Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 September 2026 | 21.17 WIB

8 Alasan Mengapa Kamu Tidak Bisa Membuat Semua Orang Senang Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang tidak bisa membuat semua orang senang / foto: Magnific/9nong

 

JawaPos.com - Ada fase dalam hidup ketika kita begitu sibuk berusaha membuat orang lain senang.

Kita takut mengecewakan teman. Takut dianggap egois oleh keluarga. Takut mengecewakan pasangan. Takut ditolak oleh lingkungan. Bahkan untuk mengatakan "tidak" pada sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan pun terasa seperti sebuah kesalahan.

Akhirnya, kita belajar menyesuaikan diri.

Kita mengikuti keinginan orang lain. Menahan pendapat. Mengalah meskipun lelah. Meminta maaf meskipun bukan sepenuhnya kesalahan kita. Berusaha menjadi orang yang mudah disukai, mudah diajak bekerja sama, dan tidak merepotkan siapa pun.

Masalahnya, semakin keras kita berusaha membuat semua orang senang, semakin besar kemungkinan kita justru kehilangan diri sendiri.

Dalam psikologi, kebutuhan untuk terus mendapatkan persetujuan orang lain dapat berkaitan dengan berbagai hal, seperti kebutuhan akan penerimaan sosial, rasa takut terhadap penolakan, people-pleasing, rendahnya batas pribadi, hingga kecenderungan menggantungkan harga diri pada penilaian eksternal.

Bukan berarti kita tidak boleh peduli pada perasaan orang lain.

Peduli adalah hal yang sehat.

Tetapi ada perbedaan besar antara mempertimbangkan perasaan orang lain dan merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan semua orang.

Kamu bisa bersikap baik tanpa harus selalu disukai.

Kamu bisa menghargai orang lain tanpa harus selalu menyetujui mereka.

Dan kamu bisa mengecewakan seseorang tanpa menjadi orang yang jahat.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (1/9), terdapat delapan alasan mengapa kamu memang tidak akan pernah bisa membuat semua orang senang.

1. Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda

Alasan pertama sangat sederhana: manusia tidak menginginkan hal yang sama.

Apa yang membuat seseorang bahagia belum tentu membuat orang lain bahagia.

Seseorang mungkin menyukai teman yang selalu tersedia kapan saja. Orang lain justru lebih nyaman dengan teman yang memberikan banyak ruang pribadi.

Ada orang yang menganggap keterusterangan sebagai tanda kejujuran. Ada pula yang merasa cara bicara yang terlalu terus terang sebagai sesuatu yang menyakitkan.

Ada orang yang senang ketika kamu sering menghubunginya. Ada pula yang merasa terganggu jika terlalu sering diberi pesan.

Perbedaan seperti ini membuat usaha untuk menyenangkan semua orang menjadi sesuatu yang hampir mustahil.

Bayangkan kamu harus mengambil satu keputusan dalam sebuah kelompok.

Jika kamu mengikuti keinginan orang pertama, mungkin orang kedua tidak puas.

Jika kamu mengikuti orang kedua, orang ketiga mungkin kecewa.

Jika kamu mencoba mengambil jalan tengah, bisa saja justru tidak ada yang benar-benar puas.

Ini bukan selalu berarti kamu gagal.

Bisa jadi memang kepentingan dan kebutuhan manusia tidak selalu kompatibel.

Dalam psikologi sosial, manusia memiliki preferensi, nilai, pengalaman, tujuan, dan ekspektasi yang berbeda. Semua hal tersebut memengaruhi bagaimana seseorang menilai situasi.

Karena itu, jangan menggunakan kepuasan orang lain sebagai satu-satunya ukuran apakah keputusanmu benar atau salah.

Terkadang keputusan yang baik tetap membuat seseorang kecewa.

Dan itu normal.

2. Kamu tidak bisa mengendalikan bagaimana orang lain menafsirkan tindakanmu

Kamu bisa mengontrol apa yang kamu lakukan.

Tetapi kamu tidak bisa sepenuhnya mengontrol bagaimana orang lain memahami tindakanmu.

Misalnya kamu menolak ajakan teman karena sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Menurutmu, keputusan tersebut adalah bentuk menjaga diri.

Namun temanmu mungkin menafsirkannya sebagai:

"Dia sudah tidak peduli denganku."

Padahal itu bukan maksudmu.

Atau kamu memberikan kritik karena ingin membantu seseorang berkembang. Tetapi orang tersebut mungkin merasa tersinggung.

Di sinilah kita perlu memahami bahwa antara niat dan interpretasi terdapat jarak.

Niatmu adalah milikmu.

Interpretasi orang lain adalah milik mereka.

Tentu saja kita tetap bertanggung jawab terhadap cara kita memperlakukan orang lain. Jika ucapan kita memang kasar atau menyakitkan, kita perlu mengevaluasinya.

Namun setelah kita berusaha berkomunikasi dengan baik, kita tetap tidak mempunyai kendali penuh atas respons emosional orang lain.

Hal ini penting karena orang sering terjebak dalam pola berpikir:

"Kalau dia kecewa, berarti aku melakukan sesuatu yang salah."

Padahal tidak selalu demikian.

Seseorang bisa kecewa terhadap keputusanmu meskipun keputusanmu masuk akal.

Seseorang bisa tidak menyukai batas yang kamu buat meskipun batas tersebut sehat.

Dan seseorang bisa salah memahami dirimu meskipun kamu sudah menjelaskan dengan baik.

Kamu bertanggung jawab atas tindakanmu.

Kamu tidak bertanggung jawab atas setiap interpretasi yang muncul di kepala orang lain.

3. Keinginan untuk selalu disukai dapat membuatmu mengorbankan diri sendiri

Ketika seseorang terlalu fokus membuat orang lain senang, ada risiko munculnya pola people-pleasing.

People-pleasing bukan sekadar bersikap baik.

Masalah muncul ketika kebaikan tersebut dilakukan terutama karena rasa takut.

Takut ditolak.

Takut dianggap buruk.

Takut membuat orang marah.

Takut kehilangan hubungan.

Takut dianggap egois.

Akhirnya seseorang mengatakan "iya" meskipun sebenarnya ingin mengatakan "tidak".

Awalnya terlihat seperti pengorbanan kecil.

"Iya deh, aku bantu."

"Iya, nggak apa-apa."

"Tenang, aku yang mengalah."

"Ya sudah, terserah kamu."

Tetapi jika pola ini terus berlangsung, seseorang bisa mulai merasa lelah, frustrasi, bahkan marah secara diam-diam.

Ironisnya, orang lain mungkin tidak menyadari pengorbanan tersebut.

Mengapa?

Karena mereka hanya melihat bahwa kamu selalu bersedia.

Mereka tidak melihat berapa banyak energi yang kamu keluarkan untuk mempertahankan citra sebagai orang yang selalu menyenangkan.

Inilah salah satu alasan mengapa batas pribadi sangat penting.

Mengatakan "tidak" bukan berarti kamu tidak peduli.

Kadang-kadang "tidak" adalah cara untuk menjaga kesehatan hubungan agar hubungan tersebut tidak dibangun di atas pengorbanan sepihak.

Hubungan yang sehat seharusnya memungkinkan kedua pihak untuk memiliki kebutuhan.

4. Penolakan adalah bagian normal dari kehidupan manusia

Banyak orang takut tidak disukai karena mereka menganggap penolakan sebagai sesuatu yang harus dihindari dengan segala cara.

Padahal penolakan adalah bagian dari kehidupan.

Kamu tidak akan cocok dengan semua orang.

Tidak semua orang akan menyukai kepribadianmu.

Tidak semua orang akan memahami pilihanmu.

Tidak semua orang akan setuju dengan pendapatmu.

Tidak semua orang akan menganggapmu menarik.

Dan itu tidak otomatis berarti ada sesuatu yang salah dengan dirimu.

Manusia secara alami memiliki kebutuhan untuk diterima oleh kelompok. Dari sudut pandang evolusioner dan sosial, penerimaan kelompok memang memiliki arti penting.

Namun dalam kehidupan modern, kebutuhan tersebut terkadang menjadi terlalu dominan.

Kita bisa mulai menganggap ketidaksetujuan sebagai ancaman terhadap harga diri.

Satu komentar negatif dapat terasa lebih kuat daripada sepuluh komentar positif.

Satu orang yang tidak menyukai kita dapat membuat kita lupa bahwa masih banyak orang lain yang menghargai kita.

Karena itu, salah satu keterampilan psikologis yang penting adalah belajar menoleransi ketidaknyamanan akibat penolakan.

Bukan berarti kamu harus menjadi kebal terhadap kritik.

Tetapi kamu perlu belajar bahwa:

"Orang ini tidak menyukaiku" tidak sama dengan "Aku adalah orang yang buruk."

"Dia tidak setuju denganku" tidak sama dengan "Aku pasti salah."

"Dia kecewa padaku" tidak sama dengan "Aku gagal sebagai manusia."

Penolakan adalah informasi.

Bukan selalu vonis tentang nilai dirimu.

5. Konflik tidak selalu berarti hubungan sedang gagal

Banyak orang berusaha membuat semua orang senang karena mereka menganggap konflik sebagai sesuatu yang harus dihindari.

Padahal konflik adalah bagian alami dari hubungan manusia.

Dua orang yang dekat sekalipun tetap dapat memiliki kebutuhan, nilai, dan pendapat yang berbeda.

Pasangan bisa berbeda pendapat.

Teman bisa memiliki prioritas yang berbeda.

Anggota keluarga bisa tidak setuju.

Rekan kerja bisa memiliki pendekatan yang berbeda.

Yang menentukan kualitas sebuah hubungan bukanlah ketiadaan konflik.

Yang lebih penting adalah bagaimana konflik tersebut dikelola.

Jika kamu selalu menghindari konflik, kamu mungkin terlihat sangat tenang dari luar.

Namun di dalam diri, bisa muncul banyak hal yang tidak pernah dibicarakan.

Kekecewaan.

Kemarahan.

Rasa tidak dihargai.

Kelelahan.

Kepahitan.

Pada akhirnya, hubungan yang terlihat "damai" bisa sebenarnya menyimpan banyak masalah yang tidak pernah diselesaikan.

Karena itu, jangan menganggap setiap ketidaknyamanan sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan.

Terkadang percakapan yang tidak nyaman justru diperlukan.

Mengatakan:

"Aku tidak nyaman dengan hal itu."

"Aku punya pendapat berbeda."

"Aku tidak bisa membantu kali ini."

"Aku memahami perasaanmu, tetapi aku tetap memilih keputusan ini."

bukanlah bentuk permusuhan.

Itu adalah bentuk komunikasi yang jujur.

6. Harga dirimu tidak seharusnya bergantung pada persetujuan orang lain

Ini mungkin salah satu alasan yang paling penting.

Jika harga dirimu bergantung sepenuhnya pada bagaimana orang lain melihatmu, kamu akan hidup dalam kondisi yang sangat tidak stabil.

Hari ini seseorang memujimu.

Kamu merasa berharga.

Besok seseorang mengkritikmu.

Kamu merasa tidak berguna.

Hari ini teman-teman mengajakmu.

Kamu merasa diterima.

Besok mereka tidak menghubungimu.

Kamu mulai berpikir bahwa tidak ada yang menyukaimu.

Masalahnya bukan pada pujian atau kritik itu sendiri.

Masalahnya adalah ketika penilaian orang lain menjadi fondasi utama harga diri.

Psikologi membedakan antara evaluasi terhadap perilaku tertentu dan evaluasi terhadap keseluruhan diri.

Kamu bisa melakukan kesalahan tanpa menjadi manusia yang gagal.

Kamu bisa membuat keputusan buruk tanpa menjadi orang yang tidak berharga.

Kamu bisa ditolak tanpa kehilangan martabat.

Karena itu, cobalah membangun sumber harga diri yang lebih internal.

Tanyakan:

"Apakah aku sudah bertindak sesuai dengan nilai yang kupercaya?"

"Apakah aku sudah berusaha bersikap jujur?"

"Apakah aku sudah memperlakukan orang lain dengan hormat?"

"Apakah keputusan ini sesuai dengan prinsip hidupku?"

Pertanyaan seperti itu jauh lebih sehat daripada:

"Apakah semua orang menyukaiku?"

Karena kamu tidak pernah bisa mengendalikan jawaban pertanyaan terakhir.

7. Bahkan orang yang sangat baik pun tetap akan mengecewakan seseorang

Ini adalah kenyataan yang sering sulit diterima.

Kamu bisa menjadi orang yang baik dan tetap membuat orang lain kecewa.

Kamu bisa menjadi pasangan yang perhatian tetapi tetap memiliki batas.

Kamu bisa menjadi teman yang loyal tetapi tidak selalu tersedia.

Kamu bisa menjadi anak yang menyayangi keluarga tetapi memiliki pilihan hidup sendiri.

Kamu bisa menjadi rekan kerja yang bertanggung jawab tetapi tetap tidak bisa memenuhi semua permintaan.

Menjadi baik bukan berarti memenuhi semua ekspektasi.

Bahkan, semakin banyak peran yang kamu miliki, semakin banyak pula kemungkinan terjadi benturan ekspektasi.

Bayangkan seseorang yang bekerja penuh waktu, memiliki keluarga, teman, pasangan, dan berbagai tanggung jawab pribadi.

Temannya ingin bertemu.

Keluarganya membutuhkan bantuan.

Pekerjaannya menuntut perhatian.

Pasangannya ingin menghabiskan waktu bersama.

Dan dirinya sendiri membutuhkan istirahat.

Tidak mungkin semua kebutuhan tersebut selalu dipenuhi secara bersamaan.

Maka pertanyaannya bukan:

"Bagaimana caranya agar tidak ada seorang pun kecewa?"

Pertanyaan yang lebih realistis adalah:

"Bagaimana aku membuat keputusan yang paling bertanggung jawab tanpa mengkhianati diriku sendiri?"

Itulah kedewasaan.

8. Hidup yang terlalu berorientasi pada kepuasan orang lain dapat membuatmu kehilangan identitas

Alasan terakhir mungkin yang paling menyedihkan.

Jika terlalu lama hidup berdasarkan ekspektasi orang lain, kamu bisa sampai pada titik ketika tidak lagi tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan.

Kamu terbiasa bertanya:

"Mereka maunya apa?"

"Orang akan berpikir apa?"

"Apakah mereka akan marah?"

"Apakah keputusan ini akan membuatku terlihat buruk?"

Namun kamu jarang bertanya:

"Aku sendiri sebenarnya ingin apa?"

Akibatnya, identitasmu perlahan dibentuk oleh kebutuhan untuk diterima.

Kamu memilih pekerjaan karena dianggap bagus.

Memilih gaya hidup karena dianggap sukses.

Mengikuti pendapat tertentu karena ingin diterima.

Mempertahankan hubungan karena takut mengecewakan.

Mengatakan "iya" karena takut kehilangan orang.

Lama-kelamaan, kehidupanmu mungkin terlihat baik dari luar tetapi terasa asing dari dalam.

Karena itu, menjadi dewasa bukan hanya tentang belajar memahami orang lain.

Menjadi dewasa juga berarti belajar memahami diri sendiri.

Kamu perlu mengetahui nilai-nilai yang penting bagimu.

Mengetahui batas yang tidak ingin kamu langgar.

Mengetahui jenis kehidupan yang ingin kamu bangun.

Dan berani menerima kenyataan bahwa pilihanmu mungkin tidak selalu mendapatkan persetujuan semua orang.

Jadi, Apa yang Harus Kamu Lakukan?

Berhenti berusaha membuat semua orang senang bukan berarti berubah menjadi orang yang egois.

Justru sebaliknya.

Kamu dapat menjadi pribadi yang tetap baik tanpa menjadikan persetujuan orang lain sebagai syarat untuk merasa berharga.

Mulailah membedakan tiga hal:

Apa yang menjadi tanggung jawabmu.

Apa yang menjadi tanggung jawab orang lain.

Dan apa yang berada di luar kendalimu.

Tanggung jawabmu adalah bagaimana kamu berbicara, bagaimana kamu bertindak, bagaimana kamu memperlakukan orang lain, dan bagaimana kamu mengambil keputusan.

Respons emosional orang lain bukan sesuatu yang bisa kamu kendalikan sepenuhnya.

Begitu pula penilaian mereka terhadapmu.

Kamu bisa berusaha sebaik mungkin dan tetap disalahpahami.

Kamu bisa bersikap tulus dan tetap tidak disukai.

Kamu bisa mengambil keputusan yang benar bagimu dan tetap membuat seseorang kecewa.

Dan itu tidak selalu berarti kamu melakukan kesalahan.

Kamu Tidak Harus Menjadi Orang yang Disukai Semua Orang

Pada akhirnya, hidup bukan kompetisi untuk mendapatkan persetujuan sebanyak mungkin.

Jika kamu menghabiskan seluruh hidup untuk memastikan tidak ada seorang pun kecewa padamu, kamu mungkin akan mengorbankan terlalu banyak hal: waktu, energi, batas pribadi, bahkan identitasmu sendiri.

Kamu tidak perlu menjadi orang yang selalu berkata "iya".

Kamu tidak perlu selalu menjelaskan keputusanmu.

Kamu tidak perlu meminta maaf hanya karena seseorang tidak menyukai batas yang kamu buat.

Kamu juga tidak perlu mengubah dirimu setiap kali ada orang yang tidak setuju denganmu.

Yang perlu kamu lakukan adalah berusaha menjadi manusia yang bertanggung jawab, jujur, dan berempati.

Setelah itu, biarkan orang lain memiliki perasaan mereka sendiri.

Karena salah satu tanda kedewasaan emosional adalah ketika kamu mampu mengatakan:

"Aku peduli dengan perasaanmu, tetapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanmu."

Dan mungkin, semakin kamu menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan senang denganmu, semakin bebas pula kamu menjalani kehidupan yang benar-benar sesuai dengan dirimu.

Bukan kehidupan yang sempurna.

Bukan kehidupan yang disukai semua orang.

Tetapi kehidupan yang terasa jujur dan bermakna bagimu.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore