seseorang yang menyikapi orang yang berusaha menjatuhkannya / foto: Magnific/jet-po
Situasi seperti ini bisa sangat menguras energi.
Kita mungkin mulai bertanya-tanya: “Kenapa dia melakukan itu?”, “Apa yang salah dengan saya?”, atau “Haruskah saya membalasnya?”
Menurut psikologi, respons terhadap perilaku seperti ini justru menjadi bagian penting dari bagaimana kita menjaga kesehatan emosional dan harga diri. Kita tidak selalu bisa mengendalikan tindakan orang lain, tetapi kita dapat mengendalikan bagaimana kita meresponsnya.
Yang perlu dipahami, tidak semua perilaku negatif berarti seseorang benar-benar ingin menjatuhkan kita. Kadang seseorang bersikap defensif, kompetitif, iri, merasa terancam, atau sekadar memiliki cara komunikasi yang buruk. Karena itu, sebelum mengambil kesimpulan, penting untuk melihat pola perilakunya secara objektif.
Lalu, bagaimana sebaiknya kita bersikap?
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (14/9), terdapat enam cara yang bisa diterapkan.
1. Jangan Langsung Bereaksi Secara Emosional
Ketika seseorang merendahkan atau mempermalukan kita, respons pertama yang muncul biasanya adalah emosi.
Kita bisa merasa marah, tersinggung, malu, kecewa, atau ingin segera membalas. Reaksi tersebut manusiawi. Namun, masalah sering muncul ketika kita mengambil keputusan saat emosi sedang berada di puncaknya.
Psikologi mengenal pentingnya regulasi emosi, yaitu kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengarahkan respons emosional sebelum mengambil tindakan.
Misalnya, seseorang mengatakan:
“Kamu sebenarnya tidak sehebat yang orang-orang kira.”
Kalimat tersebut bisa memancing kita untuk langsung membalas:
“Memangnya kamu lebih hebat?”
Akhirnya, percakapan berubah menjadi pertengkaran. Orang yang awalnya mencoba memancing emosi kita justru berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
Respons yang lebih sehat adalah memberikan jeda.
Tarik napas. Jangan langsung membalas pesan. Jangan buru-buru membuat unggahan sindiran. Jangan langsung menceritakan kejadian tersebut kepada semua orang.
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Apa respons yang paling menguntungkan saya dalam jangka panjang?”
Ini bukan berarti kita harus diam ketika diperlakukan tidak adil. Justru sebaliknya. Kita tetap bisa bersikap tegas, tetapi tidak membiarkan emosi mengambil alih kendali.
Ada perbedaan besar antara bereaksi dan merespons.
Bereaksi berarti tindakan kita didorong oleh emosi sesaat.
Merespons berarti kita memberikan waktu kepada diri sendiri untuk memilih tindakan yang paling tepat.
Jika seseorang memang berusaha memancing kemarahan kita, ketenangan dapat menjadi bentuk perlindungan diri.
2. Jangan Menjadikan Penilaian Orang sebagai Ukuran Harga Dirimu
Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika menghadapi orang yang suka merendahkan adalah mulai mempercayai perkataan mereka.
Awalnya seseorang berkata:
“Kamu tidak cukup pintar.”
Kemudian kita mulai berpikir:
“Jangan-jangan memang saya tidak pintar.”
Seseorang mengatakan:
“Pekerjaanmu biasa saja.”
Lalu kita mulai meragukan kemampuan sendiri.
Inilah alasan mengapa harga diri yang sehat sangat penting.
Harga diri bukan berarti merasa diri selalu benar atau lebih baik daripada orang lain. Harga diri berarti kita memiliki penilaian terhadap diri sendiri yang tidak sepenuhnya bergantung pada penerimaan, pujian, atau kritik dari orang lain.
Kritik memang perlu didengarkan jika disampaikan dengan alasan yang jelas dan bertujuan memperbaiki sesuatu. Namun, kritik berbeda dengan penghinaan.
Cobalah membedakan keduanya.
Kritik:
“Presentasimu sudah bagus, tetapi datanya masih perlu diperkuat.”
Menjatuhkan:
“Kamu memang tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar.”
Kritik membahas perilaku atau hasil tertentu.
Sementara penghinaan cenderung menyerang identitas seseorang.
Ketika mendapatkan komentar negatif, tanyakan:
“Apakah ini informasi yang berguna atau hanya penilaian yang tidak berdasar?”
Jika memang ada masukan yang valid, ambil pelajarannya.
Jika hanya berupa hinaan, tidak semua perkataan harus kita masukkan ke dalam hati.
Kita tidak wajib menjadikan opini seseorang sebagai fakta tentang diri kita.
3. Perhatikan Polanya, Bukan Hanya Satu Kejadian
Salah satu prinsip penting dalam menghadapi konflik interpersonal adalah jangan terlalu cepat menyimpulkan niat seseorang hanya dari satu kejadian.
Misalnya, seorang rekan kerja lupa mengikutsertakan kita dalam sebuah diskusi.
Kita mungkin langsung berpikir:
“Dia sengaja menyingkirkan saya.”
Padahal bisa saja dia lupa, terburu-buru, atau memang ada kesalahan komunikasi.
Namun, situasinya berbeda jika hal tersebut terus terjadi.
Misalnya:
berulang kali mengabaikan kontribusi kita,
menyebarkan informasi negatif tentang kita,
mengambil kredit atas pekerjaan kita,
sengaja mempermalukan kita di depan orang lain,
memutarbalikkan fakta,
membuat kita terlihat tidak kompeten,
atau mencoba mengadu domba kita dengan orang lain.
Jika perilaku tersebut membentuk pola yang konsisten, kita mempunyai alasan lebih kuat untuk menganggap bahwa hubungan tersebut memang tidak sehat.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Apa yang dia lakukan hari ini?”
Tanyakan juga:
“Apakah ini merupakan pola perilaku yang berulang?”
Pendekatan ini membantu kita menjadi lebih objektif.
Kita tidak perlu paranoid terhadap semua orang. Tetapi kita juga tidak perlu mengabaikan pola perilaku yang jelas-jelas merugikan.
4. Tetapkan Batasan yang Jelas
Ketika menghadapi orang yang terus-menerus merendahkan atau mengganggu, salah satu strategi psikologis yang penting adalah boundary, atau batasan pribadi.
Batasan bukan berarti memusuhi seseorang.
Batasan berarti menentukan perilaku seperti apa yang bisa kita terima dan bagaimana kita akan bertindak ketika batas tersebut dilanggar.
Contohnya, jika seseorang terus membuat lelucon yang merendahkan kita, kita tidak harus ikut tertawa hanya untuk menjaga suasana.
Kita bisa mengatakan:
“Saya tidak nyaman kalau pembicaraan seperti itu diarahkan kepada saya.”
Atau:
“Kalau ada masalah dengan pekerjaan saya, lebih baik kita bicarakan secara langsung.”
Kalimat seperti ini sederhana, tetapi menunjukkan bahwa kita tidak bersedia menjadi sasaran perlakuan yang tidak pantas.
Dalam lingkungan kerja, batasan juga dapat berbentuk profesionalisme.
Jika seseorang suka memutarbalikkan perkataan kita, biasakan melakukan komunikasi penting melalui saluran yang dapat dicatat. Jika seseorang sering mengambil alih hasil kerja kita, dokumentasikan kontribusi dengan baik.
Batasan tidak selalu berupa perkataan.
Kadang batasan berarti:
mengurangi interaksi,
tidak membagikan informasi pribadi,
menjaga komunikasi tetap profesional,
menolak permintaan yang tidak masuk akal,
atau menjauh dari lingkungan yang terus-menerus merugikan.
Ingat, menjaga jarak bukan berarti kalah.
Terkadang menjaga jarak adalah cara paling sehat untuk melindungi ketenangan diri.
5. Jangan Membalas dengan Cara yang Sama
Ketika dijatuhkan, godaan terbesar adalah melakukan hal yang sama kepada orang tersebut.
Jika dia menyebarkan gosip tentang kita, kita ingin membalas dengan gosip.
Jika dia mempermalukan kita, kita ingin membuka kelemahannya.
Jika dia merendahkan kita, kita ingin menunjukkan bahwa sebenarnya dia jauh lebih buruk.
Masalahnya, tindakan tersebut sering membuat kita masuk ke dalam pola konflik yang tidak berujung.
Kita akhirnya menjadi bagian dari permainan yang sama.
Dalam situasi tertentu, membalas mungkin memberikan kepuasan sesaat. Namun, kepuasan tersebut belum tentu memberikan solusi jangka panjang.
Cobalah menggunakan prinsip:
“Saya tidak harus turun ke level perilaku yang sedang saya kritik.”
Jika seseorang menyerang reputasi kita, fokuslah pada konsistensi perilaku kita.
Jika seseorang mengatakan kita tidak kompeten, biarkan kualitas pekerjaan berbicara.
Jika seseorang menyebarkan cerita negatif, jangan otomatis membuat kampanye untuk membuktikan bahwa dia salah.
Tentu saja, ini bukan berarti kita harus membiarkan fitnah atau tindakan serius tanpa respons.
Jika reputasi, pekerjaan, keamanan, atau hak kita benar-benar terancam, kita perlu mengambil langkah yang tepat. Dalam konteks profesional, misalnya, kita dapat menyimpan bukti, berbicara kepada pihak terkait, atau menggunakan mekanisme formal yang tersedia.
Tidak membalas secara emosional bukan berarti tidak bertindak.
Kita tetap dapat bertindak tegas tanpa menjadi agresif.
6. Fokus pada Perkembangan Diri, Bukan pada Usaha Membuktikan Diri kepada Mereka
Ini mungkin merupakan langkah yang paling sulit sekaligus paling penting.
Ketika seseorang berusaha menjatuhkan kita, kita sering terjebak dalam keinginan untuk membuktikan bahwa mereka salah.
Kita ingin mereka melihat bahwa kita sukses.
Kita ingin mereka menyesal.
Kita ingin mereka mengakui kemampuan kita.
Namun, jika seluruh perkembangan diri didorong oleh keinginan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain, kita sebenarnya masih memberikan mereka terlalu banyak kendali atas kehidupan kita.
Misalnya:
“Saya harus sukses supaya dia tahu bahwa dia salah.”
Masalahnya, ketika kesuksesan kita masih ditujukan kepada orang tersebut, perhatian kita tetap tertuju kepadanya.
Tujuan yang lebih sehat adalah:
“Saya ingin berkembang karena itu penting bagi hidup saya.”
Ada perbedaan psikologis yang besar antara keduanya.
Yang pertama berorientasi pada validasi eksternal.
Yang kedua berorientasi pada nilai dan tujuan pribadi.
Jadi, daripada terus memikirkan:
“Bagaimana caranya membuat dia berhenti meremehkan saya?”
Lebih baik bertanya:
“Apa yang bisa saya lakukan untuk meningkatkan kualitas hidup saya?”
Fokus pada pekerjaan.
Tingkatkan keterampilan.
Bangun hubungan yang sehat.
Jaga kesehatan.
Kembangkan kemampuan komunikasi.
Belajar dari kesalahan.
Bangun reputasi melalui konsistensi.
Pada akhirnya, seseorang mungkin tetap tidak menyukai kita meskipun kita sudah melakukan semuanya dengan baik.
Dan itu tidak selalu menjadi masalah kita.
Mengapa Ada Orang yang Suka Menjatuhkan Orang Lain?
Penting untuk berhati-hati dalam menjelaskan perilaku manusia.
Tidak tepat jika kita langsung mengatakan bahwa setiap orang yang menjatuhkan orang lain pasti iri, insecure, atau memiliki masalah psikologis tertentu.
Perilaku manusia jauh lebih kompleks.
Seseorang dapat bersikap kompetitif karena lingkungan yang sangat kompetitif. Seseorang dapat merendahkan orang lain karena belajar pola komunikasi tersebut dari lingkungannya. Ada juga yang melakukannya karena ingin mendapatkan status, perhatian, kontrol, atau penerimaan kelompok.
Dalam beberapa situasi, seseorang mungkin merasa terancam oleh keberhasilan orang lain.
Misalnya, ketika seorang anggota tim mulai mendapatkan pengakuan, rekan tertentu merasa posisinya terancam. Ia kemudian mencoba mengurangi kredibilitas orang tersebut.
Namun, kita tidak bisa mengetahui motif seseorang hanya dengan melihat satu perilaku.
Karena itu, daripada sibuk mendiagnosis:
“Dia pasti iri.”
lebih baik fokus pada pertanyaan:
“Apakah perilakunya merugikan saya, dan apa respons yang paling sehat?”
Pertanyaan tersebut jauh lebih berguna.
Kapan Kita Harus Mengabaikan dan Kapan Harus Bertindak?
Tidak semua komentar negatif perlu dilawan.
Ada kalanya mengabaikan adalah pilihan terbaik.
Misalnya, seseorang membuat komentar sinis sekali dan tidak memiliki dampak nyata terhadap kehidupan kita. Kita tidak perlu menghabiskan energi untuk membuktikan sesuatu.
Namun, ada situasi yang membutuhkan tindakan lebih tegas.
Terutama jika seseorang:
melakukan perundungan secara berulang,
menyebarkan tuduhan palsu yang merugikan,
mengganggu pekerjaan,
melakukan intimidasi,
mengancam keselamatan,
melakukan pelecehan,
atau menggunakan posisi dan kekuasaannya untuk merugikan kita.
Dalam kondisi seperti itu, “abaikan saja” bukan selalu nasihat yang tepat.
Kita perlu mencari dukungan dan menggunakan jalur yang sesuai dengan situasi.
Di tempat kerja, misalnya, dokumentasi dapat menjadi penting. Catat kejadian, tanggal, komunikasi, dan dampaknya. Jika diperlukan, bicarakan dengan pihak yang memiliki kewenangan.
Tujuannya bukan untuk melakukan balas dendam.
Tujuannya adalah melindungi diri dan menyelesaikan masalah secara proporsional.
Jangan Biarkan Orang Lain Mengendalikan Ketenanganmu
Pada akhirnya, salah satu bentuk kekuatan psikologis adalah kemampuan untuk tidak memberikan kendali penuh atas kondisi emosional kita kepada orang lain.
Kita tidak bisa menentukan apa yang akan dikatakan orang.
Kita tidak bisa mengontrol apakah seseorang menyukai kita.
Kita juga tidak selalu bisa menghentikan seseorang dari mencoba merendahkan kita.
Tetapi kita masih memiliki kendali atas:
bagaimana kita menilai situasi,
bagaimana kita berbicara kepada diri sendiri,
bagaimana kita menetapkan batasan,
siapa yang kita izinkan dekat dengan kita,
dan tindakan apa yang kita pilih.
Orang lain boleh memiliki penilaian terhadap kita.
Namun, penilaian mereka tidak otomatis menjadi kebenaran.
Jika seseorang berusaha menjatuhkan kita, tidak selalu diperlukan perang.
Terkadang respons terbaik adalah tenang, objektif, tegas, dan terus berjalan.
Karena pada akhirnya, hidup kita terlalu berharga jika seluruh energi hanya digunakan untuk membuktikan bahwa seseorang yang meremehkan kita ternyata salah.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Bursa Skor Shamal vs Al Ittihad di Liga Champions Asia, Peluang Tim Tamu Kuasai Tanah Arab
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sebut MBG Tak Bermasalah, Sudaryono: Yang Bikin Ramai Guru, Ortu, Wartawan, Hingga LSM
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Prediksi Skor Torino vs Roma di Liga Italia: Giallorossi Siap Obrak-abrik Markas Il Toro

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022