Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 September 2026 | 03.55 WIB

Jika Kamu Ingin Memiliki Pola Pikir yang Terus Berkembang, Lakukan 7 Cara Ini Menurut Psikologi

seseorang yang memiliki pola pikir yang terus berkembang / foto: Magnific/mego-studio

 

JawaPos.com - Ada orang yang semakin bertambah usia, tetapi cara berpikirnya tetap sama. Mereka sulit menerima pendapat baru, mudah merasa tersinggung ketika dikritik, takut mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan, dan cenderung menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa dirinya memang tidak mampu.

Namun, ada juga orang yang justru semakin berkembang seiring berjalannya waktu.

Mereka mungkin pernah gagal berkali-kali, membuat keputusan yang keliru, mengalami penolakan, atau menghadapi masa-masa sulit. Tetapi pengalaman tersebut tidak membuat mereka berhenti. Mereka justru menggunakannya sebagai bahan untuk belajar, mengevaluasi diri, dan menjadi lebih baik.

Perbedaan di antara keduanya bukan selalu soal kecerdasan.

Salah satu faktor yang berperan adalah cara seseorang memandang kemampuan, kesalahan, tantangan, dan proses belajar.

Dalam psikologi, gagasan ini berkaitan erat dengan konsep growth mindset atau pola pikir berkembang. Konsep yang dipopulerkan oleh psikolog Carol Dweck ini menggambarkan keyakinan bahwa kemampuan tertentu dapat dikembangkan melalui usaha, strategi yang tepat, pembelajaran, dan pengalaman.

Memiliki pola pikir berkembang bukan berarti selalu berpikir positif atau menganggap semua hal pasti mudah.

Justru sebaliknya.

Orang dengan pola pikir berkembang mampu mengatakan, “Saya belum bisa, tetapi saya masih bisa belajar.”

Mereka tidak melihat kegagalan sebagai identitas diri, melainkan sebagai informasi.

Mereka tidak menganggap kritik sebagai serangan, tetapi sebagai kesempatan untuk mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.

Dan yang paling penting, mereka memahami bahwa perkembangan tidak terjadi dalam semalam.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (15/9), jika kamu ingin memiliki pola pikir yang terus berkembang, berikut tujuh kebiasaan yang bisa mulai kamu latih.

1. Ubah kalimat “Saya tidak bisa” menjadi “Saya belum bisa”

Salah satu perubahan kecil yang dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi tantangan adalah cara berbicara kepada diri sendiri.

Bandingkan dua kalimat berikut:

“Saya memang tidak pandai berbicara di depan orang.”

dengan:

“Saya belum pandai berbicara di depan orang.”

Keduanya terdengar hampir sama, tetapi memiliki makna psikologis yang berbeda.

Kalimat pertama terdengar seperti sebuah kesimpulan akhir. Seolah-olah kemampuan tersebut merupakan sesuatu yang sudah ditentukan dan tidak mungkin berubah.

Sementara kata “belum” membuka kemungkinan.

Belum berarti masih ada proses.

Belum berarti masih ada kesempatan untuk belajar.

Belum berarti kemampuan tersebut belum dikuasai sekarang, bukan berarti selamanya tidak akan dikuasai.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memberikan label permanen kepada diri sendiri.

“Saya orangnya pemalu.”

“Saya tidak berbakat matematika.”

“Saya memang tidak kreatif.”

“Saya tidak cocok menjadi pemimpin.”

“Saya buruk dalam berkomunikasi.”

Masalahnya, label seperti itu bisa membuat kita berhenti mencoba bahkan sebelum benar-benar memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berkembang.

Karena itu, cobalah mengubah cara berbicara kepada diri sendiri.

Bukan:

“Aku tidak bisa.”

Tetapi:

“Aku belum bisa.”

Bukan:

“Aku memang seperti ini.”

Tetapi:

“Aku sedang belajar mengubah kebiasaan ini.”

Perubahan satu kata mungkin terlihat sederhana, tetapi ia membantu mengubah masalah dari sesuatu yang terasa permanen menjadi sesuatu yang masih dapat dipelajari.

Dan dari situlah proses perkembangan dimulai.

2. Jangan takut melakukan kesalahan

Jika kamu ingin terus berkembang, kamu harus berdamai dengan satu kenyataan:

Kamu akan melakukan kesalahan.

Tidak peduli seberapa pintar, berpengalaman, atau berhati-hatinya seseorang, kesalahan tetap menjadi bagian dari proses belajar.

Sayangnya, banyak orang memiliki hubungan yang buruk dengan kesalahan.

Ketika gagal, mereka langsung menyimpulkan:

“Berarti saya bodoh.”

“Berarti saya tidak berbakat.”

“Berarti saya memang tidak cocok.”

Padahal, satu kegagalan tidak cukup untuk menggambarkan kemampuan seseorang secara keseluruhan.

Kesalahan seharusnya menjadi bahan evaluasi.

Misalnya kamu gagal dalam sebuah wawancara kerja.

Pola pikir yang tertutup mungkin mengatakan:

“Saya memang tidak bagus. Saya tidak akan pernah diterima.”

Sementara pola pikir berkembang akan bertanya:

“Bagian mana yang perlu saya perbaiki?”

Mungkin jawabannya adalah kurang persiapan.

Mungkin cara menjawab terlalu panjang.

Mungkin kamu kurang memahami perusahaan.

Mungkin kamu terlalu gugup.

Atau mungkin memang ada kandidat lain yang lebih sesuai.

Apa pun penyebabnya, pengalaman tersebut dapat menghasilkan informasi yang berguna.

Inilah salah satu perbedaan penting antara mengalami kegagalan dan belajar dari kegagalan.

Semua orang bisa gagal.

Tetapi tidak semua orang mau berhenti sejenak dan bertanya:

“Apa yang bisa saya pelajari dari ini?”

Jadi, ketika melakukan kesalahan, jangan langsung menyerang diri sendiri.

Coba lakukan evaluasi sederhana:

Apa yang terjadi?
Apa yang menjadi penyebabnya?
Apa yang sebenarnya berada dalam kendaliku?
Apa yang bisa kulakukan berbeda jika situasi ini terjadi lagi?
Pelajaran apa yang bisa kubawa ke situasi berikutnya?

Dengan cara tersebut, kesalahan tidak lagi hanya menjadi pengalaman buruk.

Ia berubah menjadi data.

3. Biasakan mencari feedback, bukan hanya pujian

Kita semua senang mendapatkan pujian.

Ketika seseorang mengatakan pekerjaan kita bagus, kita merasa dihargai.

Namun, jika kamu hanya mencari orang yang selalu mengatakan bahwa kamu benar, perkembanganmu bisa menjadi lambat.

Mengapa?

Karena kita membutuhkan informasi mengenai apa yang masih perlu diperbaiki.

Feedback yang baik dapat membantu seseorang melihat sesuatu yang mungkin tidak terlihat dari sudut pandangnya sendiri.

Misalnya kamu sedang belajar menulis.

Jika kamu hanya membaca tulisanmu sendiri, kamu mungkin merasa sudah cukup bagus.

Tetapi ketika orang lain membacanya, mereka mungkin menemukan bahwa alurnya membingungkan, pembuka terlalu panjang, atau beberapa bagian sulit dipahami.

Itu bukan berarti tulisanmu buruk.

Justru sebaliknya.

Feedback tersebut memberimu peta untuk berkembang.

Tentu, tidak semua kritik harus diterima mentah-mentah.

Ada kritik yang tidak relevan.

Ada kritik yang disampaikan dengan buruk.

Ada pula komentar yang sebenarnya hanya merupakan preferensi pribadi seseorang.

Karena itu, pola pikir berkembang bukan berarti percaya pada semua kritik.

Pola pikir berkembang berarti bersedia mendengarkan dan mengevaluasi kritik sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan dengannya.

Kamu bisa bertanya:

“Bagian mana yang menurutmu perlu diperbaiki?”

“Apa contoh konkretnya?”

“Menurutmu, apa yang seharusnya saya lakukan berbeda?”

Pertanyaan seperti ini membuat feedback menjadi lebih berguna.

Dan ada satu hal penting yang perlu diingat:

Kritik terhadap pekerjaanmu bukan selalu kritik terhadap dirimu sebagai manusia.

Kamu bisa melakukan sesuatu dengan buruk tanpa menjadi orang yang buruk.

Kamu bisa memiliki kekurangan tanpa menjadi orang yang gagal.

Dan kamu bisa menerima kritik tanpa kehilangan harga diri.

4. Pilih tantangan yang membuatmu sedikit tidak nyaman

Pertumbuhan biasanya terjadi ketika kita keluar sedikit dari zona nyaman.

Bukan berarti kamu harus memaksa diri melakukan sesuatu yang sangat ekstrem.

Justru, perkembangan sering kali dimulai dari tantangan kecil.

Jika kamu takut berbicara di depan orang, misalnya, jangan langsung memaksakan diri berbicara di hadapan ratusan orang.

Mulailah dengan berbicara dalam kelompok kecil.

Jika kamu ingin belajar menulis, jangan menunggu sampai mampu membuat buku.

Mulailah menulis satu halaman setiap hari.

Jika kamu ingin belajar bahasa baru, jangan menunggu sampai bisa berbicara lancar.

Mulailah menggunakan beberapa kalimat sederhana setiap hari.

Prinsipnya sederhana:

Cari tantangan yang cukup sulit untuk membuatmu belajar, tetapi masih realistis untuk dilakukan.

Mengapa ini penting?

Karena jika tantangan terlalu mudah, kamu mungkin tidak mendapatkan banyak pembelajaran.

Namun jika tantangan terlalu sulit, kamu bisa merasa kewalahan dan akhirnya menyerah.

Yang dibutuhkan adalah peningkatan bertahap.

Sedikit lebih sulit dari kemampuanmu sekarang.

Kemudian setelah kemampuanmu meningkat, naikkan lagi tingkat tantangannya.

Begitulah kemampuan dibangun.

Bukan melalui satu lompatan besar, melainkan melalui banyak langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

5. Fokus pada proses, bukan hanya hasil

Banyak orang hanya menghargai dirinya ketika berhasil.

Ketika target tercapai, mereka merasa hebat.

Tetapi ketika hasilnya tidak sesuai harapan, mereka langsung merasa tidak berharga.

Pola seperti ini berbahaya karena membuat motivasi sangat bergantung pada hasil.

Padahal, hasil tidak selalu sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Kamu bisa belajar dengan serius tetapi tetap gagal dalam ujian.

Kamu bisa bekerja keras tetapi proyekmu tetap tidak berhasil.

Kamu bisa mempersiapkan presentasi dengan baik tetapi tetap merasa gugup.

Kamu bisa memberikan yang terbaik dalam sebuah hubungan tetapi hubungan tersebut tetap berakhir.

Karena itu, penting untuk membedakan antara hasil dan proses.

Tanyakan:

“Apakah saya melakukan bagian yang berada dalam kendali saya?”

Misalnya kamu ingin meningkatkan kemampuan fisik.

Jangan hanya mengukur keberhasilan dari angka di timbangan.

Perhatikan juga apakah kamu lebih konsisten berolahraga, tidur lebih teratur, atau mampu menjaga kebiasaan yang sebelumnya sulit dilakukan.

Dalam belajar, jangan hanya melihat nilai.

Perhatikan apakah pemahamanmu meningkat.

Dalam pekerjaan, jangan hanya melihat apakah proyek berhasil.

Perhatikan apakah kemampuanmu dalam memecahkan masalah ikut berkembang.

Dengan fokus pada proses, kamu mulai menghargai kemajuan kecil.

Dan kemajuan kecil yang dilakukan berulang kali dapat menghasilkan perubahan besar.

6. Berhenti membandingkan perjalananmu dengan perjalanan orang lain

Media sosial membuat perbandingan menjadi semakin mudah.

Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan impian.

Orang lain membeli rumah.

Teman mendapatkan pasangan.

Seseorang membangun bisnis.

Orang lain terlihat sukses pada usia yang masih muda.

Kemudian kita melihat kehidupan sendiri dan berpikir:

“Kenapa saya belum seperti mereka?”

Masalahnya, kita sering membandingkan bagian belakang layar kehidupan kita dengan bagian depan panggung kehidupan orang lain.

Kita mengetahui kegagalan, ketakutan, masalah, dan keraguan diri sendiri.

Tetapi kita hanya melihat pencapaian orang lain.

Perbandingan seperti ini tentu tidak adil.

Jika ingin memiliki pola pikir berkembang, lebih berguna jika kamu membandingkan dirimu dengan dirimu yang sebelumnya.

Tanyakan:

“Apakah saya lebih baik daripada beberapa bulan yang lalu?”

Mungkin kamu belum berada di tempat yang kamu inginkan.

Tetapi apakah kamu sudah lebih disiplin?

Lebih sabar?

Lebih mampu mengendalikan emosi?

Lebih berani mengambil keputusan?

Lebih memahami diri sendiri?

Lebih mampu menerima kritik?

Jika jawabannya iya, berarti ada perkembangan.

Kamu tidak harus memenangkan perlombaan orang lain.

Kamu hanya perlu terus bergerak dalam perjalananmu sendiri.

7. Jadikan rasa ingin tahu sebagai kebiasaan hidup

Orang dengan pola pikir berkembang biasanya memiliki satu kebiasaan penting:

mereka tetap mau belajar.

Mereka tidak menganggap dirinya sudah mengetahui semuanya.

Ketika menemukan sesuatu yang berbeda, mereka bertanya.

Ketika mendengar pendapat yang berlawanan, mereka mencoba memahami.

Ketika menyadari bahwa keyakinannya mungkin salah, mereka bersedia mengevaluasinya.

Rasa ingin tahu membuat pikiran tetap fleksibel.

Kamu bisa melatihnya dengan membiasakan diri bertanya:

“Mengapa?”

“Bagaimana kalau saya melihatnya dari sudut pandang lain?”

“Apa yang belum saya pahami?”

“Apakah ada bukti yang membuat saya perlu mengubah pendapat?”

“Apa yang bisa saya pelajari dari orang ini?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut membantu kita keluar dari pola berpikir otomatis.

Kamu juga bisa membuat kebiasaan belajar kecil.

Membaca beberapa halaman buku.

Mendengarkan diskusi yang berkualitas.

Mempelajari keterampilan baru.

Berbicara dengan orang yang memiliki perspektif berbeda.

Mencoba metode baru dalam pekerjaan.

Atau sekadar meluangkan waktu untuk merefleksikan pengalaman yang terjadi hari itu.

Kamu tidak harus belajar sesuatu yang besar setiap hari.

Yang penting adalah menjaga kebiasaan tetap menjadi seorang pembelajar.

Karena dunia berubah.

Pengetahuan berubah.

Kondisi hidup berubah.

Dan terkadang, cara berpikir kita juga perlu berubah.

Pola Pikir Berkembang Bukan Berarti Selalu Optimis

Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Memiliki growth mindset bukan berarti kamu harus selalu berkata:

“Saya pasti bisa!”

Bahkan ketika situasinya memang sangat sulit.

Pola pikir berkembang bukanlah optimisme buta.

Kamu tetap boleh mengakui:

“Saya kesulitan.”

“Saya kecewa.”

“Saya belum tahu jawabannya.”

“Saya mungkin membutuhkan bantuan.”

“Saya melakukan kesalahan.”

Perbedaannya terletak pada apa yang kamu lakukan setelah mengakui semua itu.

Apakah kamu berhenti?

Atau kamu bertanya:

“Apa langkah berikutnya yang bisa saya lakukan?”

Inilah inti dari pola pikir berkembang.

Bukan meyakini bahwa semua hal pasti mudah.

Tetapi meyakini bahwa kemampuanmu untuk belajar dan beradaptasi masih bisa berkembang.

Mulailah dari Satu Kebiasaan Kecil

Kamu tidak perlu mengubah seluruh kepribadianmu dalam satu hari.

Mulailah dari satu kebiasaan.

Ketika gagal, tanyakan apa yang bisa dipelajari.

Ketika mendapat kritik, dengarkan sebelum bereaksi.

Ketika merasa tidak mampu, tambahkan kata “belum.”

Ketika melihat keberhasilan orang lain, gunakan itu sebagai inspirasi, bukan alasan untuk merendahkan diri.

Ketika menghadapi tantangan, jangan selalu mencari jalan termudah.

Dan ketika merasa sudah mengetahui semuanya, cobalah bertanya:

“Apa yang mungkin belum saya pahami?”

Pada akhirnya, pola pikir berkembang bukan tentang menjadi sempurna.

Ini tentang bersedia untuk terus menjadi versi diri yang lebih baik.

Kamu mungkin tidak bisa mengubah semua keadaan.

Kamu juga tidak bisa mengendalikan pendapat orang lain, hasil setiap usaha, atau apa yang terjadi di masa lalu.

Tetapi kamu masih bisa memilih bagaimana meresponsnya.

Kamu bisa memilih untuk belajar.

Kamu bisa memilih untuk mengevaluasi.

Kamu bisa memilih untuk mencoba lagi dengan strategi yang berbeda.

Dan kamu bisa memilih untuk tidak menjadikan satu kegagalan sebagai kesimpulan akhir tentang siapa dirimu.

Karena berkembang bukan berarti tidak pernah gagal.

Berkembang berarti setiap kali jatuh, kamu membawa pulang sesuatu yang membuatmu sedikit lebih memahami dirimu, dunia, dan cara menghadapi kehidupan.

Dan jika kamu terus melakukan itu, sedikit demi sedikit, cara berpikirmu akan berubah.

Bukan dalam satu malam.

Tetapi melalui proses panjang yang terjadi setiap kali kamu memilih untuk belajar daripada menyerah.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore