Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Mei 2026 | 21.13 WIB

Jika Seseorang Menunjukkan 8 Perilaku Ini, Mereka Bukanlah Orang yang Benar-Benar Baik Menurut Psikologi

seseorang yang benar-benar baik / foto: Magnific/The Yuri Arcurs Collection - Image

seseorang yang benar-benar baik / foto: Magnific/The Yuri Arcurs Collection

JawaPos.com - Di kehidupan sehari-hari, kita sering menilai seseorang dari penampilannya yang sopan, kata-katanya yang manis, atau kesediaannya membantu orang lain. Namun dalam psikologi, “orang baik” bukan hanya tentang terlihat ramah di permukaan. Kebaikan sejati berkaitan dengan empati, ketulusan, tanggung jawab emosional, dan cara seseorang memperlakukan orang lain secara konsisten — terutama ketika tidak ada keuntungan pribadi yang bisa diperoleh.

Tidak sedikit orang yang tampak baik di depan umum, tetapi sebenarnya memiliki pola perilaku yang manipulatif, egois, atau bahkan merusak secara emosional. Mereka mungkin murah senyum, pandai berbicara, dan terlihat perhatian, tetapi tindakan mereka sering meninggalkan luka bagi orang-orang di sekitarnya.

Psikologi modern menunjukkan bahwa perilaku seseorang jauh lebih penting daripada citra yang mereka bangun.

Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (28/5), terdapat delapan perilaku yang sering menjadi tanda bahwa seseorang bukanlah pribadi yang benar-benar baik, meskipun terlihat demikian di luar.

1. Mereka Hanya Baik Saat Ada Maunya

Salah satu ciri paling umum dari kebaikan palsu adalah perilaku baik yang bersifat transaksional. Mereka membantu, memuji, atau mendekati orang lain hanya ketika ada keuntungan yang bisa diperoleh.

Di awal, mereka mungkin terlihat sangat perhatian. Namun setelah kebutuhan mereka terpenuhi, sikapnya berubah drastis. Mereka mulai menghilang, cuek, atau bahkan tidak menghargai orang yang sebelumnya mereka dekati.

Menurut psikologi sosial, perilaku ini berkaitan dengan orientasi instrumental dalam hubungan — yaitu melihat orang lain sebagai alat, bukan sebagai manusia yang layak dihargai.

Orang yang benar-benar baik tidak hanya hadir saat membutuhkan sesuatu. Mereka tetap menunjukkan rasa hormat bahkan ketika tidak ada manfaat pribadi yang bisa didapatkan.

2. Mereka Sering Membuat Orang Lain Merasa Bersalah

Ada orang yang terlihat lembut dan perhatian, tetapi diam-diam menggunakan rasa bersalah untuk mengontrol orang lain.

Contohnya seperti:

“Setelah semua yang aku lakukan buat kamu…”
“Kamu tega banget sama aku.”
“Kalau kamu peduli, kamu pasti mau melakukan ini.”

Sekilas terdengar emosional, tetapi sebenarnya itu adalah bentuk manipulasi psikologis. Mereka membuat orang lain merasa bertanggung jawab atas emosi mereka agar bisa mendapatkan apa yang diinginkan.

Psikologi menyebut perilaku ini sebagai emotional manipulation. Dalam jangka panjang, korban sering merasa lelah, cemas, dan kehilangan batasan pribadi.

Kebaikan sejati tidak memaksa orang lain mengorbankan diri demi memenuhi kebutuhan emosional seseorang.

3. Mereka Ramah di Depan, Tetapi Suka Menjatuhkan di Belakang

Seseorang mungkin terlihat sangat sopan ketika berhadapan langsung, tetapi sering membicarakan keburukan orang lain saat mereka tidak ada.

Perilaku seperti bergosip berlebihan, menyebarkan rumor, atau menikmati kejatuhan orang lain menunjukkan rendahnya empati dan tingginya kebutuhan akan validasi sosial.

Dalam psikologi, perilaku ini sering berkaitan dengan insecurity dan kebutuhan untuk merasa lebih unggul dibanding orang lain.

Orang yang benar-benar baik biasanya menjaga integritas. Mereka tidak mengubah wajah hanya demi diterima di lingkungan tertentu.

Jika seseorang terus-menerus merendahkan orang lain di belakang, besar kemungkinan mereka juga melakukan hal yang sama terhadap siapa pun ketika ada kesempatan.

4. Mereka Tidak Pernah Mengakui Kesalahan

Tidak ada manusia yang sempurna. Namun orang yang sehat secara emosional mampu mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Sebaliknya, orang yang tidak benar-benar baik sering:

menyalahkan keadaan,
menyalahkan orang lain,
mencari pembenaran,
atau memutarbalikkan fakta agar terlihat sebagai korban.

Dalam beberapa kasus, mereka bahkan membuat orang lain mempertanyakan ingatannya sendiri. Ini dikenal sebagai gaslighting, salah satu bentuk manipulasi emosional yang sangat merusak.

Psikologi menunjukkan bahwa kemampuan meminta maaf dengan tulus merupakan tanda kedewasaan emosional dan empati. Ketika seseorang terus menolak tanggung jawab, itu sering menandakan ego yang lebih besar daripada kepedulian terhadap orang lain.

5. Mereka Senang Mengontrol Orang Lain

Kontrol tidak selalu terlihat agresif. Kadang ia hadir dalam bentuk halus:

menentukan apa yang boleh dilakukan orang lain,
membuat orang merasa bersalah saat mandiri,
terlalu posesif,
atau ingin selalu memegang keputusan.

Orang seperti ini sering membungkus kontrol dengan alasan “peduli” atau “sayang.” Padahal di balik itu ada kebutuhan untuk mendominasi.

Psikologi hubungan menjelaskan bahwa individu yang sangat controlling sering memiliki ketakutan kehilangan kendali atau rasa tidak aman yang tinggi. Namun apa pun alasannya, perilaku ini tetap dapat merusak kebebasan emosional orang lain.

Kebaikan sejati memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh, memilih, dan menjadi diri sendiri.

6. Mereka Tidak Memiliki Empati Saat Orang Lain Kesulitan

Empati adalah inti dari kebaikan manusia. Orang yang benar-benar baik mampu memahami perasaan orang lain tanpa harus selalu mengalami hal yang sama.

Sebaliknya, seseorang yang minim empati sering:

meremehkan rasa sakit orang lain,
berkata “lebay banget sih,”
menikmati penderitaan orang lain,
atau hanya peduli ketika masalah itu memengaruhi dirinya sendiri.

Dalam psikologi, kurangnya empati sering menjadi ciri kepribadian narsistik atau sifat antisosial tertentu.

Seseorang mungkin terlihat baik saat situasi menyenangkan. Namun karakter aslinya sering terlihat ketika orang lain sedang berada dalam masa sulit.

7. Mereka Baik Hanya di Depan Publik

Ada orang yang sangat dermawan dan hangat ketika dilihat banyak orang, tetapi berbeda total saat tidak ada yang memperhatikan.

Mereka mungkin:

sengaja mencari pujian,
melakukan kebaikan demi citra,
atau memperlakukan orang tertentu dengan buruk secara diam-diam.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai impression management — usaha membangun citra tertentu agar diterima secara sosial.

Kebaikan sejati bersifat konsisten. Orang yang benar-benar baik tidak membutuhkan penonton untuk memperlakukan orang lain dengan hormat.

Cara seseorang memperlakukan pelayan, bawahan, pasangan, atau keluarga saat tidak ada keuntungan sosial sering jauh lebih mencerminkan karakter aslinya.

8. Mereka Membuat Orang Lain Terus-Menerus Merasa Tidak Cukup

Beberapa orang tampak suportif, tetapi sebenarnya senang merendahkan secara halus.

Mereka mungkin berkata:

“Kamu sebenarnya bagus, tapi…”
“Orang lain lebih hebat sih.”
“Tanpa aku kamu nggak akan bisa.”

Komentar seperti ini perlahan mengikis rasa percaya diri seseorang. Tujuannya sering kali agar mereka tetap merasa lebih unggul atau dibutuhkan.

Dalam psikologi, perilaku ini bisa terkait dengan kebutuhan dominasi emosional dan rendahnya rasa aman dalam diri sendiri.

Orang yang benar-benar baik membantu orang lain berkembang, bukan membuat mereka merasa kecil agar dirinya tampak besar.

Kebaikan Sejati Selalu Terlihat dari Konsistensi

Psikologi mengajarkan bahwa karakter seseorang tidak dinilai dari satu tindakan baik, melainkan dari pola perilaku yang terus berulang.

Seseorang bisa saja murah senyum, pandai berbicara, dan terlihat hangat. Namun jika mereka sering memanipulasi, merendahkan, mengontrol, atau menyakiti orang lain secara emosional, maka itu bukanlah kebaikan yang tulus.

Kebaikan sejati biasanya sederhana:

menghormati orang lain,
memiliki empati,
bertanggung jawab atas kesalahan,
dan tetap memperlakukan orang lain dengan baik meski tidak ada keuntungan pribadi.

Pada akhirnya, orang yang benar-benar baik tidak membuat orang lain merasa takut, kecil, atau terkuras secara emosional setelah berinteraksi dengan mereka. Mereka justru menghadirkan rasa aman, dihargai, dan diterima.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore