Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 15 Mei 2026 | 03.35 WIB

8 Tipe Orang yang Membuat Hidupmu Akan Jauh Lebih Sulit Menurut Psikologi

seseorang yang membuat hidupnya lebih sulit (Magnific/stockking) - Image

seseorang yang membuat hidupnya lebih sulit (Magnific/stockking)


JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak hanya berurusan dengan tantangan internal seperti stres atau kecemasan, tetapi juga dengan orang lain yang—sadar atau tidak—dapat membuat hidup terasa jauh lebih berat.

Psikologi sosial menunjukkan bahwa lingkungan sosial sangat memengaruhi kesejahteraan mental, motivasi, bahkan cara kita mengambil keputusan.

Namun penting untuk diingat: ini bukan tentang memberi label “orang buruk”. Sebaliknya, ini tentang memahami pola perilaku yang bisa berdampak negatif agar kita bisa mengelola interaksi dengan lebih sehat.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat delapan tipe orang yang sering membuat hidup terasa lebih sulit dari yang seharusnya.

1. Si Penguras Energi Emosional (Emotional Drainer)

Orang tipe ini sering datang dengan keluhan tanpa henti, drama berulang, atau kebutuhan emosional yang terus-menerus. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan konsep emotional contagion, yaitu emosi bisa “menular” dari satu orang ke orang lain.

Masalahnya bukan pada mereka yang sedang butuh dukungan, tetapi pada pola yang tidak seimbang: mereka mengambil energi tanpa memberi ruang untuk timbal balik.

Dampaknya: kamu merasa lelah setelah berinteraksi, bahkan tanpa melakukan aktivitas berat.

2. Si Manipulator Halus

Tipe ini tidak selalu terlihat jelas. Mereka menggunakan guilt-tripping, sugesti halus, atau memutar fakta agar kamu melakukan sesuatu sesuai keinginan mereka.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan covert manipulation dan kadang emotional blackmail.

Contoh pola:
“Kalau kamu benar peduli, kamu pasti mau bantu aku…”

Dampaknya: kamu merasa bersalah bahkan ketika tidak melakukan kesalahan.

3. Si Negatif Kronis

Orang ini memiliki bias negatif yang kuat. Dalam psikologi dikenal sebagai negativity bias, yaitu kecenderungan melihat ancaman atau masalah lebih besar daripada hal positif.

Mereka cenderung:

selalu skeptis
sulit puas
fokus pada masalah, bukan solusi

Dampaknya: suasana sekitar jadi terasa berat dan pesimis.

4. Si Kompetitor Berlebihan

Sedikit kompetisi itu sehat. Tapi tipe ini mengubah hampir semua hal menjadi ajang pembuktian.

Psikologi menyebut ini terkait dengan social comparison orientation yang tinggi—selalu membandingkan diri dengan orang lain.

Dampaknya: kamu merasa tidak pernah cukup baik, bahkan dalam hal-hal kecil.

5. Si Tidak Mau Bertanggung Jawab

Tipe ini selalu menghindari kesalahan dan menyalahkan faktor luar: orang lain, keadaan, atau keberuntungan buruk.

Dalam psikologi, ini sering terkait dengan external locus of control yang ekstrem.

Dampaknya: kamu sering jadi “penyelamat” atau pihak yang disalahkan.

6. Si Boundary Breaker (Pelanggar Batas)

Orang ini tidak menghormati batasan pribadi—baik waktu, energi, maupun ruang emosional.

Contoh:

menghubungi kapan saja tanpa mempertimbangkan situasi
memaksa kamu untuk selalu tersedia

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan rendahnya pemahaman interpersonal boundaries.

Dampaknya: kamu merasa kewalahan dan kehilangan kontrol atas waktu sendiri.

7. Si Pasif-Agresif

Mereka jarang mengungkapkan masalah secara langsung, tetapi mengekspresikannya lewat sindiran, diam berkepanjangan, atau sabotase kecil.

Psikologi melihat ini sebagai bentuk indirect communication dari emosi yang tidak tersampaikan dengan sehat.

Dampaknya: kamu bingung, tegang, dan sulit menyelesaikan konflik.

8. Si Pengontrol Berlebihan

Tipe ini ingin mengatur keputusan, cara kerja, bahkan emosi orang lain. Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan kebutuhan tinggi akan kontrol akibat kecemasan.

Ciri-ciri:

sulit percaya orang lain
ingin semua dilakukan dengan “cara mereka”

Dampaknya: kamu merasa terkekang dan kehilangan otonomi.

Penutup: Bukan Soal Menyalahkan, Tapi Menjaga Batas

Mengidentifikasi tipe-tipe ini bukan berarti kita harus menjauhi semua orang tersebut sepenuhnya. Psikologi hubungan menekankan pentingnya boundaries (batas sehat), bukan pengucilan.

Kuncinya adalah:

mengenali pola
memahami dampaknya pada diri sendiri
mengatur jarak emosional yang sehat
berkomunikasi dengan tegas namun tetap hormat

Pada akhirnya, hidup tidak selalu bisa memilih orang di sekitar kita, tetapi kita selalu bisa memilih cara merespons mereka.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore