
seseorang yang terlalu dipuji saat masih kecil./Freepik/tirachardz
JawaPos.com - Pujian pada masa kanak-kanak sering dianggap sebagai pupuk terbaik bagi kepercayaan diri.
Orang tua, guru, dan lingkungan kerap berlomba mengatakan “kamu hebat,” “kamu paling pintar,” atau “kamu selalu benar.”
Niatnya mulia: agar anak tumbuh percaya diri dan berani bermimpi besar. Namun psikologi menunjukkan sebuah sisi lain yang jarang dibicarakan—pujian yang berlebihan, tidak proporsional, atau tidak realistis justru bisa menjadi beban tak terlihat ketika anak itu tumbuh dewasa.
Alih-alih membentuk pribadi yang tangguh, pujian yang terlalu sering dan tanpa konteks usaha dapat menciptakan pola pikir rapuh.
Saat realitas hidup tak lagi semanis kata-kata masa kecil, banyak orang dewasa akhirnya berhadapan dengan konflik batin yang membingungkan.
Dilansir dari Geediting pada Kamis (8/1), terdapat 9 perilaku yang sering muncul pada orang dewasa yang terlalu banyak dipuji saat kecil, menurut sudut pandang psikologi.
1. Takut Gagal Secara Berlebihan
Ketika sejak kecil selalu dipuji sebagai “yang terbaik”, kegagalan terasa seperti ancaman identitas. Orang dewasa dengan latar ini cenderung menghindari tantangan baru karena takut hasilnya tidak sempurna. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan fixed mindset—keyakinan bahwa nilai diri ditentukan oleh hasil, bukan proses.
2. Sangat Bergantung pada Validasi Orang Lain
Pujian yang terus-menerus membuat otak terbiasa mencari pengakuan eksternal. Saat dewasa, mereka sering merasa gelisah jika tidak mendapatkan apresiasi, likes, atau pujian. Tanpa itu, harga diri bisa runtuh dengan cepat, meskipun sebenarnya mereka kompeten.
3. Sulit Menerima Kritik, Sekecil Apa pun
Karena terbiasa mendengar hal-hal positif, kritik sering diterjemahkan sebagai serangan pribadi. Reaksi yang muncul bisa berupa defensif, marah, atau menarik diri. Psikologi menyebut ini sebagai rendahnya emotional resilience terhadap umpan balik negatif.
4. Perfeksionis yang Melelahkan Diri Sendiri
Banyak dari mereka menetapkan standar yang tidak realistis—bukan karena ambisi sehat, melainkan karena takut tidak lagi “istimewa.” Akibatnya, hidup terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir, penuh tekanan dan kecemasan tersembunyi.
5. Merasa Kosong Saat Tidak Dianggap Spesial

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
