Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 Oktober 2025, 21.34 WIB

Mentalitas Korban: Mengapa Orang yang Paling Menyakiti Kita Justru Merasa Paling Terluka? Simak Penjelasan Psikologisnya!

Ilustrasi seseorang yang merasa tersakiti meski telah melukai, mencerminkan mentalitas korban ganda dalam dinamika emosional manusia. - Image

Ilustrasi seseorang yang merasa tersakiti meski telah melukai, mencerminkan mentalitas korban ganda dalam dinamika emosional manusia.

JawaPos.com – Dalam dinamika hubungan manusia, sering kali orang yang paling menyakiti kita justru berlagak menjadi korban yang merasa paling tersakiti. 

Fenomena ini tidak sekadar paradoks emosional, melainkan berkaitan erat dengan kebutuhan psikologis yang kompleks antara rasa berkuasa dan keinginan diterima. 

Banyak individu yang melakukan kesalahan atau menyakiti orang lain, tanpa sadar, tetap menganggap dirinya sebagai korban situasi. 

Fenomena ini dikenal sebagai mentalitas korban ganda, di mana seseorang bisa berperan sebagai pelaku dan korban secara bersamaan. 

Dilansir dari National Library of Medicine, Senin (20/10), studi oleh Ilanit Simantov-Nachlieli mengungkap bahwa individu yang merasa menjadi korban sekaligus pelaku (duals) memiliki kebutuhan tinggi akan kekuasaan dan penerimaan. 

Berikut penjelasan psikologis yang diungkap dari hasil penelitian tersebut, yang menggambarkan bagaimana mentalitas korban ganda terbentuk, memengaruhi perilaku, hingga berdampak pada hubungan sosial:

1. Pelaku yang Juga Korban: Dualitas Emosi yang Rumit

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan posisi ganda—sebagai pelaku sekaligus korban—tidak sepenuhnya jahat atau baik. 

Mereka berperilaku kontradiktif karena berjuang antara rasa bersalah dan keinginan untuk dipahami. Kondisi ini membuat mereka tampak defensif, sulit meminta maaf, dan cenderung menyalahkan keadaan.

2. Kebutuhan untuk Berkuasa Mengalahkan Keinginan Diterima

Dalam banyak kasus, rasa ingin berkuasa lebih dominan daripada kebutuhan untuk diterima. 

Studi tersebut menemukan bahwa meski para “dual” ingin memperbaiki hubungan, dorongan untuk mempertahankan kontrol dan harga diri sering kali membuat mereka bertindak agresif.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore