
seseorang yang merasa terus-menerus gagal./ Freepik/benzoix
JawaPos.com - Banyak orang menjalani hidup dengan perasaan seolah mereka selalu tertinggal. Apa pun yang dicapai terasa kurang, apa pun yang diusahakan tampak belum cukup.
Ironisnya, kegagalan itu sering kali bukan datang dari dunia luar, melainkan dari dalam diri sendiri.
Orang yang merasa terus-menerus gagal biasanya bukan karena tidak mampu, melainkan karena menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk diri mereka sendiri—standar yang bahkan tidak dipenuhi oleh orang lain.
Dilansir dari Geediting pada Rabu (17/12), standar ini tampak mulia di permukaan: ingin sempurna, ingin lebih baik, ingin tidak mengecewakan siapa pun. Namun di baliknya, ada tekanan psikologis yang pelan-pelan menggerus kepercayaan diri.
Artikel ini akan membahas bagaimana standar yang terlalu tinggi dapat menciptakan ilusi kegagalan, mengapa hal itu sering tidak disadari, serta bagaimana cara mengelolanya agar hidup terasa lebih sehat dan realistis.
1. Standar Tinggi yang Terlihat Seperti Motivasi, Tapi Berubah Menjadi Beban
Tidak ada yang salah dengan memiliki standar. Standar adalah kompas yang memberi arah. Masalah muncul ketika standar tersebut tidak lagi fleksibel dan tidak manusiawi.
Seseorang menuntut dirinya selalu kuat, selalu benar, selalu produktif, dan selalu berhasil—tanpa ruang untuk salah atau lelah.
Di titik ini, standar yang awalnya dimaksudkan sebagai motivasi justru berubah menjadi beban. Setiap kesalahan kecil terasa seperti bukti kegagalan besar.
Setiap keterlambatan dianggap kelemahan fatal. Padahal, orang lain di sekitar mungkin melakukan kesalahan serupa dan tetap melangkah tanpa rasa bersalah berlebihan.
2. Membandingkan Diri dengan Versi Ideal, Bukan dengan Realitas
Salah satu akar dari standar yang terlalu tinggi adalah kebiasaan membandingkan diri dengan versi ideal—baik versi diri sendiri di masa depan, maupun citra orang lain yang tampak sempurna dari luar. Perbandingan ini jarang adil.
Kita sering lupa bahwa standar yang kita pasang untuk diri sendiri jauh lebih ketat dibanding standar yang kita berikan kepada orang lain.
Kita memaklumi kesalahan orang lain sebagai “manusiawi”, tetapi menilai kesalahan diri sendiri sebagai kegagalan pribadi.
Akibatnya, perasaan gagal muncul bukan karena hasil yang buruk, melainkan karena ekspektasi yang tidak realistis.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022