Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Juli 2026 | 22.05 WIB

9 Perilaku yang Menunjukkan Seseorang Kemungkinan Terlalu Dimanjakan Sejak Kecil Menurut Psikologi

Ilustrasi orang yang sangat dimanja (freepik/lookstudio) - Image

Ilustrasi orang yang sangat dimanja (freepik/lookstudio)

JawaPos.com - Pola asuh yang diterima seseorang sejak masa kecil dapat memengaruhi cara mereka bersikap ketika beranjak dewasa. Salah satunya terlihat dari kebiasaan sehari-hari dan kemampuan dalam menghadapi tanggung jawab pribadi.

Sebagian orang dewasa mungkin masih mengalami kesulitan dalam melakukan hal-hal mandiri, seperti mengurus pekerjaan rumah atau memenuhi kebutuhan sendiri, karena sejak kecil terbiasa mendapatkan banyak bantuan dari orang lain.

Dalam sudut pandang psikologi, beberapa perilaku tertentu dapat menjadi tanda bahwa seseorang tumbuh dengan pola asuh yang terlalu memanjakan. Kebiasaan tersebut terkadang terbawa hingga usia dewasa dan memengaruhi cara mereka menjalani kehidupan.

Dilansir JawaPos.com dari laman The Vessel, berikut sembilan perilaku yang disebut dapat menjadi indikasi seseorang mungkin dibesarkan dengan terlalu banyak kemudahan dan perhatian sejak kecil.

1. Rasa berhak itu sangat kuat

Rasa berhak muncul saat seseorang meyakini bahwa mereka berhak memperoleh perlakuan khusus atau pengecualian terhadap aturan.

Mereka adalah orang-orang yang mungkin berkata seperti, "Pasti ada cara untuk membuat pengecualian, kan?" Perasaan "Saya istimewa, jadi aturan tidak berlaku" adalah klasik.

Menurut Psychology Today, rasa berhak yang kronis sebenarnya dapat menghalangi hubungan yang sehat, karena rasa berhak tersebut menciptakan dinamika yang tidak seimbang di mana satu orang selalu mengambil.

Pertanyaan besarnya adalah: apakah seseorang menuntut keuntungan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain? Jika iya, itu merupakan tanda bahaya dari didikan yang manja.

2. Kurangnya empati

Bila seseorang jarang berhenti sejenak untuk mempertimbangkan perasaan orang lain, itu dapat menunjukkan bahwa mereka tidak pernah perlu melakukannya.

Mereka mungkin menyela orang di tengah kalimat atau mengabaikan ketidaknyamanan orang lain dalam situasi tegang.

Seiring berjalannya waktu, kurangnya empati yang konsisten dapat menunjukkan masa kanak-kanak di mana kebutuhan emosional selalu dipenuhi oleh orang lain, sehingga hanya menyisakan sedikit ruang untuk belajar kasih sayang.

3. Kepuasan instan adalah norma

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore