Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 September 2026 | 04.03 WIB

12 Cara yang Dapat Dilakukan Orang Tua untuk Membantu Anak saat Kesulitan Mencari Teman Baru

seseorang yang membantu anak untuk mencari teman baru / foto: Magnific/ake1150sb

 

JawaPos.com - Bagi sebagian anak, bertemu dengan teman baru adalah pengalaman yang menyenangkan. Mereka dapat dengan mudah menyapa, mengajak bermain, atau bergabung dalam kelompok. Namun, bagi anak lainnya, mencari teman baru justru bisa menjadi pengalaman yang menegangkan.

Anak mungkin merasa malu, takut ditolak, bingung harus memulai percakapan dari mana, atau merasa tidak cukup menarik untuk diterima oleh kelompok. Ada pula anak yang sebenarnya ingin memiliki banyak teman, tetapi tidak tahu bagaimana cara mendekati orang lain.

Dalam kondisi seperti ini, orang tua memiliki peran penting. Namun, membantu anak bukan berarti memaksa mereka untuk menjadi lebih banyak bicara atau menyuruh mereka "jangan malu". Dukungan yang efektif justru dimulai dengan memahami perasaan anak, memberikan kesempatan untuk berlatih, serta membantu mereka membangun keterampilan sosial secara bertahap.

Menurut perspektif psikologi perkembangan, kemampuan berteman merupakan salah satu keterampilan sosial yang berkembang seiring usia dan pengalaman. Tidak semua anak berkembang dengan kecepatan yang sama. Ada anak yang cepat beradaptasi dengan lingkungan sosial, sementara anak lainnya membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa aman.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (15/9), terdapat 12 cara yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak yang kesulitan mencari teman baru.

1. Dengarkan Kesulitan Anak Tanpa Langsung Menghakimi

Langkah pertama yang dapat dilakukan orang tua adalah mendengarkan.

Ketika anak berkata, "Aku nggak punya teman di sekolah," sebagian orang tua mungkin langsung memberikan nasihat seperti, "Ya sudah, kamu tinggal ajak main saja." Meskipun maksudnya baik, respons semacam ini terkadang membuat anak merasa bahwa masalahnya dianggap sederhana.

Bagi anak, mencari teman baru bisa terasa sangat sulit.

Orang tua dapat mencoba menggali lebih jauh dengan pertanyaan yang lembut, misalnya:

"Apa yang biasanya terjadi ketika kamu ingin bermain dengan teman?"
"Kamu merasa malu atau takut ditolak?"
"Ada teman tertentu yang sebenarnya ingin kamu ajak berteman?"
"Bagian mana yang paling sulit buat kamu?"

Tujuannya bukan melakukan interogasi, melainkan membantu anak memahami apa yang sebenarnya mereka rasakan.

Dalam psikologi, kemampuan orang tua untuk merespons emosi anak dengan empati dapat membantu anak merasa aman secara emosional. Ketika anak merasa didengar dan diterima, mereka cenderung lebih terbuka untuk membicarakan kesulitan sosial yang dialami.

Jadi, sebelum mengajarkan anak bagaimana mendapatkan teman, pastikan anak terlebih dahulu merasa bahwa orang tuanya berada di pihak mereka.

2. Jangan Memberi Label "Pemalu" kepada Anak

Salah satu hal yang sering dilakukan tanpa disadari orang tua adalah memberikan label.

Misalnya:

"Dia memang anaknya pemalu."

"Anak saya susah bergaul."

"Dia memang tidak pandai berteman."

Label seperti ini dapat memengaruhi cara anak melihat dirinya sendiri.

Ada perbedaan antara mengatakan "kamu sedang merasa malu" dan "kamu memang anak pemalu." Kalimat pertama menggambarkan sebuah kondisi yang bisa berubah, sedangkan kalimat kedua terdengar seperti identitas yang melekat pada diri anak.

Orang tua sebaiknya menggunakan bahasa yang lebih fleksibel.

Daripada:

"Kamu memang susah bergaul."

Lebih baik:

"Kamu mungkin membutuhkan waktu untuk merasa nyaman dengan orang baru."

Perubahan kecil dalam bahasa dapat membantu anak memahami bahwa kemampuan sosial bukan sesuatu yang bersifat tetap.

Anak dapat belajar menyapa, mendengarkan, berbicara, bekerja sama, dan memulai interaksi. Dengan latihan dan pengalaman positif, keterampilan tersebut dapat berkembang.

3. Validasi Perasaan Anak, Bukan Ketakutannya

Ketika anak takut mendekati teman baru, orang tua sebaiknya tidak langsung mengatakan:

"Jangan takut."

"Ah, itu kan gampang."

"Jangan dipikirkan."

Respons tersebut dapat membuat anak merasa bahwa emosinya tidak seharusnya muncul.

Sebaliknya, orang tua dapat melakukan validasi.

Misalnya:

"Wajar kalau kamu merasa gugup ketika harus bertemu teman baru."

"Ayah/Ibu mengerti kalau kamu takut ditolak."

"Memulai percakapan dengan orang yang belum dikenal memang bisa membuat gugup."

Validasi bukan berarti orang tua menyetujui bahwa anak tidak mampu berteman. Validasi berarti mengakui bahwa perasaan anak benar-benar ada.

Setelah perasaan anak diterima, orang tua dapat membantu mereka bergerak ke langkah berikutnya.

Misalnya:

"Kalau kamu gugup, kita bisa latihan dulu bagaimana cara menyapa teman."

Dengan demikian, anak belajar bahwa rasa takut tidak harus membuat mereka berhenti mencoba.

4. Ajarkan Keterampilan Sosial Secara Konkret

Terkadang anak bukan tidak mau berteman, tetapi memang tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Bagi orang dewasa, mengatakan "coba ajak dia ngobrol" terdengar mudah. Namun, anak mungkin tidak tahu bagaimana memulainya.

Orang tua dapat mengajarkan langkah-langkah sederhana.

Contohnya:

Langkah pertama: menyapa.

"Hai, namamu siapa?"

Langkah kedua: mencari kesamaan.

"Kamu suka main bola juga?"

Langkah ketiga: mengajukan pertanyaan.

"Kamu biasanya bermain apa saat istirahat?"

Langkah keempat: mengajak melakukan aktivitas bersama.

"Mau main bareng?"

Anak tidak perlu menjadi pembicara yang hebat. Interaksi sosial sering kali dimulai dari percakapan sederhana.

Orang tua juga dapat mengajarkan keterampilan seperti:

melakukan kontak mata yang nyaman,
tersenyum,
mendengarkan ketika orang lain berbicara,
bergantian berbicara,
tidak memotong pembicaraan,
mengajukan pertanyaan,
berbagi,
meminta izin,
dan menghargai batasan orang lain.

Keterampilan sosial dapat dipelajari melalui contoh dan latihan, bukan hanya melalui nasihat.

5. Lakukan Role-Play di Rumah

Salah satu cara yang efektif untuk membantu anak mempersiapkan diri menghadapi situasi sosial adalah melakukan role-play atau bermain peran.

Orang tua dapat berpura-pura menjadi teman baru.

Misalnya, orang tua berkata:

"Hai, aku baru di sekolah ini. Namaku Budi."

Kemudian anak berlatih menjawab:

"Hai, aku Raka. Kamu mau bermain denganku?"

Setelah itu, orang tua dapat membuat situasi yang sedikit lebih sulit.

Misalnya:

"Aku sudah punya teman. Kamu mau ikut bermain?"

Anak dapat berlatih bagaimana merespons.

Permainan peran membuat situasi sosial terasa lebih familiar. Anak juga mendapatkan kesempatan untuk mencoba berbagai respons tanpa harus menghadapi konsekuensi sosial secara langsung.

Orang tua sebaiknya tidak terlalu fokus pada kesempurnaan.

Jika anak salah menjawab, jangan langsung mengoreksi dengan keras. Lebih baik katakan:

"Coba kita cari cara lain. Kalau kamu ingin ikut bermain, kamu bisa bilang..."

Dengan cara ini, latihan terasa seperti permainan, bukan ujian.

6. Bantu Anak Menemukan Lingkungan yang Sesuai dengan Minatnya

Anak tidak harus berteman dengan semua orang.

Terkadang, lingkungan yang tepat dapat membuat proses mencari teman menjadi jauh lebih mudah.

Anak yang menyukai menggambar mungkin lebih mudah menemukan teman dalam kegiatan seni. Anak yang menyukai olahraga mungkin merasa lebih nyaman dalam klub olahraga. Anak yang tertarik pada musik, membaca, sains, permainan tertentu, atau aktivitas kreatif dapat memperoleh kesempatan bertemu dengan anak-anak yang memiliki minat serupa.

Kesamaan minat memberikan "jembatan" alami dalam interaksi sosial.

Anak tidak perlu memulai percakapan dari topik yang rumit. Mereka dapat memulai dari sesuatu yang memang mereka sukai.

Misalnya:

"Kamu juga suka menggambar?"

"Kamu pernah main permainan ini?"

"Kamu suka pemain bola itu juga?"

Kesamaan tersebut dapat mengurangi tekanan dalam membangun hubungan.

Karena itu, daripada hanya menyuruh anak "cari teman", orang tua dapat membantu menciptakan lebih banyak kesempatan sosial yang sesuai dengan karakter dan minat anak.

7. Mulai dari Satu Teman, Bukan Harus Banyak Teman

Sebagian anak merasa gagal karena melihat teman-temannya memiliki kelompok pertemanan yang besar.

Padahal, anak tidak membutuhkan banyak teman untuk memiliki hubungan sosial yang sehat.

Satu hubungan pertemanan yang positif dapat menjadi awal yang sangat baik.

Orang tua dapat membantu anak mengidentifikasi satu teman yang tampaknya memiliki minat yang sama atau terlihat cukup ramah.

Kemudian, orang tua dapat membantu menciptakan kesempatan interaksi yang lebih kecil.

Misalnya, mengundang satu teman untuk bermain di rumah, belajar bersama, atau melakukan aktivitas yang disukai keduanya.

Situasi satu lawan satu terkadang terasa lebih nyaman bagi anak yang mudah gugup dalam kelompok besar.

Ketika anak berhasil membangun satu hubungan positif, rasa percaya dirinya dapat meningkat. Pengalaman tersebut juga dapat menjadi dasar untuk mengembangkan hubungan sosial lainnya.

8. Ajarkan Anak Bahwa Penolakan Tidak Selalu Berarti Ada yang Salah dengan Dirinya

Salah satu ketakutan terbesar ketika mencari teman adalah penolakan.

Anak mungkin mengajak seseorang bermain tetapi ditolak.

Jika pengalaman tersebut tidak dibantu dengan baik, anak dapat menarik kesimpulan:

"Aku tidak disukai."

"Aku tidak punya teman."

"Aku memang aneh."

Orang tua perlu membantu anak memahami bahwa penolakan sosial tidak selalu menunjukkan nilai diri seseorang.

Ada banyak alasan mengapa seorang anak mungkin tidak menerima ajakan bermain.

Mungkin mereka sedang ingin bermain dengan kelompok tertentu. Mungkin mereka sedang memiliki masalah sendiri. Mungkin mereka sedang tidak ingin bermain. Atau mungkin memang terdapat ketidakcocokan karakter.

Orang tua dapat mengatakan:

"Ditolak bermain sekali bukan berarti kamu tidak disukai semua orang."

"Kamu sudah berani mencoba. Itu sesuatu yang bagus."

"Kita bisa mencari teman lain yang lebih cocok."

Pesan seperti ini membantu anak memisahkan antara pengalaman ditolak dan penilaian terhadap harga dirinya.

9. Ajarkan Anak Membaca Situasi Sosial

Berteman juga membutuhkan kemampuan membaca situasi.

Misalnya, anak perlu belajar mengenali kapan seseorang sedang ingin berbicara, kapan seseorang membutuhkan ruang, atau kapan waktu yang tepat untuk bergabung dalam permainan.

Orang tua dapat menggunakan kejadian sehari-hari sebagai kesempatan belajar.

Misalnya saat melihat anak-anak sedang bermain:

"Menurut kamu, mereka sedang melakukan apa?"

"Kalau kamu ingin ikut, kira-kira apa yang bisa kamu katakan?"

"Menurut kamu, mereka sedang terbuka untuk teman baru atau sedang ingin bermain sendiri?"

Diskusi seperti ini membantu anak mengembangkan kesadaran sosial.

Namun, orang tua tidak perlu menjadikan setiap interaksi sebagai pelajaran formal. Percakapan sederhana sudah cukup.

Yang penting adalah membantu anak belajar bahwa interaksi sosial memiliki konteks.

10. Berikan Pujian pada Usaha, Bukan Hanya Hasil

Orang tua mungkin secara tidak sengaja hanya memberikan penghargaan ketika anak berhasil mendapatkan teman.

Misalnya:

"Wah, sekarang kamu punya teman!"

Namun, bagaimana jika anak sudah berusaha menyapa tetapi belum berhasil?

Dalam kondisi tersebut, usaha anak tetap layak dihargai.

Orang tua dapat mengatakan:

"Ibu bangga kamu berani menyapa dia."

"Kamu tadi kelihatan gugup, tetapi kamu tetap mencoba."

"Itu tidak mudah, tetapi kamu mau mencoba lagi."

Pendekatan yang berfokus pada proses membantu anak memahami bahwa keberhasilan sosial bukan hanya tentang hasil akhir.

Keberanian untuk mencoba merupakan bagian penting dari perkembangan keterampilan.

Dengan demikian, anak tidak belajar bahwa "aku harus berhasil mendapatkan teman", tetapi "aku bisa terus belajar berinteraksi dengan orang lain."

11. Jadilah Model dalam Cara Berinteraksi dengan Orang Lain

Anak banyak belajar melalui pengamatan.

Mereka dapat memperhatikan bagaimana orang tua menyapa tetangga, berbicara dengan orang baru, meminta bantuan, menghadapi perbedaan pendapat, atau menyelesaikan konflik.

Karena itu, orang tua dapat menjadi contoh nyata keterampilan sosial.

Misalnya ketika bertemu seseorang yang baru:

"Halo, senang bertemu dengan Anda. Namanya siapa?"

Atau ketika terjadi kesalahpahaman:

"Sepertinya tadi kita salah paham. Mari kita bicarakan baik-baik."

Anak dapat melihat bahwa keterampilan sosial bukan sekadar tentang menjadi banyak bicara.

Berteman juga membutuhkan kemampuan mendengarkan, menghargai orang lain, mengelola emosi, meminta maaf, menyelesaikan konflik, dan mengetahui kapan harus memberikan ruang.

Orang tua tidak perlu menjadi contoh yang sempurna. Justru menunjukkan bagaimana seseorang memperbaiki kesalahan dapat menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi anak.

12. Ketahui Kapan Anak Membutuhkan Bantuan Profesional

Kesulitan mencari teman merupakan hal yang cukup umum pada masa kanak-kanak. Namun, orang tua perlu memperhatikan jika kesulitan sosial berlangsung lama dan mulai mengganggu kesejahteraan anak.

Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain:

anak sangat takut terhadap situasi sosial,
anak terus-menerus menghindari sekolah atau kegiatan sosial,
anak tampak sangat tertekan setelah berinteraksi dengan teman,
anak terus mengatakan bahwa dirinya tidak disukai atau tidak berharga,
anak mengalami kesulitan sosial yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari,
anak menjadi sangat menarik diri,
terdapat tanda-tanda perundungan atau bullying,
atau perubahan perilaku terjadi secara tiba-tiba dan cukup signifikan.

Dalam situasi seperti ini, orang tua tidak perlu menunggu sampai masalah menjadi semakin berat.

Orang tua dapat berbicara dengan guru, konselor sekolah, psikolog anak, atau tenaga profesional lain yang sesuai.

Bantuan profesional bukan berarti anak "bermasalah". Justru, dukungan lebih awal dapat membantu anak memahami dirinya dan mempelajari strategi sosial yang lebih efektif.

Yang Sebaiknya Tidak Dilakukan Orang Tua

Selain mengetahui apa yang dapat dilakukan, orang tua juga perlu mengetahui beberapa respons yang sebaiknya dihindari.

Jangan membandingkan anak

"Kenapa kamu tidak seperti kakakmu?"

"Lihat temanmu, dia gampang sekali berteman."

Perbandingan dapat membuat anak merasa kurang mampu.

Jangan memaksa anak menjadi ekstrover

Tidak semua anak harus menjadi pusat perhatian.

Anak yang tenang, pendiam, atau membutuhkan waktu untuk beradaptasi bukan berarti memiliki masalah.

Tujuannya bukan mengubah kepribadian anak, melainkan membantu mereka memiliki keterampilan sosial yang cukup untuk menjalani kehidupan dengan nyaman.

Jangan mempermalukan anak di depan orang lain

Hindari mengatakan:

"Dia memang pemalu."

"Makanya, anak saya susah berteman."

Komentar seperti ini dapat membuat anak semakin sadar dan cemas terhadap dirinya sendiri.

Jangan mengambil alih semua masalah sosial anak

Orang tua tentu ingin melindungi anak. Namun, jika setiap konflik langsung diselesaikan oleh orang tua, anak mungkin kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi situasi sosial secara mandiri.

Bantu anak memahami masalah dan mencari solusi, tetapi berikan ruang bagi mereka untuk mencoba.

Pada Akhirnya, Anak Tidak Harus Memiliki Banyak Teman

Dalam membicarakan kemampuan sosial anak, penting untuk tidak menjadikan jumlah teman sebagai ukuran keberhasilan.

Anak yang memiliki dua atau tiga teman dekat tidak otomatis kurang berhasil dibandingkan anak yang memiliki kelompok pertemanan besar.

Yang lebih penting adalah apakah anak memiliki hubungan yang sehat, merasa diterima, mampu berkomunikasi, dan memiliki kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri.

Setiap anak memiliki karakter yang berbeda.

Ada anak yang langsung nyaman berada dalam kelompok besar. Ada yang lebih menikmati percakapan satu lawan satu. Ada yang membutuhkan waktu sebelum merasa aman. Ada pula anak yang lebih mudah berteman setelah menemukan kesamaan minat.

Orang tua tidak perlu memaksa anak menjadi orang lain.

Peran orang tua adalah membantu anak memahami perasaannya, mengembangkan keterampilan sosial, menyediakan kesempatan untuk berinteraksi, serta memberikan keyakinan bahwa dirinya tetap berharga meskipun tidak selalu diterima oleh semua orang.

Pada akhirnya, tujuan membantu anak mencari teman bukanlah membuat anak disukai semua orang.

Tujuannya adalah membantu anak memiliki rasa percaya diri, keterampilan sosial, kemampuan menghadapi penolakan, dan keberanian untuk membangun hubungan yang sehat.

Dan proses tersebut tidak harus berlangsung dengan cepat.

Terkadang, satu sapaan sederhana, satu kesempatan bermain bersama, atau satu pengalaman diterima oleh seorang teman sudah cukup menjadi langkah awal yang sangat berarti bagi perkembangan sosial anak.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore