Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 September 2026 | 03.45 WIB

6 Alasan Mengapa Sebagian Orang yang Kesepian Takut Menerima Pujian Menurut Psikologi

seseorang yang takut menerima pujian / foto: Magnific/timeimage

JawaPos.com - Pujian biasanya dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan. Ketika seseorang mengatakan, “Kamu hebat,” “Kamu terlihat baik hari ini,” atau “Aku suka cara kamu menyelesaikan masalah,” respons yang umum mungkin adalah tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

Namun, tidak semua orang merasa nyaman ketika menerima pujian.

Bagi sebagian orang yang mengalami kesepian, pujian justru bisa menimbulkan rasa canggung, curiga, malu, bahkan keinginan untuk segera menghindari percakapan. Mereka mungkin menjawab, “Ah, biasa saja,” “Kamu terlalu melebih-lebihkan,” atau bahkan langsung mengubah topik pembicaraan.

Menariknya, ketakutan terhadap pujian tidak selalu berarti seseorang tidak menghargai orang yang memujinya. Dalam banyak kasus, reaksi tersebut dapat berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri, pengalaman hubungan masa lalu, serta seberapa aman ia merasa ketika mendapatkan perhatian dari orang lain.

Kesepian juga bukan sekadar keadaan ketika seseorang tidak memiliki teman. Seseorang bisa dikelilingi banyak orang tetapi tetap merasa tidak dipahami, tidak diterima, atau tidak memiliki hubungan yang benar-benar dekat.

Lalu, mengapa sebagian orang yang kesepian justru takut menerima pujian?

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (15/9), terdapat enam kemungkinan penjelasan yang dapat dipahami dari sudut pandang psikologi.

1. Pujian Bertentangan dengan Cara Mereka Melihat Diri Sendiri

Salah satu alasan seseorang sulit menerima pujian adalah karena pujian tersebut tidak sesuai dengan gambaran dirinya.

Dalam psikologi, manusia cenderung memiliki konsep diri, yaitu kumpulan keyakinan mengenai siapa dirinya. Jika seseorang sudah lama melihat dirinya sebagai orang yang tidak menarik, tidak cukup baik, tidak pintar, atau tidak layak disukai, pujian yang bertentangan dengan keyakinan tersebut dapat terasa aneh.

Misalnya, seseorang berkata:

“Kamu sebenarnya orang yang sangat menyenangkan untuk diajak bicara.”

Namun di dalam pikirannya, ia mungkin langsung berpikir:

“Serius? Aku bahkan merasa tidak punya siapa-siapa.”

Kontradiksi tersebut membuat pujian sulit dipercaya.

Alih-alih merasa senang, orang tersebut mungkin merasa bingung atau tidak nyaman. Ia bahkan bisa secara otomatis menolak pujian dengan mengatakan, “Enggak kok, aku sebenarnya biasa saja.”

Bukan karena ia ingin bersikap rendah hati.

Ia mungkin benar-benar tidak mampu melihat dirinya seperti yang dilihat orang lain.

Kesepian yang berlangsung lama dapat memperkuat pola tersebut. Ketika seseorang jarang mendapatkan hubungan yang hangat dan validasi positif dari orang lain, persepsinya tentang dirinya sendiri bisa semakin didominasi oleh pengalaman negatif atau rasa tidak diterima.

Akibatnya, ketika ada seseorang memberikan penilaian positif, otaknya mungkin lebih mudah mempertanyakan pujian tersebut daripada menerimanya.

Di sinilah muncul fenomena yang sering terjadi:

Orang lain melihat kualitas positif dalam dirinya, tetapi dirinya sendiri tidak bisa melihatnya.

Karena itu, menerima pujian terkadang membutuhkan lebih dari sekadar mendengar kata-kata positif. Seseorang perlu memiliki cukup rasa aman untuk mempercayai bahwa penilaian positif tersebut memang mungkin benar.

2. Mereka Takut Pujian Itu Memiliki Maksud Tersembunyi

Bagi orang yang terbiasa merasa sendirian atau tidak aman dalam hubungan sosial, perhatian dari orang lain tidak selalu langsung terasa menyenangkan.

Pujian bisa menimbulkan pertanyaan:

“Kenapa dia mengatakan itu?”

“Apa sebenarnya yang dia inginkan?”

“Apakah dia sedang bercanda?”

“Apakah dia mencoba memanfaatkanku?”

“Jangan-jangan nanti dia meminta sesuatu.”

Kecurigaan seperti ini bisa muncul terutama jika seseorang pernah mengalami pengalaman sosial yang membuatnya sulit mempercayai orang lain.

Hubungan interpersonal yang sehat membutuhkan rasa aman. Ketika seseorang merasa aman, perhatian biasanya dapat diterima sebagai sesuatu yang positif.

Sebaliknya, ketika rasa aman rendah, perhatian dapat dianggap sebagai sesuatu yang perlu diwaspadai.

Pujian pun berubah makna.

Kalimat sederhana seperti “Kamu kelihatan keren hari ini” mungkin tidak diterima sebagai penghargaan, melainkan sebagai sesuatu yang perlu dianalisis.

Orang tersebut mungkin mencari “niat sebenarnya” di balik perkataan itu.

Hal ini tidak berarti semua orang yang kesepian pasti memiliki masalah kepercayaan. Kesepian sendiri sangat beragam dan penyebabnya berbeda-beda.

Namun, ketika seseorang memiliki pengalaman penolakan, pengkhianatan, perundungan, atau hubungan yang tidak sehat, ia dapat menjadi lebih berhati-hati terhadap kedekatan interpersonal.

Pujian terkadang terasa seperti pintu menuju kedekatan.

Dan bagi orang yang takut terluka, pintu tersebut mungkin justru membuatnya ingin mundur.

3. Mereka Takut Pujian Akan Diikuti oleh Harapan

Ada orang yang merasa tidak nyaman dipuji karena mereka takut tidak mampu mempertahankan standar yang baru saja diberikan.

Misalnya, seseorang dipuji karena dianggap pintar.

“Wah, kamu pintar banget. Cara kamu menjelaskan sesuatu mudah dipahami.”

Alih-alih menikmati pujian itu, ia mungkin berpikir:

“Kalau nanti aku salah, dia akan kecewa.”

“Bagaimana kalau dia ternyata menganggapku pintar, padahal sebenarnya aku tidak sehebat itu?”

“Sekarang aku harus selalu tampil seperti itu.”

Dalam psikologi, tekanan semacam ini dapat berkaitan dengan rasa takut terhadap evaluasi negatif dan kecemasan mengenai ekspektasi sosial.

Pujian yang seharusnya menjadi penghargaan justru terasa seperti sebuah standar baru yang harus dipenuhi.

Hal ini bisa semakin kuat pada seseorang yang memiliki pengalaman penolakan atau merasa dirinya “tidak cukup”.

Ketika mendapatkan pujian, ia bukan hanya mendengar sesuatu yang positif.

Ia juga membayangkan kemungkinan kehilangan penilaian positif tersebut.

Akibatnya, lebih aman baginya untuk menolak pujian sejak awal.

“Ah, enggak juga.”

“Cuma kebetulan.”

“Aku sebenarnya nggak sehebat itu.”

Kalimat-kalimat tersebut dapat menjadi semacam perlindungan psikologis.

Jika sejak awal ia tidak menerima label positif tersebut, ia merasa tidak perlu takut mengecewakan orang lain ketika suatu saat gagal memenuhi ekspektasi.

Dengan kata lain, menolak pujian bisa menjadi cara seseorang untuk mengurangi tekanan yang ia rasakan dari penilaian orang lain.

4. Mereka Tidak Terbiasa Mendapatkan Perhatian Positif

Tidak semua orang tumbuh dalam lingkungan yang terbiasa memberikan apresiasi secara terbuka.

Ada orang yang sejak kecil jarang mendengar:

“Aku bangga padamu.”

“Kamu sudah melakukan yang terbaik.”

“Aku menghargai usahamu.”

“Kamu berharga.”

Jika pengalaman tersebut jarang terjadi, menerima pujian saat dewasa bisa terasa asing.

Manusia cenderung lebih nyaman dengan sesuatu yang familiar.

Karena itu, ketika seseorang terbiasa dengan kritik, pengabaian, atau komunikasi yang dingin, perhatian positif yang tiba-tiba bisa membuatnya bingung.

Ia mungkin tidak tahu bagaimana harus merespons.

Bahkan respons sederhana seperti “terima kasih” bisa terasa terlalu sulit.

Hal ini menjelaskan mengapa sebagian orang justru bercanda ketika dipuji.

Misalnya:

“Wah, kamu hari ini kelihatan bagus.”

“Ah, mata kamu bermasalah kali.”

Secara sosial, jawaban tersebut mungkin terdengar lucu.

Namun secara psikologis, humor juga bisa berfungsi sebagai cara untuk mengurangi ketegangan.

Dengan membuat lelucon, seseorang tidak perlu benar-benar menghadapi perasaan rentan yang muncul ketika menerima perhatian.

Pujian membuatnya menjadi “terlihat”.

Dan bagi orang yang tidak terbiasa merasa aman ketika menjadi pusat perhatian, terlihat bisa terasa menakutkan.

5. Mereka Takut Menjadi Dekat, Lalu Kehilangan Orang Itu

Ada ironi dalam kesepian.

Seseorang mungkin sangat menginginkan kedekatan, tetapi pada saat yang sama takut terhadap kedekatan tersebut.

Ia ingin memiliki seseorang yang peduli.

Namun ketika seseorang mulai menunjukkan perhatian, ia justru mundur.

Mengapa?

Karena kedekatan membuka kemungkinan kehilangan.

Pujian dapat menjadi salah satu bentuk awal dari kedekatan.

Seseorang berkata:

“Aku senang ngobrol sama kamu.”

Kalimat itu sederhana, tetapi bagi orang tertentu, kalimat tersebut bisa terasa sangat berarti.

Untuk pertama kalinya, ia merasa diperhatikan.

Untuk pertama kalinya, ia merasa seseorang melihat sesuatu yang baik dalam dirinya.

Dan justru karena hal itu berarti, muncul ketakutan:

“Bagaimana kalau dia pergi?”

“Bagaimana kalau sebenarnya dia tidak benar-benar menyukaiku?”

“Bagaimana kalau aku terlalu berharap?”

Daripada merasakan harapan yang kemudian berpotensi berubah menjadi kekecewaan, seseorang mungkin memilih menjaga jarak sejak awal.

Ia menolak pujian.

Ia mengecilkan maknanya.

Ia berpura-pura tidak peduli.

Secara emosional, ini dapat menjadi bentuk perlindungan diri.

Logikanya kira-kira seperti ini:

Jika aku tidak terlalu menerima perhatianmu, aku tidak akan terlalu terluka ketika perhatian itu hilang.

Sayangnya, strategi perlindungan seperti ini juga dapat mempertahankan kesepian.

Karena orang lain mungkin akhirnya menganggap dirinya tidak membutuhkan kedekatan, padahal sebenarnya ia sangat membutuhkannya.

6. Menerima Pujian Membuat Mereka Merasa Rentan

Pada akhirnya, salah satu alasan terdalam mengapa seseorang takut menerima pujian adalah karena menerima pujian berarti membiarkan dirinya terlihat.

Ketika seseorang berkata:

“Terima kasih, aku senang kamu melihatnya seperti itu.”

Ia sedang melakukan sesuatu yang cukup sederhana, tetapi juga cukup rentan.

Ia mengakui bahwa pendapat orang tersebut berarti baginya.

Ia menerima kemungkinan bahwa dirinya memang memiliki kualitas yang baik.

Dan bagi sebagian orang, kerentanan semacam itu terasa tidak nyaman.

Orang yang terbiasa menjaga jarak secara emosional mungkin merasa lebih aman ketika tidak menunjukkan terlalu banyak perasaan.

Karena itu, ia memilih respons seperti:

“Ah, nggak kok.”

“Biasa aja.”

“Lebay.”

“Cuma kebetulan.”

Pujian tersebut ditolak sebelum sempat menyentuh bagian dirinya yang lebih dalam.

Padahal mungkin di dalam hati, ia sebenarnya senang.

Hanya saja, rasa senang tersebut datang bersamaan dengan rasa takut.

Takut terlihat.

Takut berharap.

Takut salah memahami perhatian.

Takut menjadi terlalu dekat.

Dan yang paling dalam, mungkin takut bahwa setelah akhirnya membuka diri, ia akan kembali ditinggalkan.

Kesepian Tidak Selalu Berarti Tidak Ingin Dicintai

Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa orang yang kesepian tidak selalu ingin sendirian.

Sebagian justru sangat menginginkan hubungan yang dekat dan bermakna.

Masalahnya, keinginan untuk dekat dapat hidup berdampingan dengan ketakutan terhadap kedekatan.

Seseorang bisa berkata dalam hati:

“Aku ingin ada yang mengenalku.”

Tetapi sekaligus:

“Aku takut kalau ada orang yang benar-benar mengenalku, dia akan pergi.”

Kontradiksi seperti inilah yang terkadang membuat perilaku seseorang terlihat membingungkan dari luar.

Ia ingin diperhatikan, tetapi ketika diperhatikan ia menghindar.

Ia ingin dipuji, tetapi ketika dipuji ia menyangkal.

Ia ingin memiliki teman, tetapi ketika seseorang mendekat ia menjaga jarak.

Ia ingin dicintai, tetapi sulit mempercayai bahwa dirinya memang layak dicintai.

Bukan berarti semua perilaku tersebut pasti berasal dari kesepian. Ada banyak faktor lain yang dapat memengaruhi respons seseorang terhadap pujian, termasuk kepribadian, pengalaman masa lalu, kecemasan sosial, harga diri, dan pola hubungan.

Karena itu, kita sebaiknya tidak buru-buru memberikan label psikologis kepada seseorang hanya karena ia tidak pandai menerima pujian.

Bagaimana Cara Merespons Orang yang Sulit Menerima Pujian?

Jika kita memiliki teman atau orang terdekat yang selalu menolak pujian, mungkin hal terbaik bukanlah memaksanya untuk percaya.

Daripada berkata:

“Kok kamu nggak pernah bisa menerima pujian sih?”

Kita bisa memberikan ruang.

Pujian yang tulus, spesifik, dan tidak menuntut respons tertentu biasanya lebih mudah diterima.

Misalnya:

“Aku menghargai caramu mendengarkan orang lain.”

Kalimat seperti ini berbeda dari pujian yang berlebihan atau terlalu umum.

Yang tidak kalah penting adalah tidak menggunakan pujian sebagai alat untuk mendapatkan sesuatu.

Jika seseorang merasa bahwa setiap perhatian selalu memiliki “harga”, ia akan semakin sulit mempercayai ketulusan orang lain.

Hubungan yang aman dibangun melalui konsistensi.

Bukan hanya melalui kata-kata manis, tetapi melalui perilaku yang menunjukkan bahwa seseorang memang dapat dipercaya.

Belajar Mengatakan “Terima Kasih”

Bagi seseorang yang terbiasa menolak pujian, menerima pujian tidak harus dimulai dengan langsung mempercayai semua hal positif yang dikatakan orang lain.

Langkah kecilnya bisa sesederhana mengatakan:

“Terima kasih.”

Tidak perlu menyangkal.

Tidak perlu menjelaskan mengapa pujian tersebut salah.

Tidak perlu langsung percaya bahwa kita memang sehebat yang dikatakan orang lain.

Cukup menerima bahwa seseorang melihat sesuatu yang baik dalam diri kita.

Misalnya:

“Kamu kelihatan bagus hari ini.”

“Terima kasih.”

Selesai.

Menerima pujian bukan berarti menjadi sombong.

Menerima pujian juga tidak berarti kita harus menganggap diri kita sempurna.

Kita hanya mengizinkan orang lain memberikan penghargaan tanpa harus langsung melawannya.

Penutup

Sebagian orang yang kesepian mungkin takut menerima pujian bukan karena mereka membenci perhatian, melainkan karena perhatian tersebut menyentuh bagian diri yang sangat sensitif.

Pujian dapat bertentangan dengan citra diri mereka.

Pujian dapat menimbulkan kecurigaan.

Pujian dapat terasa seperti ekspektasi.

Pujian dapat terasa asing.

Pujian dapat membuka pintu menuju kedekatan yang mereka takutkan.

Dan pada akhirnya, pujian dapat membuat mereka merasa rentan.

Di balik seseorang yang selalu berkata, “Ah, aku biasa saja,” mungkin ada seseorang yang sebenarnya belum terbiasa percaya bahwa dirinya pantas mendapatkan penghargaan.

Di balik seseorang yang selalu menghindari perhatian, mungkin ada seseorang yang takut berharap terlalu banyak.

Dan di balik seseorang yang terlihat tidak membutuhkan siapa pun, mungkin ada seseorang yang sebenarnya sangat ingin merasa diterima.

Karena itu, ketika kita bertemu orang yang sulit menerima pujian, kita tidak selalu perlu memaksanya untuk berubah.

Terkadang yang lebih dibutuhkan adalah hubungan yang aman, perhatian yang konsisten, dan kesempatan untuk perlahan-lahan belajar bahwa menerima kebaikan dari orang lain tidak selalu berarti akan berakhir dengan luka.

Sebab bagi sebagian orang, kalimat sederhana seperti “kamu hebat” bukan sekadar pujian.

Itu bisa menjadi pengalaman baru: merasakan bahwa dirinya akhirnya benar-benar dilihat.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore