Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 Mei 2026 | 15.32 WIB

Orang yang Tampak Baik di Permukaan tetapi “Jahat” di Dalam: 7 Perilaku yang Sering Terlihat Menurut Psikologi

seseorang yang tidak layak dipertahankan dalam hidup / foto: Magnific/wayhomestudio

 

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bertemu dengan orang yang tampak sangat ramah, sopan, dan menyenangkan di luar. Mereka mudah disukai, pandai berbicara, dan terlihat seperti “orang baik” pada umumnya. Namun, dalam beberapa kasus, psikologi menunjukkan bahwa ada individu yang memiliki dua sisi: satu sisi sosial yang hangat di permukaan, dan sisi lain yang manipulatif, egois, atau bahkan merugikan orang lain secara emosional di balik layar.

Penting untuk dicatat: ini bukan berarti kita bisa langsung melabeli seseorang sebagai “jahat”. Psikologi modern lebih berhati-hati dan melihat ini sebagai pola perilaku, bukan vonis moral. Konsep yang sering dibahas dalam psikologi kepribadian seperti Machiavellianism, narsisisme, dan beberapa ciri dark triad dapat membantu memahami fenomena ini.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (12/5), terdapat 7 perilaku yang sering muncul pada orang yang tampak baik di luar, tetapi menyimpan sisi gelap dalam interaksi sosialnya.

1. Terlalu Sempurna di Depan Orang Lain (Social Masking)

Orang seperti ini sering terlihat “terlalu baik untuk menjadi nyata”. Mereka selalu sopan, murah senyum, membantu, dan tampak tidak pernah salah.

Namun, dalam psikologi, ini bisa menjadi bentuk manajemen kesan (impression management) yang ekstrem. Mereka membangun citra sosial yang sangat positif untuk mendapatkan kepercayaan, simpati, atau kontrol sosial.

Masalahnya, kebaikan ini tidak selalu konsisten saat tidak ada “penonton”.

2. Manipulasi Halus yang Sulit Disadari

Salah satu ciri paling umum adalah kemampuan memengaruhi orang lain tanpa terlihat memaksa.

Bentuknya bisa seperti:

membuat orang lain merasa bersalah tanpa alasan jelas
memutarbalikkan fakta secara halus
membuat orang ragu terhadap ingatannya sendiri (gaslighting ringan)

Dalam psikologi kepribadian, ini sering dikaitkan dengan Machiavellianism, yaitu kecenderungan menggunakan strategi manipulatif untuk mencapai tujuan pribadi.

3. Empati Selektif

Mereka bisa terlihat sangat peduli… tetapi hanya pada orang tertentu.

Misalnya:

baik kepada orang yang menguntungkan mereka
dingin atau tidak peduli kepada orang yang tidak memberi manfaat
berubah sikap tergantung situasi sosial

Empati yang tidak konsisten ini menunjukkan bahwa kepedulian mereka kadang bukan berasal dari ketulusan, melainkan dari perhitungan sosial.

4. Sering Menjadi “Korban” dalam Cerita Mereka Sendiri

Orang dengan pola ini cenderung pintar membangun narasi bahwa mereka selalu disalahkan, tidak dihargai, atau diperlakukan tidak adil.

Tujuannya bisa:

mendapatkan simpati
menghindari tanggung jawab
mengalihkan kesalahan ke orang lain

Dalam beberapa studi kepribadian, pola ini sering muncul pada individu dengan ciri narsistik, di mana citra diri harus selalu dipertahankan sebagai “pihak yang benar”.

5. Perubahan Sikap yang Tajam Tergantung Situasi

Di depan atasan atau orang penting: sangat sopan dan ramah.
Di belakang orang tertentu: bisa dingin, meremehkan, atau bahkan kejam secara verbal.

Perubahan ini menunjukkan bahwa perilaku sosial mereka sangat situasional, bukan stabil berdasarkan nilai internal.

Psikologi menyebut ini sebagai bentuk social adaptability yang ekstrem, yang dalam sisi gelapnya bisa menjadi alat manipulasi.

6. Kesulitan Menerima Kritik (Namun Disembunyikan)

Mereka mungkin terlihat tenang saat dikritik, tetapi sebenarnya menyimpan dendam atau ketidaksukaan.

Beberapa reaksi tersembunyi:

mengingat kesalahan orang lain untuk “balas nanti”
mengubah pandangan orang lain terhadap si pengkritik
melakukan sabotase sosial secara halus

Ini sering berkaitan dengan harga diri yang rapuh di balik citra percaya diri yang ditampilkan.

7. Hubungan Sosial yang Banyak, tetapi Dangkal

Mereka mungkin punya banyak teman, relasi, atau kenalan, tetapi sedikit hubungan yang benar-benar dalam dan tulus.

Ciri-cirinya:

sering berganti kelompok sosial
sulit mempertahankan hubungan jangka panjang
hubungan cenderung berdasarkan kepentingan

Dalam psikologi, ini bisa menunjukkan bahwa hubungan sosial lebih berfungsi sebagai alat, bukan ikatan emosional yang mendalam.

Penutup: Tidak Semua yang Ramah Itu Palsu

Penting untuk menekankan bahwa tidak semua orang yang memiliki beberapa perilaku di atas otomatis “jahat” atau manipulatif. Manusia jauh lebih kompleks daripada label sederhana.

Banyak orang yang:

terlihat baik karena sopan dan terdidik
berubah dalam situasi tertentu karena stres
atau belum memiliki keterampilan emosional yang matang

Namun, psikologi membantu kita mengenali pola agar lebih bijak dalam berinteraksi—bukan untuk curiga berlebihan, tetapi untuk lebih memahami dinamika manusia.

Pada akhirnya, kunci utamanya bukan mencari siapa yang “baik” atau “jahat”, tetapi melihat konsistensi antara kata, tindakan, dan nilai seseorang dalam jangka panjang.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore