Ilustrasi seseorang yang sedang cemburu/freepik
JawaPos.com - Cemburu sering kali muncul tanpa diundang dan tanpa kenal waktu. Bisa jadi sesaat setelah melihat pasangan tertawa dengan orang lain atau ketika perhatian yang biasanya terasa mulai terbagi.
Sebagian orang menganggap cemburu adalah tanda cinta. Sebagian lainnya melihat cemburu sebagai bentuk ketidakamanan. Namun di balik segala persepsinya, cemburu adalah emosi manusiawi yang sangat kompleks. Biasanya cemburu terdiri atas campuran antara kasih, ketakutan, dan rasa ingin mempertahankan sesuatu yang dianggap berharga.
Menurut Psychology Today, cemburu bukan sekadar rasa tidak senang karena orang lain mendapat perhatian lebih. Cemburu melibatkan kombinasi emosi seperti takut kehilangan, marah, sedih, hingga perasaan tidak cukup baik. Dalam konteks hubungan, rasa ini sering muncul ketika seseorang merasa posisinya “terancam” oleh kehadiran pihak lain baik nyata maupun hanya hasil dari persepsi.
Sebuah riset dari PubMed Central (2023) berjudul “What’s Love Got to Do with Jealousy?” menyebutkan, secara evolusioner cemburu berperan sebagai mekanisme untuk melindungi hubungan sosial dan romantis. Emosi ini membuat manusia berupaya mempertahankan keterikatan dengan pasangan atau kelompok sosialnya. Dalam konteks ini, cemburu memiliki fungsi biologis: ia memperingatkan kita saat ikatan emosional yang penting terasa goyah.
Baca Juga: Istri Potong Alat Vital Suami hingga Tewas di Kebon Jeruk, Motifnya Cemburu Usai Lihat Chat di HP
Namun, ketika tidak dikendalikan, rasa cemburu dapat berubah menjadi emosi yang merusak. Verywell Mind menjelaskan bahwa cemburu yang berlebihan sering kali berakar pada ketidakpercayaan diri, pengalaman masa lalu, atau pola keterikatan yang tidak aman (insecure attachment). Dalam kondisi itu seseorang tidak lagi sekadar takut kehilangan, tetapi mulai berusaha mengontrol atau membatasi kebebasan orang lain.
Secara psikologis, cemburu muncul dari kombinasi tiga hal utama:
Menurut Psychology Today, sebagian besar orang tidak menyadari bahwa cemburu sering lebih banyak berbicara tentang diri sendiri daripada tentang orang lain. Emosi ini bisa menjadi cermin dari rasa tidak aman atau luka emosional yang belum sembuh misalnya pengalaman ditinggalkan, diselingkuhi, atau kurang dihargai di masa lalu.
Cemburu tidak selalu negatif. Dalam kadar yang wajar, ia dapat menjadi sinyal bahwa suatu hubungan penting bagi kita, dan bahwa kita peduli terhadap keberlanjutannya. Cemburu yang sehat ditandai dengan kesadaran dan komunikasi terbuka: kita mengakui perasaan itu tanpa menuduh atau melukai pihak lain.
Sebaliknya, cemburu menjadi berbahaya ketika berubah menjadi obsesi, kontrol, atau kecenderungan menuduh tanpa bukti. Menurut Verywell Mind, perilaku seperti ini sering kali justru mendorong pasangan menjauh dan menciptakan lingkaran ketidakpercayaan yang semakin dalam.
Beberapa tanda bahwa cemburu mulai tidak sehat antara lain:

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
