Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 September 2026 | 21.19 WIB

5 Kesalahan Umum dalam Menetapkan Batasan dan Cara Mengatasinya Menurut Psikologi

seseorang yang menetapkan batasan dengan cara yang salah / foto: Magnific/rantaimages

 

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar nasihat untuk belajar mengatakan "tidak", menjaga jarak dari orang yang melelahkan, atau menetapkan batasan yang sehat dalam hubungan. Namun, menetapkan batasan ternyata tidak selalu mudah.

Banyak orang mengetahui bahwa mereka membutuhkan batasan, tetapi ketika harus benar-benar menerapkannya, muncul rasa bersalah, takut mengecewakan orang lain, takut dianggap egois, atau khawatir hubungan menjadi renggang.

Pada akhirnya, seseorang bisa terjebak dalam pola yang sama: terlalu banyak mengalah, terus memenuhi permintaan orang lain, menyimpan ketidaknyamanan sendiri, kemudian merasa lelah dan kesal karena kebutuhan pribadinya tidak pernah diperhatikan.

Dalam psikologi, batasan atau boundaries dapat dipahami sebagai batas yang membantu seseorang membedakan kebutuhan, tanggung jawab, ruang pribadi, waktu, emosi, dan hak dirinya dari milik orang lain. Batasan yang sehat bukan berarti membangun tembok agar tidak ada orang yang mendekat. Sebaliknya, batasan membantu hubungan menjadi lebih jelas, aman, dan saling menghormati.

Masalahnya, banyak orang justru melakukan beberapa kesalahan ketika mencoba menetapkan batasan.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (5/9), terdapat lima kesalahan umum dalam menetapkan batasan dan bagaimana cara mengatasinya.

1. Mengira Menetapkan Batasan Berarti Harus Menyenangkan Semua Orang

Salah satu kesalahan paling umum adalah menganggap bahwa batasan baru bisa disebut "berhasil" jika orang lain menerimanya tanpa keberatan.

Padahal, kita tidak bisa mengendalikan reaksi orang lain.

Ketika seseorang mulai mengatakan, "Saya tidak bisa membantu kali ini," mungkin orang lain akan kecewa. Ketika seseorang meminta waktu untuk dirinya sendiri, pasangannya mungkin merasa kurang diperhatikan. Ketika seorang karyawan menolak pekerjaan tambahan karena sudah terlalu banyak tugas, atasannya mungkin tidak langsung menyukainya.

Reaksi tersebut tidak otomatis berarti batasan yang dibuat salah.

Sering kali, orang yang terbiasa terlalu mengutamakan kebutuhan orang lain merasa bertanggung jawab atas emosi semua orang. Mereka berpikir:

"Kalau dia kecewa, berarti saya melakukan sesuatu yang salah."

"Kalau dia marah, berarti saya terlalu keras."

"Kalau dia merasa tersinggung, mungkin saya seharusnya mengalah."

Pola seperti ini dapat membuat seseorang sulit mempertahankan batasan.

Mengapa hal ini terjadi?

Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk diterima dan memiliki hubungan sosial. Karena itu, penolakan atau ketidaksetujuan dari orang lain bisa terasa tidak nyaman.

Bagi sebagian orang, ketidaknyamanan tersebut kemudian diterjemahkan sebagai tanda bahwa mereka harus segera mengubah keputusan.

Padahal, rasa tidak nyaman tidak selalu berarti kita melakukan kesalahan.

Terkadang rasa tidak nyaman hanyalah tanda bahwa kita sedang melakukan sesuatu yang belum terbiasa kita lakukan.

Jika selama bertahun-tahun seseorang selalu berkata "iya", maka mengatakan "tidak" untuk pertama kalinya memang dapat terasa aneh.

Cara mengatasinya

Belajarlah membedakan antara menyakiti orang lain dan membuat orang lain kecewa.

Keduanya tidak sama.

Anda dapat menyampaikan batasan dengan sopan tanpa bermaksud menyakiti siapa pun. Namun, orang lain tetap memiliki hak untuk merasa kecewa.

Contohnya:

"Saya mengerti kamu membutuhkan bantuan, tetapi saya tidak bisa melakukannya hari ini."

Kalimat tersebut tidak kasar. Anda mengakui kebutuhan orang lain, tetapi tetap mempertimbangkan kapasitas diri sendiri.

Cobalah mengingat prinsip sederhana:

Tugas Anda adalah menyampaikan batasan dengan jelas dan hormat, bukan mengendalikan bagaimana orang lain meresponsnya.

2. Menetapkan Batasan Terlalu Samar

Kesalahan kedua adalah membuat batasan yang tidak jelas.

Misalnya seseorang merasa terganggu karena temannya sering menghubungi larut malam. Namun, alih-alih menyampaikan batasan secara langsung, ia hanya memberikan kode:

"Kayaknya aku akhir-akhir ini capek."

Atau:

"Besok aku harus bangun pagi."

Harapannya, orang tersebut akan memahami bahwa ia tidak ingin diajak berbicara sampai larut malam.

Sayangnya, orang lain belum tentu menangkap pesan tersebut.

Batasan yang terlalu samar sering membuat masalah berulang.

Batasan membutuhkan kejelasan

Batasan bukan sekadar harapan agar orang lain memahami kebutuhan kita.

Jika kita menginginkan perubahan perilaku tertentu, komunikasi yang jelas biasanya jauh lebih efektif.

Misalnya:

"Saya biasanya tidak membalas pesan setelah pukul 10 malam. Kalau tidak mendesak, saya akan membalasnya besok."

Ini jauh lebih jelas daripada:

"Saya akhir-akhir ini banyak kerja."

Contoh lain dalam hubungan pertemanan:

"Saya tidak nyaman kalau masalah pribadi saya diceritakan kepada orang lain. Kalau saya bercerita kepada kamu, saya ingin itu tetap menjadi pembicaraan antara kita."

Batasan tersebut memberi informasi yang lebih spesifik mengenai perilaku yang diharapkan.

Gunakan prinsip sederhana: apa, kapan, dan bagaimana

Ketika menetapkan batasan, cobalah menjawab tiga pertanyaan:

Apa yang membuat saya tidak nyaman?

Batasan apa yang saya butuhkan?

Bagaimana saya akan menyampaikannya?

Misalnya:

"Saya tidak nyaman ketika kamu datang ke rumah tanpa memberi kabar. Mulai sekarang, saya ingin kamu menghubungi saya terlebih dahulu sebelum datang."

Batasan seperti ini lebih mudah dipahami karena tidak mengharuskan orang lain menebak-nebak maksud kita.

Jangan terlalu banyak menjelaskan

Ada hal lain yang perlu diperhatikan.

Orang yang merasa bersalah sering memberikan penjelasan terlalu panjang ketika mengatakan "tidak".

"Sebenarnya saya ingin membantu, tetapi minggu ini saya banyak pekerjaan, lalu kemarin saya juga kurang tidur, dan mungkin minggu depan..."

Semakin panjang penjelasan, semakin besar kemungkinan seseorang merasa harus membuktikan bahwa alasannya cukup valid.

Padahal, tidak semua batasan membutuhkan pembelaan panjang.

Terkadang cukup mengatakan:

"Maaf, saya tidak bisa."

Atau:

"Saya tidak bersedia melakukan itu."

Singkat bukan berarti tidak sopan.

3. Menetapkan Batasan Saat Emosi Sudah Meledak

Kesalahan berikutnya adalah baru menetapkan batasan setelah terlalu lama menahan diri.

Seseorang mungkin berkali-kali merasa terganggu. Ia memilih diam karena tidak ingin konflik. Ia terus mengalah. Ia terus mengatakan "tidak apa-apa".

Namun, masalah tidak benar-benar hilang.

Ketidaknyamanan semakin menumpuk sampai akhirnya muncul ledakan emosi.

"Sudah cukup! Jangan pernah hubungi saya lagi!"

Dalam situasi tertentu, ledakan tersebut mungkin dapat dimengerti. Tetapi masalahnya, batasan yang disampaikan dalam keadaan sangat emosional sering kali menjadi terlalu ekstrem.

Mengapa orang menunggu terlalu lama?

Salah satu alasannya adalah keyakinan bahwa menjadi orang baik berarti harus sabar.

Seseorang mungkin berpikir:

"Saya tidak ingin mempermasalahkan hal kecil."

"Saya bisa tahan."

"Nanti juga dia berubah."

"Saya takut membuat suasana menjadi tidak enak."

Masalahnya, hal kecil yang terus diabaikan dapat berubah menjadi masalah besar.

Bukan karena satu kejadian, tetapi karena kejadian tersebut berulang tanpa adanya komunikasi.

Batasan seharusnya dibuat lebih awal

Anda tidak harus menunggu sampai benar-benar marah untuk menyampaikan ketidaknyamanan.

Jika seseorang melakukan sesuatu yang mengganggu Anda, bicarakan ketika masalahnya masih dapat dibahas dengan tenang.

Misalnya:

"Kalau kamu bercanda tentang masalah pribadi saya di depan orang lain, saya merasa tidak nyaman. Saya ingin kamu tidak melakukan itu lagi."

Jauh lebih baik daripada menunggu berbulan-bulan sampai akhirnya meledak.

Kenali tanda-tanda sebelum batasan dilanggar

Tubuh dan emosi sering memberikan sinyal.

Misalnya:

merasa sangat lelah setelah bertemu seseorang,
mulai merasa kesal setiap kali menerima pesan tertentu,
merasa terpaksa mengatakan "iya",
merasa cemas sebelum bertemu seseorang,
sering memikirkan bagaimana mengatakan "tidak",
merasa dimanfaatkan,
atau terus memendam kemarahan.

Tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti orang lain melakukan sesuatu yang salah. Namun, tanda tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi apakah batasan pribadi Anda sudah cukup jelas.

Terapkan aturan sederhana

Jangan menunggu sampai kebencian muncul untuk mulai berkomunikasi.

Batasan yang disampaikan lebih awal biasanya membutuhkan lebih sedikit energi emosional daripada batasan yang baru disampaikan setelah bertahun-tahun menahan diri.

4. Menganggap Batasan Harus Membuat Orang Lain Berubah

Kesalahan keempat adalah menganggap batasan sebagai alat untuk mengontrol perilaku orang lain.

Contohnya:

"Kamu tidak boleh berbicara seperti itu kepada saya."

"Kamu harus berhenti menghubungi saya."

"Kamu harus menghargai waktu saya."

Sekilas kalimat tersebut memang terdengar seperti batasan. Namun, batasan yang sehat sebenarnya lebih berfokus pada apa yang akan kita lakukan daripada memaksa orang lain melakukan sesuatu.

Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.

Batasan bukan kontrol

Kita tidak selalu dapat mengontrol apa yang dilakukan orang lain.

Yang lebih realistis adalah menentukan respons kita sendiri.

Misalnya:

Bukan:

"Jangan berteriak kepada saya."

Melainkan:

"Kalau percakapan berubah menjadi teriakan, saya akan menghentikan percakapan dan melanjutkannya ketika kita sudah lebih tenang."

Bukan:

"Kamu tidak boleh datang ke rumah saya tanpa izin."

Melainkan:

"Saya tidak akan menerima kunjungan tanpa pemberitahuan sebelumnya."

Bukan:

"Jangan menghubungi saya terus-menerus."

Melainkan:

"Saya tidak akan membalas pesan ketika sedang bekerja dan akan merespons setelah selesai."

Perbedaannya mungkin terlihat kecil, tetapi secara psikologis konsepnya sangat berbeda.

Yang pertama berusaha mengontrol orang lain.

Yang kedua menetapkan pilihan dan tindakan diri sendiri.

Mengapa ini penting?

Batasan yang realistis membuat seseorang memiliki rasa kendali terhadap dirinya sendiri.

Anda tidak bisa memaksa seseorang menghormati batasan Anda.

Tetapi Anda dapat menentukan apa yang akan Anda lakukan ketika batasan tersebut tidak dihormati.

Misalnya:

"Jika kamu terus membicarakan masalah pribadi saya kepada orang lain, saya akan berhenti membagikan informasi pribadi kepada kamu."

Itu adalah konsekuensi yang berada dalam kendali Anda.

Ingat: batasan tanpa konsekuensi yang realistis sering menjadi permintaan

Jika Anda mengatakan:

"Saya tidak mau membicarakan hal ini."

Namun setiap kali orang tersebut memaksa, Anda tetap melanjutkan pembicaraan selama satu jam, maka pesan batasan menjadi tidak konsisten.

Karena itu, batasan perlu disertai tindakan yang benar-benar dapat Anda lakukan.

5. Merasa Bersalah Setelah Mengatakan "Tidak"

Ini mungkin merupakan salah satu kesalahan yang paling sulit diatasi.

Seseorang akhirnya berhasil mengatakan "tidak".

Namun beberapa menit kemudian muncul rasa bersalah.

"Apakah saya terlalu egois?"

"Seharusnya saya membantu."

"Dia mungkin menganggap saya orang jahat."

"Mungkin saya seharusnya bilang iya."

Akhirnya, orang tersebut kembali menghubungi orang lain dan menarik batasannya.

Jika pola ini terus terjadi, seseorang dapat belajar bahwa rasa bersalah harus segera dihilangkan dengan kembali mengalah.

Padahal, rasa bersalah tidak selalu berarti keputusan kita salah.

Rasa bersalah dan kesalahan adalah dua hal berbeda

Kita dapat merasa bersalah meskipun tidak melakukan sesuatu yang salah.

Perasaan adalah informasi, bukan selalu vonis.

Ketika seseorang yang terbiasa menyenangkan orang lain mulai menetapkan batasan, rasa bersalah mungkin muncul karena perilaku baru tersebut bertentangan dengan kebiasaan lama.

Dengan kata lain, terkadang yang terasa "salah" hanyalah sesuatu yang belum terbiasa.

Belajar menoleransi rasa bersalah

Anda tidak harus menghilangkan rasa bersalah terlebih dahulu sebelum menetapkan batasan.

Sebaliknya, Anda dapat belajar melakukan hal yang benar meskipun masih merasa tidak nyaman.

Misalnya:

"Saya merasa tidak enak menolak permintaan ini, tetapi saya memang tidak memiliki waktu."

Kalimat tersebut membantu memisahkan dua hal:

Perasaan: saya merasa bersalah.

Fakta: saya tidak memiliki kapasitas untuk membantu.

Keduanya dapat muncul secara bersamaan.

Tanyakan tiga pertanyaan kepada diri sendiri

Ketika merasa bersalah setelah menetapkan batasan, coba tanyakan:

Apakah saya benar-benar melakukan sesuatu yang merugikan orang lain?
Apakah saya hanya mengatakan tidak karena saya sedang menjaga kapasitas diri?
Apakah saya menganggap kebutuhan orang lain lebih penting daripada kebutuhan saya secara otomatis?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu Anda mengevaluasi situasi secara lebih objektif.

Bagaimana Cara Menetapkan Batasan yang Sehat?

Setelah memahami lima kesalahan tersebut, kita dapat melihat bahwa menetapkan batasan bukan sekadar belajar mengatakan "tidak".

Batasan yang sehat membutuhkan beberapa keterampilan.

1. Kenali kebutuhan diri sendiri

Sebelum mengatakan kepada orang lain apa yang Anda butuhkan, Anda harus memahami kebutuhan tersebut.

Apakah Anda membutuhkan lebih banyak waktu pribadi?

Apakah Anda tidak nyaman membicarakan topik tertentu?

Apakah Anda merasa kewalahan karena terlalu sering dimintai bantuan?

Apakah Anda membutuhkan komunikasi yang lebih sopan?

Sulit membuat batasan jika Anda sendiri belum memahami apa yang sedang mengganggu.

2. Gunakan komunikasi yang langsung tetapi tidak agresif

Batasan tidak harus disampaikan dengan kemarahan.

Anda dapat bersikap tegas sekaligus tetap menghormati orang lain.

Gunakan kalimat seperti:

"Saya tidak nyaman dengan hal itu."

"Saya tidak bisa membantu kali ini."

"Saya membutuhkan waktu untuk diri sendiri."

"Saya tidak bersedia membicarakan hal tersebut."

"Saya akan melanjutkan pembicaraan ketika suasananya sudah lebih tenang."

Kalimat seperti ini menunjukkan ketegasan tanpa harus menyerang karakter orang lain.

3. Jangan meminta izin untuk memiliki kebutuhan pribadi

Ada perbedaan antara meminta izin dan memberi tahu.

Misalnya:

"Boleh nggak saya istirahat dulu?"

Jika konteksnya memang membutuhkan izin, tentu tidak masalah.

Namun, dalam banyak situasi pribadi, seseorang tidak harus meminta persetujuan orang lain untuk memiliki kebutuhan dasar.

Anda dapat mengatakan:

"Saya perlu istirahat dulu."

Bukan berarti Anda tidak peduli kepada orang lain.

Anda sedang mengakui bahwa diri Anda juga memiliki kebutuhan.

4. Berikan konsekuensi yang realistis

Batasan akan lebih efektif ketika Anda mengetahui tindakan yang akan dilakukan jika batasan tersebut dilanggar.

Contohnya:

"Kalau pembicaraan mulai berubah menjadi penghinaan, saya akan mengakhiri percakapan."

"Kalau pekerjaan tambahan terus diberikan tanpa perubahan prioritas, saya akan meminta penyesuaian tenggat."

"Kalau informasi pribadi saya terus dibagikan, saya akan membatasi informasi yang saya ceritakan."

Perhatikan bahwa konsekuensi tersebut bukan ancaman.

Konsekuensi adalah keputusan mengenai tindakan yang akan Anda ambil untuk menjaga diri sendiri.

Batasan Bukan Berarti Egois

Salah satu mitos terbesar tentang batasan adalah bahwa orang yang memiliki batasan berarti egois.

Padahal, egoisme dan batasan bukan hal yang sama.

Egoisme berarti mengutamakan kepentingan diri sendiri dengan mengabaikan hak dan kebutuhan orang lain.

Batasan berarti mengakui bahwa kebutuhan diri sendiri dan kebutuhan orang lain sama-sama memiliki tempat.

Orang yang memiliki batasan sehat masih dapat membantu orang lain.

Masih dapat peduli.

Masih dapat meminta maaf.

Masih dapat berkompromi.

Namun, mereka tidak merasa harus mengorbankan dirinya dalam setiap situasi agar hubungan tetap berjalan.

Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa batasan.

Justru hubungan yang sehat membutuhkan batasan.

Dalam persahabatan, batasan membantu menjaga kepercayaan.

Dalam hubungan romantis, batasan membantu menjaga rasa hormat dan ruang pribadi.

Dalam keluarga, batasan membantu setiap anggota memahami tanggung jawab masing-masing.

Dalam pekerjaan, batasan membantu menjaga keseimbangan antara tuntutan profesional dan kapasitas pribadi.

Batasan yang Sehat Tidak Selalu Terasa Nyaman

Hal penting yang sering dilupakan adalah bahwa menetapkan batasan tidak selalu membuat kita langsung merasa lega.

Kadang-kadang justru terasa sangat tidak nyaman.

Anda mungkin merasa bersalah.

Anda mungkin takut ditolak.

Anda mungkin takut dianggap berubah.

Anda mungkin khawatir hubungan menjadi berbeda.

Semua itu bisa terjadi.

Namun, ketidaknyamanan bukan berarti batasan tersebut salah.

Seperti keterampilan lainnya, kemampuan menetapkan batasan membutuhkan latihan.

Pada awalnya mungkin terasa sulit untuk mengatakan:

"Saya tidak bisa."

Lama-kelamaan Anda mungkin menyadari bahwa kalimat tersebut tidak membuat Anda menjadi orang jahat.

Anda hanya sedang belajar bertanggung jawab terhadap waktu, energi, dan kebutuhan diri sendiri.

Kesimpulan

Menetapkan batasan merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat, tetapi banyak orang melakukannya dengan cara yang justru membuat mereka semakin tertekan.

Lima kesalahan yang paling umum adalah:

Mengira batasan harus membuat semua orang senang.
Menyampaikan batasan secara terlalu samar.
Menunggu sampai emosi meledak sebelum berbicara.
Menggunakan batasan untuk mencoba mengontrol orang lain.
Menganggap rasa bersalah berarti keputusan untuk berkata "tidak" pasti salah.

Cara mengatasinya adalah dengan mengenali kebutuhan diri, berkomunikasi secara jelas, menetapkan batasan sebelum masalah menumpuk, berfokus pada tindakan yang berada dalam kendali diri sendiri, dan belajar menerima bahwa rasa tidak nyaman merupakan bagian dari proses.

Pada akhirnya, menetapkan batasan bukan tentang menjauhkan semua orang.

Bukan pula tentang selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.

Batasan adalah cara untuk mengatakan:

"Saya menghargai hubungan ini, tetapi saya juga perlu menghargai diri saya sendiri."

Ketika batasan disampaikan dengan jelas dan konsisten, hubungan justru dapat menjadi lebih sehat karena kedua pihak mengetahui apa yang dapat mereka harapkan satu sama lain.

Dan mungkin, inilah inti dari batasan yang sehat: bukan membangun tembok di antara kita dan orang lain, melainkan membuat pintu yang memiliki aturan kapan harus dibuka, kapan harus ditutup, dan siapa yang boleh masuk.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore