Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 7 September 2025 | 04.47 WIB

Imposter Syndrome: Mengapa Kita Merasa Palsu meski Berprestasi dan 5 Tips Bagaimana Mengatasinya

Ilustrasi seseorang dengan impostor syndrome (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang dengan impostor syndrome (Dok. Freepik)

JawaPos.com – Imposter syndrome adalah kondisi psikologis ketika seseorang merasa tidak cukup atau takut dianggap 'palsu' meski sudah meraih banyak keberhasilan dalam hidup maupun karier.

Orang dengan sindrom ini sering menganggap keberhasilan mereka hanya karena keberuntungan, bukan kemampuan atau kerja keras. 

Akibatnya, muncul ketakutan berlebihan akan dianggap "palsu" oleh orang lain, meskipun bukti pencapaian jelas ada di depan mata. 

Fenomena ini bisa dialami siapa saja mulai dari pelajar, pekerja, hingga profesional yang sudah cukup mahir di bidangnya. 

Berdasarkan penelitian oleh Salari et al (2025), secara global, 62% individu memiliki impostor syndrome. Angka yang cukup banyak bukan? 

Jika tidak ditangani, imposter syndrome dapat memengaruhi rasa percaya diri, kesehatan mental, dan bahkan menghambat perkembangan karier.

Ingin tahu lebih lanjut tentang impostor syndrome? Simak penjelasannya berikut yang dilansir dari Mclean Hospital dan Mindful Health Solution. 

1. Penyebab Impostor Syndrome 

Tidak ada satu penyebab pasti dari imposter syndrome, namun faktor budaya, lingkungan, dan dinamika keluarga berperan besar dalam perkembangannya. 

Banyak penelitian menunjukkan bahwa pola asuh di masa kecil, cara keluarga menilai prestasi, hingga tuntutan sosial bisa menanamkan rasa tidak pernah cukup dalam diri seseorang.

Misalnya, ada orang yang tumbuh dalam keluarga yang selalu membandingkan mereka dengan saudara yang dianggap "lebih pintar."

Kondisi ini mendorong kebutuhan untuk selalu membuktikan diri, tetapi berapa pun pencapaian yang diraih, rasa "tidak cukup pintar" tetap melekat.

Sebaliknya, ada juga orang yang sejak kecil selalu dipuji berlebihan atas segala kemampuannya dan unggul pada materi sekolah dasar. 

Ketika dewasa dan menemui kenyataan bahwa mereka tidak bisa unggul dalam semua hal, muncullah keraguan terhadap nilai diri dan muncul pertanyaan "Apakah pujian yang dulu benar-benar mencerminkan diri saya?"

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore