Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 Mei 2026 | 20.23 WIB

10 Tanda Seseorang Bukan Orang Baik, Mereka Hanya Pandai Berpura-pura Menurut Psikologi

seseorang yang sebenarnya bukan orang baik / foto: Magnific/drobotdean - Image

seseorang yang sebenarnya bukan orang baik / foto: Magnific/drobotdean

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang yang terlihat ramah, perhatian, dan murah senyum benar-benar memiliki niat baik. Ada orang yang sangat piawai membangun citra positif di depan publik, tetapi menunjukkan perilaku yang berbeda ketika kepentingan pribadinya terusik.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai impression management, yaitu usaha seseorang mengontrol bagaimana dirinya dipersepsikan orang lain.

Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (17/5), terdapat 10 tanda seseorang mungkin bukan benar-benar baik hati, melainkan hanya pandai berpura-pura.

1. Kebaikannya Selalu Ada Pamrih

Orang yang tulus membantu biasanya tidak sibuk menghitung untung-rugi dari tindakannya. Sebaliknya, orang yang berpura-pura baik sering membantu hanya ketika ada manfaat yang bisa diperoleh.

Misalnya, mereka sangat perhatian pada orang yang punya status, koneksi, atau pengaruh, tetapi cuek pada orang yang dianggap “tidak berguna”. Dalam psikologi sosial, ini terkait perilaku instrumental relationship, yaitu menjalin hubungan sebagai alat mencapai tujuan.

2. Sangat Peduli pada Citra dan Validasi

Mereka tampak obsesif ingin terlihat sebagai “orang baik”. Setiap tindakan baik sering dipublikasikan, diceritakan berulang, atau dibuat seolah-olah heroik.

Bukan berarti membagikan hal baik selalu salah, tetapi ketika fokus utamanya adalah pengakuan, bukan dampak, ini bisa jadi tanda bahwa motivasinya eksternal: ingin dipuji, dihormati, atau dianggap superior.

3. Baik pada Atasan, Buruk pada yang Dianggap Lebih Rendah

Ini salah satu indikator paling jelas. Mereka sopan dan hangat pada orang penting, tetapi kasar pada staf, pelayan, bawahan, atau orang yang tak punya pengaruh.

Psikolog sering melihat ini sebagai indikator empati yang selektif. Artinya, kebaikan mereka bukan nilai internal, melainkan strategi sosial.

4. Sering Bergosip dan Menjatuhkan Orang Lain

Di depan seseorang mereka bisa tampak mendukung, tetapi di belakang membicarakan kekurangan, rahasia, atau kegagalan orang tersebut.

Perilaku ini menunjukkan adanya kebutuhan meningkatkan posisi sosial dengan cara menurunkan orang lain. Orang yang benar-benar baik tidak sempurna, tetapi biasanya punya batas etika dalam membahas orang lain.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore