Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Februari 2026 | 00.34 WIB

7 Frasa yang Membuat Anak Dewasa Langsung Mengabaikan Orang Tuanya Menurut Psikologi

seseorang yang mengabaikan orang tuanya


JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak tidak berhenti ketika anak beranjak dewasa. Namun, pola komunikasi sering kali tetap membawa dinamika lama: nada menggurui, kritik tersembunyi, atau bentuk kontrol yang dulu mungkin terasa wajar saat anak masih kecil.

Menurut berbagai teori psikologi komunikasi dan relasi keluarga—termasuk pendekatan Transactional Analysis dari Eric Berne dan konsep komunikasi non-kekerasan dari Marshall Rosenberg—cara berbicara sangat menentukan apakah pesan diterima atau justru ditolak.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (19/2), terdapat 7 frasa yang secara psikologis sering membuat anak yang sudah dewasa langsung “mematikan telinga”.

Baca Juga: 9 Tanda Bahwa Pria dalam Hidup Anda Diam-Diam Telah Berhenti Menikmati Apapun Menurut Psikologi

1. “Kamu seharusnya…”

Frasa ini terdengar sederhana, tetapi secara psikologis memicu resistensi. Kata “seharusnya” mengandung penilaian dan standar sepihak. Anak dewasa biasanya sudah memiliki sistem nilai dan prioritas sendiri. Ketika orang tua mengatakan, “Kamu seharusnya pilih pekerjaan yang lebih stabil,” yang terdengar bukanlah saran, melainkan kritik.

Dalam teori Transactional Analysis, ini disebut sebagai komunikasi dari posisi “Parent” yang dominan, sementara anak dewasa ingin diperlakukan sebagai “Adult”. Ketidakseimbangan ini memicu penolakan otomatis.

2. “Dulu waktu seusiamu…”

Perbandingan lintas generasi hampir selalu menciptakan jarak emosional. Kalimat ini sering bermaksud memberi inspirasi, tetapi justru terdengar seperti penghakiman.

Secara psikologis, perbandingan membuat seseorang merasa tidak cukup baik. Otak manusia cenderung defensif ketika identitas atau kompetensinya dipertanyakan. Akibatnya, anak dewasa mungkin hanya mengangguk, tetapi secara mental sudah tidak lagi mendengarkan.

3. “Mama/Papa cuma mau yang terbaik untuk kamu”

Kalimat ini terdengar penuh kasih, namun sering digunakan untuk membenarkan kontrol. Anak dewasa bisa merasa bahwa kebebasan dan pilihannya tidak dihargai.

Menurut psikologi perkembangan, fase dewasa ditandai dengan kebutuhan akan otonomi. Ketika otonomi itu terancam, respons alami adalah menarik diri atau mengabaikan sumber tekanan.

4. “Kamu terlalu sensitif”

Frasa ini termasuk bentuk emotional invalidation. Perasaan anak dianggap berlebihan atau tidak rasional.

Konsep validasi emosi yang dikembangkan dalam terapi perilaku dialektis oleh Marsha Linehan menekankan bahwa mengakui emosi seseorang adalah kunci hubungan yang sehat. Ketika emosi ditolak, individu cenderung menutup diri.

5. “Pokoknya ikut saja kata orang tua”

Ini adalah bentuk komunikasi otoriter yang mungkin efektif pada anak kecil, tetapi sangat kontraproduktif pada anak dewasa.

Psikologi modern menunjukkan bahwa hubungan yang sehat di masa dewasa lebih bersifat kolaboratif, bukan hierarkis. Ketika orang tua tetap mempertahankan otoritas mutlak, anak dewasa akan menciptakan jarak sebagai bentuk perlindungan diri.

6. “Kamu tidak akan bisa tanpa bantuan kami”

Meskipun mungkin dimaksudkan sebagai kekhawatiran, kalimat ini menyiratkan ketidakpercayaan. Harga diri orang dewasa sangat terkait dengan rasa kompetensi.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore