
seseorang yang sering memotret makanan ./ Freepik/freepik
JawaPos.com - Di era media sosial, memotret makanan sebelum makan sudah menjadi pemandangan yang sangat umum.
Dari secangkir kopi pagi, sepiring nasi padang, hingga hidangan mewah di restoran bintang lima—semuanya tak luput dari bidikan kamera. Sebagian orang menganggap kebiasaan ini lucu, sebagian lain menganggapnya berlebihan.
Namun menurut psikologi, kebiasaan memotret makanan sebelum disantap bukan sekadar soal pamer atau tren belaka.
Penelitian dan pengamatan psikologis menunjukkan bahwa orang yang sering memotret makanan biasanya memiliki sejumlah karakteristik psikologis tertentu.
Kebiasaan sederhana ini ternyata bisa mencerminkan cara seseorang memandang dunia, dirinya sendiri, dan hubungan sosialnya.
Dilansir dari Geediting pada Rabu (28/1), terdapat sembilan kualitas unik yang sering dimiliki oleh orang-orang yang gemar memotret makanan sebelum makan.
1. Memiliki Kesadaran Tinggi terhadap Momen (Mindfulness)
Berbeda dari anggapan bahwa memotret makanan mengganggu kenikmatan makan, psikologi justru menemukan hal sebaliknya pada sebagian orang. Mereka yang memotret makanan sering kali lebih sadar terhadap momen yang sedang mereka alami.
Dengan berhenti sejenak sebelum makan, mereka memperhatikan warna, tekstur, dan penyajian makanan. Ini adalah bentuk mindfulness—kesadaran penuh terhadap pengalaman saat ini. Orang-orang seperti ini cenderung tidak terburu-buru dan lebih mampu menikmati detail kecil dalam hidup.
2. Apresiatif terhadap Usaha dan Estetika
Memotret makanan sering kali mencerminkan apresiasi terhadap keindahan dan usaha. Mereka memahami bahwa di balik sepiring makanan ada proses panjang: dari bahan, cara memasak, hingga penyajian.
Secara psikologis, orang yang menghargai estetika makanan juga cenderung menghargai seni, kreativitas, dan kerja keras orang lain. Mereka memiliki kepekaan visual dan emosional yang cukup tinggi.
3. Memiliki Keinginan untuk Berbagi Pengalaman
Banyak orang memotret makanan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dibagikan. Ini menunjukkan dorongan sosial yang kuat—keinginan untuk terhubung, berbagi kebahagiaan kecil, dan mengundang interaksi.
Dalam psikologi sosial, ini berkaitan dengan kebutuhan akan afiliasi. Orang-orang ini biasanya suka bercerita, terbuka, dan menikmati hubungan interpersonal, baik secara langsung maupun melalui media digital.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022