Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 September 2026 | 21.30 WIB

7 Hal yang Dilakukan Orang Bermental Kuat Saat Kehilangan Pekerjaan Menurut Psikologi

seseorang yang tetap semangat meski kehilangan pekerjaan / foto: Magnific/user21870715

 

JawaPos.com - Kehilangan pekerjaan bukan sekadar kehilangan sumber penghasilan. Bagi banyak orang, pekerjaan juga merupakan bagian dari identitas, rutinitas, rasa aman, harga diri, bahkan gambaran tentang masa depan.

Karena itu, ketika seseorang tiba-tiba terkena PHK, kontraknya tidak diperpanjang, atau harus meninggalkan pekerjaan karena keadaan tertentu, reaksi emosional yang muncul bisa sangat kuat.

Ada yang merasa malu. Ada yang marah. Ada yang takut menghadapi masa depan. Sebagian bahkan mulai mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri.

Namun, kehilangan pekerjaan tidak selalu menjadi akhir dari segalanya. Dari sudut pandang psikologi, cara seseorang merespons situasi sulit sering kali lebih menentukan daripada situasi itu sendiri.

Orang yang memiliki ketahanan mental atau psychological resilience bukan berarti tidak merasa sedih, takut, kecewa, atau tertekan. Mereka tetap merasakan emosi tersebut. Bedanya, mereka tidak membiarkan emosi itu mengambil alih seluruh hidupnya.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (5/9), terdapat tujuh hal yang cenderung dilakukan orang bermental kuat ketika kehilangan pekerjaan.

1. Mereka Mengakui Bahwa Kehilangan Pekerjaan Memang Menyakitkan

Salah satu kesalahpahaman tentang mental kuat adalah anggapan bahwa seseorang harus selalu terlihat tenang dan tidak boleh merasa sedih.

Padahal, secara psikologis, menekan emosi bukanlah tanda kekuatan.

Ketika kehilangan pekerjaan, wajar jika seseorang merasa kecewa, marah, takut, bingung, atau bahkan kehilangan arah. Pekerjaan yang selama bertahun-tahun dijalani mungkin sudah menjadi bagian dari rutinitas dan identitas seseorang.

Orang yang mentalnya kuat tidak buru-buru mengatakan:

"Saya harus baik-baik saja."

Mereka justru mampu mengatakan kepada dirinya sendiri:

"Ini memang berat. Saya kecewa. Saya takut. Tetapi saya akan melewati ini."

Kemampuan untuk mengenali dan menerima emosi merupakan bagian penting dari regulasi emosi.

Artinya, seseorang tidak menyangkal apa yang sedang dirasakan, tetapi juga tidak membiarkan perasaan tersebut menentukan semua keputusan.

Ada perbedaan besar antara menerima emosi dan menyerah pada emosi.

Misalnya, merasa takut karena belum mendapatkan pekerjaan baru adalah hal yang wajar. Namun, orang yang tangguh tidak menjadikan rasa takut tersebut sebagai alasan untuk berhenti mencari solusi.

Mereka memberikan ruang untuk merasa sedih, kemudian perlahan kembali bertanya:

"Apa yang masih bisa saya lakukan sekarang?"

Inilah salah satu bentuk kekuatan mental yang sebenarnya.

2. Mereka Tidak Menjadikan PHK sebagai Ukuran Harga Diri

Kehilangan pekerjaan sering kali membuat seseorang menarik kesimpulan yang terlalu jauh.

"Kalau saya dipecat, berarti saya tidak cukup bagus."

"Kalau orang lain masih bekerja sementara saya tidak, berarti saya gagal."

"Mungkin saya memang tidak punya kemampuan."

Padahal, status pekerjaan dan nilai diri seseorang adalah dua hal yang berbeda.

Kehilangan pekerjaan bisa terjadi karena banyak faktor. Kondisi perusahaan, restrukturisasi, perubahan ekonomi, efisiensi, perubahan strategi bisnis, berakhirnya kontrak, atau keputusan organisasi tidak selalu mencerminkan kualitas pribadi seseorang.

Orang yang bermental kuat berusaha memisahkan antara situasi yang sedang dialami dan identitas dirinya.

Mereka mungkin mengatakan:

"Saya sedang tidak memiliki pekerjaan."

Bukan:

"Saya adalah orang yang gagal."

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi secara psikologis sangat penting.

Kalimat pertama menggambarkan sebuah keadaan yang bisa berubah.

Kalimat kedua mengubah keadaan sementara menjadi identitas permanen.

Ketika seseorang mulai menganggap dirinya sebagai "orang gagal", rasa malu dan rendah diri dapat membuatnya semakin sulit mengambil tindakan.

Sebaliknya, ketika seseorang melihat pengangguran sebagai sebuah fase, ia masih dapat melihat kemungkinan bahwa keadaan tersebut akan berubah.

Pekerjaan adalah bagian dari kehidupan seseorang.

Pekerjaan bukan keseluruhan nilai dirinya.

3. Mereka Mengendalikan Hal yang Masih Bisa Dikendalikan

Setelah kehilangan pekerjaan, ada banyak hal yang berada di luar kendali.

Seseorang tidak bisa mengubah keputusan perusahaan yang sudah terjadi.

Ia juga tidak bisa mengendalikan kondisi pasar kerja, jumlah pelamar lain, keputusan perekrut, atau kapan tepatnya sebuah perusahaan akan membuka lowongan.

Jika terlalu banyak memikirkan hal-hal tersebut, seseorang bisa merasa semakin tidak berdaya.

Orang yang memiliki mental kuat biasanya mengalihkan perhatian kepada sesuatu yang masih dapat dikendalikan.

Misalnya:

memperbarui CV;
memperbaiki profil profesional;
mempelajari keterampilan baru;
menghubungi jaringan profesional;
mencari pekerjaan setiap hari;
mempersiapkan diri untuk wawancara;
mengatur kembali pengeluaran;
membangun rutinitas harian;
atau mencari sumber penghasilan sementara.

Prinsip sederhananya adalah:

Jangan menghabiskan seluruh energi untuk mengubah sesuatu yang memang tidak bisa diubah.

Psikologi positif sering menekankan pentingnya sense of agency, yaitu perasaan bahwa seseorang masih memiliki kemampuan untuk mengambil tindakan dan memengaruhi kehidupannya.

Ketika seseorang kehilangan pekerjaan, rasa kontrol tersebut bisa ikut hilang.

Karena itu, melakukan tindakan kecil dapat membantu mengembalikan rasa kendali.

Bahkan sesuatu yang sederhana seperti mengirim satu lamaran, belajar selama 30 menit, atau menghubungi seorang teman untuk meminta informasi lowongan dapat memberikan pesan kepada diri sendiri:

"Saya masih bisa melakukan sesuatu."

Dan perasaan memiliki kendali tersebut sangat berharga ketika hidup sedang tidak pasti.

4. Mereka Tidak Mengisolasi Diri

Saat kehilangan pekerjaan, sebagian orang memilih menghilang.

Mereka berhenti bertemu teman.

Malas menjawab pesan.

Menghindari keluarga.

Tidak ingin menceritakan kondisinya kepada siapa pun karena merasa malu.

Padahal, isolasi sosial justru dapat membuat beban psikologis terasa semakin berat.

Manusia pada dasarnya membutuhkan hubungan sosial, terutama ketika menghadapi tekanan.

Orang yang bermental kuat memahami bahwa meminta dukungan bukan berarti lemah.

Mereka bersedia berbicara dengan orang yang dipercaya.

Bukan berarti mereka harus menceritakan semua masalah kepada semua orang. Mereka hanya menyadari bahwa menghadapi masa sulit tidak harus dilakukan sendirian.

Dukungan sosial dapat hadir dalam berbagai bentuk.

Seorang teman mungkin memberikan informasi mengenai lowongan pekerjaan.

Mantan rekan kerja mungkin mengenalkan kepada seseorang.

Keluarga mungkin memberikan dukungan emosional.

Atau seseorang hanya membutuhkan teman untuk mendengarkan tanpa memberikan nasihat apa pun.

Menariknya, jaringan sosial juga dapat menjadi sumber peluang profesional.

Ketika seseorang memberi tahu lingkungan profesionalnya bahwa ia sedang mencari pekerjaan, kemungkinan mendapatkan informasi baru bisa meningkat.

Karena itu, daripada menghilang karena merasa malu, orang yang tangguh justru berusaha tetap terhubung.

Mereka memahami:

Meminta bantuan bukan tanda ketidakmampuan. Meminta bantuan adalah salah satu cara manusia bertahan.

5. Mereka Menjaga Rutinitas Meskipun Tidak Lagi Bekerja

Salah satu perubahan terbesar setelah kehilangan pekerjaan adalah hilangnya struktur kehidupan sehari-hari.

Sebelumnya mungkin ada jadwal bangun pagi, berangkat kerja, makan siang, menyelesaikan tugas, pulang, dan beristirahat.

Setelah kehilangan pekerjaan, semuanya bisa berubah.

Tidak ada lagi alasan untuk bangun pagi.

Hari-hari mulai terasa sama.

Seseorang mungkin berkata:

"Nanti saja cari kerja. Besok masih ada."

Masalahnya, jika tidak hati-hati, satu hari dapat berubah menjadi satu minggu, kemudian satu bulan.

Karena itu, orang yang mentalnya kuat berusaha menciptakan struktur baru.

Mereka tetap bangun pada waktu yang relatif sama.

Mereka menentukan jam khusus untuk mencari pekerjaan.

Mereka menyediakan waktu untuk belajar.

Mereka berolahraga.

Mereka tetap melakukan aktivitas sosial.

Mereka juga memberikan waktu untuk beristirahat.

Rutinitas tidak harus sangat ketat.

Yang penting adalah adanya struktur yang membuat seseorang tetap bergerak.

Misalnya:

Pagi: olahraga dan sarapan.

09.00–11.00: mencari dan mengirim lamaran.

11.00–12.00: memperbaiki CV atau mempelajari keterampilan.

Siang: istirahat.

Sore: networking atau aktivitas produktif lainnya.

Malam: keluarga, hiburan, dan istirahat.

Rutinitas semacam ini membantu menciptakan rasa normal ketika keadaan hidup sedang tidak normal.

Yang perlu diingat, produktif bukan berarti harus terus bekerja.

Istirahat juga bagian dari proses pemulihan.

6. Mereka Melihat Masa Sulit sebagai Fase, Bukan Identitas Permanen

Orang yang sedang kehilangan pekerjaan sering mengalami catastrophizing, yaitu kecenderungan membayangkan hasil terburuk dan menganggapnya seolah-olah pasti terjadi.

Misalnya:

"Saya belum dapat pekerjaan bulan ini. Berarti tahun depan juga mungkin tidak dapat."

Atau:

"Karier saya sudah selesai."

Padahal, satu kejadian tidak otomatis menentukan seluruh masa depan.

Orang yang memiliki ketahanan mental mencoba melihat masalah dalam konteks yang lebih luas.

Mereka menyadari:

"Saya sedang mengalami masa sulit" berbeda dengan "hidup saya akan selalu sulit."

Kata "sedang" sangat penting.

"Sedang menganggur."

"Sedang mencari pekerjaan."

"Sedang mengalami ketidakpastian."

Semua kalimat tersebut menunjukkan bahwa keadaan saat ini bukan sesuatu yang harus berlangsung selamanya.

Cara seseorang membingkai sebuah peristiwa dapat memengaruhi cara ia meresponsnya.

Jika kehilangan pekerjaan dianggap sebagai bukti bahwa hidup sudah berakhir, motivasi untuk bergerak bisa menurun.

Namun jika dianggap sebagai fase yang sulit tetapi sementara, seseorang masih dapat melihat ruang untuk bertindak.

Bukan berarti kita harus berpura-pura bahwa semuanya akan mudah.

Mental kuat bukan optimisme kosong.

Mental kuat lebih dekat dengan kemampuan mengatakan:

"Saya belum tahu kapan keadaan ini akan membaik. Tetapi saya akan tetap melakukan apa yang bisa saya lakukan hari ini."

7. Mereka Menggunakan Pengalaman untuk Mengevaluasi, Bukan Menyalahkan Diri Sendiri

Setelah kehilangan pekerjaan, introspeksi memang penting.

Tetapi ada perbedaan antara evaluasi diri dan menyalahkan diri sendiri.

Evaluasi bertanya:

"Apa yang bisa saya pelajari dari pengalaman ini?"

Menyalahkan diri sendiri bertanya:

"Kenapa saya sebodoh ini?"

Evaluasi menghasilkan informasi.

Menyalahkan diri sendiri sering kali hanya menghasilkan rasa bersalah dan malu.

Orang yang bermental kuat menggunakan pengalaman kehilangan pekerjaan sebagai kesempatan untuk melihat kembali perjalanan kariernya.

Mereka mungkin bertanya:

Keterampilan apa yang sudah saya miliki?
Keterampilan apa yang perlu ditingkatkan?
Apakah saya masih ingin berada di bidang yang sama?
Apa yang sebenarnya saya sukai dari pekerjaan sebelumnya?
Apa yang tidak ingin saya ulangi?
Apakah saya terlalu bergantung pada satu sumber penghasilan?
Siapa saja orang yang bisa menjadi bagian dari jaringan profesional saya?
Apa yang dapat saya persiapkan sebelum mendapatkan pekerjaan berikutnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengubah pengalaman yang menyakitkan menjadi sumber informasi.

Tidak semua kehilangan harus langsung memiliki makna positif.

Terkadang seseorang memang perlu waktu untuk kecewa terlebih dahulu.

Namun setelah emosi mulai lebih stabil, pengalaman tersebut dapat digunakan untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Mental Kuat Bukan Berarti Tidak Pernah Hancur

Ada satu hal penting yang sering terlupakan.

Orang bermental kuat bukanlah manusia yang tidak pernah menangis.

Mereka juga bisa merasa takut.

Mereka juga bisa mengalami hari ketika tidak memiliki motivasi.

Mereka juga bisa merasa iri melihat teman-temannya masih memiliki pekerjaan.

Mereka juga bisa mengalami keraguan terhadap masa depan.

Kekuatan mental bukan berarti tidak pernah jatuh.

Kekuatan mental adalah kemampuan untuk kembali berdiri setelah jatuh.

Karena itu, jangan menghakimi diri sendiri ketika sedang merasa buruk setelah kehilangan pekerjaan.

Kehilangan pekerjaan memang dapat menjadi pengalaman yang sangat berat.

Jika kondisi tersebut mulai mengganggu tidur, aktivitas sehari-hari, hubungan dengan orang lain, atau menimbulkan perasaan putus asa yang terus-menerus, mencari bantuan profesional juga merupakan pilihan yang masuk akal.

Tidak ada penghargaan untuk orang yang memaksakan dirinya menghadapi semuanya sendirian.

Penutup: Kehilangan Pekerjaan Bukan Kehilangan Masa Depan

Kehilangan pekerjaan dapat membuat seseorang merasa seperti kehilangan arah.

Tetapi satu pintu yang tertutup tidak otomatis berarti tidak ada pintu lain.

Orang yang bermental kuat tidak selalu tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Mereka hanya belajar untuk tidak membiarkan ketidakpastian menghentikan seluruh langkah mereka.

Mereka menerima emosinya.

Mereka tidak menjadikan PHK sebagai ukuran harga diri.

Mereka fokus pada hal-hal yang masih bisa dikendalikan.

Mereka tetap terhubung dengan orang lain.

Mereka menjaga rutinitas.

Mereka melihat masa sulit sebagai fase.

Dan mereka menggunakan pengalaman tersebut untuk belajar serta menyusun langkah berikutnya.

Pada akhirnya, kehilangan pekerjaan adalah sebuah peristiwa dalam kehidupan—bukan definisi tentang siapa diri kita.

Pekerjaan bisa hilang. Jabatan bisa berubah. Perusahaan bisa berganti. Tetapi kemampuan untuk belajar, beradaptasi, dan memulai kembali tetap bisa dibangun.

Mungkin hari ini seseorang sedang berada di titik paling tidak pasti dalam kariernya.

Namun itu tidak berarti di situlah ceritanya berakhir.

Bisa jadi, ini hanyalah satu bab yang sulit sebelum memasuki bab berikutnya.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore