
seseorang yang benar-benar baik / foto: Magnific/The Yuri Arcurs Collection
JawaPos.com - Di kehidupan sehari-hari, kita sering menilai seseorang dari penampilannya yang sopan, kata-katanya yang manis, atau kesediaannya membantu orang lain. Namun dalam psikologi, “orang baik” bukan hanya tentang terlihat ramah di permukaan. Kebaikan sejati berkaitan dengan empati, ketulusan, tanggung jawab emosional, dan cara seseorang memperlakukan orang lain secara konsisten — terutama ketika tidak ada keuntungan pribadi yang bisa diperoleh.
Tidak sedikit orang yang tampak baik di depan umum, tetapi sebenarnya memiliki pola perilaku yang manipulatif, egois, atau bahkan merusak secara emosional. Mereka mungkin murah senyum, pandai berbicara, dan terlihat perhatian, tetapi tindakan mereka sering meninggalkan luka bagi orang-orang di sekitarnya.
Psikologi modern menunjukkan bahwa perilaku seseorang jauh lebih penting daripada citra yang mereka bangun.
Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (28/5), terdapat delapan perilaku yang sering menjadi tanda bahwa seseorang bukanlah pribadi yang benar-benar baik, meskipun terlihat demikian di luar.
1. Mereka Hanya Baik Saat Ada Maunya
Salah satu ciri paling umum dari kebaikan palsu adalah perilaku baik yang bersifat transaksional. Mereka membantu, memuji, atau mendekati orang lain hanya ketika ada keuntungan yang bisa diperoleh.
Di awal, mereka mungkin terlihat sangat perhatian. Namun setelah kebutuhan mereka terpenuhi, sikapnya berubah drastis. Mereka mulai menghilang, cuek, atau bahkan tidak menghargai orang yang sebelumnya mereka dekati.
Menurut psikologi sosial, perilaku ini berkaitan dengan orientasi instrumental dalam hubungan — yaitu melihat orang lain sebagai alat, bukan sebagai manusia yang layak dihargai.
Orang yang benar-benar baik tidak hanya hadir saat membutuhkan sesuatu. Mereka tetap menunjukkan rasa hormat bahkan ketika tidak ada manfaat pribadi yang bisa didapatkan.
2. Mereka Sering Membuat Orang Lain Merasa Bersalah
Ada orang yang terlihat lembut dan perhatian, tetapi diam-diam menggunakan rasa bersalah untuk mengontrol orang lain.
Contohnya seperti:
“Setelah semua yang aku lakukan buat kamu…”
“Kamu tega banget sama aku.”
“Kalau kamu peduli, kamu pasti mau melakukan ini.”
Sekilas terdengar emosional, tetapi sebenarnya itu adalah bentuk manipulasi psikologis. Mereka membuat orang lain merasa bertanggung jawab atas emosi mereka agar bisa mendapatkan apa yang diinginkan.
Psikologi menyebut perilaku ini sebagai emotional manipulation. Dalam jangka panjang, korban sering merasa lelah, cemas, dan kehilangan batasan pribadi.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Laporkan Malik Bawazier, Suami Endah Fitrianingsih Jadikan CCTV Bukti Perzinaan
Pelapor Perzinaan Malik Bawazier Dicecar 28 Pertanyaan di Polda Metro Jaya
Prediksi Skor Arema FC vs DPMM FC di Piala Presiden 2026! Momentum Singo Edan Lolos ke Semifinal
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Persib Bandung vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026! Maung Bandung Bisa Sapu Bersih Laga
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
