Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 Juni 2026 | 06.42 WIB

Jika Anak Anda yang Sudah Dewasa Jarang Berkunjung atau Menelepon, Kemungkinan Anda Menunjukkan 8 Perilaku Ini Menurut Psikologi

seseorang yang jarang dikunjungi dan ditelepon oleh anak-anaknya / foto: Magnific/freepik - Image

seseorang yang jarang dikunjungi dan ditelepon oleh anak-anaknya / foto: Magnific/freepik

JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak tidak berhenti ketika anak beranjak dewasa. Justru, ketika mereka mulai membangun kehidupan sendiri, hubungan tersebut memasuki fase yang baru. Pada tahap ini, ikatan yang sehat biasanya didasarkan pada rasa saling menghormati, kepercayaan, dan kebebasan.

Namun, tidak sedikit orang tua yang merasa sedih karena anak-anak mereka yang sudah dewasa semakin jarang menelepon, mengirim pesan, atau berkunjung ke rumah. Banyak yang langsung berasumsi bahwa anak-anak mereka terlalu sibuk, kurang peduli, atau bahkan tidak menghargai keluarga.

Meski kesibukan dan jarak memang bisa menjadi faktor, psikologi menunjukkan bahwa terkadang ada pola perilaku tertentu dari orang tua yang tanpa disadari membuat anak dewasa menjaga jarak. Ini bukan berarti orang tua berniat buruk. Sebaliknya, sebagian besar perilaku tersebut muncul dari rasa sayang, kekhawatiran, atau kebiasaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (2/6), terdapat delapan perilaku yang menurut berbagai penelitian psikologi dapat membuat anak-anak dewasa lebih enggan untuk sering menghubungi atau mengunjungi orang tua mereka.

1. Terlalu Sering Mengkritik

Kritik yang terus-menerus, bahkan yang dimaksudkan sebagai nasihat, dapat membuat anak dewasa merasa tidak pernah cukup baik.

Misalnya, setiap kali mereka datang berkunjung, pembicaraan selalu berujung pada komentar seperti:

"Kapan kamu naik jabatan?"
"Kenapa rumahmu masih kecil?"
"Kamu seharusnya mendidik anakmu seperti ini."

Meskipun niatnya membantu, kritik yang berulang menciptakan pengalaman emosional yang melelahkan. Lama-kelamaan, anak akan mengasosiasikan interaksi dengan orang tua sebagai sumber stres, bukan kenyamanan.

Psikologi hubungan menunjukkan bahwa manusia cenderung mendekati orang yang membuat mereka merasa diterima dan menjauhi orang yang membuat mereka merasa terus dinilai.

2. Sulit Menghormati Batasan Pribadi

Anak yang sudah dewasa membutuhkan ruang untuk mengambil keputusan sendiri.

Namun, beberapa orang tua tetap ingin mengetahui setiap detail kehidupan anak mereka, mulai dari keuangan, hubungan asmara, hingga keputusan pengasuhan anak.

Ketika orang tua terus memaksa masuk ke area yang dianggap pribadi, anak bisa merasa kehilangan otonomi.

Batasan yang sehat bukan tanda kurangnya kasih sayang. Sebaliknya, batasan adalah bentuk penghormatan terhadap identitas dan kemandirian seseorang.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore