seseorang yang kehilangan diri sendiri dalam hubungan / foto: Magnific/namii9
Namun, tanpa disadari, banyak orang mulai kehilangan dirinya ketika berada dalam sebuah hubungan. Awalnya mungkin hanya hal kecil. Mulai jarang bertemu teman karena ingin selalu bersama pasangan. Mengubah cara berpakaian karena pasangan tidak menyukainya. Menghentikan hobi karena dianggap tidak penting. Bahkan, mengambil keputusan berdasarkan pertanyaan, “Kira-kira dia akan marah atau tidak?”
Lama-kelamaan, batas antara “aku” dan “kita” menjadi semakin kabur.
Kita memang membutuhkan kedekatan dalam hubungan. Kita ingin merasa terhubung, dipahami, dan menjadi bagian penting dari kehidupan seseorang. Tetapi kedekatan yang sehat tidak berarti harus mengorbankan identitas pribadi.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (18/9), dalam psikologi hubungan, seseorang tetap membutuhkan ruang untuk memiliki nilai, minat, pertemanan, tujuan, dan keputusan pribadi. Hubungan yang sehat bukan tentang dua orang yang kehilangan dirinya demi menjadi satu, melainkan tentang dua individu yang tetap menjadi dirinya sambil membangun kehidupan bersama.
Jika kamu tidak ingin kehilangan diri sendiri dalam hubungan, berikut delapan hal yang bisa kamu lakukan.
1. Tetap Pertahankan Kehidupan yang Kamu Miliki Sebelum Bertemu Dengannya
Salah satu tanda bahwa seseorang mulai kehilangan dirinya adalah ketika seluruh kehidupannya perlahan berpusat pada pasangan.
Sebelum memiliki hubungan, mungkin kamu memiliki banyak hal yang membuat hidupmu terasa bermakna: pekerjaan, kuliah, keluarga, sahabat, olahraga, membaca, bermain musik, bepergian, atau sekadar menikmati waktu sendirian.
Setelah menjalin hubungan, semuanya mulai berkurang.
Pertemanan semakin jarang dijaga. Hobi ditinggalkan. Waktu untuk diri sendiri hampir tidak ada. Bahkan aktivitas yang dulu membuatmu bahagia mulai dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting dibandingkan menghabiskan waktu bersama pasangan.
Padahal, memiliki kehidupan di luar hubungan bukan berarti kamu kurang mencintai pasangan.
Justru, kehidupan pribadi yang tetap terjaga dapat membantu seseorang mempertahankan identitas dan keseimbangan emosional.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
“Kalau hubungan ini tidak sedang menjadi pusat hidupku, apa saja hal yang sebenarnya membuatku merasa menjadi diriku sendiri?”
Tuliskan jawabannya.
Mungkin ada teman yang ingin kamu hubungi kembali. Buku yang ingin kamu baca. Olahraga yang ingin kamu lakukan. Keahlian yang ingin kamu pelajari. Atau cita-cita yang sempat kamu abaikan.
Mulailah menghidupkan kembali bagian-bagian tersebut.
Hubungan adalah salah satu bagian dari hidupmu. Hubungan tidak harus menjadi seluruh hidupmu.
2. Jangan Takut Mengatakan “Tidak”
Cinta sering membuat seseorang ingin menyenangkan pasangannya.
Kamu ingin dia bahagia. Kamu tidak ingin mengecewakannya. Kamu takut jika menolak, dia akan menganggapmu tidak peduli.
Akibatnya, kamu mulai mengatakan “iya” bahkan ketika sebenarnya ingin mengatakan “tidak”.
“Iya, aku ikut.”
“Iya, aku bisa.”
“Iya, terserah kamu.”
“Iya, aku nggak masalah.”
Padahal sebenarnya kamu keberatan.
Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, kamu bisa mulai kehilangan hubungan dengan kebutuhanmu sendiri.
Dalam hubungan yang sehat, mengatakan “tidak” bukanlah bentuk penolakan terhadap pasangan. Itu adalah cara untuk menunjukkan bahwa kamu juga memiliki batas, kebutuhan, energi, dan pilihan.
Kamu boleh mengatakan:
“Aku ingin menghabiskan waktu sendiri malam ini.”
“Aku kurang nyaman kalau kamu berbicara seperti itu kepadaku.”
“Aku tidak bisa melakukan itu sekarang.”
“Aku punya pendapat yang berbeda.”
Pasangan mungkin tidak selalu menyukai jawabanmu. Namun, hubungan yang sehat seharusnya memiliki ruang bagi kedua orang untuk berbeda.
Jika kamu hanya merasa aman ketika selalu menyetujui pasangan, mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan dalam dinamika hubungan tersebut.
Belajar berkata “tidak” bukan berarti menjadi egois.
Kadang-kadang, berkata “tidak” adalah cara untuk berkata “aku juga menghargai diriku sendiri.”
3. Pertahankan Pertemanan dan Hubungan dengan Keluarga
Ketika sedang jatuh cinta, sangat wajar jika kamu ingin menghabiskan banyak waktu dengan pasangan.
Tetapi jangan sampai semua hubungan lain perlahan menghilang.
Teman dan keluarga memberikan jenis hubungan yang berbeda dari hubungan romantis. Mereka dapat menjadi sumber dukungan, perspektif, pengalaman, dan rasa memiliki.
Ada kalanya pasanganmu tidak bisa menjadi satu-satunya tempat untuk mendapatkan seluruh kebutuhan emosionalmu.
Jika setiap kali sedih kamu hanya memiliki satu orang untuk dihubungi, setiap keputusan hanya dibicarakan dengannya, dan seluruh aktivitas sosialmu hanya melibatkan pasangan, ketergantungan emosional dapat semakin besar.
Karena itu, tetaplah menjaga hubungan dengan orang-orang yang penting bagimu.
Sesekali makan bersama teman.
Hubungi keluarga.
Pergilah bersama sahabat.
Lakukan aktivitas sosial tanpa pasangan.
Bukan untuk membuat pasangan merasa tidak dibutuhkan, tetapi untuk memastikan bahwa identitas sosialmu tidak sepenuhnya bergantung pada satu hubungan.
Dan ada hal penting lainnya.
Jika pasangan terus-menerus meminta kamu menjauh dari teman dan keluarga, merendahkan orang-orang terdekatmu, atau membuatmu merasa bersalah setiap kali menghabiskan waktu tanpa dirinya, jangan langsung menganggapnya sebagai bukti cinta.
Perilaku seperti itu perlu dilihat secara hati-hati dalam konteks hubungan secara keseluruhan.
4. Jangan Mengubah Nilai dan Prinsipmu Hanya Agar Dicintai
Kompromi adalah bagian dari hubungan.
Tetapi kompromi berbeda dengan kehilangan prinsip.
Misalnya, pasangan memiliki kebiasaan yang berbeda. Kamu bisa mencari jalan tengah.
Namun, jika kamu mulai melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai pribadi hanya karena takut kehilangan hubungan, berhentilah sejenak dan tanyakan:
“Apakah aku benar-benar memilih ini, atau aku hanya takut dia pergi?”
Pertanyaan tersebut sangat penting.
Sebab, seseorang dapat beradaptasi dengan pasangan tanpa harus kehilangan nilai fundamentalnya.
Kamu boleh berubah karena berkembang.
Kamu boleh belajar menjadi lebih sabar.
Kamu boleh memperbaiki cara berkomunikasi.
Kamu boleh menerima perspektif baru.
Tetapi perubahan yang sehat biasanya muncul karena kamu memahami alasan perubahan tersebut dan memilihnya secara sadar.
Bukan karena kamu takut ditinggalkan.
Jika kamu terus-menerus menekan nilai, kebutuhan, dan keyakinan pribadi hanya agar hubungan tetap berjalan, suatu hari kamu mungkin merasa asing terhadap dirimu sendiri.
Hubungan yang sehat seharusnya memberi ruang bagi pertumbuhan kedua orang, bukan menuntut salah satunya menghapus dirinya.
5. Miliki Tujuan yang Tetap Menjadi Milikmu
Ketika mulai membangun masa depan bersama seseorang, wajar jika tujuan pribadi berubah menjadi tujuan bersama.
Misalnya, menabung untuk rumah, merencanakan pernikahan, membangun bisnis, atau mempersiapkan kehidupan keluarga.
Namun, jangan sampai semua tujuan hidupmu hanya berkaitan dengan pasangan.
Tetap tanyakan:
“Apa yang ingin aku capai sebagai individu?”
Mungkin kamu ingin mendapatkan gelar tertentu.
Mungkin ingin mengembangkan karier.
Mungkin ingin memiliki bisnis.
Mungkin ingin belajar bahasa baru.
Mungkin ingin menjadi lebih sehat.
Atau mungkin ada mimpi yang selama ini belum pernah kamu ceritakan kepada siapa pun.
Simpan ruang untuk tujuan tersebut.
Memiliki tujuan pribadi bukan berarti kamu tidak serius terhadap hubungan.
Sebaliknya, ketika masing-masing orang tetap berkembang, hubungan dapat menjadi tempat dua orang saling mendukung pertumbuhan.
Bayangkan jika dua orang masuk ke dalam hubungan sambil membawa kehidupan yang sehat dan kemudian saling mendukung.
Keduanya tidak kehilangan diri.
Keduanya justru berkembang.
6. Belajar Menikmati Waktu Sendiri
Banyak orang merasa tidak nyaman ketika harus sendirian setelah memiliki pasangan.
Setiap kali pasangan tidak tersedia, muncul rasa kosong.
Akhirnya, seseorang terus mencari perhatian, pesan, telepon, atau kehadiran pasangan agar merasa tenang.
Padahal, kemampuan menikmati waktu sendiri merupakan bagian penting dari kemandirian emosional.
Sendirian tidak selalu berarti kesepian.
Kamu bisa makan sendiri.
Menonton film sendiri.
Berolahraga sendiri.
Pergi ke tempat yang kamu sukai.
Membaca.
Menulis jurnal.
Berjalan tanpa tujuan tertentu.
Atau sekadar duduk dan mendengarkan pikiran sendiri.
Waktu sendiri memberi kesempatan untuk mengetahui apa yang sebenarnya kamu rasakan tanpa langsung dipengaruhi oleh emosi pasangan.
Cobalah menyediakan waktu secara rutin untuk dirimu sendiri.
Tidak harus berjam-jam.
Bahkan beberapa puluh menit tanpa gangguan dapat menjadi awal yang baik.
Gunakan waktu tersebut untuk bertanya:
“Apa yang sedang aku rasakan?”
“Apa yang sebenarnya aku butuhkan?”
“Apakah aku bahagia dengan kehidupan yang sedang aku jalani?”
“Apakah ada bagian dari diriku yang mulai aku abaikan?”
Semakin kamu mengenal dirimu sendiri, semakin mudah bagimu membedakan antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan hubungan.
7. Jangan Menjadikan Perasaan Pasangan sebagai Tanggung Jawab Penuhmu
Ini adalah salah satu jebakan yang sering terjadi dalam hubungan.
Kamu merasa harus selalu membuat pasangan bahagia.
Kalau dia sedih, kamu merasa bersalah.
Kalau dia marah, kamu langsung menyalahkan diri sendiri.
Kalau dia kecewa, kamu merasa harus melakukan apa pun agar emosinya kembali baik.
Padahal, dalam hubungan yang sehat, kita memang bertanggung jawab terhadap cara kita memperlakukan pasangan, tetapi kita tidak dapat sepenuhnya mengendalikan emosi orang lain.
Pasanganmu tetap memiliki tanggung jawab terhadap perasaannya sendiri.
Kamu dapat mendengarkan.
Kamu dapat meminta maaf ketika memang melakukan kesalahan.
Kamu dapat memberikan dukungan.
Tetapi kamu tidak harus mengorbankan seluruh kebutuhanmu hanya untuk memastikan pasangan tidak pernah kecewa.
Ini bukan berarti mengabaikan pasangan.
Ini tentang memahami batas tanggung jawab emosional.
Ada perbedaan antara:
“Aku peduli dengan perasaanmu.”
dan
“Aku harus selalu membuatmu merasa baik agar hubungan ini aman.”
Yang pertama menunjukkan kepedulian.
Yang kedua dapat membuat seseorang hidup dalam keadaan terus-menerus mengantisipasi emosi pasangannya.
8. Secara Berkala Tanyakan: “Apakah Aku Masih Menjadi Diriku Sendiri?”
Terakhir, lakukan evaluasi terhadap dirimu sendiri.
Bukan hanya bertanya apakah hubunganmu baik-baik saja.
Tetapi tanyakan apakah dirimu juga baik-baik saja di dalam hubungan tersebut.
Coba gunakan beberapa pertanyaan berikut:
Apakah aku masih melakukan hal-hal yang aku sukai?
Apakah aku masih memiliki teman dan kehidupan sosial?
Apakah aku bebas mengungkapkan pendapat?
Apakah aku bisa mengatakan tidak tanpa merasa takut?
Apakah aku masih memiliki tujuan pribadi?
Apakah aku merasa aman menjadi diriku sendiri?
Apakah aku mengambil keputusan karena memang menginginkannya atau karena takut kehilangan pasangan?
Apakah aku merasa semakin berkembang sejak berada dalam hubungan ini?
Tidak ada hubungan yang sempurna.
Setiap pasangan akan mengalami konflik, perbedaan, dan periode ketika salah satu orang membutuhkan lebih banyak dukungan.
Karena itu, pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan alat untuk mencari kesalahan pasangan.
Gunakan sebagai cermin.
Sebab terkadang kita terlalu sibuk mempertahankan hubungan sampai lupa mempertahankan diri sendiri.
Cinta yang Sehat Tidak Meminta Kamu Menghilang
Ada perbedaan besar antara menjadi bagian dari sebuah hubungan dan kehilangan identitas karena hubungan tersebut.
Dalam hubungan yang sehat, kamu tetap bisa berkata:
“Aku mencintaimu, tetapi aku juga punya hidupku sendiri.”
“Aku menghargai pendapatmu, tetapi aku tetap boleh memiliki pendapat yang berbeda.”
“Aku ingin bersamamu, tetapi aku juga membutuhkan waktu untuk diriku sendiri.”
“Aku ingin membangun masa depan bersamamu, tetapi aku juga memiliki impian pribadi.”
Dan yang paling penting:
“Aku bisa mencintaimu tanpa harus berhenti menjadi diriku sendiri.”
Hubungan bukan tentang menemukan seseorang yang membuatmu lengkap karena kamu merasa tidak lengkap sebelumnya.
Hubungan dapat menjadi ruang bagi dua orang yang sudah memiliki identitas masing-masing untuk saling berbagi kehidupan.
Kamu tidak harus memilih antara mencintai seseorang dan mencintai dirimu sendiri.
Keduanya bisa berjalan bersama.
Karena pada akhirnya, mempertahankan diri sendiri bukan berarti menjaga jarak dari pasangan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022