Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 September 2025 | 16.23 WIB

7 Karakteristik Psikologis yang Membuat Seseorang Gagal Mengenali Video AI Palsu

Ilustrasi seorang individu yang menatap layar ponsel dengan ekspresi ragu, mencerminkan dilema antara konten yang asli atau buatan AI. (Freepik) - Image

Ilustrasi seorang individu yang menatap layar ponsel dengan ekspresi ragu, mencerminkan dilema antara konten yang asli atau buatan AI. (Freepik)

JawaPos.com - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat batas antara video asli dan buatan semakin kabur. Video deepfake yang sangat realistis kini berpotensi mengelabui banyak orang awam. Kemampuan membedakan konten ini ternyata sangat bergantung pada aspek psikologis.

Melansir dari Geediting.com Senin (29/9), ada tujuh ciri khas psikologis yang membuat individu lebih mudah tertipu oleh video AI. Mengenali sifat-sifat ini bisa menjadi langkah awal penting untuk meningkatkan kecerdasan media kita. Mari kita telaah tujuh karakteristik tersebut berdasarkan temuan psikologi.

1. Kurangnya Sikap Skeptis

Ciri pertama yang umum adalah kurangnya pola pikir yang skeptis dan selalu mempertanyakan kebenaran. Orang-orang ini cenderung menerima informasi apa adanya tanpa berusaha mencari verifikasi. Mereka memiliki terlalu banyak kepercayaan pada keaslian konten yang beredar di dunia maya.

2. Ketergantungan Berlebihan pada Isyarat Visual

Beberapa orang terlalu mengandalkan apa yang mereka lihat untuk menilai kebenaran. Mereka cenderung mempercayai mata mereka secara berlebihan, meskipun isyarat lain bertentangan. Kita perlu mempertimbangkan faktor di luar visual, seperti sumber dan konteksnya.

3. Pemahaman Terbatas tentang Teknologi AI

Pemahaman yang minim mengenai cara kerja dan kemampuan teknologi AI dapat menjebak seseorang. Sulit membedakan yang asli dan palsu jika kita tidak tahu kemampuan AI saat ini. Pemahaman dasar saja sudah bisa sangat membantu meningkatkan daya nalar kita.

4. Kepercayaan pada Platform Populer

Beberapa individu menaruh kepercayaan yang salah kaprah pada platform media sosial terkenal. Mereka berasumsi bahwa konten di platform besar selalu dapat dipercaya kebenarannya. Platform ternama sekalipun bisa saja menjadi penyebar konten palsu buatan AI.

5. Tidak Memeriksa Sumber Video

Satu di antara kebiasaan yang melemahkan adalah kecenderungan untuk tidak memverifikasi asal-usul video. Mereka terlalu asyik dengan isinya hingga lupa menanyakan darimana sumbernya berasal. Meluangkan waktu sebentar untuk memeriksa sumber dapat melindungi kita dari penipuan.

6. Mengabaikan Intuisi Diri

Seringkali, ada perasaan tidak nyaman saat melihat video palsu karena adanya ketidaksesuaian kecil yang tertangkap pikiran bawah sadar. Orang yang mudah tertipu biasanya mengabaikan naluri atau firasat tersebut. Intuisi dapat menangkap isyarat halus yang terlewatkan oleh pikiran sadar kita.

7. Terjebak Bias Konfirmasi

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore