melainkan memastikan keselamatan dan mendapatkan bantuan yang tepat.
Pada akhirnya, cinta bukan hanya tentang seberapa kuat perasaan seseorang.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022